Ferdinand Indrajaya, Ferdinand
Universitas Pelita Harapan

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Kontroversi Karya-Karya Edgar Degas mengenai Misogini dan Relevansinya dengan Isu Objektifikasi Perempuan dalam Media Sosial dan Periklanan Natanael, Dafy Bintang; Indrajaya, Ferdinand
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol. 4 No. 1 (2024): July 2024
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v4i1.8701

Abstract

Makalah ini membahas bagaimana objektifikasi perempuan dapat ditelusuri kembali ke karya-karya seni kontroversial Edgar Degas pada akhir abad ke-19 dan relevansinya dengan pandangan terhadap perempuan sampai saat ini. Penggambaran perempuan sebagai objek hasrat dalam media sosial dan periklanan pada zaman ini telah memengaruhi citra tubuh perempuan dan menimbulkan tekanan untuk memenuhi suatu standar kecantikan tertentu. Konsep male gaze memainkan peran kunci dalam pemaknaan ini, mengindikasikan dominasi pandangan laki-laki dalam media visual dan penekanan pada penampilan fisik perempuan. Pembiaran dominasi dan tindakan objektifikasi ini melahirkan beberapa permasalahan seperti, kecemasan dan rasa malu akan penampilan diri, eating disorders, depresi, serta penurunan produktivitas. Dengan fenomena objektifikasi perempuan yang terus berkelanjutan, tanggapan yang tepat dari masyarakat diperlukan. Makalah ini hendak mengeksplorasi dan menganalisis permasalahan tersebut dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, khususnya penelitian kepustakaan (library research). Melalui Langkah metodologis tersebut, penulis menyimpulkan bahwa masyarakat memiliki peran krusial dalam meresponi dan memerangi objektifikasi perempuan secara aktif. Upaya ini dapat dicapai dengan penggunaan media sosial dan periklanan secara etis serta kritis. Hal ini dapat ditunjukkan oleh contoh kasus Billabong. Kasus ini menunjukkan bagaimana masyarakat dapat berperan aktif dalam memberi tekanan terhadap industri media untuk mengadopsi praktik pemasaran yang menghormati martabat perempuan. Melaluinya, narasi yang berdampak buruk bagi citra dan kesejahteraan perempuan di era digital ini dapat berubah.
Visualisasi Dampak Toksik Maskulinitas pada Pria Dewasa Usia 18-25 Tahun sebagai Kritik terhadap Sistem Patriarki Melalui Perancangan Diorama dengan Majas Metafora Kiatama, Tiara; Indrajaya, Ferdinand
Jurnal Strategi Desain dan Inovasi Sosial Vol. 6 No. 2 (2025): Design as Strategy Case Studies - Part 3: Finale
Publisher : School of Design Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/jsdis.v6i2.10314

Abstract

Tulisan dalam makalah ini merupakan sebuah bentuk elaborasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan karya atau tugas terakhir dari mata kuliah Studio DKV 2. Karya tersebut dirancang sebagai sebuah tanggapan kritis terhadap salah satu masalah sosial yang ada, yaitu toksik maskulinitas. Toksik maskulinitas merujuk pada standar maskulinitas yang terbentuk oleh sistem patriarki dan merugikan pihak-pihak yang terlibat, baik pelaku maupun orang-orang di sekitarnya. Patriarki sendiri merupakan organisasi politik yang menyalurkan kuasa terhadap pria dan wanita secara tidak seimbang, bahkan mendiskriminasi, mengendalikan, mendominasi, menindas, serta menggolongkan wanita sebagai bawahan. Walaupun demikian, alih-alih menyoroti korban mayoritas patriarki, yang dalam hal ini adalah kaum perempuan, karya yang dirancang adalah ungkapan artistik dari dampak toksik maskulinitas terhadap pria itu sendiri. Pembahasan akan dilakukan disampaikan dalam dua tahap pokok. Pertama, dampak toksik maskulinitas pada kesehatan psikologis pria akan diidentifikasi terlebih dahulu. Kedua, pembahasan akan dilanjutkan dengan memaparkan tentang medium diorama dan majas metafora sebagai strategi bagi perancangan bentuk dari karya.
Peran Tipografi Eksperimental Terhadap Visualisasi Lagu Dalam Album Sinestesia Cristina, Angel; Indrajaya, Ferdinand
IMATYPE: Journal of Graphic Design Studies Vol. 2 No. 2: August 2023
Publisher : Penerbit Fakultas Desain Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/imatype.v2i2.7199

Abstract

Tipografi dalam lingkup Desain Komunikasi Visual umumnya dipahami sebagai medium komunikasi dalam bentuk kumpulan karakter huruf yang dikomposisikan sedemikian rupa untuk menyampaikan pesan. Pesan yang disampaikan tidak hanya bersifat informatif, dimana tipografi hanya diposisikan sebatas instrumen (sebagai susunan kata) yang berfungsi untuk menjelaskan medium komunikasi visual lainnya seperti ilustrasi atau fotografi. Tipografi juga dapat dipahami lebih dari sekedar susunan teks penjelas gambar (baik secara ilustratif atau fotografis). Keberadaannya dapat dipahami sebagai medium visual yang dramatis dan ekspresif. Sebagaimana dikatakan oleh Rob Carter, anatomi dari bentuk tipografis dapat dieksplorasi lebih jauh dengan tujuan mencapai wujud yang lebih ekspresif. Pendekatan eksploratif ini diterapkan untuk menantang kembali pandangan tradisional dalam tipografi yang instrumental dan fungsional. Pengolahan bentuk, ruang, tekstur, dan warna dalam tipografi dieksplorasi untuk melampaui pemahaman tradisional tersebut. Eksplorasi tipografis semacam ini biasanya dipahami dalam tajuk tipografi eksperimental. Upaya eksperimental ini akan diterapkan pada proyek perancangan ulang album Sinestesia, dimana tipografi berdialog dengan lagu sebagai konten tanpa melupakan peran untuk mengkomunikasikan pesannya. Tahapan proses perancangan visual akan mengacu pada metode perancangan Robin Landa.
Design Case: Character Design Workshop for SDH Kupang Highschool Students Hananto, Brian Alvin; Melini, Ellis; Zulkarnain, Alfiansyah; Heryanto, Naldo Yanuar; Indrajaya, Ferdinand
IMATYPE: Journal of Graphic Design Studies Vol. 3 No. 1: February 2024
Publisher : Penerbit Fakultas Desain Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/imatype.v3i1.7938

Abstract

This paper is a design case for a character design workshop for Sekolah Dian Harapan Kupang students. The workshop was done offline on 27th October 2023 and was attended by 36 high school students. The workshop itself went well, with various adjustments along the way. Through this design case, the author concluded that designers and workshop instructors must be flexible when conducting a workshop, as many unpredicted factors can influence the workshop’s conduct.
Pengaruh Imaginary Prisons Piranesi terhadap Bentuk Set Tangga dalam Film Seri Squid Game Amirah, Charissa Myandra; Indrajaya, Ferdinand; Kinanti, Zhevanya Bintang; Fransiska, Yessa; Yoshida, Manaka
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol. 2 No. 2 (2022): December 2022
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v2i2.6374

Abstract

Serial drama Squid Game adalah salah satu film seri yang sempat populer dan meroket pesat melalui layanan streaming Netflix. Squid Game berhasil mencuri hati para penonton melalui keunikan konsep dan alur ceritanya. Keunikan konsep dan alur cerita tersebut turut terbangun oleh keputusan artistik dalam mise en scène-nya. Mise en scène menunjuk pada tata kelola set latar beserta propertinya dalam sebuah pertunjukan teater ataupun film. Salah satu bagian mise en scène dari film tersebut yang akan menjadi perhatian dalam tulisan ini adalah bentuk dari anak tangganya. Bentuknya yang berliku dan nampak tak berujung mengingatkan penulis pada rangkaian lukisan Imaginary Prisons dari Giovanni Battista Piranesi. Bagi penulis, perancangan bentuk anak tangga dalam Squid Game merupakan warisan Piranesi dalam bentuk film seri masa kini. Hwang Dong Hyuk sendiri, sang sutradara Squid Game, sesungguhnya tidak secara langsung terinspirasi oleh Piranesi. Ia pertama-tama dipengaruhi oleh karya-karya dari M.C. Escher yang berkiblat ke Imagine Prison dari Piranesi tersebut. Pemaparan lebih lanjut  tentang warisan Piranesi dalam film seri Squid Game akan menjadi fokus dalam penulisan makalah ini. Secara sistematis, pemaparan akan disampaikan melalui beberapa tahapan. Elaborasi dan analisis tentang Imaginary Prisons dari Piranesi akan menjadi tahap awal pembahasan. Kedua, tulisan akan membahas beberapa karya dari M.C. Escher yang turut dipengaruhi Piranesi dan akhirnya turut menginspirasi perancangan bentuk set tangga dari Squid Game. Terakhir, pemaparan yang lebih konklusif untuk menunjukkan keeratan hubungan antara Imaginary Prisons dengan Squid Game akan disampaikan.
Penerapan Pendekatan Empiris dari George Stubbs dalam Metode Menggambar dari Jack Hamm dan Kontribusinya bagi Mata Kuliah Gambar di Program Studi DKV UPH Kiatama, Tiara; Indrajaya, Ferdinand; Alexandra, Angeline; Kurniawan, Leony
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol. 3 No. 1 (2023): July 2023
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v3i1.7022

Abstract

Empirisme adalah teori yang menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui aktivitas-aktivitas indrawi seperti memperoleh pengalaman, melakukan observasi, dan melakukan eksperimen (University of Shed, 2015). Sebuah pernyataan baru dapat diverifikasi apabila dapat dibuktikan secara empiris. Pengumpulan data secara indrawi atau metode empiris telah berhasil menunjang banyak penelitian dan kemajuan dalam berbagai bidang studi baik sains, seni, dan sebagainya (Awati, 2022). George Stubbs dan Jack Hamm merupakan dua tokoh seni yang mengimplementasikan metode empiris dalam pembuatan karyanya. Buku Drawing the Head and Figure karya Hamm khususnya telah memberikan dampak bagi banyak seniman pemula, termasuk mahasiswa program studi DKV UPH. Topik ini penting untuk dibahas dan penting untuk dibahas karena dua hal. Pertama, pembahasan akan menyentuh pemahaman tentang metode empiris yang diterapkan oleh George Stubbs dan Jack Hamm. Kedua, pembahasan juga dapat menunjukkan bagaimana metode tersebut turut berlaku dalam mata kuliah Gambar mahasiswa/i terkait proporsi anatomi tubuh manusia. Secara sistematis, kedua hal pokok tersebut akan dibahas secara bertahap. 
Lenyapnya Otentisitas Seniman sebagai Konsekuensi Pemberlakuan Seni sebagai Komoditas dari Perjalanan Artisik Thomas Gainsborough Levina, Aurellia; Indrajaya, Ferdinand
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol. 3 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v3i2.7926

Abstract

Pandangan tentang seni sebagai sebuah komoditas adalah pandangan yang umum berlaku pada masa kini. Secara historis, pandangan ini sudah berlaku semenjak kisaran tahun 500 SM. Sesudahnya, kebernilaian sebuah karya seni umumnya dipahami dalam kerangka pasar. Pemahaman bahwa dinamika dalam dunia seni tidak dapat dimengerti terpisah dari kepentingan pasar, masih popular hingga kini. Kendati pandangan ini diterima sebagai sebuah kewajaran sampai masa kini, tidak berarti pemberlakuannya bebas dari konsekuensi. Konsekuensi dari pandangan tersebut berujung pada sebuah pemahaman reduktif baik tentang karya seni maupun perupa/seniman. Karya seni tidak dipahami lebih dari sekadar objek komoditas dan perupa dipandang sejajar dengan produsen atau pelaku pasar. Secara historis, hal ini dapat dieksemplifikasi dengan kasus salah satu pelukis, yakni Thomas Gainsborough. Thomas Gainsborough adalah salah seorang pelukis ternama asal Inggris di abad ke-18 yang turut merasakan dampak dari agresifnya komodifikasi karya seni pada masa tersebut. Berpijak pada studi kasus historis Gainsborough dan juga beberapa karya seni kontemporer, penulis mengajukan sebuah konklusi-reflektif bahwa komodifikasi karya seni dapat berujung pada inotentisitas perupa. Artinya, perupa dapat kehilangan otentisitasnya ketika ia tunduk pada nilai-nilai pasar. Metode penelitian yang diterapkan akan metode penelitian kualitatif. Secara lebih spesifik, metode penelitian kualitatif studi pustaka. Secara bertahap, pembahasan akan didahului dengan memaparkan kisah tentang Gainsborough serta keresahannya sebagai pelukis potret. Pembahasan dilanjutkan dengan menjabarkan beberapa dampak dari komodifikasi karya seni yang berujung pada hilangnya otentisitas subjek estetis. Istilah-istilah seperti ekspresi, imajinasi, dan kreativitas yang umumnya melekat dengan pembicaraan tentang perupa akan turut disinggung dalam hubungannya dengan otentisitas.