Agung Ari Wibowo
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGARUH PENGGUNAAN KAPUR DAN LAMA WAKTU PENGERINGAN TERHADAP KETAHANAN GRANULA MEDIA TANAM UNTUK TANAMAN AIR Aldila Maysela Sukmawati; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.371

Abstract

Aquascape saat ini mempunyai ketertarikan besar terhadap tanaman air. Tujuan utama untuk menciptakan visibilitas bawah air yang bagus di akuarium dan membuatnya terlihat lebih menarik secara visual, dengan mempertimbangkan aspek perawatan tanaman air. Untuk membuat aquascape salah satu hal penting yaitu substrate soil. Dalam pembuatan substrate soil menggunakan bahan baku berupa tanah humus dan tanah taman. Karena substrate soil ini mudah hancur pada saat didasar air maka diperlukan bahan tambahan berupa perekat yaitu kapur organik. Kapur organik ini berfungsi sebagai perekat karena kapur organik mempunyai sifat plastis yaitu bisa mengeras dengan cepat sehingga memberi kekuatan pengikat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa lama ketahanan granula dalam dasar air dan mengetahui pH air yang diperoleh. Proses pembuatan substrate soil diawali dengan pencampuran bahan baku tanah humus dan tanah taman kemudian dicampur dengan bahan tambahan perekat berupa kapur dan di seprai dengan air lalu proses granulasi dalam bak. Variabel untuk jumlah perekat kapur organik menggunakan perbandingan 10%, 15%, dan 20% dari total berat bahan baku. Kemudian granula yang sudah terbentuk akan disangrai menggunakan api kompor hingga kandungan airnya berkurang. Variabel pengeringan terdiri dari 30 detik, 60 detik, dan 90 detik. Dari data hasil analisis yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kandungan kapur maka semakin kuat ketahanan bentuk granula, selain itu juga semakin stabil pH yang diperoleh.
ANALISA PENGGUNAAN TANAH LIAT DAN TANAH LEMPUNG DALAM PEMBUATAN SUBSTRAT SOIL UNTUK AQUATIC PLANT Anggi Wahyu Kusuma; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.360

Abstract

Substrate soil merupakan media tanam yang ada didalam aquascape yang mengandung unsur organik serta mineral yang penting bagi tumbuhan air. Bahan baku utama dari substrate soil bermacam-macam bisa dari pasir maupun tanah, tetapi penggunaan tanah dalam pembuatan substrate soil dinilai lebih efektif dibandingkan dengan pasir dikarenakan tanah memiliki sifat yang berat serta melekat dan mampu mengikat akar tanaman dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penggunaan bahan baku tanah liat dan tanah lempung pada pembuatan substrate soil terhadap ketahanan soil yang dihasilkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kering dengan bahan utama yaitu tanah liat dan tanah lempung sebanyak 500 gram, kotoran kambing dan arang sebanyak 50 gram. Dari hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa bahan baku tanah liat memiliki tingkat ketahanan bahan baku tanah liat lebih  baik dibandingkan dengan bahan baku tanah lempung yang dibuktikan dengan hasil perendaman substrate soil di dalam air menunjukkan bahwa selama 7 hari substrate soil masih tahan terhadap air. Sedangkan untuk analisa pH penggunaan bahan baku tanah liat memiliki memiliki nilai pH yang sesuai yaitu sebesar 6,2 dihari pertama dan dihari ke tujuh pH air sebesar 7. Hasil dari analisa TDS bahan baku tanah liat memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan bahan baku tanah lempung yaitu dengan rentang 200-320 mg/l untuk tanah liat dan 298-400 mg/l untuk tanah lempung. Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa penggunaan bahan baku tanah liat memiliki hasil analisa  yang sesuai standar untuk kehidupan organisme akuatik.
PENGARUH PENGGUNAAN MOLASE DAN ARANG TERHADAP KETAHANAN DAN PH AIR SERTA KEJERNIHAN GRANULA PADA PEMBUATAN SOIL SUBSTRATE Rizqi Putri Amalia; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.372

Abstract

Soil substrate adalah media tanam aquascape  yang merupakan bagian dasar dari aquascape yang bersentuhan langsung dengan akar tanaman. Fungsi dari soil susbstrat selain untuk media tanam yaitu untuk menutrisi tumbuhan. Pembuatan soil substrate menggunakan bahan baku tanah dan humus. Untuk meningkatkan ketahanan bentuk granula soil substrate, pada penelitian ini digunakan molasses sebagai perekat. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengunaan molase dan arang terhadap kejernihan dan pH air serta ketahanan granula pada pembuatan soil substrate.  Proses pembuatan substrate soil diawali dengan pencampuran bahan baku tanah humus dan tanah taman kemudian dicampur dengan bahan tambahan perekat berupa molase yang dispreykan. Variabel yang digunakan yaitu molase 10 mL, 20 mL dan 30 mL dengan pengenceran dengan air 1 : 10 dengan variasi persen arang 5%, 10% dan 15% dengan metode wet granulation. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kadar molase memiliki ketahanan bentuk granula yang lebih baik dibandingkan dengan sampel blangko. Semakin banyak arang maka kejernihan air dalam aquascape  semakin jernih walaupun granula dalam keadaan hancur.
ANALISA EKONOMI PRA RANCANGAN PABRIK KIMIA SOIL SUBSTRATE UNTUK AQUATIC PLANT DENGAN KAPASITAS 500 TON/TAHUN Aldi Prastyo Bramasto; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 4 (2022): Desember 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.420

Abstract

Soil substrate adalah bagian dasar dari aquascape yang merupakan media tanam dan bersentuhan langsung dengan akar tanaman. Agar tidak mempengaruhi kualitas air dan biota air lainya, soil yang digunakan dalam aquascape sudah melalui pengolahan secara detail. Analisa ekonomi ini berfungsi untuk menunjukkan kelayakan didirikan pabrik dan juga dapat mengetahui keuntungan pabrik. Pertama yang harus dilakukan yaitu melakukan riset mengenai produksi, impor, dan ekspor dari Pupuk Organik. Selanjutnya yaitu tahap perhitungan kapasitas pabrik dan membentuk sistem manajemen pabrik. Terakhir yang dilakukan analisa ekonomi pabrik. Pabrik Soil substrate yang didirikan memiliki kapasitas 500 ton/tahun sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar. Besar nilai Break Even Point (BEP) (63,81)%/tahun, besar nilai Return On Investment (ROI) sebelum pajak (33,49)%/tahun dan besar nilai setelah pajak (20,09)%/tahun, besar nilai Pay Out Time (POT) setelah pajak 4,97 tahun dan besar nilai Shut Down Point (SDP) (46,95)%.Berdasarkan nilai analisa ekonomi menunjukkan bahwa pabrik Soil Substrate untuk Aquatic Plant layak untuk didirikan.
GREEN DIESEL: BAHAN BAKAR CAIR TERBARUKAN PENGGANTI BIODIESEL Fidelia Helga Yudhistira; Agung Ari Wibowo
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 4 (2022): Desember 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.486

Abstract

Penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil hingga saat ini masih meningkat. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan kelangkaan dan ketersediaannya di lapangan semakin menipis. untuk itu, perlu adanya sebuah inovasi yaitu produksi energi alternatif.  Green diesel adalah solusi untuk mengatasi kebutuhan bakan bakar diesel yang terus meningkat. Green diesel juga sering disebut sebagai biofuel yang dianggap sebagai diesel terbarukan yang berasal dari minyak nabati. Diesel jenis ini memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan diesel yang memiliki bahan baku dari fosil karena ramah lingkungan dan tidak menimbulkan akumulasi karbon dioksida (CO₂) di atmosfer. Saat ini terdapat beberapa proses yang dapat digunakan untuk menghasilkan green diesel seperti: hydroprocess trigliserida dan pirolisis bahan lignoselulosa yang berasal dari bahan yang mengandung karbohidrat. Pada setiap proses dibahas kondisi operasi untuk hasil produksi maksimum. Selain itu penggunaan katalis yang sesuai juga mempengaruhi hasil produksi. Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang green diesel serta teknik produksi yang digunakan. Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, didapatkan bahwa tidak semua teknologi produksi menggunakan bahan serta katalis yang sama. Perlu adanya pertimbangan pemilihan teknologi produksi sesuai dengan tujuan dan penerapannya. Kata kunci: biomassa, energi terbarukan, green diesel, teknologi produksi
Aplikasi Response Surface Methodology pada Optimasi Penambahan Blast Furnace Slag Terhadap Waktu Pengikatan dan Kuat Tekan Semen Hardjono Hardjono; Cucuk Evi Lusiani; Agung Ari Wibowo; Mochammad Agung Indra Iswara
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol. 4 No. 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.64 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.150

Abstract

The production of clinker consumes high energy and causes high production cost of cement industry. It can be reduced by adding blast furnace slag as a mixture in cement production. The blast furnace slag - clinker mixture can produce cement with setting time and compressive strength according to SNI. The effect of the addition of blast furnace slag as a clinker mixture to the setting time and compressive strength of cement can be optimized by response surface methodology (RSM) using Central Composite Design (CCD). Optimization by using RSM aims to determine the optimum condition of the blast furnace slag – clinker mixture to the initial setting time, final setting time, and compressive strength. ANOVA test results and response surface analysis show that the addition of blast furnace slag into the cement mixture has a significant influence on the initial setting time, final setting time, and compressive strength. The addition of 5% blast furnace slag with 92.5% clinker in the mixture of clinker and gypsum is the optimum condition which gives a significant effect on the response variable.
Simulasi CHEMCAD: Studi Kasus Distilasi Ekstraktif pada Campuran Terner n-Propil Asetat/n-Propanol/Air Agung Ari Wibowo; Cucuk Evi Lusiani; Rizqy Romadhona Ginting; Dhoni Hartanto
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2018): October 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.916 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i2.75

Abstract

Pemisahan n-propil asetat dari campuran terner n-propil asetat/n-propanol/air merupakan salah satu proses yang tidak dapat dilakukan dengan distilasi sederhana. Adanya azeotrop terner minimum dari campuran tersebut menyebabkan n-propil asetat hanya dapat dipisahkan dari campuran n-propanol dan air salah satunya dengan metode distilasi ekstraktif. Distilasi ekstraktif merupakan proses vaporisasi parsial dengan menambahkan suatu agen pemisah non-volatil yang disebut sebagai sovent atau agen ekstraktif. Solvent yang digunakan dalam simulasi proses ini adalah campuran DMSO (Dimetil Sulfoksida) dan Gliserol dengan komposisi 50 % massa dengan perbandingan 1:2 untuk massa umpan kolom : solvent. Feed yang digunakan adalah n-propanol (10 kmol/jam) dan asam asetat (13 kmol/jam) masing-masing pada suhu 25°C dan tekanan 101,3 kPa. Hasil n-propil asetat terbaik diperoleh saat solvent diumpankan pada stage 5 dengan fraksi mol n-propil asetat pada distilat 0,9975 disertai dengan minimumnya energi reboiler yang digunakan pada konfigurasi kolom ini. n-Propyl acetate separation of the n-propyl acetate /n-propanol/water mixture composition can't be done by simple distillation. The existence of minimum ternary azeotrope on the mixture causes n-propyl acetate can be separated only by extractive distillation method. Extractive distillation is a partial vaporization process in the presence of a non-volatile separating agent called as solvent or extractive agent. Solvent used in the simulation process is DMSO (Dimethyl Sulfoxide)-Glycerol mixture (50% mass) with a ratio of 1: 2 for column feed : solvent. n-Propanol (10 kmol/hour) and acetic acid (13 kmol/hour) are fed into reactor (before extractive distillation process) at 25°C and 101.3 kPa, respectively. The best results of n-propyl acetate were obtained when the solvent was fed to stage 5 in which mole fraction of n-propyl acetate in distillate 0.9975 accompanied by the minimum reboiler energy used in this column configuration.