Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PELATIHAN KONSEP SURAT-MENYURAT: SEBUAH UPAYA PENINGKATAN PEMBUATAN SURAT-MENYURAT PADA MAHASISWA Nurmiwati Nurmiwati; M. Aris Akbar; Halus Mandala; Erwin Erwin; Mulyani Thursina
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 3 (2022): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i3.9664

Abstract

Abstrak: Kegiatan penulisan surat menyurat yang dihasilkan oleh mahasiswa masih banyak ditemukan kesalahan, oleh karena itu kegiatan ini dilakukan untuk membantu mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan menyusun atau membuat surat-menyurat dalam pelaksanaan kegiatan lembaga kemahasiswaan, khusunya di Himpunan Mahasiswa Program Studi di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uiniversitas Muhammadiyah Mataram sesuai kaidah kebahasaan yang baik dan benar. Adapun metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode ceramah dan praktik dalam pelatihan. Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukan bahwa pelatihan yang dilaksanakan dapat memberi dampak positif terutama dalam meningkatkan kecakapan untuk menghasilkan penulisan surat-menyurat yang sesuai dengan penyusunan struktur surat yang baik dan benar.Abstract: The activities of writing correspondence produced by students are still found to be many errors, therefore this activity is carried out to help students in improving their ability to compile or make correspondence in the implementation of student institution activities, especially in the Student Association of Study Programs within the Faculty of Teacher Training and Education Universitas Muhammadiyah Mataram by good and correct linguistic rules. The methods used in this training are lecture and practice methods in training. The results of the implementation of the activity show that the training carried out can have a positive impact, especially in improving skills to produce correspondence writing by the preparation of a good and correct letter structure.
Pemertahanan Bahasa Sasak dalam Istilah Pertanian pada Komunitas Petani Adat Bayan, Lombok Utara M. Aris Akbar; Halus Mandala; Siti Lamusiah; Siti Nur Ifanti
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 7, No 2: Juli 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v7i2.10485

Abstract

Abstrak: Pergeseran bahasa berarti, suatu guyup (komunitas) meninggalkan suatu bahasa sepenuhnya untuk memakai bahasa lain. Bila pergeseran sudah terjadi, para warga guyup itu secara kolektif memilih bahasa baru. Dalam pemertahan bahasa, guyup itu secara kolektif menentukan untuk melanjutkan pemakaian bahasa yang sudah bisa dipakai. Ketika guyup tutur mulai memilih bahasa baru di dalam ranah yang semula diperuntukkan bagi bahasa lama, hal itu merupakan tanda bahwa pergeseran bahasa sedang berlangsung. Wacana ritual melong pare bulu (WRMPB)komunitas petani adat Bayan, Lombok Utara merupakan wujud performansi lingual pada seperangkat kegiatan penanaman padi tradisional yang didasarkan pada tradisi. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan teknik Purposive Sampling, yaitu mamakai sampel penelitian; tokoh adat ritual melong pare bulu, kiayi, dan kepala lingkungan setempat. Pemertahanan bahasa Sasak dalam istilah pertanian, yaitu (1) ritual meleong pare bulu ‘penanaman padi tradisional’ dalam penggunaanya telah mengalami pergeseran pada tataran makna; (2) istilah pertanian dalam ritual meleong pare bulu ‘penanaman padi tradisional’ banyak istilah yang tidak digunakan sejalan dengan tidak dilaksanakannya ritual tersebut. Menggali hubungan pergeseran dan pemertahanan bahasa, dapat dikatakan bahwa bahasa Sasak dalam istilah pertanian pada komunitas petani adat Bayan, Lombok Utara tidak dapat dipertahankan oleh penuturnya sebagaimana tidak dapat dipertahankannya budaya ritual meleong pare bulu ‘penanaman padi tradisional’ pada kehidupan budaya pertanian masyarakat setempat.Abstract: Language shift means, a community leaves a language entirely to use another language. When the shift had occurred, the residents collectively chose a new language. In language preservation, it collectively determines to continue the use of language that can already be used. When speechmakers begin to choose a new language within the realm originally reserved for the old language, it is a sign that a language shift is underway. The discourse of the meleong pare bulu ritual of the Bayan indigenous farming community, North Lombok is a form of lingual performance on a set of traditional rice planting activities based on tradition. The determination of the research subject was carried out using the purposive sampling technique, which is a research sample; traditional figures of the ritual meleong pare bulu, kiayi, and the head of the local neighborhood. The preservation of the Sasak language in agricultural terms, namely: (1) the ritual of meleong pare bulu 'traditional rice planting' in its use has undergone a shift in the level of meaning; (2) the term agriculture in the meleong pare feather ritual 'traditional rice planting' many terms are not used in line with the non-implementation of the ritual. Exploring the relationship of language shifting and maintaining, it can be said that the Sasak language in agricultural terms in the indigenous farming community of Bayan, North Lombok cannot be maintained by its speakers as the untenable ritual culture of meleong pare bulu 'traditional rice planting' in the agricultural cultural life of the local people. 
Kajian Pelaksanaan IMTAQ dalam Pembentukan Karakter Siswa di Sekolah Dasar Hidayati, Sri; Akbar, M. Aris
Jurnal Basicedu Vol. 7 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v7i6.6470

Abstract

Pendidikan merupakan awal pembentukan karakter siswa menjadi penerus generasi bangsa berkompeten dan berakhlak mulia. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan dalam mengembangkan Pendidikan disekolah yaitu kegiatan IMTAQ setiap hari Jumat pagi. Tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan suatu lingkungan belajar yang bersifat keagamaan, jujur, kreatif, serta memperkuat hubungan persahabatan dengan nuansa kekeluargaan dan semangat kebangsaan yang tinggi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil dari data yang diperoleh dari narasumber menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan IMTAQ pada Jum’at pagi di SDN 4 Batulayar Barat berdampak positif terhadap pembentukan karakter siswa. Hal ini terbukti melalui perubahan nilai pengetahuan dan keterampilan pada mata pelajaran agama. Selain itu, terlihat adanya perubahan perilaku siswa, baik dalam interaksi sehari-hari antara sesama teman maupun dengan guru. Perubahan-perubahan tersebut mencakup peningkatan budaya salam, senyum, dan sapa di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, pengurangan perilaku bullying, peningkatan rasa tanggung jawab siswa terkait kebersihan dan keteraturan berpakaian, serta peningkatan kesadaran tanggung jawab ketika diberikan tugas oleh wali kelas atau guru. Pentingnya membudayakan kegiatan IMTAQ sesuai dengan kurikulum 2013 dan kurikulum Merdeka ditekankan, dengan pengembangan inovasi serta pengakuan terhadap keberagaman budaya lokal dan kemajuan digitalisasi demi mencapai hasil optimal.
BIMBINGAN SITASI UNTUK MENINGKATKAN REFERENSI DAN MEMINIMALISISR PLAGIASI PADA KARYA TULIS ILMIAH MAHASISWA Akhmad, Akhmad; Akbar, M. Aris; Nurmiwati, Nurmiwati; Fadlu, Fadlu; Arfah, Arfah
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 6, No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v6i1.13531

Abstract

Abstrak: Kegiatan sitasi yang dilakukan oleh mahasiswa masih sangat kurang dilakukan, oleh karena itu kegiatan ini lakukan untuk membantu mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan sitasi tulisan artikel dosen untuk meningkatkan jumlah sitasi tulisan yang dibuat oleh mahasiswa Adapun metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode bimbingan dan praktik dalam bimbingan. Hasil bimbingan menunjukan bahwa bimbingan yang dilaksanakan dapat memberi dampak positif terutama dalam meningkatkan kecakapan untuk menghasilkan sitasi yang tepat dan relevan dengan tulisan ilmiah yang dibuat mahasiswa yang sesuai dengan penyusunan karya ilmiah yang baik dan benar. Kegiatan bimbingan ini juga dilakukan untuk meningkatkan jumlah sitasi terhadap tulisan artikel dosen dalam jurnal ilmiah sebagai penunjang kenaikan akreditasi.Abstract: The citation activities carried out by the students are still very poor, therefore this activity is carried out to help students to improve their ability to citation of lecturers' article writings to increase the number of citations made by students as for the methods used in this training are guidance and practice methods in guidance. The results of the guidance show that the guidance carried out have a positive impact, especially in improving the ability to produce appropriate citations and relevant to scientific writings made by students in accordance with the preparation of good and correct scientific papers. This guidance activity is also carried out to increase the number of citations for lecturer article writings in scientific journals as a support for increasing accreditation.
Kajian Pelaksanaan IMTAQ dalam Pembentukan Karakter Siswa di Sekolah Dasar Hidayati, Sri; Akbar, M. Aris
Jurnal Basicedu Vol. 7 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v7i6.6470

Abstract

Pendidikan merupakan awal pembentukan karakter siswa menjadi penerus generasi bangsa berkompeten dan berakhlak mulia. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan dalam mengembangkan Pendidikan disekolah yaitu kegiatan IMTAQ setiap hari Jumat pagi. Tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan suatu lingkungan belajar yang bersifat keagamaan, jujur, kreatif, serta memperkuat hubungan persahabatan dengan nuansa kekeluargaan dan semangat kebangsaan yang tinggi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil dari data yang diperoleh dari narasumber menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan IMTAQ pada Jum’at pagi di SDN 4 Batulayar Barat berdampak positif terhadap pembentukan karakter siswa. Hal ini terbukti melalui perubahan nilai pengetahuan dan keterampilan pada mata pelajaran agama. Selain itu, terlihat adanya perubahan perilaku siswa, baik dalam interaksi sehari-hari antara sesama teman maupun dengan guru. Perubahan-perubahan tersebut mencakup peningkatan budaya salam, senyum, dan sapa di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, pengurangan perilaku bullying, peningkatan rasa tanggung jawab siswa terkait kebersihan dan keteraturan berpakaian, serta peningkatan kesadaran tanggung jawab ketika diberikan tugas oleh wali kelas atau guru. Pentingnya membudayakan kegiatan IMTAQ sesuai dengan kurikulum 2013 dan kurikulum Merdeka ditekankan, dengan pengembangan inovasi serta pengakuan terhadap keberagaman budaya lokal dan kemajuan digitalisasi demi mencapai hasil optimal.
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR FONDASI BAGI GENERASI BERINTEGRITAS Hazmi, Jihadul; Akbar, M. Aris; Hastuti, Hastuti; Roeslani, Riaresti Daliana; Adiningsih, Baiq Sri; Faida, Nur; Wardani, Uyu; Juliana, Juliana
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 7, No 4 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v7i4.27504

Abstract

Abstrak: Dalam penelitian ini, metode kualitatif digunakan untuk melihat bagaimana Pendidikan karakter di sekolah dasar: Fondasi bagi generasi berintegrasi. dilaksanakan di SDN 1 Dane Rase untuk menciptakan pendidikan karakter pada kurikulum merdeka. Setelah dikumpulkan melalui pengamatan, wawancara, dan dokumentasi, data dianalisis melalui penyiapan, verifikasi, dan reduksi. Pendidikan karakter di sekolah dasar memainkan peran krusial dalam membentuk generasi yang berintegritas. Artikel ini membahas pentingnya implementasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum pendidikan dasar, serta strategi yang dapat diterapkan oleh pendidik untuk menanamkan sikap dan perilaku positif pada siswa. Melalui pendekatan yang holistik, termasuk pengintegrasian nilai-nilai moral dalam kegiatan belajar mengajar, pembelajaran berbasis proyek, dan keterlibatan orang tua, pendidikan karakter tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan akademis, tetapi juga membangun fondasi etika dan moral yang kuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menerima pendidikan karakter cenderung menunjukkan perilaku sosial yang lebih baik, kepedulian terhadap lingkungan, dan kemampuan beradaptasi dalam masyarakat Dengan demikian, pendidikan karakter di sekolah dasar diharapkan dapat menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab sosial yang tinggi.Abstract: In this study, qualitative methods are used to examine how character education in elementary schools serves as a foundation for an integrated generation. held at SDN 1 Dane Rase to create character education in the independent curriculum. After being collected through observation, interviews, and documentation, the data was analyzed through preparation, verification, and reduction. Character education in elementary schools plays a crucial role in shaping a generation with integrity. This article discusses the importance of implementing character values in the elementary education curriculum, as well as strategies that educators can apply to instill positive attitudes and behaviors in students. Through a holistic approach, including the integration of moral values in teaching and learning activities, project-based learning, and parental involvement, character education not only equips students with academic knowledge but also builds a strong ethical and moral foundation. Research results show that students who receive character education tend to exhibit better social behavior, environmental awareness, and adaptability in society. Thus, character education in elementary schools is expected to create a generation of young people who are not only academically intelligent but also possess high integrity and social responsibility.
PEMALIQ: FENOMENA MASYARAKAT PENUTUR BAHASA SASAK LOMBOK UTARA M. Aris Akbar
MABASAN Vol. 20 No. 1 (2026): Mabasan 20 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v20i1.1102

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika perubahan penggunaan pemaliq sebagai salah satu produk budaya masyarakat Sasak Bayan di Lombok Utara. Pemaliq yang merupakan bentuk larangan atau pantangan dalam tradisi lisan Sasak, mengalami transformasi makna, bentuk, dan praktik seiring perkembangan zaman. Perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain keterbukaan masyarakat terhadap budaya luar, perkembangan teknologi, serta perubahan cara pandang generasi muda terhadap nilai-nilai budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model etnografi, serta memanfaatkan teori perubahan budaya Malinowski dan teori linguistik antropologi Foley untuk menganalisis pergeseran makna dan praktik pemaliq dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan penggunaan pemaliq tercermin dalam penggantian istilah lokal dengan istilah nasional, penyesuaian perilaku berdasarkan perkembangan zaman, serta hilangnya sebagian bentuk dan nilai pemaliq akibat difusi budaya modern. Kendati demikian, pemaliq masih memiliki peran penting dalam membentuk identitas budaya, menjaga norma sosial, serta merepresentasikan pandangan hidup masyarakat Sasak Bayan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian dan revitalisasi nilai-nilai pemaliq agar tetap relevan dengan konteks kehidupan modern tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Complement Verbs in the Bima Language of Tarlawi Sub-Dialect: An Analysis of Forms, Types, and Semantic Functions M. Aris Akbar; Habiburrahman Habiburrahman
LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 21, No 1 (2026): LiNGUA
Publisher : Laboratorium Informasi & Publikasi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/ling.v21i1.41320

Abstract

The linguistics of smaller communities goes unnoticed in most academic conversations; so does the Bima language, spoken in Bima Regency, West Nusa Tenggara Province, Indonesia. The Bima language belongs to the Central Malayo-Polynesian subgroup of the Austronesian language family and is spoken by approximately one million people in the eastern part of Sumbawa Island. The Bima language has survived through oral tradition and everyday use. However, formal documentation of its grammar remains severely lacking. The Tarlawi sub-dialect of Bima, which is distinct and has not been the focus of study, reflects the above statement, for it can also be considered a unique dialect. The motivation for this study was practical. Upon reviewing the existing literature on regional languages in eastern Indonesia, it was found that even something as basic as Bima grammar, particularly the behavior of verbs, has not been described. This research pays special attention to verbs, as they are more than mere action words; they organize the relationships among various elements in a sentence and often determine whether a sentence is complete. No study on complementation verbs in the predicate of the Tarlawi sub-dialect has been conducted previously. Thus, this study was set out to fill that gap. The researchers collected data through direct fieldwork with native speakers of the Tarlawi subdialect, using a range of naturally occurring language: isolated words, phrases, clauses, full sentences, and connected discourse. Instead of relying on intuition or elicitation alone, the analysis employed deletion and insertion tests. It is a standard yet reliable method for determining if the relevant verb element is obligatory or can be omitted in its grammatical structure. The findings suggest a verbal system that is organized yet adaptable. All verb types in Bima seem to come from a single root verb. This type of verb is derived into intensive verbs, complex transitive verbs, action verbs, process verbs, state verbs, and stative verbs. The relationship to complement verbs varies considerably among the categories – some require a complement verb to form a grammatical sentence, and others can still work without one. In addition to showing the internal grammar of Bima, the research results also constitute the first documentation of complement-verb constructions in the Tarlawi sub-dialect. This contribution hopefully opens the door to further work on this topic and other under-described varieties of Indonesian regional languages.
Model Pembelajaran IPAS Materi Gelombang Bunyi Berbasis Laboratorium Etnosains Sasak Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Sekolah Dasar M. Zaini Saparingga; Khairil Anwar; M. Aris Akbar
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.3135

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan sekaligus menguji efektivitas model pembelajaran IPAS berbasis Laboratorium Etnosains Sasak pada materi gelombang bunyi untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa sekolah dasar. Pembelajaran memanfaatkan fenomena budaya lokal Masyarakat sasak, seperti alat musik tradisional Gendang Beleq, Gong, dan Rincik sebagai laboratorium kontekstual untuk mengamati konsep gelombang bunyi. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap Analysis, Design, Development, dan Evaluation. Subjek penelitian terdiri atas siswa kelas IV SD. Instrument penelitian berupa lembar validasi ahli, lembar observasi keterampilan proses sains, tes hasil belajar, angkey respon siswa, dan wawancara guru. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran yang dikembangkan memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Peningkatan keterampilan proses sains siswa berada pada kategori sedang hingga tinggi dengan nilai N-Gain sebesar 0, 72. Selain meningkatkan keterampilan proses sains, model pemebelajaran juga meningkatkan motivasi belajar, kemampuan berpikir ilmiah, serta apresiasi siswa terhadap budaya local sasak. Dengan demikian, model pembelajaran IPAS berbasis Laboratorium Etnosains Sasak layak digunakan sebagai alternatif pembelajaran kontekstual pada materi gelombang bunyi di sekolah dasar.
Transitivity and Modality in Sasak Language Conversation (SLC) Texts from a Gender Perspective Irma Setiawan; Pipit Aprilia Susanti; Ida Ayu Laksmita Sari; M. Aris Akbar
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v6i2.2785

Abstract

The purpose of this study is to explore the construction of gender-based violence in the SLC texts. Gender denotes social roles (not founded on biological or physiological differences) of women and men as perceived by persons or collectives within a given society. The SLC, being a realization of linguistic experience, serves to actualize social roles deemed suitable or unsuitable for women and men. This study concentrates on: 1) The building of gender-based violence derived from the systems of transitivity, modality, and social context in SLC, and (2) The development of precautionary strategies against gender-based violence in SLC. This research utilizes Systemic Functional Linguistics (SFL) theory, concentrating on Halliday’s systems of transitivity, modality, and social context. The methodology used is descriptive qualitative. The data and their sources comprise conversational texts in the SLC collected from public spaces in Mataram City. Data gathering was performed via observation and note-taking, employing non-participant observation and transcription techniques. The tools and analytic procedures are grounded in Halliday’s systemic functional perspective. The results reveal that gender-based violence in the SLC, based on the transitivity system, originates from verbal processes (psychological and physical consequences); based on the modality system, it emerges from a high likelihood or assuredness of action; and based on the social context, it proceeds from patterns of speech participants and discourse devices. The outcomes of this research offer thorough details concerning attempts to prevent gender-based violence in the SLC among the Sasak ethnic community of Lombok Island.