Rocky Wilar
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi / RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou, Manado

Published : 38 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Hubungan antara pH Darah dengan Kadar Laktat Dehidrogenase pada Asfiksia Neonatorum Leny Angkawijaya; Rocky Wilar; Johnny Rompis; Helene Aneke Tangkilisan; Suryadi N.N. Tatura
Sari Pediatri Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.2.2015.141-4

Abstract

Latar belakang. Asfiksia neonatorum dapat menyebabkan keadaan asidemia yang mengakibatkan terjadinya kerusakan sel. Kerusakansel dapat dilihat dengan peningkatan kadar laktat dehidrogenase (LDH). Banyak kasus asfiksia neonatorum, tetapi belum banyakyang meneliti tentang hubungan pH darah dengan kadar LDH.Tujuan. Mengetahui hubungan antara pH darah dengan kadar LDH pada asfiksia neonatorum.Metode. Penelitian dengan desain potong lintang pada asfiksia neonatorum. Pengambilan sampel secara consecutive, bayi asfiksia dilakukanpemeriksaan LDH dan pH darah. Kriteria inklusi adalah bayi cukup bulan, berat badan 􀁴2500 gram, mendapat persetujuan orang tua.Kriteria eksklusi adalah kelainan kongenital mayor, tersangka sepsis, trauma lahir, ibu sectio caesarea (SC) dengan anestesi umum.Hasil. Jumlah subjek 45 bayi, didapatkan 25 bayi asfiksia dengan LDH normal dan 20 dengan LDH meningkat, rerata LDH yangmeningkat 1045,95 dan pH 7,17. Nilai korelasi Pearson antara pH darah dan kadar LDH darah -0,649 (p=<0,001), yang berartimemiliki hubungan negatif.Kesimpulan. Pada bayi asfiksia neonatorum, semakin turun nilai pH darah maka kadar LDH semakin meningkat.
Perbandingan Profil Hematologi dan Trombopoietin sebagai Petanda Sepsis Neonatorum Awitan Dini Rocky Wilar; Silfy Welly; Nurhayati Masloman; Suryadi Tatura
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.956 KB) | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.481-6

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum memiliki gejala klinis yang tidak spesifik dan diagnosis dengan pemeriksaan kultur memerlukan waktu yang lama. Telah dilaporkan beratnya derajat sepsis bertambah seiring peningkatan kadar trombopoietin (TPO) sehingga TPO dapat dijadikan salah satu petanda derajat sepsis.Tujuan. Membandingkan profil hematologi dengan TPO sebagai petanda sepsis neonatorum awitan dini (SNAD).Metode. Studi potong lintang, dilakukan di Sub Bagian Neonatologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP.Prof.Dr.R.D.Kandou, bulan November 2012 sampai April 2014. Didapatkan 103 neonatus tersangka SNAD. Diperbandingkan kadar profil hematologi (jumlah leukosit, jumlah trombosit dan IT rasio) dengan TPO. Hasil. Hasil uji diagnostik TPO dengan cut-off point 259 pg/mL pada SNAD diperoleh nilai sensitivitas 76,8% dan spesifisitas 24,4%; jumlah trombosit (T) sensitivitas 42,9% dan spesifisitas 87,2%; jumlah leukosit (L) sensitivitas 30,4% dan spesifisitas 87,3%; IT-rasio (IT) sensitivitas 67,3% dan spesifisitas 50%; L+T diperoleh sensitivitas 58,9% dan spesifisitas 74,5%; L+IT sensitivitas 73,2% dan spesifisitas 46,8%; T+IT sensitivitas 78,6% dan spesifisitas 44,7% sedangkan L+T+IT sensitivitas 83,9% dan spesifisitas 34%.Kesimpulan. Sensitivitas dan spesifisitas TPO tidak lebih tinggi dibandingkan dengan profil hematologi sebagai petanda diagnosis SNAD.  
Hubungan Kadar Serum Metabolit Nitrit Oksida dan Gangguan Fungsi Ginjal pada Sepsis Jose M. Mandei; Ronald Chandra; Rocky Wilar; Ari L. Runtunuwu; Jeanette I. Ch. Manoppo,; Adrian Umboh
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.259-63

Abstract

Latar belakang. Sepsis adalah respons sistemik terhadap infeksi dengan salah satu komplikasinya berupa gagal organ ginjal. Peran nitrit oksida (NO) sebagai mediator yang terlibat dalam mekanisme gagal organ ginjal kasus sepsis masih bersifat kontroversi.Tujuan. Mengevaluasi hubungan antara kadar serum NO dan gangguan fungsi ginjal pada sepsis anak.Metode. Desain penelitian potong lintang secara konsekutif dilaksanakan sejak bulan Juni sampai November 2012 dengan sampel anak usia satu bulan sampai lima tahun yang didiagnosis sepsis. Pemeriksaan kadar serum kreatinin mencerminkan fungsi ginjal dan kadar serum metabolit NO (nitrat dan nitrit) mencerminkan kadar NO endogen. Uji korelasi menggunakan uji korelasi Spearman, dinyatakan bermakna apabila p<0,05. Data diolah menggunakan piranti lunak SPSS 19.00Hasil. Diperoleh 40 subjek dengan median usia 8,5 bulan (2 sampai 70 bulan) dan 22 di antaranya anak laki-laki. Kadar metabolit NO ditemukan berhubungan dengan kadar serum kreatinin (rs=0,33; p=0,041).Kesimpulan. Terdapat hubungan antara peningkatan kadar serum NO dan terjadinya gangguan fungsi ginjal pada anak dengan sepsis.
Hubungan Kadar Neuron-Specific Enolase Serum dengan Mortalitas pada Sepsis Neonatorum Ricky Hartanto; Nurhayati Masloman; Johnny Rompis; Rocky Wilar
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.450-4

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum menyebabkan respons inflamasi berlebih sehingga terjadi kerusakan sawar darah otak, disfungsiserebrovaskular dan oksigenasi, gangguan neurotransmiter, degenerasi sel neuron, edema serebral yang berakhir pada kematian sel.Penelitian sebelumnya mendapatkan peningkatan kadar NSE serum pada pasien anak dengan sepsis berat dan syok septik.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar NSE serum dengan mortalitas pada sepsis neonatorum.Metode. Digunakan metode analitik observasional kohort prospektif dari bulan Agustus 2015 sampai November 2015. Sampeldiambil secara konsekutif dan didapatkan 42 bayi dengan sepsis neonatorum. Analisis statistik diuji dengan regresi logistik dan korelasiPearson. Orang tua atau wali diminta menandatangani informed consent. Penelitian ini dilaksanakan dibawah persetujuan komite etik.Hasil. Terdapat hubungan antara kadar NSE serum dengan mortalitas (koefisien korelasi rpb =0,738 dengan nilai p<0,001). Cutt-offpoint kadar NSE serum yaitu 21,9 μg/L dengan sensitivitas 91,3% dan spesifisitas 94,7% dalam menentukan mortalitas pada sepsisneonatorum.Kesimpulan. Semakin tinggi kadar NSE serum maka semakin besar peluang bayi dengan sepsis akan meninggal
Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Episode Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Rocky Wilar; J. M. Wantania
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.137 KB) | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.154-8

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang seringdiderita oleh anak-anak. Gangguan hemodinamik pada penyakit jantung bawaan (PJB)dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang berulang. Banyak faktor risiko yangberhubungan dengan terjadinya ISPA.Tujuan penelitian. Mengetahui episode dan lamanya ISPA pada anak dengan PJBdan faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ISPA tersebut.Metoda. Jenis penelitian ini adalah studi longitudinal (prospektif), sejak 10 Nopember2004 sampai 10 Juni 2005 pada 47 anak yang menderita PJB (29 tipe non sianotik dan18 tipe sianotik) yang berusia 6 bulan sampai 12 tahun. Diagnosis PJB berdasarkan atasanamnesis, pemeriksaan fisik, EKG dan ekokardiografi. Diagnosis ISPA berdasarkananamnesis dan pemeriksaan fisik. Dilakukan kunjungan rumah tiap bulan pada pasienuntuk mengevaluasi episode dan lamanya ISPA. Kriteria inklusi tidak menderita kelainanbawaan yang lain (misalnya bibir sumbing), berdomisili di kota Manado dan mendapatpersetujuan dari orang tua/wali. Analisis statistik menggunakan analisis deskriptif, regresilinear sederhana dan multipel.Hasil. Terdapat perbedaan episode dan lamanya ISPA antara PJB non sianotik dan PJBsianotik (p<0,001). Terdapat hubungan antara episode ISPA dengan umur dan statusgizi (p<0,001). Terdapat hubungan antara lamanya ISPA dengan tipe PJB (p<0,01).Kesimpulan. Episode ISPA pada pasien PJB lebih sering dibandingkan dengan anak normal.Episode ISPA pada PJB sianotik lebih sering dibandingkan PJB non sianotik. Pasien PJBsianotik apabila mengalami ISPA lebih lama dibanding PJB non sianotik. Umur danstatus gizi sangat berhubungan dengan episode ISPA pada anak-anak dengan PJB.
Faktor Risiko Sepsis Awitan Dini Rocky Wilar; Ellen Kumalasari; Diana Yuliani Suryanto; Stefanus Gunawan
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.265-9

Abstract

Latar belakang. Insiden sepsis neonatorum masih tinggi, oleh karena itu diperlukan perhatian khusus padadeteksi dini untuk tata laksana lebih dini.Tujuan. Mengetahui faktor risiko potensial yang menyebabkan sepsis awitan dini.Metode. Studi retrospektif kohort dilaksanakan pada Bagian Neonatologi RS Prof DR RD Kandou daribulan Januari - Juli 2009. Kriteria inklusi adalah bayi yang dilahirkan di RS Prof. R.D. Kandou yang memilikifaktor risiko sepsis. Faktor risiko sepsis apabila terdapat dua faktor risiko mayor atau satu faktor risikomayor dengan dua faktor risiko minor. Diagnosis sepsis ditegakkan berdasarkan adanya gejala klinis danfaktor risiko sepsis serta pemeriksaan laboratorium. Data dievaluasi dengan Pearson chi-square dan Fisher’sexact test, dianalisis dengan SPSS 17. Dikatakan berhubungan signifikan antara faktor risiko dengan sepsisbila p<0,05.Hasil. Dari 72 kasus bayi dengan faktor risiko sepsis, 58 bayi didiagnosis sepsis. Hanya ketuban pecah dini>18 jam yang merupakan salah satu faktor risiko mayor berhubungan signifikan dengan sepsis (p=0,002,IK95% 1,2 4;1,59). Faktor risiko mayor lain yaitu demam intrapartum >38oC, korioamnionitis, ketubanberbau, denyut jantung janin >160x/menit dan faktor risiko minor yang meliputi ketuban pecah dini >12jam, demam intrapartum >37,50C, skor APGAR rendah, bayi berat lahir sangat rendah, kembar, usia kehamilan<37 minggu, keputihan, infeksi saluran kemih tidak berhubungan dengan sepsis.Kesimpulan. Ketuban pecah dini >18 jam berhubungan dengan sepsis awitan dini.
Kadar Neuron-Specific Enolase Serum dan Derajat Ensefalopati Hipoksik Iskemik pada Asfiksia Neonatorum Agus Wijata; Rocky Wilar; Sarah M. Warouw; Johnny Rompis
Sari Pediatri Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.1.2016.1-5

Abstract

Latar belakang. Ensefalopati hipoksik iskemik (EHI) merupakan komplikasi asfiksia neonatorum yang mengenai sistem saraf pusat berupa disfungsi serebrovaskular dan oksigenasi, gangguan neurotransmiter, degenerasi sel-sel neuron, edema serebral yang berakhir pada kematian sel. Penelitian sebelumnya mendapatkan peningkatan kadar neuron specific enolase (NSE) cairan serebrospinal pada bayi dengan EHI. Masih belum banyak penelitian mengenai kadar NSE serum pada bayi dengan EHI.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar NSE serum dengan derajat EHI pada asfiksia neonatorum.Metode. Penelitian analitik observasional pendekatan potong lintang dilakukan dari bulan Oktober 2015 sampai Februari 2016. Sampel adalah bayi asfiksia yang mengalami EHI, diambil secara konsekutif. Analisis statistik diuji dengan korelasi Spearman. Orang tua atau wali diminta menandatangani informed consent.Hasil. Kami mendapatkan 39 bayi asfiksia yang mengalami EHI, terdiri atas 20 bayi laki-laki dan 19 perempuan. Terdapat hubungan bermakna antara kadar NSE serum dengan derajat EHI pada asfiksia neonatorum (koefisien korelasi r =0,893 nilai p<0,001).Kesimpulan. Terdapat korelasi positif antara kadar NSE dengan derajat EHI pada asfiksia neonatorum.
Peran Interleukin-6 Dalam Menilai Respon Pengobatan Pada Sepsis Neonatorum Awitan Dini Rudy Ciulianto; Max F. J. Mantik; Rocky Wilar; Suryadi N.N. Tatura
Sari Pediatri Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.1.2017.32-5

Abstract

Latar belakang. Interleukin-6 memiliki potensi untuk menilai respon pengobatan selain sebagai biomarker sepsis.Tujuan. Menentukan peran IL-6 dalam mengevaluasi respon pengobatan pada sepsis neonatorum awitan dini (SNAD).Metode. Kami melakukan penelitian potong lintang dengan sampel SNAD yang memenuhi kriteria penelitian dengan jumlah sampel sebanyak 40 bayi dan mendapatkan informed consent dari orang tua serta persetujuan komite etik RSUP Kandou. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan uji t berpasangan.Hasil. Dari 40 sampel, terdapat 12 bayi laki-laki dan 3 bayi perempuan mengalami respon buruk. IL-6 sebelum dan sesudah terapi antibiotik pada kelompok respon baik memiliki nilai median 16,32 (Qd 5,23) dan 0,56 (Qd 0,46). Kelompok respon buruk memiliki nilai rerata IL-6 120,89 (SB 87,35) dan 503,71 (SB 479,97). Hasil uji Wilcoxon menyatakan penurunan IL-6 yang sangat bermakna terhadap kelompok respon baik (p<0,0001), begitu juga pada kelompok respon buruk terjadi peningkatan yang sangat bermakna dengan hasil uji t berpasangan (p=0,004). Kesimpulan. IL-6 merupakan biomarker yang dapat dipertimbangkan untuk menilai respon pengobatan pada SNAD, IL-6 akan menurun jika diberikan antibiotik yang tepat.