Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Optimasi Proses Maserasi Hasil Samping Industri Sirup Jeruk Kalamansi (Citrofortunella microcarpa) Tuti Tutuarima; Kurnia Harlina Dewi; Novita Sinambela
Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno Vol. 3 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Gedung GA, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Jl. Raya Bukit Jimbaran, Jimbaran, Kuta Selatan, Bali Telp/Fax: (0361) 701801

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JITPA.2018.v03.i02.p07

Abstract

Jeruk Kalamansi (Citrofortunella microcarpa) merupakan salah satu komoditi unggulan Provinsi Bengkulu yang diolah menjadi sirup. Hasil samping industri sirup jeruk kalamansi berupa kulit, pulp, biji, dan cairan hasil pengendapan. Hasil samping ini berpotensi mengandung senyawa aktif berupa concrete, oleoresin dan atau minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi proses maserasi optimum dalam produksi concrete dari hasil samping industri sirup jeruk kalamansi yang berbentuk padatan (kulit dan pulp). Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah lama maserasi (6, 12, dan 24 jam) dan rasio antara berat bahan dan volume pelarut (1:1, 1:2, dan 1:3). Pelarut yang digunakan adalah etanol 96%. Respon yang diharapkan pada penelitian ini adalah rendemennya. Pengolahan data menggunakan metode respon permukaan pada software Minitab 16. Berdasarkan analisa varian diketahui bahwa efek linear lebih signifikan dibandingkan efek kuadratik, sehingga persamaan optimasi yang didapat adalah Y = 25,1667 + 6,1167 X1 + 1,2397 X2. Titik optimum belum tercapai. Rendemen maksimum diperoleh sebesar 54,6823 %, didapatkan pada lama maserasi 24 jam dan rasio berat bahan dan volume pelarut 1:1,75. Karakteristik mutu concrete kulit & pulp jeruk kalamansi yaitu berat jenis 0,985, bilangan asam 1,838, dan indeks bias 1,354.
Kajian Konsentrasi Enzim Lipase Dan Suhu Reaksi Gliserolisis Untuk Mensintesis Monogliserida Dari Minyak Jelantah Wanda Santika; Neswati; Kurnia Harlina Dewi
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Agroindustri Halal
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v12i1.24127

Abstract

Minyak jelantah memiliki potensi yang cukup besar di Indonesia. Pemanfaatannya dapat dimaksimalkan dengan mensintesisnya menjadi monogliserida. Monogliserida diperoleh melalui reaksi gliserolisis, namun reaksi gliserolisis berlangsung pada suhu tinggi. Penggunaan suhu tinggi menimbulkan bau dan warna yang gelap serta mempengaruhi karakteristik monogliserida yang dihasilkan untuk mengatasi hal tersebut dilakukan sintesis monogliserida menggunakan enzim lipase. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan konsentrasi enzim lipase dan suhu reaksi gliserolisis yang tepat untuk mensintesis monogliserida dari minyak jelantah. Perlakuan dari penelitian adalah penambahan enzim lipase sebesar 6%, 9%, dan 12% dengan variasi suhu 60°C, 65°C, 70°C. Berdasarkan penelitian, konsentrasi enzim lipase 12% dan suhu reaksi gliserolisis 30° merupakan perlakuan terbaik untuk mensintesis monogliserida dari minyak jelantah. Penambahan konsentrasi enzim lipase 12% dan suhu reaksi gliserolisis 30° menghasilkan monogliserida dengan karakteristik nilai kadar air 0,64%, angka asam 0,88 mg KOH/g, angka penyabunan 15,73 mg KOH/g, angka iod 2,58 g I2/100g, nilai HLB 18,41 dan kadar monogliserida 12,10%.
Pengembangan Produk Tepung Rakik Belut Instan dan Analisis Nilai Tambahnya Kurnia Harlina Dewi; Santosa Santosa; Yul Apni Harianja; Saddam Pebrianto
GreenTech Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Departmen Of Agro-industrial Technology, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/greentech.v2i2.60

Abstract

Pengolahan beras di Nagari Kinari menjadi produk olahan beras masih minim karena sebagian besar beras yang dihasilkan hanya dijual dalam bentuk beras mentah. Rakik belut memiliki tekstur yang sangat renyah dan masa simpan yang relatif singkat sehingga muncullah ide untuk mengembangkan produk rakik belut ini ke dalam bentuk tepung instan. Penelitian ini menggunakan model Rancangan Acak Lengkap (RAL) tunggal 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah perbandingan rasio tepung beras dan kalio belut yaitu 1:1 (150:150), 2:1 (200:100), 3:1 (225:75), 4:1 (240:60). Data yang diperoleh, dianalisis secara statistik dengan Analysis Of Variance (ANOVA), jika hasil menunjukkan pengaruh dari perlakuan yang diberikan maka dilanjutkan dengan uji Duncant’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5 %. Pengaruh perbandingan rasio tepung beras dan kalio belut menunjukkan hasil yang berpengaruh nyata terhadap kadar abu, kadar protein, kadar lemak dan uji sensori aroma tepung rakik belut instan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, uji sensori (warna, tekstur) tepung rakik belut instan, dan uji sensori (warna, rasa, tekstur) rakik belut. Perlakuan 1:1 yang dipilih sebagai perlakuan yang paling disukai panelis. Perlakuan ini memiliki kadar air (8,54 %), kadar abu (1,82 %), kadar protein (9,86 %), kadar lemak (9,10 %), uji sensori tepung rakik belut instan dengan nilai rata-rata warna (4,20), aroma (4,32) dan tekstur (4,24), dan uji sensori rakik belut dengan nilai rata-rata warna (4,00), rasa (4,12), tekstur (4,00). Nilai tambah pada pembuatan tepung rakik belut instan untuk satu kali proses adalah sebesar Rp 181.287/kg tepung beras dan produksi dengan rasio nilai tambah sebesar 53,79 %.
Comparison of Bioactive Compounds in Local and Imported Coriander Leaf Extracts Using GC-MS Silfi Indrian; Alfi Asben; Kurnia Harlina Dewi
Journal of Applied Agricultural Science and Technology Vol. 10 No. 3 (2026): Articles in Press
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/jaast.v10i3.559

Abstract

Coriander leaves contain bioactive compounds that are beneficial to health, but the content can differ depending on the origin and environmental conditions where they grow. Coriander leaves of local Indonesian or imported origin differ in their characteristics and bioactive compound content, necessitating analysis of both types. This study aims to analyse the bioactive compounds in the extract of local Indonesian coriander leaves from Bukittinggi, West Sumatra, and imported coriander from Egypt using gas chromatography–mass spectrometry (GC–MS). Coriander leaves were extracted using 96% ethanol in an ultrasonic bath. The extract was analysed for pH, antioxidant and antibacterial activity, residual ethanol content, and GC–MS to identify the compounds present. The results showed that the local Bukittinggi coriander leaf extract had a pH of 4.01, antioxidant activity based on DPPH inhibition of 88.34%, antibacterial activity against Staphylococcus aureus with a clear zone diameter of 23.38 mm, and a residual ethanol content of 0.68%. Meanwhile, the imported Egyptian coriander leaf extract had a pH of 3.68, antioxidant activity of 83.25%, antibacterial activity of 26.00 mm, and a residual ethanol content of 0.00%. Imported Egyptian coriander leaves exhibited higher antibacterial activity and lower residual ethanol content than local Bukittinggi coriander leaves. However, local Bukittinggi coriander leaves demonstrated greater antioxidant activity than the imported Egyptian leaves. GC–MS analysis revealed that the local Bukittinggi coriander leaf extract contained organic compounds such as 3,5-bis(1,1-dimethylethyl) phenol, phytol, and dl-α-tocopherol, unlike the imported Egyptian coriander leaf extract