Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Analisis Performansi Mimo Spatial Diversity Pada Free Space Optic Communication Dalam Kondisi Cuaca Buruk Boby Samuel Aritonang; Sugito Sugito; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak FSO konvensional mengadopsi prinsip teknik SISO ( Single Input Single Output ) dimana satu transmitter hanya untuk satu receiver saja. Penelitian dalam tugas akhir ini akan mencoba untuk menerapkan teknik MIMO spatial diversity pada sistem FSO guna meningkatkan kinerjanya dalam kondisi cuaca sangat ekstrim. Dari hasil simulasi performansi, sistem SISO tidak mampu mendapatkan nilai BER < 1x10-9 bahkan jika laser memancarkan daya hingga sebesar 5W. Pada MIMO 2x2 diperoleh Pt sebesar 90 mW, MIMO 2x3 sebesar 70 mW, MIMO 2x4 sebesar 70 mW, MIMO 3x2 sebesar 30 mW, MIMO 3x3 sebesar 30, MIMO 3x4 sebesar 20 mW, MIMO 4x2 sebesar 20 mW, MIMO 4x3 sebesar 10 mW dan MIMO 4x4 sebesar 8 mW. Nilai Pt efektif tersebut adalah daya yang harus dipancarkan setiap laser untuk mencapai BER < 1 x10-9 . Konsumsi daya paling kecil adalah pada sistem MIMO 4x4 yaitu 32 mW. Nilai Pt hasil simulasi ini hanya berlaku untuk jarak transceiver sejauh 1 km. Penambahan jarak antar tranceiver mungkin akan membuat nilai Pt lebih besar. Kata kunci : Free Space Optic, MIMO, Spatial Diversity, BER Abstract The conventional FSO adopts the principle of SISO (Single Input Single Output) technique where one transmitter is for one receiver only. Research in this final project will try to apply MIMO spatial diversity technique to FSO system to improve its performance in bad weather conditions. From the performance simulation results, the SISO system is unable to get the value of BER <1 x10-9 even if the laser emits power up to 5W. In MIMO 2x2 obtained Pt of 90 mW, MIMO 2x3 of 70 mW, MIMO 2x4 of 70 mW, MIMO 3x2 of 30 mW, MIMO 3x3 of 30, MIMO 3x4 by 20 mW, MIMO 4x2 by 20 mW, MIMO 4x3 by 10 mW and 4x4 MIMO of 8 mW. The effective Pt value is the power that each laser must emit to reach BER <1 x10-9 . The smallest power consumption is on the 4x4 MIMO system which is 32 mW. Those Pt value is only valid for transceiver distance as far as 1 km. Increasing the distance between the tranceiver will probably make the value Pt larger.. Keyword : PAPR, PTS, SLM
Perancangan Jaringan Fiber To The Home (ftth) Menggunakan Teknologi 10 Gigabit Capable Passive Optical Network (xgpon) Pada Komplek Pertamina Reyga Prayogo; Akhmad Hambali; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Fiber to the home (FTTH) adalah arsitektur jaringan fiber optik yang mendistribusikan format isyarat optik dari pusat penyedia hingga ke rumah pelanggan (home) dekat pelanggan menggunakan serat optik sebagai medium penghantarnya. Dalam perkembangannya, FTTH dapat menggunakan teknologi 10-Gigabit Capable Passive Optical Network (XGPON) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bandwidth dan kecepatan data. Pada penelitian sebelumnya, telah dilakukan perancangan FTTH menggunakan teknologi GPON dan XGPON dengan melakukan perhitungan dan simulasi untuk mendapatkan nilai LPB, RTB dan BER. Perancangan yang dilakukan adalah merancang jaringan sampai ke rumah pelanggan dan analisa parameter kelayakan sistem dengan cara perhitungan dan simulasi dari OLT hingga FAT terjauh. Parameter kelayakan yang dianalisis adalah LPB, RTB, SNR, Q factor, dan BER. Berdasarkan hasil yang didapat dari perhitungan simulasi, maka diperoleh nilai LPB upstream terjauh 21,809 dan upstream terdekat 20,513 ,downstream terjauh 20,279 dan downstream terdekat 20,513. SNR arah downstream 28,167dB untuk terdekat dan 27.612dB untuk terjauh. Nilai SNR arah upstream 22,522 dB untuk terjauh dan 24,134 dB untuk terdekat. BER 1,112 x 10-27 untuk downstream terjauh, 2,848 x 10-30 untuk terdekat dan 1,388 x 10-11 untuk upstream terjauhdan 5,2287 x 10-11 untuk terdekat. Nilai Q factor 10,383 untuk downstream terjauh, 11,387 untuk terdekat dan 6,522 untuk upstream terjauh dan 8,5955 untuk terdekat dan untuk LPB 50,05 untuk downstream terjauh, 50,01 untuk downstream terdekat dan 50,01 untuk upstream terjauh, 49,97 untuk upstream terdekat. Kata Kunci : FTTH, FDT, FAT, GPON, XGPON Abstract Fiber to the home (FTTH) is a fiber optic network architecture that distributes optical signal formats from the center of the provider to home customers (home) near customers using optical fiber as the medium of delivery. In its development, FTTH can use 10-Gigabit Capable Passive Optical Network (XGPON) technology to meet people's needs for bandwidth and data speeds. In previous studies, FTTH was designed using GPON and XGPON technology by calculating and simulating to obtain LPB, RTB and BER values. The design is to design the network to the customer's home and analyze the feasibility parameters of the system by calculating and simulating from OLT to the furthest FAT. The feasibility parameters analyzed were LPB, RTB, SNR, Q factor, and BER. Based on the results obtained from the simulation calculation, the farthest upstream LPB value is 21,809 and the nearest upstream is 20,513, the farthest downstream is 20,279 and the nearest downstream is 20,513. SNR downstream direction is 28.167dB for the nearest and 27.612dB for the furthest. The SNR value in the upstream direction is 22,522 dB for the furthest and 24,134 dB for the closest. BER 1,112 x 10-27 for the furthest downstream, 2,848 x 10-30 for the closest and 1,388 x 10-11 for the farthest upstream and 5,2287 x 10-11 for the closest. The Q factor value is 10.383 for the furthest downstream, 11.387 for the nearest and 6.522 for the furthest upstream and 8.5955 for the closest and for LPB 50.05 for the furthest downstream, 50.01 for the nearest downstream and 50.01 for the furthest upstream, 49.97 for nearest upstream. Keywords: FTTH, FDT, FAT, GPON, XGPON
Analisis Pengaruh Penerapan Teknik Diagonal Algebraic Space-time-frequency Block Code Pada Mimo-ofdm Citra Dewi Anggraeni; Rina Pudji Astuti; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan kualitas komunikasi akibat kanal yang mengandung propagasi multipath dan Doppler shift pada komunikasi nirkabel tidak dapat dihindarkan, namun dapat diminimalisasi salah satunya dengan penggunaan teknik MIMO-OFDM. Teknik MIMO yang dapat memperkuat sinyal dan OFDM yang dapat meningkatkan kapasitas sistem, membuat MIMO-OFDM menjadi solusi yang tepat. Namun begitu, pemilihan teknik pengkodean untuk MIMO-OFDM juga tak kalah pentingnya. Pada tugas akhir ini telah dilakukan analisis terhadap sistem MIMO-OFDM yang menerapkan Diagonal Algebraic Space-TimeFrequency Block Code (DASTFBC) sebagai teknik pengkodeannya. Teknik DASTFBC merupakan kombinasi dari Diagonal Algebraic dengan tiga kombinasi diversitas yaitu diversitas antena (space), waktu (time), dan frekuensi (frequency). Sistem DASTFBC MIMO-OFDM diuji kinerjanya pada berbagai kondisi kanal dan modulasi, dengan sistem STBC MIMO-OFDM sebagai pembanding. Variasi kanal yang digunakan mengikuti model kanal rekomendasi ITU-R M.1225 yaitu model kanal Pedestrian A dan Vehicular A. Sedangkan untuk variasi modulasi, digunakan 16 QAM dan 64 QAM. Hasilnya, sistem DASTFBC cocok untuk komunikasi low mobility. Terbukti pada kanal Pedestrian A dengan kecepatan 3 Km/Jam, ditinjau pada SNR 30 dB, diperoleh BER DASTFBC 5,8x10-3 , sedangkan STBC 2,8x10-2 . Pada kanal Vehicular A kecepatan 120 Km/Jam ditinjau pada SNR 30 dB, diperoleh BER DASTFBC 6,6x10-3 , sedangkan STBC 6,9x10-3 . Untuk mengoptimalkan sistem DASTFBC dapat digunakan modulasi 64 QAM. Terbukti pada modulasi 64 QAM ditinjau pada SNR 30 dB, diperoleh BER DASTFBC 33,6x10-3 sedangkan STBC 31,2x10-3 . Selain itu, penggunaan modulasi 64 QAM mendukung komunikasi high data rate, sesuai dengan tuntutan pada komunikasi nirkabel saat ini.Kata kunci : MIMO-OFDM, DASTFBC, STBC
Evaluasi Jaringan Akses Fiber To The Curb (fttc) Menggunakan Teknologi 10-gigabit-capable Passive Optical Networks (xgpon) Di Sto Tanjung Priok Syawal Alam Machfuddin; Akhmad Hambali; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Fiber to the curb (FTTC) adalah arsitektur jaringan fiber optik yang mendistribusikan format isyarat optik dari pusat penyedia hingga kabinet (curb) dekat pelanggan menggunakan serat optik sebagai medium penghantarnya. Dalam perkembangannya, FTTC menggunakan teknologi 10-Gigabit Capable Passive Optical Network (XGPON) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bandwidth dan kecepatan data. Dalam penelitian ini telah dilakukan evaluasi jaringan fiber to the curb (FTTC) menggunakan teknologi 10-Gigabit Capable Passive Optical Network (XGPON) yang diaplikasikan di STO Tanjung Priok. Evaluasi yang dilakukan adalah analisa parameter kelayakan sistem dengan cara perhitungan dan simulasi dari OLT hingga MSAN terdekat yaitu MRH dan MSAN terjauh yaitu MRAZ sesuai dengan data jaringan FTTC STO Tanjung Priok. Berdasarkan hasil yang didapat dari perhitungan simulasi, maka diperoleh nilai SNR arah downstream 36,52 dB untuk MSAN terdekat dan 35,32 dB untuk MSAN terjauh. Nilai SNR arah upstream 33,34 dB untuk MSAN terdekat dan 30,073 dB untuk MSAN terjauh. Nilai BER arah downstream mendekati 0 untuk MSAN terdekat dan 1,684 x 10-279 untuk MSAN terjauh. Nilai BER arah upstream 1,199 x 10-223 untuk MSAN terdekat dan 1,856 x 10-105 untuk MSAN terjauh. Kata kunci : FTTC, XGPON, parameter kelayakan. Abstract Fiber to the curb (FTTC) is a fiber optic network architecture that distributes optical signaling formats from service providers to near-costumer cabinet (curb) using optical fiber as the medium of delivery. In its development, FTTC uses 10-gigabit-capable passice optical network (XGPON) technology to meet people’s need for bandwitdh and data speed. In this research has been evaluated fiber to the curb (FTTC) network using 10- Gigabit-Capable Passive Optical Network (XGPON) technology applied in STO Tanjung Priok. Evaluation performed is the analysis of system feasibility parameters by calculation and simulation of OLT to the closest MSAN that is MRH and MSAN furthest is MRAZ in accordance with data network FTTC STO Tanjung Priok. Based on the results obtained from the simulation calculation, the SNR value obtained from downstream 36.52 dB for the nearest MSAN and 35.32 dB for the farthest MSAN. SNR value of upstream 33.34 dB for nearby MSAN and 30,073 dB for farthest MSAN. The downward BER value is approaching 0 for the closest MSAN and 1.684 x 10-279 for the farthest MSAN. BER value upstream direction 1.199 x 10-223 for the nearest MSAN and 1.856 x 10-105 for the farthest MSAN. Keywords: FTTC, XGPON, feasibility parameters.
Perancangan Jaringan Akses Fiber To The Home (ftth) Menggunakan Teknologi 10-gigabit-passive Optical Network (xgpon) Untuk Perumahan Benda Baru Tangerang Selatan Afif Glenta Utama; Akhmad Hambali; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebutuhan akan pelayanan di bidang teknologi informasi dan komunikasi semakin meningkat setiap tahun. Jenis layanan yang dibutuhkan bukan lagi sebatas voice namun menjadi berkembang ke layanan triple play (voice, data, dan video). Komplek perumahan baru banyak dibangun sehingga membuat kebutuhan akan layanan Internet di rumah semakin dicari oleh para pelanggan. Salah satunya adalah perumahan Benda Baru yang terletak di kota Tangerang Selatan. Hasil perhitungan simulasi link power budget, yaitu total redaman yang dihasilkan untuk jarak terjauh didapatkan nilai daya terima adalah sebesar -24,88 dBm untuk link downstream dan -23,52 dBm untuk link upstream. Hasil perhitungan tersebut masih memenuhi standar yang ditentukan oleh ITU-T G.984 yang kemudian diikuti oleh P.T. Innovate Indonesia yaitu sebesar -28 dBm. Untuk nilai rise time budget didapatkan nilai waktu batasan adalah sebesar 0,14 untuk pengkodean RZ dan 0,28 untuk pengkodean NRZ. Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan tsystem adalah sebesar 0,049 untuk downstream dan upstream. Hasil RTB bernilai baik karena tsystem yang lebih kecil dari batasan waktu tiap pengkodean. Untuk parameter bit error rate nilai yang dihasilkan dari perhitungan simulasi adalah sebesar 4,5 x 10-30 untuk downstream dan 2,3 x 10-20 untuk upstream. Kedua nilai tersebut memenuhi nilai minimum BER yang ditetapkan untuk optik, yaitu sebesar 10-9 . Semua nilai tersebut memenuhi standar kelayakan dari ITU-T G.984. Kata kunci : FTTH, XGPON, optisystem Abstract The need for services in the field of information and communication technology is increasing every year. The types of services needed are no longer limited to voice, but they develop into triple play services (voice, data and video). New housing complexes have been built so that the need for home internet services is increasingly sought after by customers. One of them is the Benda Baru housing located in the city of South Tangerang. The results of the link power budget simulation calculation, namely the total attenuation generated for the farthest distance is obtained the power received value is -24.88 dBm for the downstream link and -23.52 dBm for the upstream link. The results of these calculations still meet the standards set by ITU-T G.984 which are then followed by P.T. Innovate Indonesia is -28 dBm. For rise time budget value, the time limit value is 0.14 for RZ coding and 0.28 for NRZ coding. From the results of the calculation, it is found that tsystem is 0.049 for downstream and upstream. RTB results are good because the tsystem is smaller than the time limit of each coding. For the bit error rate parameter the value generated from the simulation calculation is 4.5 x 10-30 for downstream and 2.3 x 10-20 for upstream. Both values meet the minimum value of BER set for optics, which is equal to 10-9 . All of these values meet the eligibility standards of ITU-T G.984. Keyword : FTTH, XGPON, optisystem
Analisis Performansi Teknologi Xg-pon Menggunakan Splitter Nugraha Septiana Pamungkas; Akhmad Hambali; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

XG-PON diharapkan mampu mengakomodasi layanan broadband yang semakin meledak di masa depan untuk melayani kebutuhan pelanggan yang meningkat baik di layanan data , voice , dan television. Pada penelitian ini berbeda dengan peneliti sebelumnya yang membahas mengenai analisis performansi XGPON menggunakan splitter 1:64. Dalam penelitian ini penulis ingin mengembangkan penelitian dengan cara menganalisa performansi teknologi XG-PON pada berbagai jenis rasio splitter optik. Hasil dari penelitian ini menunjukan performansi XG-PON menggunakan splitter 1:2 sampai 1:64 menunjukan jaringan yang layak diimplementasikan untuk transmisi upstream jarak 20 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, splitter 1:2 sampai 1:16 jarak 40 km menggunakan daya sebesar 2 dBm dan daya 4 dBm untuk splitter 1:32. Kemudian jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 sampai 1:4 data upstream jarak 60 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, daya 4 dBm untuk splitter 1:8 dan daya 6 dBm untuk splitter 1:16. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 data upstream pada jarak 80 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, daya 4 dBm untuk splitter 1:4 dan daya 7 dBm untuk splitter 1:8. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk transmisi downstream splitter 1:4 sampai 1:64 dapat menggunakan daya 4 dBm. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 sampai 1:16 downstream jarak 40 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, 5 dBm untuk splitter 1:32 dan 6 dBm 1:64 jarak 40 km. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 sampai 1:8 downstream dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm jarak 60 km. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 downstream menggunakan daya sebesar 4 dBm jarak 80 km.Kata Kunci: XG-PON (10-Gigabit-capable Passive Optical Network), splitter, software simulasi optik.
Analisis Performansi Teknik Orthogonal Pilot Sequences (ops) Dan Simple Amplitude Predistortion (sap) Untuk Mereduksi Peak To Average Power Ratio (papr) Pada Ofdm Rifki Fauzi Nurzaman; Arfianto Fahmi; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

OFDM merupakan teknik modulasi multicarrier yang memiliki kemampuan dalam melakukan transmisi dengan kecepatan yang tinggi serta efisien dalam penggunaan spektrum frekuensi atau bandwidth. Prinsip kerja OFDM adalah membagi data kecepatan tinggi ke dalam beberapa data berkecepatan rendah dengan cara dimodulasi dengan subcarrier orthogonal. Walaupun begitu, salah satu kelemahan besar sistem OFDM adalah tingginya nilai Peak to Average Power Ratio (PAPR). Pada teknik OPS-SAP, reduksi PAPR dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama yaitu tahap OPS, ditempatkan setelah proses Inverse Fast Fourier Transform (IFFT) dengan data ditambahkan pilot simbol pada domain waktu yang orthogonal. Pada tahap kedua yaitu SAP dilakukan setelah tahap OPS yang dimana jika nilai PAPR masih tinggi akan diproses dengan metric calculation dan samples update untuk meminimalkan PAPR. Teknik di atas dipilih karena teknik OPS memiliki keunggulan dalam mengurangi kompleksifitas sistem serta memungkinkannya Blind Detection pada receiver dan pada teknik SAP memiliki keunggulan dalam mereduksi PAPR tanpa mangirim Side Information ke penerima. Hasil dari simulasi pada tugas akhir ini adalah teknik yang mempunyai nilai perbaikan performansi PAPR sebesar 1,4 dB pada Teknik OPS M=8 pada probabilitas 2,564x10-5, 1 dB pada Teknik SAP pada probabilitas 1,2x10-2, dan 2,4 dB pada kombinasi pada probabilitas 4x10-4 OPS-SAP pada QAM 128 Subcarrier dibandingkan dengan OFDM konvensional. Kata Kunci : OFDM, PAPR, OPS, SAP OFDM is a multicarrier modulation technique that has the ability to transmit at high speeds and is efficient in the use of frequency spectrum or bandwidth. The working principle of OFDM is to divide high-speed data into several low-speed data by modulation with orthogonal subcarriers. However, one of the major weaknesses of the OFDM sistem is the high value of Peak to Average Power Ratio (PAPR). In the OPS-SAP technique, PAPR reduction is carried out in two stages. The first stage is the OPS stage, placed after the Inverse Fast Fourier Transform (IFFT) process with data added by pilot simbols on the orthogonal time domain. In the second stage, SAP is carried out after the OPS stage, where if the PAPR value is still high, it will be processed with metric calculation and sample updates to minimize PAPR. The above technique was chosen because the OPS technique has the advantage of reducing sistem complexity and allowing Blind Detection in the receiver and in SAP techniques it has the advantage of reducing PAPR without sending Side Information to the receiver. The results of the simulation in this final project is a technique that has a value of PAPR performance improvement of 1.4 dB in OPS M = 8 at probability 2,564x10-5, 1 dB in SAP at probability 1,2x10-2, and 2.4 dB in the OPS-SAP combination at probability 4x10-4 on QAM 128 Subcarrier compared to OFDM conventional. Keywords: OFDM, PAPR, OPS, SAP
Analisis Full Width At Half Maximum Dan Koordinat Led Pada Sistem Berbasis Vlc Di Dalam Ruangan Priya Aristo; Desti Madya Saputri; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tugas Akhir ini melakukan studi atas Optical Wireless Communication, pada saat ini teknologi telekomunikasi semakin berkembang sangat pesat. Salah satunya teknologi nirkabel, teknologi ini terbagi menjadi beberapa macamnya tergantung medium yang digunakan. Visible Light Communication adalah teknologi di bidang nikabel optik yang menawarkan media komunikasi serta penerangan karena menggunakan cahaya tampak sebagai medium. VLC memiliki permasalahan, salah satunya adalah seberapa jauh cakupan yang dapat dipancarkan oleh lampu Light Emitting Diode (LED). Untuk mendapatkan seberapa jauh cakupan yang dapat dipancarkan, Tugas Akhir ini melakukan analisis sudut Full Width at Half Maximum dan koordinat LED. Tugas Akhir ini menggunakan empat buah LED yang diletakkan di atap ruangan yang mempunyai dimensi 5x5x3 m3 . Kinerja sistem dievaluasi menggunakan beberapa parameter yaitu, Bit Error Rate (BER), Signal to Noise Ratio (SNR), dan Optical Distribution. Kontribusi Tugas Akhir ini adalah mendapatkan seberapa jauh cakupan yang didapat dipancarkan LED berdasarkan nilai BER ≤ 10−3 . Hasil penelitian ini diperoleh bahwa dengan sudut FWHM 40ᶿ, jarak terjauh receiver dari transmitter adalah sebesar 2,51 𝒎 dan luas cakupannya sebesar 20,68 m2 . Kata Kunci : Visible Light Communication, Full Width at Half Maximum, Light Emitting Diode, Bit Error Rate, Signal to Noise Ratio Abstract This final assignment conducts the study of Optical Wireless Communication, in this era telecommunication technologys is expanding very rapidly. One of them is wireless communication, it is divided into several kinds depending on the medium used. Visible Light Communication is one of the optical wireless technology which provides communication and illumination, because using visible light as a medium. One of the problem that occur on the VLC is how far the coverage that can emitted by Light Emitting Diode (LED). To get how far coverage can be emmited by LED, this final assignment performs an analysis of Full Width at Half Maximum and coordinate of LED. This final assignment uses 4 LED placed on the roof of a room that has dimension 5x5x3 𝐦𝟑 . System performance is evaluated using several parameters i.e Bit Error Rate (BER), Signal to Ratio Noise (SNR), and Optical Distribution. The contribution of this final assignment is to get how far the coverage can be emitted by LED based on BER ≤ 𝟏𝟎−𝟑 . The results of this final assignment were that acquired that with an angle of FWHM 40ᶿ, the receiver farthest distance from transmitter by 2.51 𝒎 and the wide coverage is 20.68 𝐦𝟐 . Keyword : Visible Light Communication, Full Width at Half Maximum, Light Emitting Diode, Bit Error Rate, Signal to Noise Ration
Performansi Multipower Pada Fraksi Led Di Sistem Visible Light Communication (vlc) Di Dalam Ruangan Tertutup Berlian Nurfadhilah; Desti Madya Saputri; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Teknologi jaringan nirkabel semakin berkembang sangat pesat. Teknologi jaringan nirkabel optik atau Optical Wireless Communication (OWC) sangat diminati untuk menunjang kebutuhan sebuah teknologi informasi dan komunikasi.. Visible Light Communication (VLC) adalah teknologi baru di bidang komunikasi nirkabel optik, VLC merupakan media komunikasi melalui cahaya tampak dar Light Emitting Diode (LED) dapat di implementasikan untuk komunikasi sistem Indoor maupun komunikasi sistem Outdoor. Dalam Sistem Indoor VLC, Teknik penempatan dan daya masukan dari LED sangat bepengaruh terhadap sebuah Interference fraction cahaya LED. Semakin besar nilai Coverage fraction maka terdapat sebuah daerah cakupan LED yang tidak memiliki sinyal informasi. Pada Tugas Akhir ini penulis akan melakukan mensimulasikan performansi multipower dengan pada fraksi LED pada sistem berbasis VLC didalam ruangan tertutup, dengan menggunakan teknik modulasi OOK-NRZ dalam dimensi ruangan komunikasi 𝟓 𝒎 × 𝟓 𝒎 × 𝟑 𝒎. Hasil ini di dapatkan dengan menggunakan daya lampu sebesar 2.5 W dan 3 W LED sebagai transmitter yang memiliki ketinggian sebesar 𝟑 𝒎, berada di koordinat (2.1,2.1,3) meter dengan posisi user awal sebesar 2.15 m dengan kondisi directed LOS. Hasil menunjukan bahwa sistem VLC dengan fraksi lebih baik dibandingkan dengan sistem VLC tanpa fraksi. Hal ini di buktikan dengan hasil daya terima sistem VLC didalam ruangan, untuk penggunaan daya kirim sebesar 2.5 W dan 3 W mencapai minimum BER threshold sebesar 𝑩𝑬𝑹 ≤ 𝟏𝟎−𝟑 saat daya terima sebesesar -15 dBm dan -14.5 dBm. Dengan cakupan link komunikasi terbaik pada sistem VLC dengan fraksi penggunaan daya kirim 3 W sebesear 𝟐𝟓 𝒎𝟐 . Kata Kunci : Visible Light Communication, OOK-NRZ, Daya, Fotodioda, LED,OWC
Simulasi Teknik Transmisi Untuk Ofdm Multiuser Dalam Sistem Visible Light Communication Farda Angga Nugraha; Kris Sujatmoko; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Visible Light Communication (VLC) memanfaatkan cahaya sebagai media transmisi dalam mengirim informasi data. Dalam melakukan transmisi data perlu diperhatikan peformansi kinerja dalam mengevaluasi kualitas komunikasi untuk jumlah pengguna multiuser. (Code Division Multiple Access) CDMA merupakan akses konvensional dalam komunikasi wireless, namun jumlah maksimum pengguna dibatasi karena panjangnya kode sebaran. Hal ini menjadikan CDMA kurang optimal dalam bekerja untuk jumlah pengguna multiuser. Untuk mengatasi masalah komunikasi dengan batasan panjang kode sebaran di CDMA diperlukan teknik transmisi pada modulasi VLC untuk jumlah pengguna multiuser. Sehingga pada penelitian ini mengusulkan menggunakan Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang mana merupakan teknik transmisi multicarrier dengan memanfaatkan sejumlah carrier dalam melakukan transmisi data. Multicarrier menyebabkan antar sub carrier saling tumpang tindih sehingga menjadi orthogonal. Sifat orthogonal ini memberi keuntungan pada efisiensi bandwidth selain itu, ketahanannya dalam mengatasi Intersymbol Interference (ISI) . Hasil simulasi menunjukan teknik transmisi OFDM multiuser untuk sistem VLC dengan user yang digunakan adalah 1 user, 2 user, 3 user, 4 user didapatkan jumlah user mempengaruhi perfomansi BER terhadap Eb/N0. Hasil penelitian menunjukan untuk mendapat BER 10-3 di dalam melakukan sistem komunikasi dibutuhkan Eb/N0 sebesar 16 dB pada pengguna 1 user merupakan hasil terbaik jika dibandingkan pengguna 2 user, 3 user,dan 4 user. Hal ini menunjukan jumlah user memiliki pengaruh terhadap BER informasi yang diterima di user. Kata Kunci : VLC, OFDM,BER, Multiuser Abstract Visible Light Communication (VLC) utilizes light as a transmission medium in sending data information. In transmitting data, it is necessary to pay attention to performance in evaluating communication quality for the number of multiuser . CDMA (Code Division Multiple Access) is conventional access in wireless communication, but the maximum number of users is limited due to the length of the distribution code. This makes CDMA less optimal in working for the number of multiuser users. To overcome the communication problem with the limitation of the length of the code distribution in CDMA, a transmission technique is needed for VLC modulation for the number of multiuser . So that in this study propose using Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) which is a multicarrier transmission technique by utilizing a number of carriers in transmitting data. Multicarrier causes inter sub carriers to overlap so that they become orthogonal. This orthogonal nature gives advantages to bandwidth efficiency in addition, its resistance to overcoming Intercymbol Interference (ISI). The simulation results show the multiuser OFDM transmission technique for the VLC system with the user used is 1 user, 2 users, 3 users, 4 users obtained the number of users affecting the performance of BER to Eb / N0. The results showed that to get a 10-3 BER in carrying out a communication system Eb / N0 was needed at 16 dB for 1 user ,it’s was the best result compared to users of 2 users, 3 users, and 4 users. This shows the number of users has an influence on the BER information received at the user. Keywords : VLC,OFDM , BER,Multiuser.