Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pengaruh Variasi Masa Simpan Tempe sebagai Bahan Dasar terhadap Yoghurt Probiotik Adrian Azhari Pulungan; Dea Fahrum Nisa; Yuli Agustinah Munthe; Rizki Amelia Nasution
JURNAL RUMPUN MANAJEMEN DAN EKONOMI Vol. 3 No. 4 (2026): Juli
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jrme.v3i4.11556

Abstract

Tempeh is a traditional fermented soybean product rich in protein and has great potential as a raw material for functional foods, including probiotic yogurt. The use of tempeh as a yogurt base provides an alternative for consumers seeking plant-based dairy substitutes while increasing the value of local fermented products. This study aimed to evaluate the quality of probiotic yogurt made from tempeh fermented with lactic acid bacteria derived from Yakult based on lactic acid bacteria (LAB) count, pH value, and organoleptic characteristics. A laboratory experimental method was employed using three fermentation periods: 1 day (P1), 2 days (P2), and 3 days (P3). Product quality was assessed through the Total Plate Count (TPC) method for LAB enumeration, pH measurement using a calibrated pH meter, and organoleptic evaluation of color, aroma, taste, and texture. The results showed that all treatments produced yogurt with a pH ranging from 3.62 to 4.70, which is consistent with yogurt characteristics. The best treatment was P1, producing 8.72 × 10⁷ CFU/mL of LAB, meeting the Indonesian National Standard (SNI 2981:2009). Organoleptic evaluation indicated a yellowish-brown color, neutral aroma, thick texture, and slightly unsweetened taste. Therefore, tempeh has strong potential as an alternative substrate for producing high-quality probiotic yogurt.
Diversitas Dan Populasi Bakteri Pelarut Fosfat Pada Berbagai Tanah Dari Mangrove Berbeda Di Kawasan Pulau Kampai Citra Raselia; Kartika Manalu; Rizki Amelia Nasution
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 6, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v6i2.8383

Abstract

Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. Sumber daya mangrove mempunyai beberapa peran baik secara fisik, kimia, dan biologi yang sangat berperan penting dalam menyediakan kebutuhan hidup masyarakat dan memiliki fungsi sebagai penyanggah keseimbangan ekosistem di wilayah pesisir. Ada berbagai macam organisme salah satunya bakteri pelarut fosfat (BPF) yang dapat diisolasi dari tanah rhizosfer mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolasi bakteri pelarut fosfat dan uji potensinya. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dimana merupakan informasi yang bisa diberi nilai yang diukur. Keanekaragaman dan populasi bakteri pelarut fosfat terhadap perbedaan dari beberapa jenis mangrove hasil yang diperoleh berbeda sangat nyata, hal ini diuji dengan uji beda nyata terkecil 5%. Pada penelitian ini diperoleh 12 isolat BPF dengan kode BFM 01, BFM 02, BFM 03, BFM 04, BFM 05, BFM 06, BFM 07, BFM 08, BFM 09, BFM 10, BFM 11 dan BFM 12. Kemampuan bakteri dari tanah magrove di pulau kampai memiliki diversitas indeks yang rata-rata berpotensial. Isolat yang memiliki indeks diversitaspaling tinggi dengan kode isolat BFM 04 yaitu sebesar 8,50 mm dan BFM 12 yaitu sebesar 8,25 mm sedangkan yang memiliki indeks diversitas paling rendah BFM 09 yaitu sebesar 2,25.
Analisis Pertumbuhan BAL dan Khamir pada Masa Fermentasi Sourdough dengan Penambahan Sari Buah Markisa Miftahul Jannah; Rizki Amelia Nasution; Ulfayani Mayasari
BIOEDUSAINS:Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains Vol. 9 No. 3 (2026): BIOEDUSAINS:Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/myws5637

Abstract

This study aimed to determine the growth of lactic acid bacteria (LAB) and yeast during Sourdough fermentation with the addition of passion fruit juice (Passiflora edulis Sims). Sourdough is a fermented dough used as a natural leavening agent in bread making; however, its non-specific aroma is considered one of its weaknesses and reduces consumer interest. The addition of passion fruit juice was intended to improve the aroma characteristics of Sourdough due to the fruit’s distinctive and strong aroma. The methods used in this study included total lactic acid bacteria count and total yeast count to analyze microbial growth during fermentation. The results showed that the populations of LAB and yeast changed throughout the fermentation process in each treatment. The highest LAB count was obtained in treatment P2 on the fifth day, reaching 248.34 × 10⁷ CFU/ml, while the highest yeast  count  was  found  in  treatment  P3  on  the fifth day, reaching 130.01 × 10⁷ CFU/ml. In conclusion, the addition of passion fruit juice affected the microbial dynamics during Sourdough fermentation. The concentration of passion fruit juice and fermentation time played important roles in the growth of LAB and yeast in Sourdough.  Keywords: Lactic Acid Bacteria, Fermentation, Yeast, Sourdough
Potensi Trichoderma sp. sebagai Agen Bioremediasi Limbah Cair Kelapa Sawit Luthfiah Ramadhani Kesuma; Ulfayani Mayasari; Rizki Amelia Nasution
Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol 5 No 2 (2024): Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55241/spibio.v5i2.419

Abstract

Salah satu sektor yang sering hadir di Indonesia adalah bisnis kelapa sawit yang  berkaitan dengan limbah cair. Limbah cair yang dihasilkan industri kelapa sawit dapat menimbulkan ancaman dan mencemari lingkungan perairan. Penggunaan bioremediasi merupakan salah satu cara untuk mengurangi pencemaran akibat limbah cair kelapa sawit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Trichoderma sp. mempunyai kemampuan dalam menurunkan kadar polutan limbah cair kelapa sawit melalui bioremediasi. Dalam penyelidikan ini menggunakan larutan yang mengandung Trichoderma sp. pada konsentrasi 5% dan 10% dalam jangka waktu yang lama. Selama 28 hari, parameter yang diukur adalah DO, BOD, COD, dan kadar minyak. Berdasarkan temuan, konsentrasi 5% Trichoderma sp. larutan meningkatkan oksigen terlarut (DO) sebesar 67,78% dan menurunkan kadar COD sebesar 72,84%, sedangkan konsentrasi 10% meningkatkan DO sebesar 72,78% dan menurunkan kadar BOD sebesar 59,87%. Pada konsentrasi 5% larutan Trichoderma sp mampu menurunkan kadar BOD sebesar 45,09% dan menurunkan kadar minyak sebesar 76,87%, dan pada konsentrasi 10% mampu menurunkan kadar BOD sebesar 59,87% dan menurunkan kadar minyak sebesar 90,75%. Dapat disimpulkan, Trichoderma sp. mempunyai kemampuan menurunkan kadar COD, BOD, dan minyak dalam limbah kelapa sawit sekaligus meningkatkan jumlah oksigen terlarut (DO) dalam air limbah. Hal ini menunjukkan bahwa jamur mempunyai potensi sebagai agen bioremediasi.
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Brucella sp. pada Darah Kambing di Desa Air Joman Kecamatan Air Joman Kabupaten Asahan Sabariah Sinaga; Kartika Manalu; Rizki Amelia Nasution
Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol 5 No 3 (2024): Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55241/spibio.v5i3.464

Abstract

Brucellosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Brucella sp., yang dapat menginfeksi berbagai jenis hewan ternak dan manusia. Penyakit ini sering kali menimbulkan masalah serius dalam peternakan dan kesehatan masyarakat karena kemampuannya untuk menyebar melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi atau produk-produk hewani yang terkontaminasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri Brucella sp. yang menjadi penyebab Brucellosis pada kambing. Metode yang digunakan mencakup isolasi bakteri menggunakan media TSA (Tryptic Soy Agar) dan uji RBT (Rose Bengal Test), serta analisis data penelitian dilakukan secara kualitatif. Hasil dari isolasi bakteri menunjukkan bahwa dua sampel dari jumlah total sampel darah kambing yang diperiksa menunjukkan hasil positif terhadap bakteri Brucella sp. dengan kode isolat KB1 dan SdJ2 dengan media TSA. Identifikasi dilakukan berdasarkan pertumbuhan koloni yang khas pada media kultur, serta analisis pewarnaan gram yang mengungkapkan karakteristik mikroorganisme di bawah mikroskop. Namun, hasil uji RBT menunjukkan hasil yang kurang memuaskan dalam mendeteksi Brucella sp., dengan tidak adanya penggumpalan dan ketidakkonsistenan warna ungu kemerahan pada serum. Perbedaan ini menyoroti tantangan dalam menggunakan metode tes tunggal untuk diagnosis yang akurat, karena adanya kemungkinan hasil negatif palsu atau rendahnya sensitivitas tes. Oleh karena itu, untuk memastikan diagnosis yang lebih akurat dan dapat diandalkan, disarankan untuk menggunakan lebih dari satu prosedur tes lanjutan, seperti ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) dan PCR (Polymerase Chain Reaction). Kombinasi metode ini dapat meningkatkan kepekaan dan spesifisitas diagnosa Brucellosis pada hewan ternak.
REVIEW KERAGAMAN DAN STRUKTUR KOMUNITAS PROTISTA PADA PERAIRAN SALIN DAN HIPERSALIN BERDASARKAN FAKTOR SALINITAS DAN PH Fajar Adinugraha; Rizki Amelia Nasution
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i1.5777

Abstract

Abstract: Saline and hypersaline waters are extreme ecosystems with high environmental stress that affect the survival of aquatic organisms, including protists as key components of the food web. This article aims to review and synthesize the influence of major environmental factors, particularly salinity and pH, on protist diversity and community structure. This study employed a narrative review method on ten selected scientific articles published between 2003 and 2025, covering studies in various habitats such as estuaries, salt ponds, saline lakes, and mangrove sediments. The review results indicate that salinity acts as a primary environmental filter; increased salinity generally correlates with a decrease in species richness but promotes the dominance of specialized halophilic taxa. Furthermore, extreme pH has been shown to limit physiological processes and protist growth. The application of modern molecular methods, such as environmental DNA (eDNA) and metabarcoding, has successfully revealed cryptic diversity of benthic and heterotrophic protists that are difficult to detect through conventional morphological methods. This study concludes that the interaction between physicochemical parameters and habitat characteristics strongly determines the dynamics and composition of protist communities in extreme aquatic environments. Keywords: Protists, Salinity, pH, Hypersaline waters, Diversity, eDNA.. Abstrak: Perairan salin dan hipersalin merupakan ekosistem ekstrem dengan tekanan lingkungan tinggi yang memengaruhi kelangsungan hidup organisme akuatik, termasuk protista sebagai komponen kunci dalam rantai makanan. Artikel ini bertujuan untuk meninjau dan menyintesis pengaruh faktor lingkungan utama, khususnya salinitas dan pH, terhadap keragaman serta struktur komunitas protista. Penelitian ini menggunakan metode narrative review terhadap sepuluh artikel ilmiah terpilih yang dipublikasikan dalam rentang tahun 2003–2025, mencakup studi di berbagai habitat seperti estuari, tambak garam, danau asin, dan sedimen mangrove. Hasil review menunjukkan bahwa salinitas bertindak sebagai filter lingkungan utama; peningkatan salinitas umumnya berkorelasi dengan penurunan kekayaan spesies namun meningkatkan dominasi taksa halofilik yang terspesialisasi. Selain itu, pH ekstrem terbukti membatasi proses fisiologis dan pertumbuhan protista. Penerapan metode molekuler modern, seperti environmental DNA (eDNA) dan metabarcoding, berhasil mengungkap keragaman tersembunyi (cryptic diversity) dari kelompok protista bentik dan heterotrof yang sulit dideteksi melalui metode morfologi konvensional. Studi ini menyimpulkan bahwa interaksi antara parameter fisik-kimia dan karakteristik habitat sangat menentukan dinamika dan komposisi komunitas protista di lingkungan perairan ekstrem. Kata kunci: Protista, Salinitas, pH, Perairan Hipersalin, Keanekaragaman, eDNA.