Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Indonesia’s Policy Response to Malaysian Cultural Claims (2007–2019) Halim, Abrar; Samry, Wannofri; Anatona, Anatona
Analisis Sejarah Vol 15 No 2 (2025)
Publisher : Laboratorium Sejarah, Departement Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jas.v15i2.143

Abstract

This study analyzes Indonesian cultural policy from 2007 to 2019, focusing on implementation, public response, and its impact on international relations. Culture is positioned as strategic for identity, heritage awareness, and diplomacy. Using a qualitative descriptive-historical approach with written, visual, online, and interview sources, findings show that cultural claims encouraged both reactive and proactive measures. The government accelerated UNESCO registrations of Batik (2009), Angklung (2010), and Wayang (2003) to gain legitimacy. Legal frameworks were strengthened through Law No. 11/2010 on Cultural Heritage and Law No. 5/2017 on Cultural Advancement. Internationally, the Indonesian Cultural House (RBI) program became a soft power instrument, involving the diaspora and enhancing diplomacy. Hence, cultural claims act as both challenges and catalysts for sovereignty, regulation, and global cultural strategy.
Gender Equality in the Early Twentieth Century: A Historical Analysis of Peranakan Chinese Literary Works in Doenia Baroe (1930) Sari, Risa Junita; Samry, Wannofri
Andalas International Journal of Socio-Humanities Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aijosh.v7i2.90

Abstract

This study examines representations of gender equality in Peranakan Chinese literary works published in the newspaper Doenia Baroe in 1930. As a medium that provided a relatively broad space for expression and social imagination, Doenia Baroe became an essential platform for Peranakan Chinese women in the Dutch East Indies, who stood at the crossroads between conservative Chinese traditions and the expanding influence of Western modernity. Through formal education—both in Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) schools and Western-style schools—a group of educated women emerged who began to recognize and question the inequality of gender roles. Employing historical research methods, including heuristics, source criticism, interpretation, and historiography, and integrating a gender theory approach, this study analyzes how literary works functioned as a medium for critique, proposed solutions, and reflections on women’s struggles against cultural constraints. The findings indicate that female characters in these works display a growing awareness of the importance of education, freedom in choosing life partners, personal independence, and the courage to enter the public sphere. In addition, the authors frequently portray tragic consequences as moral warnings that highlight tensions between tradition and modernity. Overall, the representation of gender equality in Peranakan Chinese literature reflects broader social dynamics and underscores the role of literature as a significant arena for women’s ideological struggles against gender injustice in the Dutch East Indies during the early twentieth century.
Suara Rang Awak: Radio Jam Gadang, Bukittinggi Pasca Reformasi Dayaning Buana, Fadila; Samry, Wannofri
Jurnal Ceteris Paribus Vol 1 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Humanities, Andalas University, Padang, West Sumatra in cooperation with Kato Institute.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.337 KB) | DOI: 10.25077/jcp.v1i1.6

Abstract

Objek penelitian ini adalah Radio Jam Gadang FM, salah satu radio swasta di Bukittinggi. Radio ini lahir untuk mempertahankan dan memperkuat identitas Minang ketika gencarnya aliran globalisasi dan modernisasi yang banyak disiarkan media massa pada awal reformasi. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, dokumentasi, arsip dan observasi lapangan. Sumber dan informasi yang didapat dari studi pustaka dan wawancara dikritik lalu diinterprestasikan, kemudian dilakukan penulisan sejarahnya. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa radio Jam Gadang telah menyuarakan identitas Minangkabau di kota Bukittinggi. Seluruh program-program yang disajikan pada radio Jam Gadang memiliki tujuan sebagai wadah untuk melestarikan kesenian Minangkabau di tengah masyarakat urban. Kata kunci: radio, identitas, Minangkabkau, globalisasi, modernisasi
Berita Koerai: Jembatan Jarak Antara Darek dan Rantau Masa Kolonial (1938-1941) Dedi Dwiputra, Dary; Samry, Wannofri
Jurnal Ceteris Paribus Vol 1 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Humanities, Andalas University, Padang, West Sumatra in cooperation with Kato Institute.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.016 KB) | DOI: 10.25077/jcp.v1i2.9

Abstract

Penelitian ini menjelaskan bahwa munculnya majalah Berita Koerai tidak dapat dilepaskan dari berkembangnya pendidikan, ekonomi dan infrastruktur di Nagari Koerai. Majalah ini memiliki isi yang mengarah kepada hubungan masyarakat Koerai, kampung halaman, dan daerah rantau. Berita Koerai merupakan media penghubung bagi perantau dengan yang menetap di kampung untuk saling bertukar informasi sekaligus menjalin hubungan silaturahmi dan juga sarana komunikasi paling efektif dalam membangun hubungan antar-urang awak, misalnya, memberitakan alamat orang-orang darek di daerah rantau, berita sosial budaya, hiburan, dan agama. Kata kunci: Berita Koerai, darek, rantau, kolonial