Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PEMANFAATAN BIJI SALAK (Salacca zalacca) dan BIJI MAHONI (Swietenia mahagoni (L,) Jacq) sebagai OLAHAN KOPI SALMON Masrur Muzadi; Novizawati Novizawati
Jurnal Inovasi Penelitian Vol 1 No 4: September 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/jip.v1i4.1780

Abstract

Meningkatnya kebutuhan kopi di Indonesia dalam bentuk bubuk maupun biji dalam setiap tahunnya maka diperlukan inovasi baru olahan kopi untuk mengantisipasi ketersediaan kopi di Indonesia. Salah satu inovasi baru olahan kopi yaitu memanfaatkan biji salak sebagai bahan dasarnya dengan campuran biji mahoni. Mengingat bahwa biji salak dan biji mahoni belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk diolah menjadi produk pangan lokal yang mempunyai nilai ekonomis. Biji salak yang biasanya dibuang begitu saja karena dianggap sebagai limbah pertanian dan biji mahoni yang dibiarkan berceceran yang banyak ditemui dipingiran jalan. Berdasarkan hal tersebut, menjadi alasan penulis untuk memanfaatkan biji salak dan biji mahoni sebagai bahan dasar dan bahan campuran dalam pengolahan kopi salmon (salak dan mahoni). Kopi salmon merupakan produk olahan biji salak dan biji mahoni yang diproses dengan cara dikeringkan, disangrai, digiling, diayak, ditimbang, dilakukan uji organoleptik, uji laboratorium. Produk olahan kopi salmon dikemas menggunakan kemasan standing pouch sehingga memiliki hasil akhir berupa produk minuman kopi salmon yang siap untuk diseduh
The potential of mushroom Baglog waste compost by adding FMA on ground water spinach (Ipomoea reptans Poir) growth Adi Rastono; Masrur Muzadi; Hamzah Nata Siswara
JURNAL AGRONOMI TANAMAN TROPIKA (JUATIKA) Vol 5 No 1 (2023): Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Agronomi Tanaman Tropika (JUATIKA)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS ISLAM KUANTAN SINGINGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36378/juatika.v5i1.2719

Abstract

Unrecycled mushroom Baglog waste will become a place for spores to grow so that the spores will spread to the inoculation room, damaging the mushroom Baglog media, which causes crop failure. The right step for utilizing Baglog waste is composting it. A composted Baglog waste will be better if it is added with arbuscular mycorrhizal fungi (FMA), improving and increasing soil nutrient quality. This study aimed to determine the potential of mushroom Baglog waste compost by adding FMA to groundwater spinach growth (Ipomoea reptans Poir). This study used RAK to treat compost, compost+AFM 10g, compost+AFMA 20g, and compost+AFMA 30g. The study results indicate that Baglog waste compost and FMA have not been able to interact well on the parameters of tendril length, wet weight, and dry weight, as shown by the results that are not significantly different from compost treatment without FMA. Even so, compost waste has the potential to be used as fertilizer or media because it already has physical quality conforming to SNI. Adding FMA to mushroom Baglog waste compost is recommended because it can potentially increase plants' growth rate. The best interaction between Baglog mushroom waste compost and FMA was the compost + 10 g FMA treatment for all observation parameters.
PENDAMPINGAN DAN PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK KOMPOS LIMBAH PETERNAKAN DI DESA NGAWUN KABUPATEN TUBAN Rastono, Adi; Muzadi, Masrur; Siswara, Hamzah Nata
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka Vol 2 No 01 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM Azramedia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/sabangka.v2i01.473

Abstract

Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Desa Ngawun Kecamatan Parengan Kabupaten Tuban dalam memanfaatkam limbah peternakan menjadi kompos. Warga masih memiliki beberapa keterbatasan dalam pengolahan antara lain, 1) pemahaman tentang teknologi pengolahan limbah ternak masih kurang, 2) belum memiliki keterampilan dalam mengelola limbah peternakan sehingga perlu adanya pendampingan dan pelatihan. Metode yang dilakukan dalam program pengabdian masyarakat adalah observasi melalui preetest dan postest, sosialisasi, pendampingan dan pelatihan pembuatan pupuk. Hasil dari kegiatan ini adalah Program ini berhasil dalam memotifasi warga untuk memanfaatkan limbah ternak menjadi kompos yang ditujukan prosentase preetest yang menjawab “Ya” adalah 31,3% dan “Tidak” 61,7%, namun setelah dilakukan kegiatan pendampingan dan pelatihan dalam pembuatan pupuk kompos prosentase pada posttest meningkat yaitu dengan jawaban “Ya” 80% sedangkan “Tidak” 20%.
Sosialisasi dan Pelatihan Pengolahan Limbah Pangan menjadi Eco-enzyme di Lingkungan Sekolah Nurenik, Nurenik; Indarwati, Lisa Dwifani; Rastono, Adi; Muzadi, Masrur
Indonesian Journal for Social Responsibility Vol. 7 No. 02 (2025): December 2025
Publisher : LPkM Universitas Bakrie

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36782/ijsr.v7i02.482

Abstract

Each year, food waste from households, markets, restaurants, and schools continues to increase. Improper management of this waste can harm the environment and contribute to greenhouse gas emissions. A simple, low-cost, and environmentally friendly solution for managing food waste is to process it into an eco-enzyme. This community engagement program aimed to enhance students’ knowledge and skills in creating eco-enzymes as a practical approach to addressing food waste issues. The activity was conducted at MA Islamiyah Kedungjambe in Tuban and involved 39 students from the XI grade, focusing on both science and social studies tracks. The methods used included interactive socialization and hands-on training in eco-enzyme production, utilizing a mixture of fruit peels, brown sugar, and water in a 3:1:10 ratio, followed by a three-month fermentation process. The resulting eco-enzyme had a fresh, fermented aroma and was free from unpleasant odours. It can be used as a liquid organic fertilizer for plants. The results indicated high enthusiasm among participants, along with a significant increase in their understanding and interest in making eco-enzymes independently at home. This activity effectively fostered environmental awareness among students and is recommended for implementation in other schools as part of sustainable environmental education.
Efektivitas Pemberian BPF Dan FMA Terhadap Pertumbuhan Awal Tanaman Cabai Rawit Pada Tanah Alfiisol Pada Musim Kemarau Muzadi, Masrur; Rastono, Adi
Agrium Vol 20 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i4.14122

Abstract

Penelitian betujuan untuk menguji efektivitas  pemberian BPF dan  FMA pada pertumbuhan awal tanaman cabai rawit di tanah alfiisol pada musim kemarau. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 8 kombinasi perlakuan A = Kontrol, B = Pemberian Pupuk P, C = pemberian Bacillus subtilis, D= pemberian FMA, E= Pembrian Pupuk P + Bacillus subtilis, F= Pembrian Pupuk P + Fungi mikoriza Arbuskula, G= pemberian Bacillus subtilis + Fungi mikoriza Arbuskula, H = Pemberian Pupuk P + Bacillus subtilis + FMA dengan 3 kali ulangan sehingga terdapat 24 petak percobaan. Pada penelitian ini faktor lingkungan juga menjadi penentu pertumbuhan awal tanaman cabai dimusim kemarau, sehingga dilakukan pengukuran faktor lingkungan meliputi intensitas cahaya, suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin, suhu tanah, kelembaban tanah, kemudian pengukuran pertumbuhan tanaman meliputi adalah tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang. pada umur 21 HST dan 35 HST. Hasil penelitan ini adalah Pemberian perlakuan BPF dan FMA secara mandiri maupun kombinasi mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman meskipun dimusim kemarau kecuali pada perlakuan A (kontrol). Kombinasi perlakuan H (Pupuk P + BPF + FMA) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai rawit pada umur 35 HST yaitu tinggi tanaman 18.333, jumlah daun 15.22, dan diameter batang 4.0367. 
PENDAMPINGAN DAN PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK KOMPOS LIMBAH PETERNAKAN DI DESA NGAWUN KABUPATEN TUBAN Rastono, Adi; Muzadi, Masrur; Siswara, Hamzah Nata
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka Vol 2 No 01 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Sabangka
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/sabangka.v2i01.473

Abstract

Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Desa Ngawun Kecamatan Parengan Kabupaten Tuban dalam memanfaatkam limbah peternakan menjadi kompos. Warga masih memiliki beberapa keterbatasan dalam pengolahan antara lain, 1) pemahaman tentang teknologi pengolahan limbah ternak masih kurang, 2) belum memiliki keterampilan dalam mengelola limbah peternakan sehingga perlu adanya pendampingan dan pelatihan. Metode yang dilakukan dalam program pengabdian masyarakat adalah observasi melalui preetest dan postest, sosialisasi, pendampingan dan pelatihan pembuatan pupuk. Hasil dari kegiatan ini adalah Program ini berhasil dalam memotifasi warga untuk memanfaatkan limbah ternak menjadi kompos yang ditujukan prosentase preetest yang menjawab “Ya” adalah 31,3% dan “Tidak” 61,7%, namun setelah dilakukan kegiatan pendampingan dan pelatihan dalam pembuatan pupuk kompos prosentase pada posttest meningkat yaitu dengan jawaban “Ya” 80% sedangkan “Tidak” 20%.
Edukasi dan Pelatihan Pemanfaatan Sabut Kelapa Sebagai Tanaman Hias Kokedama pada Siswa MA Islamiyah Senori, Tuban Lisa Dwifani Indarwati; Nurenik Nurenik; Adi Rastono; Masrur Muzadi; Faza Yasmin Saidah
Buletin Dharmas Andalas Vol. 3 No. 1 (2026): Buletin Dharmas Andalas
Publisher : Departemen Budidaya Tanaman Perkebunan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/bda.v3i1.66

Abstract

Coconut coir is an abundant agricultural by-product that, if not properly utilized, has the potential to become waste. One alternative to increase its economic value is to use coconut coir as a growing medium for ornamental plants using the “kokedama” technique. This community service program aimed to enhance students' knowledge and practical skills in utilizing coconut coir as a growing medium for economically valuable “kokedama”, while also fostering an entrepreneurial mindset among young people. The participants consisted of 40 students from MA Islamiyah Senori, Tuban. The program was implemented using a participatory approach through hands-on activities, including preparation, educational sessions, demonstrations, practical training, and evaluation using a post-test consisting of 15 multiple-choice questions. The results showed that the students actively and enthusiastically participated in all stages of the program. Furthermore, the post-test results indicated that the participants achieved a high level of understanding after completing the training. This was reflected in a mean post-test score of 13.33 out of a maximum score of 15, corresponding to a mastery level of approximately 88.9%, with relatively low variation among participants' scores.