Ferdinand Indrajaya, Ferdinand
Universitas Pelita Harapan

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Penelitian Atas Penelitian Seni dan Desain: Suatu Studi Kerangka Filosofis-Paradigmatis Bagi Penelitian Seni dan Desain Visual Karna Mustaqim; D. Rio Adiwijaya; Ferdinand Indrajaya
Humaniora Vol. 4 No. 2 (2013): Humaniora
Publisher : Bina Nusantara University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21512/humaniora.v4i2.3541

Abstract

This paper discusses philosophical framework of practice-based artistic research within the field of art and design in contrast with research in the natural and social science. It is stated that paradigm of artistic inquiry is ilustrated with the role of practicioner as researcher wherein subjectivity, involvement and reflexivity are acknowledged, while (k)nowledge is negotiated – inter-subjective, context bound, and is a result of personal construction. Visual objects have been exhausting large amount of our physical and emotional energy in seeing it which certainly gives them a central role in contemporary ages. It is suggested that research could become part of the needs for experience, to inspire, or to collectively develop a profession. Recently, research as knowledge production has been increasing and gaining its interest within the creative art field. However, there is a foundation which underpins a research, at least some implicit philosophical assumptions of it, which serve as the basis of understanding of reality (ontology), and how to know and justify it (epistemology); and by explicating it, it is believed that scrupulous consideration of it may contribute practical benefits in conducting art and design research. In that regard, this paper presents ontological outlook of Heidegger and also epistemology of art of Merleau-Ponty – which rises within phenomenological tradition – as a philosophical framework which can serve as paradigmatic underpinning of artistic research, in contrast with objectivist approach already identical with research in general.  
Übermensch sebagai Radikalisasi Filsuf Alamiah (Krisis Pelampauan Diri Dalam Dunia Pendidikan Desain) Ferdinand Indrajaya
Humaniora Vol. 4 No. 2 (2013): Humaniora
Publisher : Bina Nusantara University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21512/humaniora.v4i2.3558

Abstract

This writing is not an inquiry to classical philosophy per se but is an attempt to propose a dialogue. The content of this writing is a dialogue between classic realm of philosophical thought which is represented by Plato and the realm of thought from the end of modernity, which is represented by Friedrich Nietzsche. The proposed dialogue presented through this writing is not for the sake of permeating or exposing the dialogue, also, per se but is contextualized with the recent contemporary condition of academic world in general and design education in university in specific. What this writing tries to show and reflect is, first, a found similarity in Plato’s concept of education on natural born philosopher with Nietzsche’s übermensch. Secondly, there’s a sense of urgency for the features of übermensch within nowadays nihilistic society to arise. Manifested Übermensch is to embrace nihilism within prevailing stubborn condition of comodifying design higher education through formal templatization of creativity. This concern is relevant to Plato’s concept of education: it is not a matter of privatization through commodification, but since it is now, this might prepare a way for übermensch to emerge. Structurally, this writing is divided into three parts. The introduction reflects on contemporary condition of higher education (on design). Second, this article shares writer’s reflection of the similarities between Plato’s concept and Nietzsche’s on education. Lastly, it is to show the potentiality of Platonic approach on education to give birth to übermensch. 
Kapasitas Tragedi dalam Membangkitkan Bela Rasa dari Perspektif Nussbaum Ferdinand Indrajaya
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 8 No. 1
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v8i1.108

Abstract

Sebuah karya seni memiliki kekuatan untuk memicu amarah, memantik kegelisahan, sekaligus berdaya untuk turut merayakan keyakinan-keyakinan yang kita dekap dan menenangkan perasaan kita. Relasi intim antara karya seni dengan bentuk-bentuk emosi tersebut diandaikan dan diterima. Pengandaian tersebut ditempatkan sebagai pijakan bagi isi tulisan makalah ini. Makalah ini hendak menunjukkan bagaimana tragedi, sebagai sebuah bentuk karya seni naratif, berperan dalam membangkitkan bela rasa dari perspektif filosofis Martha C. Pandangannya sekiranya berharga untuk disampaikan agar kita dapat kembali merefleksikan peran seni bagi kemanusiaan di masa pandemi ini
APROPRIASI DAN REKONTEKSTUALISASI HISTORIS STUDIDASAR RUPA SEBAGAI BAGIAN DARI PENDIDIKAN DASAR DESAIN Ferdinand Indrajaya
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1849.992 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i1.2328

Abstract

AbstractThe paper is an attempt to show a form of appropriating and recontextualizing the fondational study of art and design traditionally with our contemporary life. The content of this paper is mostly based on basic design study class learning activities, in Visual Communication Design department, Pelita Harapan University. The in class activities are considered as a simulation of the mentioned attempt. The attempt isdirected towards the basic design study tradition which has been established since Bauhaus. It tries to show how the significance of Bauhausian tradition is still relevant in the contemporary life; the life which has been driven mostly by digital technology. Digital technology is no longer understood as merely an ensemble of devices but it hasbecome the worldview of contemporary life. Intertwining the Bauhausian tradition with that of worldview may contribute greatly to the way we understand both technology and art & design.  AbstrakMakalah ini disusun sebagai wujud upaya untuk menunjukkan apropriasidan rekontekstualisasi pemahaman tradisional dari studi dasar rupa dengan kehidupan kontemporer sejauh ini. Penyusunan makalah ini sendiri bertolak dari aktivitas perkuliahan studi dasar rupa di jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan dan merupakan simulasi praktis dari upaya apropriasi dan rekontekstualisasi tersebut. Upaya apropriasi dan rekontekstualisasi diarahkan kepada tradisi studi dasar rupa yang secara historis telah terpancang semenjak era Bauhaus. Isi makalah akan berupaya untuk menunjukkan bagaimana pendidikan dalam tradisi Bauhausian tetap relevan di era kehidupan kontemporer yang sebagian besar dimensinya telah didaya-gerakkan oleh teknologi digital. Teknologi digital yang tidak hanya dipahami sebatas ansambel alat-alat, namun telah menjadi pandangan dunia dominan kehidupan itu sendiri. Menjalin tradisi historis pendidikan dasar seni dan desain dengan lingkup kehidupan masa kini yang serba digitalteknologis dapat berkontribusi bagi kita untuk memahami baik teknologi  ataupun seni dan desain itu sendiri.
Lenyapnya Otentisitas Seniman sebagai Konsekuensi Pemberlakuan Seni sebagai Komoditas dari Perjalanan Artisik Thomas Gainsborough Levina, Aurellia; Indrajaya, Ferdinand
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 3, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v3i2.7926

Abstract

Pandangan tentang seni sebagai sebuah komoditas adalah pandangan yang umum berlaku pada masa kini. Secara historis, pandangan ini sudah berlaku semenjak kisaran tahun 500 SM. Sesudahnya, kebernilaian sebuah karya seni umumnya dipahami dalam kerangka pasar. Pemahaman bahwa dinamika dalam dunia seni tidak dapat dimengerti terpisah dari kepentingan pasar, masih popular hingga kini. Kendati pandangan ini diterima sebagai sebuah kewajaran sampai masa kini, tidak berarti pemberlakuannya bebas dari konsekuensi. Konsekuensi dari pandangan tersebut berujung pada sebuah pemahaman reduktif baik tentang karya seni maupun perupa/seniman. Karya seni tidak dipahami lebih dari sekadar objek komoditas dan perupa dipandang sejajar dengan produsen atau pelaku pasar. Secara historis, hal ini dapat dieksemplifikasi dengan kasus salah satu pelukis, yakni Thomas Gainsborough. Thomas Gainsborough adalah salah seorang pelukis ternama asal Inggris di abad ke-18 yang turut merasakan dampak dari agresifnya komodifikasi karya seni pada masa tersebut. Berpijak pada studi kasus historis Gainsborough dan juga beberapa karya seni kontemporer, penulis mengajukan sebuah konklusi-reflektif bahwa komodifikasi karya seni dapat berujung pada inotentisitas perupa. Artinya, perupa dapat kehilangan otentisitasnya ketika ia tunduk pada nilai-nilai pasar. Metode penelitian yang diterapkan akan metode penelitian kualitatif. Secara lebih spesifik, metode penelitian kualitatif studi pustaka. Secara bertahap, pembahasan akan didahului dengan memaparkan kisah tentang Gainsborough serta keresahannya sebagai pelukis potret. Pembahasan dilanjutkan dengan menjabarkan beberapa dampak dari komodifikasi karya seni yang berujung pada hilangnya otentisitas subjek estetis. Istilah-istilah seperti ekspresi, imajinasi, dan kreativitas yang umumnya melekat dengan pembicaraan tentang perupa akan turut disinggung dalam hubungannya dengan otentisitas.
Kontroversi Karya-Karya Edgar Degas mengenai Misogini dan Relevansinya dengan Isu Objektifikasi Perempuan dalam Media Sosial dan Periklanan Natanael, Dafy Bintang; Indrajaya, Ferdinand
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 4, No 1 (2024): July 2024
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v4i1.8701

Abstract

Makalah ini membahas bagaimana objektifikasi perempuan dapat ditelusuri kembali ke karya-karya seni kontroversial Edgar Degas pada akhir abad ke-19 dan relevansinya dengan pandangan terhadap perempuan sampai saat ini. Penggambaran perempuan sebagai objek hasrat dalam media sosial dan periklanan pada zaman ini telah memengaruhi citra tubuh perempuan dan menimbulkan tekanan untuk memenuhi suatu standar kecantikan tertentu. Konsep male gaze memainkan peran kunci dalam pemaknaan ini, mengindikasikan dominasi pandangan laki-laki dalam media visual dan penekanan pada penampilan fisik perempuan. Pembiaran dominasi dan tindakan objektifikasi ini melahirkan beberapa permasalahan seperti, kecemasan dan rasa malu akan penampilan diri, eating disorders, depresi, serta penurunan produktivitas. Dengan fenomena objektifikasi perempuan yang terus berkelanjutan, tanggapan yang tepat dari masyarakat diperlukan. Makalah ini hendak mengeksplorasi dan menganalisis permasalahan tersebut dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, khususnya penelitian kepustakaan (library research). Melalui Langkah metodologis tersebut, penulis menyimpulkan bahwa masyarakat memiliki peran krusial dalam meresponi dan memerangi objektifikasi perempuan secara aktif. Upaya ini dapat dicapai dengan penggunaan media sosial dan periklanan secara etis serta kritis. Hal ini dapat ditunjukkan oleh contoh kasus Billabong. Kasus ini menunjukkan bagaimana masyarakat dapat berperan aktif dalam memberi tekanan terhadap industri media untuk mengadopsi praktik pemasaran yang menghormati martabat perempuan. Melaluinya, narasi yang berdampak buruk bagi citra dan kesejahteraan perempuan di era digital ini dapat berubah.
Penerapan Pendekatan Empiris dari George Stubbs dalam Metode Menggambar dari Jack Hamm dan Kontribusinya bagi Mata Kuliah Gambar di Program Studi DKV UPH Kiatama, Tiara; Indrajaya, Ferdinand; Alexandra, Angeline; Kurniawan, Leony
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 3, No 1 (2023): July 2023
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v3i1.7022

Abstract

Empirisme adalah teori yang menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui aktivitas-aktivitas indrawi seperti memperoleh pengalaman, melakukan observasi, dan melakukan eksperimen (University of Shed, 2015). Sebuah pernyataan baru dapat diverifikasi apabila dapat dibuktikan secara empiris. Pengumpulan data secara indrawi atau metode empiris telah berhasil menunjang banyak penelitian dan kemajuan dalam berbagai bidang studi baik sains, seni, dan sebagainya (Awati, 2022). George Stubbs dan Jack Hamm merupakan dua tokoh seni yang mengimplementasikan metode empiris dalam pembuatan karyanya. Buku Drawing the Head and Figure karya Hamm khususnya telah memberikan dampak bagi banyak seniman pemula, termasuk mahasiswa program studi DKV UPH. Topik ini penting untuk dibahas dan penting untuk dibahas karena dua hal. Pertama, pembahasan akan menyentuh pemahaman tentang metode empiris yang diterapkan oleh George Stubbs dan Jack Hamm. Kedua, pembahasan juga dapat menunjukkan bagaimana metode tersebut turut berlaku dalam mata kuliah Gambar mahasiswa/i terkait proporsi anatomi tubuh manusia. Secara sistematis, kedua hal pokok tersebut akan dibahas secara bertahap. 
Pengaruh Imaginary Prisons Piranesi terhadap Bentuk Set Tangga dalam Film Seri Squid Game Amirah, Charissa Myandra; Indrajaya, Ferdinand; Kinanti, Zhevanya Bintang; Fransiska, Yessa; Yoshida, Manaka
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 2, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v2i2.6374

Abstract

Serial drama Squid Game adalah salah satu film seri yang sempat populer dan meroket pesat melalui layanan streaming Netflix. Squid Game berhasil mencuri hati para penonton melalui keunikan konsep dan alur ceritanya. Keunikan konsep dan alur cerita tersebut turut terbangun oleh keputusan artistik dalam mise en scène-nya. Mise en scène menunjuk pada tata kelola set latar beserta propertinya dalam sebuah pertunjukan teater ataupun film. Salah satu bagian mise en scène dari film tersebut yang akan menjadi perhatian dalam tulisan ini adalah bentuk dari anak tangganya. Bentuknya yang berliku dan nampak tak berujung mengingatkan penulis pada rangkaian lukisan Imaginary Prisons dari Giovanni Battista Piranesi. Bagi penulis, perancangan bentuk anak tangga dalam Squid Game merupakan warisan Piranesi dalam bentuk film seri masa kini. Hwang Dong Hyuk sendiri, sang sutradara Squid Game, sesungguhnya tidak secara langsung terinspirasi oleh Piranesi. Ia pertama-tama dipengaruhi oleh karya-karya dari M.C. Escher yang berkiblat ke Imagine Prison dari Piranesi tersebut. Pemaparan lebih lanjut  tentang warisan Piranesi dalam film seri Squid Game akan menjadi fokus dalam penulisan makalah ini. Secara sistematis, pemaparan akan disampaikan melalui beberapa tahapan. Elaborasi dan analisis tentang Imaginary Prisons dari Piranesi akan menjadi tahap awal pembahasan. Kedua, tulisan akan membahas beberapa karya dari M.C. Escher yang turut dipengaruhi Piranesi dan akhirnya turut menginspirasi perancangan bentuk set tangga dari Squid Game. Terakhir, pemaparan yang lebih konklusif untuk menunjukkan keeratan hubungan antara Imaginary Prisons dengan Squid Game akan disampaikan.
Peran Tipografi Eksperimental Terhadap Visualisasi Lagu Dalam Album Sinestesia Cristina, Angel; Indrajaya, Ferdinand
IMATYPE: Journal of Graphic Design Studies Vol 2, No 2: August 2023
Publisher : Penerbit Fakultas Desain Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/imatype.v2i2.7199

Abstract

Tipografi dalam lingkup Desain Komunikasi Visual umumnya dipahami sebagai medium komunikasi dalam bentuk kumpulan karakter huruf yang dikomposisikan sedemikian rupa untuk menyampaikan pesan. Pesan yang disampaikan tidak hanya bersifat informatif, dimana tipografi hanya diposisikan sebatas instrumen (sebagai susunan kata) yang berfungsi untuk menjelaskan medium komunikasi visual lainnya seperti ilustrasi atau fotografi. Tipografi juga dapat dipahami lebih dari sekedar susunan teks penjelas gambar (baik secara ilustratif atau fotografis). Keberadaannya dapat dipahami sebagai medium visual yang dramatis dan ekspresif. Sebagaimana dikatakan oleh Rob Carter, anatomi dari bentuk tipografis dapat dieksplorasi lebih jauh dengan tujuan mencapai wujud yang lebih ekspresif. Pendekatan eksploratif ini diterapkan untuk menantang kembali pandangan tradisional dalam tipografi yang instrumental dan fungsional. Pengolahan bentuk, ruang, tekstur, dan warna dalam tipografi dieksplorasi untuk melampaui pemahaman tradisional tersebut. Eksplorasi tipografis semacam ini biasanya dipahami dalam tajuk tipografi eksperimental. Upaya eksperimental ini akan diterapkan pada proyek perancangan ulang album Sinestesia, dimana tipografi berdialog dengan lagu sebagai konten tanpa melupakan peran untuk mengkomunikasikan pesannya. Tahapan proses perancangan visual akan mengacu pada metode perancangan Robin Landa.
Design Case: Character Design Workshop for SDH Kupang Highschool Students Hananto, Brian Alvin; Melini, Ellis; Zulkarnain, Alfiansyah; Heryanto, Naldo Yanuar; Indrajaya, Ferdinand
IMATYPE: Journal of Graphic Design Studies Vol 3, No 1: February 2024
Publisher : Penerbit Fakultas Desain Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/imatype.v3i1.7938

Abstract

This paper is a design case for a character design workshop for Sekolah Dian Harapan Kupang students. The workshop was done offline on 27th October 2023 and was attended by 36 high school students. The workshop itself went well, with various adjustments along the way. Through this design case, the author concluded that designers and workshop instructors must be flexible when conducting a workshop, as many unpredicted factors can influence the workshop’s conduct.