Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Model Pengembangan Iringan Tari Jaran Kepang Kiswanto Kiswanto; Wahyu Nugroho; Wahyu Prihatin
PANGGUNG Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i3.3216

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkonseptualisasikan dan memformulasikan karakteristik bentuk pola ke dalam suatu model yang merepresentasikan mengenai bangunan sistem musikal gending jaranan, metode (tahapan dan strategi) pengembangannya, serta hasil karya dari pengembangan itu sendiri. Penelitian dilakukan melalui pendekatan etnografi yang berlatar kegiatan partisipatif dan kolaboratif dengan teknik pengumpulan data melalui aktivitas pengamatan, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa model pengembangan sajian gending jaranan yang mengacu pada aspek penataan dan penggarapan sajian gending (musik). Model pengembangan sajian gending jaranan dapat diidentifikasi dan dijelaskan berdasarkan (1) pola dasar sajian gending jaranan, (2) metode pengembangannya, serta (3) bentuk dari hasil pengembangan tersebut. Tulisan ini didasarkan pada suatu argumen bahwa seni pertunjukan rakyat Jawa yang dahulu sering diremehkan dan dipandang sebelah mata, kini telah bertransformasi menjadi sebuah kekuatan budaya yang adaptif dan dinamis untuk menyesuaikan diri terhadap konteks kebutuhan serta perkembangan estetika dan selera masyarakat. Kata kunci: Jaran Kepang, Model Pengembangan Kesenian, Gending Jaranan, Seni Kerakyatan
Sholawat Global: Jalinan Makna Lintas Iman Nurvijayanto, Ribeth; Kiswanto, Kiswanto
SELONDING Vol 20, No 1 (2024): : Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v20i1.12411

Abstract

Sholawat Global adalah karya seni musik  yang merepresentasikan sikap toleransi praktik keberagamaan. Karya ini menyimpan pelbagai makna-makna yang mendalam. Penelitian ini dikerjakan dengan pendekatan kualitatif eksplanatoris dengan mewacanakan analisis semiotika yang ditawarkan Umberto Eco yang ditinjau dari kesatuan teks dan konteks Etnomusikologis. Penggalian makna  dalam Sholawat Global dianalisis menggunakan perspektif semiotika yang ditawarkan oleh Umberto Eco yaitu pemaknaan konotatif dan denotatif. Makna denotatif dalam karya ini ditinjau dari simbol-simbol hasil  manifestasi agama dunia yaitu kristen, Yahudi, dan Islam berupa lagu-lagu yang disajikan. Lagu-lagu yang dibawakan mengandung ekspresi yang menyuarakan perdamaian dalam konteks kehidupan sosial agama-agama dunia. Ekspresi musikal dan non musikal dalam karya ini merepresentasikan sebuah konten berupa kontruksi budaya dan konflik sosial yang hadir dalam persinggungan antar agama-agama dunia tersebut. Sholawat Global memiliki makna konotasi yang memposisikan lagu tersebut sebagai media komunikasi masyarakat. Pemaknaan denotasi dan konotasi mencerminkan kesatuan makna yang saling menguatkan. Lewat ekspresi musikal dan non musikal, pesan dari perdamaian yang memberikan efek keselamatan dan kesejahteraan bagi umat manusia yang dikumandangkan. Kata kunci: Sholawat Global, Semiotika, Etnomusikologis
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI KESENIAN GEJOG LESUNG PADA KOMUNITAS SANGGAR SANGIR DI KABUPATEN SRAGEN Indriani, Novita; Kiswanto, Kiswanto; Utami, Fawarti Gendra Nata
Acintya Vol. 15 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v15i2.5489

Abstract

Gejog Lesung is folk traditional music that still survives and develops in various rural agricultural areas in Java. The research aims to look at the relationship or connection between the existence of women, gejog dimples, and the Sanggar Sangir group in Sragen, as well as the role and contribution of the three in maintaining traditions passed down from ancestors for more diverse development purposes. This research uses a qualitative approach, which is carried out through data collection stages, including observation, interviews and literature study, as well as data analysis stages through descriptive and analytical interpretation methods to end with drawing conclusions. The results of this research show that the art of gejog mortar in the Sanggar Sangir group has (1) become a forum for expression and self-actualization for women to appear in public; (2) provided a forum for women, especially mothers, and teenagers, to interact with each other and exchange information that is useful in maintaining close social relations; and (3) become a means of empowering women in their participation to increase progress in the economic, social and cultural fields.
NEGOSIASI MUSIKAL ORKES KERONCONG FARIES NAFISA NUSANTORO DALAM PERTAUTAN PERKEMBANGAN MUSIK POPULER DANGDUT Ramadhan, Raihan Jelang; Kiswanto
TAMUMATRA Vol 7 No 2 (2025): Tamumatra
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/tmmt.v7i2.29177

Abstract

This paper aims to uncover and explain the process of adaptation and negotiation of keroncong music amidst the dominance of popular dangdut music culture. This study focuses on the cultural dialectics undertaken by Faries Nafisa Nusantoro and Sanggar Rindu Malam in their efforts to confront the dominance of mainstream music. This research is based on an ethnographic approach conducted through building direct involvement in the midst of the study, supported by techniques such as observation, interviews, documentation, and literature review. This study produces findings in the form of adaptations referring to the marriage (hybridization) between keroncong music and dangdut music, musical negotiations that occur in the development of keroncong music, and its significance in the development of keroncong music in meeting the needs of the music industry in Indonesia. The findings of this research are expected to provide discourse and knowledge that contribute to the preservation and development of keroncong music in Indonesia.
Suara Genta dalam Ritual Persembahyangan Melasti oleh Umat Hindu di Blitar, Jawa Timur Wahyuningsih, Indah; Kiswanto
Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/mebang.v5i1.165

Abstract

This study aims to determine the use and function of the bell in the Melasti prayer of Hindus in Blitar Regency. The bell in the Melasti prayer has an important role. The role of the bell in the series of Melasti prayers includes making tirta, eteh-eteh, nglarung sesaji, and sembahyang tri sandya. This study uses a qualitative method with an ethnographic approach. Alan P. Merriam in the Anthropology of Music, said that the use and function are references to examine the issue of how to use the bell, and its function in the Melasti prayer. Through the opening of the anthropological glasses, Merriam produced the use of the bell in the Melasti Prayer as an accompaniment to the Pandita's mantram and the five main functions of the bell in the Melasti Prayer, namely the Emotional Expression Function, Communication Function, Social and Religious Institution Validation Function, Physical Reaction Function, Hindu Community Integration Function. So that the bell in the Melasti prayer is not only religious music, but is able to create more space so that the bell can convey solemnity, human unity to communicate with Sang Hyang Widhi and culture.
Aesthetic Transformation of Javanese Wayang Performances in the Digital Era Sunardi, Sunardi; Saka, Putri Ananda; Sulastuti, Katarina Indah; Mulyana, Aton Rustandi; Ansari, Isa; Novianto, Wahyu; Kiswanto, Kiswanto; Putro , Renaldi Lestianto Utomo
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol. 25 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v25i1.11320

Abstract

This study examines how technological advancements have transformed the aesthetics of wayang performances in Java. Data collection methods include observations of wayang performances, interviews, literature reviews, and internet searches to capture the aesthetic transformation of wayang performances in the digital age. Given the existing literature’s tendency to discuss wayang performances within a limited scope, this research provides a more comprehensive contribution by positioning wayang performances as an integrated entity encompassing dalang creativity and audience response. Through the analysis of diverse wayang performances, the study demonstrates that aesthetic transformation is evidenced by the dalang’s hybrid presentation techniques, the emergence of novel story repertoires, and increased audience engagement. Significant findings from this study include the growth of dalang’s creative and adaptive capabilities, enhanced interpretative approaches in composing wayang stories, and the audience’s influence in shaping mass aesthetic trends. This study provides important contributions to the pedalangan (puppetry) and the relations of wayang, dalang, audience, and technology. Furthermore, this study contributes to the academic discourse on cultural adaptation in the digital age and provides pragmatic resources for the artistic development of Javanese puppetry.
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI KESENIAN GEJOG LESUNG PADA KOMUNITAS SANGGAR SANGIR DI KABUPATEN SRAGEN Indriani, Novita; Kiswanto, Kiswanto; Utami, Fawarti Gendra Nata
Acintya Vol. 15 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v15i2.5489

Abstract

Gejog Lesung is folk traditional music that still survives and develops in various rural agricultural areas in Java. The research aims to look at the relationship or connection between the existence of women, gejog dimples, and the Sanggar Sangir group in Sragen, as well as the role and contribution of the three in maintaining traditions passed down from ancestors for more diverse development purposes. This research uses a qualitative approach, which is carried out through data collection stages, including observation, interviews and literature study, as well as data analysis stages through descriptive and analytical interpretation methods to end with drawing conclusions. The results of this research show that the art of gejog mortar in the Sanggar Sangir group has (1) become a forum for expression and self-actualization for women to appear in public; (2) provided a forum for women, especially mothers, and teenagers, to interact with each other and exchange information that is useful in maintaining close social relations; and (3) become a means of empowering women in their participation to increase progress in the economic, social and cultural fields.
Model Pengembangan Iringan Tari Jaran Kepang Kiswanto, Kiswanto; Nugroho, Wahyu; Prihatin, Wahyu
PANGGUNG Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i3.3216

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkonseptualisasikan dan memformulasikan karakteristik bentuk pola ke dalam suatu model yang merepresentasikan mengenai bangunan sistem musikal gending jaranan, metode (tahapan dan strategi) pengembangannya, serta hasil karya dari pengembangan itu sendiri. Penelitian dilakukan melalui pendekatan etnografi yang berlatar kegiatan partisipatif dan kolaboratif dengan teknik pengumpulan data melalui aktivitas pengamatan, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa model pengembangan sajian gending jaranan yang mengacu pada aspek penataan dan penggarapan sajian gending (musik). Model pengembangan sajian gending jaranan dapat diidentifikasi dan dijelaskan berdasarkan (1) pola dasar sajian gending jaranan, (2) metode pengembangannya, serta (3) bentuk dari hasil pengembangan tersebut. Tulisan ini didasarkan pada suatu argumen bahwa seni pertunjukan rakyat Jawa yang dahulu sering diremehkan dan dipandang sebelah mata, kini telah bertransformasi menjadi sebuah kekuatan budaya yang adaptif dan dinamis untuk menyesuaikan diri terhadap konteks kebutuhan serta perkembangan estetika dan selera masyarakat. Kata kunci: Jaran Kepang, Model Pengembangan Kesenian, Gending Jaranan, Seni Kerakyatan
EKSISTENSI KESENIAN MUSIK ODROT: TANTANGAN DALAM PELUANG DAN REGENERASI Yonaldi, Andra; Kiswanto, Kiswanto
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.75130

Abstract

Tulisan ini membahas tentang eksistensi kesenian Musik Odrot sebagai salah satu warisan budaya tradisional yang mulai terpinggirkan di tengah arus modernisasi di Ponorogo. Musik Odrot, yang berkembang sejak tahun 1950-an, merupakan transformasi dari musik tiup kolonial yang menjadi bentuk hiburan rakyat yang khas, dengan fungsi sosial, spiritual, dan budaya yang penting dalam masyarakat. Namun, eksistensinya kini menghadapi berbagai tantangan serius seperti krisis regenerasi, kerusakan instrumen, minimnya dokumentasi, serta fokus kebijakan budaya daerah yang lebih mengutamakan kesenian Reog. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika eksistensi Musik Odrot serta menawarkan strategi pelestarian yang relevan dengan konteks saat ini. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan pendekatan studi multi metode atau mixmethods research dengan fokus pada data kualitatif, yaitu dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur, wawancara langsung dengan pelaku kesenian Odrot, serta observasi dokumentasi visual dari video pertunjukan Musik Odrot yang diunggah di platform YouTube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi Musik Odrot dapat dipulihkan dan diperkuat melalui revitalisasi instrumen, pelibatan pendidikan, pendokumentasian, serta penyelenggaraan festival dan kolaborasi antar-lembaga. Musik Odrot tidak hanya pantas dipertahankan karena nilai tradisinya, tetapi juga karena potensinya dalam membangun kembali ekosistem budaya lokal yang adil dan beragam
ORKES KERONCONG ALUNAN SEMUT IRENG SEBAGAI REPRESENTASI BUDAYA PURA MANGKUNEGARAN Amurwaningtyas, Allya Dwi Melati; Kiswanto, Kiswanto
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.82062

Abstract

Penelitian ini membahas Orkes Keroncong Alunan Semut Ireng sebagai representasi budaya Pura Mangkunegaran. Latar belakang penelitian berangkat dari fenomena bahwa kelompok musik ini tidak hanya hadir sebagai wadah hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian tradisi dan nilai-nilai kadipaten. Tujuan penelitian adalah untuk mengungkap bagaimana musik, repertoar, kostum, serta sikap para musisi dipakai sebagai medium representasi budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Orkes Keroncong Alunan Semut Ireng menampilkan identitas budaya Mangkunegaran melalui repertoar yang sarat makna historis, kostum yang mencerminkan filosofi kadipaten, serta tata krama musisi yang menegaskan posisi mereka sebagai abdi dalem. Selain itu, inovasi pertunjukan dan kolaborasi musikal memperlihatkan strategi adaptasi agar tetap relevan dengan audiens lintas generasi. Dengan demikian, Orkes Keroncong Alunan Semut Ireng dapat dipahami sebagai medium penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus memperkuat representasi budaya Pura Mangkunegaran di ruang publik.