Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PENGARUH PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA KECELAKAAN LALU LINTAS TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN SISWA SEBAGAI FIRST RESPONDER DI SMAN 1 SUBOH: THE INFLUENCE OF FIRST AID TRAINING ON STUDENTS' LEVEL OF KNOWLEDGE AND SKILLS AS FIRST RESPONDERS AT SMAN 1 SUBOH noer hayati; Baitus Sholehah; Zainal Munir
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Imiah Pamenang (JIP)
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v7i1.299

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Di seluruh penjuru dunia, kecelakaan lalu lintas masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama. Perlu disebutkan bahwa anak-anak dan remaja di bawah usia 25 tahun merupakan 30% dari korban kecelakaan lalu lintas. Oleh karena itu, penyebab kematian paling mematikan bagi remaja berusia antara 15 dan 29 tahun adalah kecelakaan di jalan raya. Siapa pun dapat memberikan pertolongan pertama dalam keadaan apa pun. Tujuan: untuk mengetahui apakah ada pengaruh pelatihan pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai first responder di SMAN 1 Suboh. Metode: desain pra-eksperimental dengan desain one-group pre-post test. Hasil: hasil pretest tingkat pengetahuan 6,8% (baik), 60,8% (cukup) 32,4% (rendah), dan keterampilan 100,0% (rendah), hasil post test tingkat pengetahuan 81,1% (baik), 18,9% (cukup) dan keterampilan 94,6% (baik) 5,4% (cukup). Hasil uji Wicoxon Signed Rank Test diperoleh nilai Z sebesar -7.214a dan -7.491a dan P value = 0,000 < α 0,005, maka H0 ditolak. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pelatihan pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas terhadap pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai first responder di SMAN 1 Suboh. Abstract   Background:. Throughout the world, traffic accidents are still a major public health problem. It is worth mentioning that children and teenagers under the age of 25 make up 30% of traffic accident victims. Therefore, the deadliest cause of death for teenagers between the ages of 15 and 29 is road accidents. Anyone can provide first aid under any circumstances. Objective: to find out whether there is an influence of traffic accident first aid training on the level of knowledge and skills of high school (SMA) students as first responders at SMAN 1 Suboh. Method: pre-experimental design with one-group pre-post test design. Results: pretest results of knowledge level 6.8% (good), 60.8% (fair) 32.4% (low), and skills 100.0% (low), post test results of knowledge level 81.1% (good), 18.9% (fair) and skills 94.6% (good) 5.4% (fair). The Wicoxon Signed Rank Test results obtained Z values ​​of -7.214a and -7.491a and P value = 0.000 < α 0.005, so H0 was rejected.. Conclusion: There is an influence of traffic accident first aid training in increasing students' knowledge and skills as first responders at SMAN 1 Suboh.
The Effect of Health Education Using Flipchart Media Compliance TB medicine (OATS) in TB Clients Nurramadhani, Adelya Salsabilah; Fauzi, Ahmad Kholid; Munir, Zainal
Jurnal Keperawatan Profesional Vol 13, No 1 (2025): Determinants of Health
Publisher : Nurul Jadid University, Probolinggo, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/jkp.v13i1.11167

Abstract

BEdukasi kesehatan menggunakan media flipchart terhadap kepatuhan minum obat anti-tuberkulosis (OAT) pada Klien TB paru. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan satu kelompok pre-post. Sebanyak 86 responden dipilih melalui total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kepatuhan yang telah teruji validitas dan reliabilitas, dan dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil: Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,000 < α 0,05, yang mengindikasikan adanya peningkatan signifikan dalam kepatuhan minum obat OAT sebelum dan setelah edukasi kesehatan menggunakan media flipchart karakteristik responden penderita tuberkulosis (TB) paru  menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi di kalangan pria dibandingkan wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total data responden, mayoritas kasus TB paru diidentifikasi pada pria. Data ini didukung oleh distribusi frekuensi yang menunjukkan dominasi pria sebagai kelompok yang paling banyak mengalami TB paru. Kesimpulan: media flipchart mampu menyampaikan informasi dengan jelas dan efektif, meningkatkan pemahaman Klien mengenai pentingnya kepatuhan terhadap regimen pengobatan TB, sehingga flipchart dapat digunakan sebagai alat edukasi karena secara signifikan dapat membantu memperbaiki kepatuhan pengobatan TB dengan memberikan informasi yang mudah diakses dan dipahami oleh Klien.
Dampak Video Edukasi Animasi terhadap Pengetahuan dan Perilaku Higienis Cuci Tangan Siswa SD Qomariyah, Linda; Fauzi, Ahmad Kholid; Munir, Zainal
Jurnal Keperawatan Profesional Vol 13, No 1 (2025): Determinants of Health
Publisher : Nurul Jadid University, Probolinggo, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/jkp.v13i1.11229

Abstract

Tangan yang bersih akan mencegah berbagai penularan penyakit seperti diare, tipoid, hepatitis dan berbagai penyakit infeksi dan penyakit menular lainnya. Cuci tangan sering dianggap sebagai hal yang sepele di masyarakat, terutama pada anak-anak usia sekolah yang mempunyai kebiasaan kurang memperhatikan perlunya cuci tangan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan dengan media video animasi terhadap pengetahuan, keterampilan dan perilaku mencuci tangan pakai sabun pada anak kelas 1 sekolah dasar. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre eksperimental dengan rancangan one-group pre-post test design dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan dengan uji Wicoxon dan uji MC Nemar. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan nilai p = 0,00 > α 0,05, yang artinya menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada tingkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku siswa sebelum dan sesudah diberikan edukasi kesehatan dengan media video animasi. Kesimpulan: Ada pengaruh edukasi kesehatan dengan media video animasi terhadap pengetahuan, keterampilan dan perilaku mencuci tangan pakai sabun pada anak kelas 1 sekolah dasar. Implikasi: daya Tarik visual tinggi, pemahaman  dan pengetahuan yang lebih baik, penyebaran pesan cepat, peningkatan perilaku hidup sehat.
Edukasi Kesadaran Siswa Tentang Dampak Negatif Makanan Cepat Saji Terhadap Kesehatan Anak Zainal Munir; Ghifari Hiban Ashfihani; Aldo Jaiz Maulana Hidayatullah; Bintang Utama Putra; Fikri Aldi Maulana
Transformative Service Journal Vol 1 No 3 (2025): Desember
Publisher : Yayasan Literasi Altruis Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This Community Service Program was conducted for two months at MI Nurul Mun’im, focusing on nutrition education about fast food, which generally contains low nutritional value but high levels of saturated fats, sugars, salt, and calories. These components can trigger various health problems such as obesity, type 2 diabetes, hypertension, and other metabolic disorders. The low awareness among students regarding the long-term dangers of consuming such foods served as the main background for the importance of systematic nutrition education. The objective of this program was to improve students’ knowledge and awareness of the negative impacts of fast food consumption and to encourage the development of healthy eating habits from an early age. The implementation methods included interactive lectures, educational video screenings, quiz games, small group discussions, and the distribution of printed educational materials. The target participants were fifth- and sixth-grade students of MI Nurul Mun’im, totaling 70 students. The evaluation results showed that students gained a better understanding of fast food and the distinction between healthy and unhealthy foods. There was also an increase in their awareness of the dangers of fast food and their interest in adopting healthier eating patterns. The students’ enthusiasm during the Community Service activities brought many benefits both to the students and the school. Therefore, future long-term initiatives will focus on reducing fast food availability in the school canteen and providing quarterly mentoring sessions to update knowledge about healthy food.
Relationship between Obesity Incidence and Fast Food Consumption Habits in Children Munir, Zainal; Putra, Bintang Utama; Ashfihani, Ghifari Hiban; Maulana, Fikri Aldi; Hidayatullah, Aldo Jaiz Maulana
Jurnal Keperawatan Profesional Vol 13, No 2 (2025): Infectious Diseases
Publisher : Nurul Jadid University, Probolinggo, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/jkp.v13i2.12684

Abstract

Childhood obesity remains a growing public health problem worldwide, including in Indonesia. One of the contributing factors is the increased consumption of fast food among children. This study aims to analyze the relationship between the frequency of fast food consumption and the incidence of obesity among elementary school children as an effort to provide scientific evidence for obesity prevention at an early age. This research used a quantitative method with a cross-sectional approach involving 70 children aged 7–12 years from selected through purposive sampling due to the high prevalence of fast food consumption and early findings showing an increase in obesity cases in the area. Data were collected using questionnaires on fast food consumption and measurements of body mass index (BMI) as an indicator of nutritional status. The chi-square test revealed a significant relationship between the frequency of fast food consumption and the incidence of obesity (p < 0.05). Although fast food consumption was found to contribute to obesity, other factors such as genetic predisposition, physical activity level, and social environmental influences may also play a role and should be considered in future studies. The findings highlight the importance of promoting nutritional education for children and parents, implementing school-based interventions, and regulating the availability of fast food around the school environment as preventive measures to control childhood obesity.
Studi Fenomenologi : Pengalaman Perawat dalam Menangani Kegawatdaruratan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Daerah X Jember Ratnasari, Widiya; Zainal Munir
Jurnal Vokasi Keperawatan (JVK) Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jvk.v8i2.45137

Abstract

Latar belakang : Sekitar 3% atau 3,8 juta bayi yang lahir setiap tahunnya di vonis mengalami asfiksia, dan 1 juta di antaranya meninggal karena kasus ini. Kasus asfiksia ini menjadi kasus penyebab kematian anak tertinggi kedua di Indonesia. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisis lebih dalam mengenai pengalaman perawat yang menangani kasus asfiksia ini. Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang melibatkan 8 partisipan dari Ruang Perinatologi Rumah Sakit Daerah X. Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui metode wawancara mendalam dan di analisis menggunakan tehnik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) untuk mengidentifikasi dan memberi gambaran tentang pengalaman perawat dalam penanganan kegawatdaruratan asfiksia. Hasil : Penelitian menunjukkan bahwa makna dari pengalaman bagi perawat menggambarkan situasi yang kompleks, mulai dari tantangan fisik dan emosional. Penelitian ini menghasilkan 4 tema yaitu Mampu beradaptasi dalam situasi darurat neonatal; Dinamika perasaan perawat dalam penanganan bayi asfiksia; Kondisi Klinis dalam Penanganan Kegawatdaruratan Asfiksia Neonatal; Strategi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Kesimpulan : Studi ini menunjukkan betapa pentingnya keterampilan, pengetahuan, dan kesiapan mental saat menghadapi kasus gawat darurat seperti asfiksia neonatal untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan mengurangi angka kematian bayi.
Penerapan Pijat Oksitosin pada Ibu Post Partum Primipara dengan Diagnosa Medis P1oo1 Post SC Hari Ke-1 DI Ruang Peristi Ibu Windy Ayu Oktavil Mahsusiah; Zainal Munir; Novela Eka Candra Dewi
Science: Indonesian Journal of Science Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/science.v1i3.75

Abstract

Menyusui sejak dini itu baik untuk ibu dan bayi, salah satu penyebab dari tidak terwujudnya pemberian ASI secara eksklusif yaitu akibat dari tidak keluarnya ASI pada hari-hari pertama setelah melahirkan. Terutama bagi ibu yang mengalami proses persalinan melalui tindakan Sectio Caesarea (SC). Teknik yang diajarkan kepada ibu dalam masa ini yaitu tehnik yang dapat membuat ibu lebih rileks dan memberikan kelancaran dalam produksi ASI. Terdapat upaya non farmakologis yang dapat meingkatkan kelancaran produksi ASI salah satunya adalah pijat oksitosin. Tujuan melaksanakan penerapan Pijat Oksitosin pada ibu post partum primipara dengan diagnose medis p1001 post sc hari ke-1 di ruang peristi ibu. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan dokumentasi pelaksanaan Penerapan Pijat Oksitosin di Ruang Peristi Ibu. Hasil studi kasus yang dilakukan pada masalah menyusui tidak efektif pada ibu post sc dengan penerapan pijat oksitosin pasien merasa rileks dan produksi asi meningkat dalam sehari yakni 180 cc frekuensi pemberian ASI 6 kali dalam sehari dengan durasi 40 menit. Pasien menunjukkan adanya peningkatan produksi ASI. Kesimpulan berdasarkan hasil evaluasi kasus yang didapatkan dari asuhan keperawatan penulis mengangkat diagnosa keperawatan menyusui tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan suplai asi ditandai dengan asi keluar sedikit (D.0029).
Intervensi Pemberian Kompres Aloevera pada An “B” untuk Meredakan Hipertermi dengan Diagnosa Kejang Demam Sederhana di Ruang Teratai Dewi Safitri; Zainal Munir; Novela Eka Candra Dewi
Science: Indonesian Journal of Science Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/science.v1i3.90

Abstract

Demam atau panas tinggi adalah suatu keadaan yang ditandai dengan peningkatan suhu tubuh melebihi rentang nilai normal. Demam biasa terjadi apabila kondisi kesehatan seseorang sedang terganggu. Selain itu, demam dapat mengakibatkan kejang, hal ini disebabkan oleh terganggunya sinyal dari otak ke otot-otot tubuh akibat suhu tubuh yang tinggi. Demam dapat ditangani dengan metode farmakologi maupun nonfarmakologi. Salah satu terapi non farmakologis yang dapat menurunkan suhu tubuh adalah dengan penerapan kompres aloevera. Tujuan: untuk menerapkan Intervensi Pemberian Kompres Aloevera Pada an B dengan diagnosa kejang demam di ruang teratai. Metode penelitian laporan kasus ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Subjek laporan kasus adalah seorang anak dengan kasus kejang demam dengan hipertermi. Hasil Penelitian setelah dilakukan intervensi kompres aloevera pada kasus hipertermi terdapat penurunan demam pada anak yang semula dari suhu 38,6 C berangsur turun hingga hari ketiga. Didapatkan hasil bahwa selama melakukan kompres aloe vera terdapat penurunan suhu tubuh antara sebelum kompres menggunakan aloe vera dengan sesudah kompres menggunakan aloe vera. Kesimpulan penggunaan kompres aloevera merupakan cara yang efektif untuk menurunkan suhu tubuh secara nonfarmakologi dengan metode perpindahan panas melalui konduksi dan evaporasi.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat dengan Kemampuan Komunikasi SBAR (Situation, Background, Assessment, Rekomendations) Saat Timbang Terima (Handover) di Ruang Rawat Inap RS Rizani Paiton Noer Diana Putri; Husnul Khotimah; Zainal Munir
Science: Indonesian Journal of Science Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/science.v1i3.99

Abstract

Komunikasi SBAR merupakan kerangka teknik komunikasi efektif yang disediakan bagi petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien. Kesalahan dalam berkomunikasi SBAR akan menyebabkan dampak yang tidak diinginkan pada pasien. Salah satu faktor yang mempengaruhi komunikasi SBAR adalah pengetahuan dan kemampuan perawat dalam berkomunikasi saat timbang terima. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan perawat dengan kemampuan komunikasi SBAR saat timbang terima di Ruang Rawat Inap RS Rizani Paiton. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan rancangan penelitian cross-sectional dengan jumlah responden 55 perawat, teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan lembar kuesioner. Data di analisis menggunakan Uji Gamma. Hasil: Hasil uji korelasi Gamma di dapatkan Nilai p sebesar (0,010) < 0,05 maka Ha diterima dengan artian terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat Pengetahuan Perawat Dengan Kemampuan Komunikasi SBAR saat Timbang terima. Dan nilai Korelasi sebesar 0,602 menunjukkan kekuatan korelasi yang kuat. Kesimpulan: terdapat Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kemampuan Komunikasi SBAR saat Timbang Terima.
Hubungan PHubungan Pola Asuh Ibu Berkarir dan Ibu Tidak Berkarir Terhadap Kemandirian Anak Usia Pra-Sekolah di Desa Sumberrejo Kecamatan Paiton Desy Ayu Indriani; Zainal Munir; Vivin Nur Hafifah
Science: Indonesian Journal of Science Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/science.v1i3.156

Abstract

Perkembangan sosial-emosional merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak salah satunya adalah pengembangan karakter mandiri. Peran orang tua dan perlakuannya akan berpengaruh besar pada pembentukan karakter mandiri pada setiap individu sejak usia dini, parenting style atau yang sering disebut pola asuh adalah gaya berhubungan/berinteraksi yang dilakukan orangtua terhadap anak. Dimana pada zaman sekarang peran seorang ibu banyak berperan ganda yaitu sebagai ibu yang berkarir juga ibu rumah tangga. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan pola asuh ibu berkarir dan ibu tidak berkarir terhadap kemandirian anak usia prasekolah di Desa Sumberrejo Kecamatan Paiton. Metode penelitian: yang digunakan adalah Cross Sectional dan tehnik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan responden sebanak 60 orang, yaitu 30 ibu berkarir dan 30 orang ibu tidak berkarir. Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji korelasi rank spearman. Hasil Penelitian: Hasil pola asuh ibu berkarir dan ibu tidak berkarir yang menerapkan otoriter sebanyak 17 orang (28%), demokratis 39 orang (65%, dan permisif 4 orang (7%). Dan hasil kemandirian didapatkan mayoritas anak dengan kemandirian tinggi yaitu sebanyak 54 orang (90%), anak deng an kemandirian rendah sebanyak 10 orang (10%), sedangkan anak dengan kemandirian rendah 0 orang. Didapatkan hasil bahwa nilai Sig (2-tailed) = 0,005. Karena nilai Sig (2-tailed) 0,005 <lebih kecil dari 0,05, maka artinya pola asuh ibu berkarir dan ibu tidak berkarir berhubungan secara signifikan terhadap kemandirian anak usia pra-sekolah di Desa Sumberrejo Kecamatan Paiton. Ha diterima. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh ibu berkarir dan ibu tidak berkarir terhadap kemandirian anak usia pra-sekolah di Desa Sumberrejo Kecamatan Paiton.