Husain Heriyanto
Program Master Studi Islam, Universitas Paramadina, Jakarta

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PERAN FILSAFAT ISLAM DALAM MEMBANGUN TRADISI KEILMUAN Heriyanto, Husain
Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Ilmu Ushuluddin
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jiu.v13i2.724

Abstract

Treasures of classical and contemporary Islamic philosophy is very rich indeed. Unfortunately, until now this intellectualproperty is still stored in the libraries. The Avicenna’s thought as a genius philosopher, for instance, was notexplored all, especially the eventual development of such thinking in Tanbîhât wa al-Manthiq al-Masyriqiyyah (EastLogic). Not many people know how Ibn Sina solved the problems of scientific and philosophical methods are alsothrough meditation and prayer, long before Quantum Learning was excited. The specificity of Islamic philosophy is acomprehensive and integrated way to study the metaphysics, epistemology, ethics, cosmology, and psychology. In thispaper the authors highlight how the role of philosophy in building a scientific tradition. Science that not only develop theadvancement of science alone, but also spawned generations aware of his existence and humanity.
SPIRITUALITAS, TRANSENDENSI FAKTISITAS, DAN INTEGRASI SOSIAL Heriyanto, Husain
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : UIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.1 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v16i2.2384

Abstract

Abstract: This article is aimed to provide an epistemological framework to arrange the account for the importance and relevance of Islamic spirituality along with its Sufism tradition in relation to keep social integration in contemporary global society particularly in Indonesia.  One of the reasons of this effort is driven by a fact that the rising influence of extrimism among young Muslim generation as well as students has led the growing emergence of social disintegration forces in Muslim communities and countries. Another concern of this article is the decline of knowledge related to the Islamic intellectual and spiritual tradition among Muslim academicians. Due to intellectual capitulation of liberal modernist Muslim scholars on one side and shallow interpretation of Muslim puritanical fundamentalism on the other side, many Muslim people have been in a complete break with traditional Islamic teachings including Sufism. The core thesis of this article is that Sufism as well as Islamic intellectual tradion in general can be elaborated in a such profound way that it has tremendous capacity to provide Muslim society with vision and insight for recovering and flourishing social integration.  Its rationale is that the best way to integrate human society is first of all to integrate oneself. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk memberikan kerangka kerja epistemologis yang akan menjabarkan pentingnya dan relevansi spiritualitas Islam bersama dengan tradisi tasawufnya dalam kaitannya untuk menjaga integrasi sosial dalam masyarakat global kontemporer khususnya di Indonesia. Signifikansi  penjabaran ini karena adanya fakta meningkatnya pengaruh ekstrimisme di kalangan generasi muda Muslim dan juga mahasiswa yang telah menyebabkan meningkatnya kekuatan disintegrasi sosial di komunitas dan negara Muslim. Fokus lain dari artikel ini adalah berkurangnya kajian-kajian terkait dengan tradisi intelektual dan spiritualitas Islam di kalangan akademisi Muslim. Karena kapitulasi intelektual para sarjana Muslim modernis liberal di satu sisi dan di sisi lain kedangkalan interpretasi dari fundamentalisme Muslim puritan, banyak kaum Muslim mengalami kesenjangan dengan ajaran Islam tradisional, termasuk tasawuf. Tesis inti dari artikel ini adalah bahwa tasawuf dan tradisi intelektual keislaman dapat dielaborasi secara mendalam sehingga dapat memberikan pandangan maupun pencerahan yang dapat memulihkan dan menumbuhkembangkan integrasi sosial kepada masyarakat Muslim. Dasar pemikirannya adalah bahwa cara terbaik untuk mengintegrasikan masyarakat manusia adalah dimulai dengan mengintegrasikan diri sendiri.
SPIRITUALITAS, TRANSENDENSI FAKTISITAS, DAN INTEGRASI SOSIAL Heriyanto, Husain
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.1 KB) | DOI: 10.18592/khazanah.v16i2.2384

Abstract

Abstract: This article is aimed to provide an epistemological framework to arrange the account for the importance and relevance of Islamic spirituality along with its Sufism tradition in relation to keep social integration in contemporary global society particularly in Indonesia.  One of the reasons of this effort is driven by a fact that the rising influence of extrimism among young Muslim generation as well as students has led the growing emergence of social disintegration forces in Muslim communities and countries. Another concern of this article is the decline of knowledge related to the Islamic intellectual and spiritual tradition among Muslim academicians. Due to intellectual capitulation of liberal modernist Muslim scholars on one side and shallow interpretation of Muslim puritanical fundamentalism on the other side, many Muslim people have been in a complete break with traditional Islamic teachings including Sufism. The core thesis of this article is that Sufism as well as Islamic intellectual tradion in general can be elaborated in a such profound way that it has tremendous capacity to provide Muslim society with vision and insight for recovering and flourishing social integration.  Its rationale is that the best way to integrate human society is first of all to integrate oneself. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk memberikan kerangka kerja epistemologis yang akan menjabarkan pentingnya dan relevansi spiritualitas Islam bersama dengan tradisi tasawufnya dalam kaitannya untuk menjaga integrasi sosial dalam masyarakat global kontemporer khususnya di Indonesia. Signifikansi  penjabaran ini karena adanya fakta meningkatnya pengaruh ekstrimisme di kalangan generasi muda Muslim dan juga mahasiswa yang telah menyebabkan meningkatnya kekuatan disintegrasi sosial di komunitas dan negara Muslim. Fokus lain dari artikel ini adalah berkurangnya kajian-kajian terkait dengan tradisi intelektual dan spiritualitas Islam di kalangan akademisi Muslim. Karena kapitulasi intelektual para sarjana Muslim modernis liberal di satu sisi dan di sisi lain kedangkalan interpretasi dari fundamentalisme Muslim puritan, banyak kaum Muslim mengalami kesenjangan dengan ajaran Islam tradisional, termasuk tasawuf. Tesis inti dari artikel ini adalah bahwa tasawuf dan tradisi intelektual keislaman dapat dielaborasi secara mendalam sehingga dapat memberikan pandangan maupun pencerahan yang dapat memulihkan dan menumbuhkembangkan integrasi sosial kepada masyarakat Muslim. Dasar pemikirannya adalah bahwa cara terbaik untuk mengintegrasikan masyarakat manusia adalah dimulai dengan mengintegrasikan diri sendiri.
SOLIPSISME DAN FENOMENALISME: DUA KUTUB EKSTRIM KANTIAN YANG MENGOYAK SPIRITUALITAS Heriyanto, Husain
Kanz Philosophia A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism Vol. 3 No. 1 (2013): June
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Solipsism, which is set up by a very infl uential modern philosopher Immanuel Kant, constitutes one main characteristic of modern philosophy and thought. In the realm on metaphysics, it has brought down the meaning of reality. In epistemological perspective, it has caused modern man to live and think in an isolated mental world that is alienated from objective reality. In the levels of ethics and psychology, it paves the way for fl ourishing any kind of self-centered standpoint and attitude such as individualism, egoism, racism, and anthropocentrism in the context of human and universe relation. We however fi nd another kind of solipsism in the context of theology and religion (focused on Muslim community). Neo-Salafi Wahhabi puritanism that appears to claim its doctrine as a purifi ed version of Islamic teachings and tradition is essentially an elimination and alienation of Islamic Ummah from transcendent reality, universe, history, humanity, and civilization. Similar to Kantian ontological assumption, Wahhabi insists to believe in transcendent reality with denial of the gates and ways of understanding the reality as well as with removal the keys of revealing reality. Both Kant and Wahhabi reject the capability of human reason to grasp and understand the transcendent reality.
PERAN FILSAFAT ISLAM DALAM MEMBANGUN TRADISI KEILMUAN Husain Heriyanto
Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jiu.v13i2.724

Abstract

Treasures of classical and contemporary Islamic philosophy is very rich indeed. Unfortunately, until now this intellectualproperty is still stored in the libraries. The Avicennas thought as a genius philosopher, for instance, was notexplored all, especially the eventual development of such thinking in Tanbht wa al-Manthiq al-Masyriqiyyah (EastLogic). Not many people know how Ibn Sina solved the problems of scientific and philosophical methods are alsothrough meditation and prayer, long before Quantum Learning was excited. The specificity of Islamic philosophy is acomprehensive and integrated way to study the metaphysics, epistemology, ethics, cosmology, and psychology. In thispaper the authors highlight how the role of philosophy in building a scientific tradition. Science that not only develop theadvancement of science alone, but also spawned generations aware of his existence and humanity.
SPIRITUALITAS, TRANSENDENSI FAKTISITAS, DAN INTEGRASI SOSIAL Husain Heriyanto
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v16i2.2384

Abstract

Abstract: This article is aimed to provide an epistemological framework to arrange the account for the importance and relevance of Islamic spirituality along with its Sufism tradition in relation to keep social integration in contemporary global society particularly in Indonesia.  One of the reasons of this effort is driven by a fact that the rising influence of extrimism among young Muslim generation as well as students has led the growing emergence of social disintegration forces in Muslim communities and countries. Another concern of this article is the decline of knowledge related to the Islamic intellectual and spiritual tradition among Muslim academicians. Due to intellectual capitulation of liberal modernist Muslim scholars on one side and shallow interpretation of Muslim puritanical fundamentalism on the other side, many Muslim people have been in a complete break with traditional Islamic teachings including Sufism. The core thesis of this article is that Sufism as well as Islamic intellectual tradion in general can be elaborated in a such profound way that it has tremendous capacity to provide Muslim society with vision and insight for recovering and flourishing social integration.  Its rationale is that the best way to integrate human society is first of all to integrate oneself. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk memberikan kerangka kerja epistemologis yang akan menjabarkan pentingnya dan relevansi spiritualitas Islam bersama dengan tradisi tasawufnya dalam kaitannya untuk menjaga integrasi sosial dalam masyarakat global kontemporer khususnya di Indonesia. Signifikansi  penjabaran ini karena adanya fakta meningkatnya pengaruh ekstrimisme di kalangan generasi muda Muslim dan juga mahasiswa yang telah menyebabkan meningkatnya kekuatan disintegrasi sosial di komunitas dan negara Muslim. Fokus lain dari artikel ini adalah berkurangnya kajian-kajian terkait dengan tradisi intelektual dan spiritualitas Islam di kalangan akademisi Muslim. Karena kapitulasi intelektual para sarjana Muslim modernis liberal di satu sisi dan di sisi lain kedangkalan interpretasi dari fundamentalisme Muslim puritan, banyak kaum Muslim mengalami kesenjangan dengan ajaran Islam tradisional, termasuk tasawuf. Tesis inti dari artikel ini adalah bahwa tasawuf dan tradisi intelektual keislaman dapat dielaborasi secara mendalam sehingga dapat memberikan pandangan maupun pencerahan yang dapat memulihkan dan menumbuhkembangkan integrasi sosial kepada masyarakat Muslim. Dasar pemikirannya adalah bahwa cara terbaik untuk mengintegrasikan masyarakat manusia adalah dimulai dengan mengintegrasikan diri sendiri.
THE ALIENATED SUBJECT IN MODERN SCIENCE AS THE PROBLEM OF HUMANITY Husain Heriyanto
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 20, No 2 (2022)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v20i2.8516

Abstract

Those above-mentioned condition in short are not taken it as a given but it is established by the long and pervasive process of secularization of science which is primariy chracterized as the alienated knowing subject in mainstream scientific endeavours.  Such global calamities as injustice, poverty, wars, organized violence, terrorism, arms race, moral disorientation, alienation, abuse of human rights, global warming, and severe damage to nature and environmental sphere are the end-products of complex process of secularization of science.  R.D. Laing says “we have destroyed the world in theory before we destroy it in practice
Pemahaman Tradisional mengenai Alam Menurut SeyyedHossein Nasr Dalam Upaya Mengatasi Krisis Lingkungan Iman Santosa; Husain Heriyanto
Jurnal Peradaban Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v2i1.659

Abstract

Kelangsungan hidup umat manusia saat ini terancam sebagai akibat dari krisislingkungan yang kian parah. Seyyed Hossein Nasr semenjak dekade 1960 telahmemberikan peringatan mengenai akan timbulnya krisis lingkungan yang menurutnya disebabkan olehberubahnya pandangan tradisional mengenai alam menjadi pandangan modern. Tulisan ini bertujuan untuk memahami pandangan tradisonal Seyyed Hossein Nasr mengenai alam, mengetahui pengaruh dari pandangan modern mengenai alam terhadap terjadinya krisis lingkungan dan menjabarkan solusi yang ditawarkannya dalam upaya mengatasi krisis lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatankualitatif dengan metode analisis konsep dengan tujuan untuk mengidentifikasi makna esensial dari suatu konsep. Sejak awal sejarah manusia telah hadir kebenaran universal atau sophia perennis yang terwujud dalam semua tradisi agama otentik dimanadidalam intinya terdapat sains sakral yaitu pengetahuan akan Realitas Utama. Sedangkan modernisme yang terwujud dalam modern sains berupaya untukmenyingkirkan tradisi agama dengan menempatkan manusia sebagai pusat danmemandang alam hanya sebagai material sehingga mendorong pemanfaatan alam berlebihan. Menurut Seyyed Hossein Nasr hanya dengan memahami realitas metafisik dari alam yang merupakan refleksi dari Sang Pencipta dan menyadari bahwa manusia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga ciptaan Nya maka krisis lingkungandapat dicegah.
Bridging Culture and Technology: Digital Ecotourism and Local Wisdom Sustainability Hairunnisa Hairunnisa; Nurliah Nurliah; Kadek Dristiana Dwivayani; Dony Kristian; Husain Heriyanto
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 11 No. 1 (2026): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v11i1.7636

Abstract

This study discovers sustainable tourism by focusing on how digitalization is revolutionizing community-based ecotourism in rural Indonesia, particularly in Pela Tourism Village, East Kalimantan. It investigates how digital tools supercharge promotional strategies and bring local wisdom, like Mahakam dolphin conservation and traditional practices, to a global audience. This research fills critical gaps in localized ecotourism studies, where digital transformation often overlooks ties to environmental sustainability and community empowerment, while bolstering weak areas in tourism competitiveness such as ICT readiness and green practices. This research employs a qualitative descriptive approach with an intrinsic case study design. Researchers collected data via observations, interviews, and document reviews. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, covering data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. This research confirms that digital ecotourism in Pela thrives on five key pillars: knowledge, internetworking, convergence, communication, and innovation. Platforms like Instagram, TikTok, and QR codes dramatically expand reach, foster interactive engagement, preserve heritage, and craft a strong village identity, enhancing competitiveness despite hurdles like patchy internet. This research offers tourism scholars a village-level framework blending digitalization, ecotourism, and local wisdom, proving digital strategies are vital for sustainable development by safeguarding the environment, culture, and community well-being in the digital tourism era.
Pelatihan Pengembangan Pemahaman dan Sikap Keberagamaan Moderat Berbasis Nilai Keislaman-Keindonesiaan Husain Heriyanto; Taufik Hidayatullah; Aan Rukmana; Tia Rahmania; Emil Radhiansyah; Ibnu Rusyd
Dimasejati: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70095/dimasejati.v4i1.10818

Abstract

Program ini didasarkan atas hasil sebuah penelitian yang berjudul “Studi Pengaruh Pembelajaran Kuliah Nilai Hidup Paramadina (NHP) terhadap Karakter dan Perilaku Mahasiswa”. Penelitian ini didorong oleh keprihatinan terhadap meningkatnya intoleransi dan radikalisme serta ketegangan kontraproduktif antara paham keislaman dan kebangsaan di kalangan anak muda dan mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis statistic deskriptif. Program pengabdian masyarakat ini dirancang dengan mengadakan training dan workshop terhadap sejumlah guru agama yang peran mereka sangat strategis dan penting dalam pembentukan pemahaman dan sikap keberagamaan yang moderat. Workshop ini diikuti oleh 26 guru dari Jakarta, Tangerang dan Serang selama 3 hari. Testimoni dan saran dari peserta menggambarkan program ini cukup berhasil menginspirasi mereka untuk lebih mendalami nilai keislaman-keindonesiaan. Diseminasi gagasan moderasi beragama ini dilakukan, diantaranya, melalui pelatihan dan pengembangan nilai-nilai keislaman yang satu tarikan napas dengan nilai-nilai kebangsaan (keindonesiaan). Penelitian ini dilakukan kepada 156 mahasiswa yang mengikuti kuliah NHP. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat korelasi yang kuat dan pengaruh yang signifikan antara pembelajaran kuliah NHP dengan persepsi dan sikap mahasiswa terhadap nilai keislaman dan keindonesiaan.