Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Rehabilitasi Fisik Pasca COVID-19 dalam Meningkatkan Kapasitas Fungsi Paru Latif Hisbulloh; Dewi Irawati
Jurnal Keperawatan Silampari Vol 5 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan Silampari
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.8 KB) | DOI: 10.31539/jks.v5i2.3653

Abstract

This study aims to see the effectiveness of physical activity rehabilitation in post-covid-19 patients in increasing lung function capacity. The method used is a literature review using a database, namely Google Schooler, Embase, Pubmed, and Clinical Key. The results showed that physical rehabilitation therapy was divided into two. The first is a light physical exercise carried out by doing a Short Physical Performance Battery (SPPB) as a measure of performance (time required to walk 4 meters), balance (standing for 10 seconds with legs), and lower extremity strength (time needed to stand and sit). Five times from the chair). This physical exercise is carried out as long as there are no signs and symptoms of worsening. The second therapy is yoga practice therapy which, in its implementation, can increase concentration and eliminate anxiety. In conclusion, early rehabilitation should be given to post-COVID-19 patients. Individuals with limitations due to restriction or lockdown should receive an exercise program to reduce weakness, sarcopenia, cognitive decline, and depression. Keywords: COVID 19, Lung Function, Physical Rehabilitation
Pelatihan Cegah Stunting Sejak Dini dengan MPASI ala Kemenkes pada Ibu Balita di Desa Gambaran Ghina Nur Azizah; Rezka Wahyu Dwiyanti; Tri Vandi Prahestu; Erica Revanda Kusumaningtyas; Rakan Kairo; Nabila Lutfhi Afifah; Mohammad Jimmy Budiarto; Karina Adelia Putri; Nunazzi Amara Arfa; Arief Maulana Wijaya; Hitman Sagah; Dinda Nur Azizah; Latif Hisbulloh; Wanda Nugroho Yanuarto
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 5 No. 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34697/jai.v5i1.1413

Abstract

Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) yang tepat merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah stunting pada masa usia emas anak, yaitu 6–24 bulan. Artikel ini membahas hasil pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita tentang MPASI di Desa Gambaran. Metode pelatihan mencakup pre-test, pemberian materi, demonstrasi pembuatan MPASI, dan post-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta setelah pelatihan. Sebanyak 4 peserta mampu menjawab seluruh soal post-test dengan benar, sedangkan rata-rata peserta menjawab 8 dari 10 soal dengan benar. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi melalui pemaparan materi dan demonstrasi MPASI efektif dalam meningkatkan pemahaman ibu tentang pentingnya MPASI untuk mencegah stunting. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyoroti hubungan positif antara pemberian MPASI yang sesuai dengan pencegahan stunting pada anak usia dini.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Durasi Operasi Transurethral Resection of The Prostate Gagah Satria Hendrawan; Latif Hisbulloh; Sigit Paryadi
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 9 No 2 (2024): Vol. 9 No. 2 Desember 2024
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v9i2.1707

Abstract

Durasi operasi Transurethral Resection of The Prostate (TURP) berkisar antara 30 – 60 menit, durasi reseksi lebih dari 70 menit merupakan faktor risiko timbulnya komplikasi, terutama sindroma TURP. Sementara itu, durasi TURP dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya keahlian, volume prostat, dan riwayat kateterisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi lama durasi operasi TURP di Instalasi Bedah Sentral RSUD Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode retrospective observational analytic dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling sehingga terkumpul 118 e-rekam medik. Analisis yang digunakan adalah regresi logistik untuk mengetahui faktor yang paling dominan mempengaruhi durasi TURP. Hasil analisis menunjukkan bahwa keahlian dan volume prostat terbukti signifikan mempengaruhi durasi TURP (p < 0,05). Selain itu, variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap durasi TURP adalah keahlian dokter dengan nilai signifikansi sebesar < 0,001 dan nilai OR sebesar 19,9. Sementara, riwayat kateterisasi tidak berpengaruh terhadap durasi TURP (p > 0,05). Pasien yang ditangani oleh ahli urologi memiliki kesempatan durasi TURP ≤ 60 menit sebesar 19,9 kali lebih besar dibanding ditangani oleh PPDS (Peserta Pendidikan Dokter Spesialis). Perawat diharapkan dapat mengidentifikasi komplikasi terhadap durasi TURP yang memanjang, sehingga dapat mempersiapkan terapi yang diperlukan untuk pasien.
IMPLEMENTASI ART THERAPY MENGGAMBAR SEBAGAI UPAYA REGULASI EMOSI PADA REMAJA Dea Azzahra Fitri; Hilmi Bima Pratama; Jeni Dian Saputri; Yusi Huswatun; Rifqi Maulana Hakim; Sisca Lutfany Alya; Reyza Firman Febriansyah; Alfiah Zahro Nuraini; Lila Ewa Neysa; Eka Sri Sulastri; Amanda Novia Ardana; Anggito Imam Raharjo; Latif Hisbulloh; Ridho Muktiadi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026): Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i3.57853

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan mengalami permasalahan emosi akibat berbagai perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang terjadi pada masa perkembangannya. Kesulitan dalam mengelola emosi dapat berdampak pada munculnya kecemasan, stres, serta hambatan dalam interaksi sosial di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan yang dapat membantu remaja mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membantu siswa dalam mengelola emosi melalui penerapan art therapy berbasis menggambar. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 2026 di SMP Negeri 1 Bumiayu, Kabupaten Brebes, dengan melibatkan 36 siswa kelas VII. Metode yang digunakan berupa pendekatan kualitatif melalui psikoedukasi, praktik art therapy, observasi, diskusi refleksi, dan wawancara singkat. Pelaksanaan kegiatan meliputi tahap persiapan, penyampaian materi mengenai emosi, kegiatan menggambar sebagai media ekspresi diri, serta evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam mengenali dan mengekspresikan emosi secara lebih adaptif melalui media gambar. Dengan demikian, art therapy berbasis menggambar dapat menjadi salah satu pendekatan yang aplikatif dalam mendukung pengelolaan emosi remaja di lingkungan sekolah.
Edukasi dan Skrining sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Tidak Menular Nunik Angelia; Yolinda Suciliyana; Latif Hisbulloh
Abdimas Galuh Vol 8, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i1.23217

Abstract

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Indonesia merupakan salah satu negara yang menghadapi masalah penyakit menular dan penyakit tidak menular (PTM). Penyakit tidak menular biasanya tidak bergejala dan tidak menunjukkan tanda klinis tertentu, sehingga sebagian besar masyarakat tidak menyadari bahaya penyakit tidak menular. Penyakit tidak menular (PTM) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang mengalami peningkatan setiap tahunnya, dan menjadi penyumbang angka kematian terbesar di Indonesia. Penyakit ini dipicu oleh kurangnya aktivitas fisik, merokok, pola makan yang tidak efektif, stres, yang mengakibatkan peningkatan tekanan, peningkatan gula darah, dan peningkatan lemak darah. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan melakukan screening kesehatan penyakit tidak menular dengan sasaran yaitu anggota Cabang Nasiyatul Aiyiyah Jatilawang. Metode pengabdian masyarakat ini adalah ceramah tentang penyakit tidak menular yang dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Untuk mengetahui manfaat kegiatan ini, pengetahuan peserta diuji menggunakan lembar pre-tes dan post-tes yang berisi pernyataan benar dan salah. Terdapat peningkatan pengetahuan peserta dengan rerata sebesar 3,03.  Hal ini membuktikan bahwa penyuluhan ini efektif untuk meningkatkan pengetahuan peserta kegiatan.
Determination of Lifestyle Factors on the Incidence of Hypertension in Peri Urban Areas Dandi Oka Subantara; Yeli Yulianti; Latif Hisbulloh; M.Luthfi Adillah
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 17, No 4 (2026): April 2026
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf170411

Abstract

Hypertension cases in developing countries, including Indonesia, continue to rise annually, with a particularly high burden in densely populated provinces such as West Java. If left unmanaged, hypertension may progress to severe complications that threaten individual health and quality of life. Identifying lifestyle-related determinants that significantly contribute to hypertension is essential so that individuals can modify behaviors that increase their risk. This study aimed to analyze the lifestyle factors most strongly associated with the incidence of hypertension among residents living in a peri urban area. A descriptive–correlative design with an analytical cross sectional approach was employed. The study involved 434 respondents diagnosed with hypertension and residing in a peri urban region, specifically Mangkubumi District, located at the administrative border between the regency and the city. Variables assessed included sodium intake, physical activity, stress level, obesity status, and smoking history. Statistical analysis was conducted to determine the relationship between each lifestyle factor and hypertension incidence. The findings revealed that sodium (salt) intake and low levels of physical activity were significantly associated with hypertension (p < 0.05). Conversely, stress level, obesity, and smoking history did not show significant relationships, as indicated by p values above 0.05. Among all variables, physical activity demonstrated the strongest association with hypertension, with a p value of 0.021. In conclusion, lifestyle factors, particularly physical activity and sodium intake, play a significant role in the occurrence of hypertension in peri urban communities. These results underscore the importance of promoting healthier lifestyle behaviors to prevent complications related to hypertension. Keywords: risk factors; lifestyle; peri urban; hypertension
Optimalisasi Pencegahan Kecacingan melalui Edukasi, Skrining Kebersihan Kuku, dan Cuci Tangan Pakai Sabun pada Siswa SD UMP Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah Defi Nurul Hayati; Latif Hisbulloh; Kurnia Ritma Dhanti; Syaukaty Yasinta; Muhammad Aldi Alfrizal; Najwa Dzakira Syalsa; Ayra Mysha Naira; Dino Aprilianto Gusty
Inovasi Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 2 (2026): IJPM - Agustus 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/ijpm.1362

Abstract

Infeksi kecacingan masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan pada anak usia sekolah yang erat kaitannya dengan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama kebersihan kuku dan kebiasaan mencuci tangan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat siswa dalam pencegahan kecacingan melalui edukasi, skrining kebersihan kuku, dan praktik cuci tangan pakai sabun (CTPS). Kegiatan dilaksanakan pada 70 siswa kelas V SD UMP Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah melalui tahapan penyuluhan mengenai penyakit kecacingan, observasi kebersihan kuku yang dipadukan dengan wawancara menggunakan kuesioner, serta demonstrasi dan praktik tujuh langkah CTPS sesuai standar. Keberhasilan kegiatan dievaluasi berdasarkan distribusi kategori kebersihan kuku serta keterampilan siswa dalam mempraktikkan CTPS. Hasil skrining menunjukkan bahwa 38 siswa (54,3%) memiliki kebersihan kuku kategori baik, 12 siswa (17,1%) kategori cukup, dan 20 siswa (28,6%) kategori kurang, sehingga target minimal 50% kategori baik telah tercapai. Selain itu, siswa mampu mempraktikkan tujuh langkah CTPS dengan benar setelah mengikuti demonstrasi dan pendampingan, yang menunjukkan adanya peningkatan keterampilan mencuci tangan sesuai prosedur. Kegiatan ini memberikan manfaat berupa meningkatnya pemahaman siswa mengenai hubungan antara kebersihan kuku, kebiasaan mencuci tangan, dan pencegahan infeksi kecacingan, serta mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah. Kombinasi edukasi, skrining kesehatan, dan praktik CTPS merupakan pendekatan yang efektif dalam mendukung upaya pencegahan kecacingan pada anak usia sekolah.