Djon Wongkar
Bagian Anatomi-Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

PENGARUH SENAM POCO-POCO TERHADAP KADAR KOLESTEROL LOW DENSITY LIPOPROTEIN DARAH Saputra, Asep D.; Ticoalu, Shane H. R.; Wongkar, Djon
eBiomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.1.2015.6503

Abstract

Abstract: High level of plasma LDL-cholesterol concentrations is one of the cause of atherosclerosis that may result in cardiovascular diseases (CVD), such as coronary heart disease (CHD) and stroke. Exercise can improve plasma LDL-cholesterol concentrations. A type of exercise, poco-poco, is categorized to the aerobic gymnastics. This study aimed to know the influence of poco-poco to plasma LDL-cholesterol concentrations. This was an experimental study with one group prestest-posttest design. Samples were 25 female students of 2013 batch Pharmacy study program of Sam Ratulangi University Manado that were chosen with purposive sampling. Samples did poco-poco gymnasticss three times a week for four consecutive weeks. The results showed that after four weeks of poco-poco there was an increase of the average of plasma LDL-cholesterol concentrations for 1.120 mg/dl, but this increase was not statistically significant (p > 0.05). Conclusion: There was no significant influence of doing poco-poco for four weeks to plasma LDL-cholesterol concentrations.Keywords: poco-poco gymnastics, low density lipoproteinAbstrak: Tingginya kadar kolesterol-LDL darah merupakan penyebab utama terjadinya aterosklerosis yang berujung pada munculnya penyakit kardiovaskular (PKV), seperti penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke. Olahraga merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk memperbaiki kadar kolesterol-LDL darah. Senam poco-poco termasuk dalam olah raga dengan kategori senam aerobik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam poco-poco terhadap kadar kolesterol-LDL darah. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan desain one group prestest-posttest. Sampel penelitian ialah mahasiswa Fakultas MIPA Program Studi Farmasi Universitas Sam Ratulangi Manado Angkatan 2013 sebanyak 25 orang yang dipilih secara purposive sampling. Sampel melakukan senam poco-poco sebanyak tiga kali dalam seminggu selama empat minggu. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa setelah melakukan senam poco-poco selama empat minggu terjadi peningkatan rata-rata kadar kolesterol-LDL darah sebanyak 1,120 mg/dl, namun perubahan ini tidak bermakna secara statistik (p > 0,05). Simpulan: Tidak terdapat perubahan yang bermakna secara statistik terhadap kadar kolesterol-LDL darah setelah melakukan senam poco-poco selama empat mingguKata kunci: senam poco-poco, low density lipoprotein
PENGARUH ZUMBA TERHADAP KADAR GULA DARAH Benaino, Novia P. I.; Ticoalu, S. H. R.; Wongkar, Djon
e-Biomedik Vol 2, No 2 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i2.4998

Abstract

Abstract: Glucose is the result of carbohydrate metabolism that is converted and absorbed by bloodstream and placed to several organs and body tissues that functions as the main source of energy for muscles, physical activities of the body, central nervous system and brain work. A normal glucose level value is maintained by the body in a narrow range which is about 70-120 mg/dl. Glucose that has formed in its use as an energy source requires physical activities and insulin to stimulate permeability of the fiber muscle. This research aims at finding the effect of zumba to the blood glucose levels. Method: This research is an experiment with a one group pre and post test design that fulfill the criteria such as normal body mass index (18,5-22,9), people with no exercise routine, no diabetes mellitus, no asthma, no heart disease, no broken bones on hands and feet, and not being injured in muscle joints. The research samples are twenty students of nursing program study batch 2013, Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. the blood glucose level is measured before and after zumba exercise. The data are analyzed by Paired Sample-T test using SPSS. Conclusion: Based on the research done on the twenty research subjects, the result shows that there is no significant change of blood glucose levels after the two-week zumba exercise. Keywords: zumba, blood glucose.     Abstrak: Gula darah adalah hasil metabolisme karbohidrat yang terkonversi kemudian terabsorbsi oleh aliran darah dan ditempatkan ke berbagai organ dan jaringan tubuh dengan fungsi sebagai sumber energi utama bagi otot, aktivitas fisik tubuh, sistem saraf pusat dan kerja otak. Nilai kadar glukosa normal dipertahankan oleh tubuh dalam suatu rentangan nilai yang sempit yaitu sekitar 70-120 mg/dl. Glukosa yang telah terbentuk dalam penggunaannya sebagai sumber energi memerlukan aktivitas fisik dan kerja insulin untuk merangsang permebealitas dari serabut otot.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh zumba terhadap kadar gula darah. Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan one group pre and post test yang memenuhi kriteria-kriteria yaitu tidak rutin berolahraga, IMT normal (18,5-22,9), bukan penderita penyakit diabetes melitus, bukan penderita penyakit asma, bukan penderita penyakit jantung, bukan penderita patah tulang pada kaki dan tangan, tidak sedang mengalami cedera otot dan sendi. Sampel penelitian yaitu mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran angkatan 2013 Universitas Sam Ratulangi Manado yang berjumlah 20 orang. Kadar gula darah diperiksa sebelum dan sesudah zumba. Data dianalisis dengan Paired Sample T-test menggunakan SPSS. Simpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada subjek penelitian diperoleh hasil yaitu tidak terjadi perubahan kadar gula darah yang bermakna setelah melakukan zumba selama dua minggu. Kata kunci: zumba, gula darah.
HUBUNGAN KINERJA OTAK DENGAN SPIRITUALITAS DIUKUR MENGGUNAKAN INDONESIA SPIRITUAL HEALTH ASSESSMENT PADA GURU SMA DI TIDORE Rachmatika, Ditha; Wongkar, Djon
e-Biomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i3.6040

Abstract

Abstract: The human brain is the center of the structure which has a volume around 1.350cc and consists of 100 million nerve cells or neuron. The human brain is responsible for the whole body and way of thinking. Brain also influential on human spirituality. Spirituality has 4 thing that can be observed is a ritual, spiritual experience, the meaning of life and positive emotions. Neuroscience is the science which studies human self as a pocess that takes at the level of neural cells to the human nexus with God.  Indonesian Spiritual Health Assessment is a checks are made based on the theoretical concept of the spiritual which consists of 3 components, namely spiritual health item, brain system assessment  and neurofeedback. Objective: Determine the relationship of spirituality human brain performance with high school teacher in the town of tidore. Methods: Type of observational study with cross-sectional research design. Study sample is a high school teacher in the town of Tidore totaling 65 people.  Data collected by distributing questionnaires to the respondents in the form of Indonesia Spiritual Health Assessment (ISHA). Result and Conclusion: Based on research that has been conducted on 65 subjects were obtained results that there is a relationship between the performance of human brain with spirituality. The result can be concluded that there is a relationship between the performance of the human brain with spirituality. The result can be concluded: (1) Cortex prefrontal have no association with a spiritual experience and the meaning of  life, but there is relationship with positive emotions and rituals; (2) system limbic have no association with spiritual experiences, positive emotion, the meaning of life and rituals; (3) ganglia basalis have no association with spiritual experiences, positive emotions and the meaning of life, but there is relationship with rituals; (4) gyrus cingulatus have no association with spiritual experiences, positive emotion and meaning of life, but there is relationship with rituals; (5) temporal lobe have relationship with spiritual experience, but no association with positive emotions, the meaning of life and rituals. Keywords: Brain performance, Spirituality.     Abstrak: Latar Belakang:Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh tubuh dan cara berpikir. Otak juga sangat berpengaruh terhadap spiritualitas manusia.Spiritualitas memiliki 4 hal yang dapat diamati yaitu ritual, pengalaman spiritual, makna hidup, dan emosi positif. Neurosains adalah ilmu yang mengkaji diri manusia sebagai proses yang berlangsung pada tingkat sel saraf hingga proses perhubungan manusia dengan Tuhan. Indonesia Spiritual Health Assessment adalah pemeriksaan yang dibuat berdasarkan konsep teoritis spiritualitas, yang terdiri dari tiga komponen yaitu Spiritual Health Item, Brain System Assessment, dan Neurofeedback. Tujuan: Mengetahui hubungan kinerja otak dengan spiritualitas manusia pada guru SMA di Kota Tidore. Metode: Jenispenelitian ini yaitu penelitian observasional dengan desain penelitian crosssectional.Sampel penelitian yaitu guru SMA di Kota Tidore Kepulauan yang berjumlah 65 orang. Data diambil dengan cara membagikan kuesioner yang berupa Indonesia Spiritual Health Assessment (ISHA) kepada responden. Hasil dan simpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada 65 subjek penelitian diperoleh hasil yaitu ada hubungan antara kinerja otak dengan spiritualitas manusia. Dari hasil dapat disimpulkan bahwa: (1) Korteks prefrontal tidak ada hubungan dengan pengalaman spiritual dan makna hidup, tetapi ada hubungan dengan emosi positif dan ritual; (2) Sistem limbic tidak ada hubungan dengan pengalaman spiritual, emosi positif makna hidup dan ritual; (3) Ganglia basalis tidak ada hubungan dengan pengalaman spiritual, emosi positif dan makna hidup, tetapi ada hubungan dengan ritual; (4) Girus singulatus tidak ada hubungan dengan pengalaman spiritual, emosi positif dan makna hidup, tetapi ada hubungan dengan ritual; (5) Lobus temporal ada hubungan dengan pengalaman spiritual, tetapi tidak ada hubungan dengan emosi positif, makna hidup dan ritual. Kata Kunci: Kinerja Otak, Spiritualitas.
Gambaran makroskopik dan mikroskopik pankreas pada hewan coba postmortem Goni, Livya R.; Wongkar, Djon; Ticoalu, Shane H.R.
e-Biomedik Vol 5, No 1 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i1.14850

Abstract

Abstract: Medicolegal examination is beneficial in police investigation inter alia to determine the time of death and causes as well as mechanisms of death. Postmortem macroscopic and microscopic changes could be alternatives to estimate the time of death. This study was aimed to obtain the microscopic and macroscopic postmortem changes in pancreas based on the variation of time up to 48 hours. This was a descriptive observational study using two domestic pigs as animal model. Pancreas samples were obtained at time intervals as follows: 0 hour, 1 hour, 2 hours, 3 hours, 4 hours, 5 hours, 6 hours, 8 hours, 10 hours, 12 hours, 14 hours, 16 hours, 18 hours, 20 hours, 22 hours, 24 hours, 26 hours, 28 hours, 30 hours, 33 hours, 36 hours, 39 hours, 42 hours, and 48 hours postmortem. The macroscopic examination showed changes in its consistency at 8 hours postmortem, followed by changes in color, consistency, and length during 39 hours postmortem. Microscopic changes of pancreas occurred at 2 hours postmortem as congestion of the acini. At 5 hours postmortem, the acinar cells were difficult to be identified; most of their nuclei were distributed out of the cells. At 8 hours postmortem the structures of acini could not be identified and the cells had undergone karyolysis. At 10 hours postmortem the structures of all acini could not be identified. Conclusion: Postmortem macroscopic changes of pancreas began at 8 hours postmortem meanwhile microscopic changes began at 2 hours postmortem as acinar congestion. At 8 hours postmortem most acini’s structures could not be identified and their cells’ nuclei underwent karyolysis.Keywords: macroscopic and microscopic changes, postmortem, pancreas Abstrak: Pemeriksaan medikolegal sangat bermanfaat bagi bidang pnyidikan untuk menentukan lama kematian, penyebab kematian, serta mekanisme kematian suatu individu. Perubahan makroskopik dan mikroskopik postmortem dari organ tubuh dapat dijadikan sebagai alternatif untuk memperkiraan waktu kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran makroskopik dan mikroskopik organ pankreas postmortem berdasarkan variasi waktu sampai 48 jam. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan menggunakan dua ekor babi domestik sebagai hewan coba. Sampel pankreas diambil pada interval waktu 0 jam, 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam, 10 jam, 12 jam, 14 jam, 16 jam, 18 jam, 20 jam, 22 jam, 24 jam, 26 jam, 27 jam, 30 jam, 33 jam, 36 jam, 39 jam, 42 jam, 45 jam, dan 48 jam postmortem. Hasil penelitian menunjukkan perubahan makroskopik pankreas pada hewan coba dimulai pada 8 jam postmortem berupa perubahan konsistensi, diikuti perubahan warna, konsistensi, dan panjang pankreas pada 39 jam postmortem. Perubahan mikroskopik pankreas dimulai pada 2 jam postmortem berupa kongesti asini pankreas. Pada 5 jam postmortem sel-sel asini telah sulit diidentifikasi; sebagian besar inti sel sudah tersebar di luar sel. Pada 8 jam postmortem struktur sebagian besar asini sudah tidak jelas dengan sel-sel yang mengalami kariolisis. Pada 10 jam postmortem struktur seluruh asini pankreas tidak dapat diidentifikasi. Simpulan: Perubahan makroskopik pankreas dimulai pada 8 jam postmortem. Perubahan mikroskopik dimulai pada 2 jam postmortem berupa kongesti asini; dan sejak 8 jam postmortem struktur asini sudah tidak jelas dengan sel-sel yang mengalami kariolisis. Kata kunci: perubahan makroskopik dan mikroskopik, postmortem, pankreas
PENGARUH SENAM POCO-POCO TERHADAP KADAR KOLESTEROL HIGH DENSITY LIPOPROTEIN DARAH Arif, Ade W.; Wongkar, Djon; Ticoalu, Shane H. R.
e-Biomedik Vol 3, No 2 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i2.8547

Abstract

Abstract: High Density Lipoprotein (HDL) is denser than other types of cholesterol. Blood HDL cholesterol protects the inner wall (endothelium) of blood vessels. Exercise such as Poco-poco dance can increase the HDL cholesterol level. This study aimed to obtainthe the effect of Poco-poco dance on blood HDL cholesterol level. This was an experimental study with one group pre and post test design. Subjects were 25 Pharmacy female students, Faculty of Mathematics and Sciences, Sam Ratulangi University. Subjects were selected by purposive sampling method. Data were analyzed by using paired T test. The results showed that the average of blood HDL cholesterol level of subjects before training was 57,76 mg/dL and increased to 58,44 mg/dL after 4 weeks of training. The statistical analysis showed a p value >0.05. Conclusion: There was no statistically significant increase in HDL cholesterol level after 4 weeks of Poco-poco dance.Keywords: Poco-poco dance, high density lipoproteinAbstrak: High Density Lipoprotein (HDL) merupakan kolesterol dengan partikel yang lebih padat dibandingkan kolesterol jenis lain. Kolesterol HDL darah berperan sebagai pemelihara dinding bagian dalam (lapisan endotel) pembuluh darah. Salah satu cara untuk meningkatkan kadar kolesterol HDL darah ialah dengan melakukan aktivitas fisik, antara lain senam poco-poco. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam poco-poco terhadap kadar kolesterol HDL darah. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan one group pre and post test. Sampel penelitian ialah mahasiswa Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi Manado sebanyak 25 orang yang ditentukan dengan cara purposive sampling. Data dianalisis dengan uji T berpasangan. Setelah dilakukan latihan selama 4 minggu diperoleh hasil rerata kolesterol HDL sebelum latihan 57,76 mg/dL dan sesudah latihan 58,44 mg/dL. Analisis statistik menunjukkan nilai p >0,05. Simpulan: Terjadi peningkatan kadar kolesterol HDL darah setelah empat minggu senam poco-poco namun secara statistik tidak bermakna.Kata kunci: senam poco-poco, high density lipoprotein
Gambaran histologik hati pada kelinci yang diinduksi lemak dengan pemberian ekstrak beras hitam Somba, Yosua R.; Wongkar, Djon; Ticoalu, Shane H. R.; Bolang, Alexander S. L.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.13328

Abstract

Abstract: Dyslipidemia is a disorder of fat metabolism which is marked by increase of one or more fractions of fat in the blood. Due to the high rate of dyslipidemia cases, people begin to improve their lifestyle, such as consuming black rice. Black rice (Oryza sativa L.) is a local variety of rice that contains pigments which are different from other types of rice. Black rice extract is beneficial for lowering LDL cholesterol level and significantly increasing HDL cholesterol level besides its antioxidant effect against reactive oxygen species. This was an experimental posttest-only control group design. Subjects were three New Zealand White rabbits, divided into three groups. Group A was fed with standard food for rabbit; group B was fed with standard food for rabbit and fat; group C was fed with standard foot for rabbit, fat, and black rice extract for 28 days. Blood total and LDL cholesterol were examined on the first day and after 28 days of treatment. The three groups were terminated and their liver tissues were processed for histological examination. The histological results were as follows: Group one showed small fat vacuoles around the hepatocyte nuclei; group two showed large fat vacuoles around the hepatocyte nuclei, signet rings, and coalescence of fat vacuoles; group three showed fat vacuoles around the hepatocyte nuclei, a few signet rings without coalescence of fat vacuoles. Conclusion: Black rice extract could reduce fat vacuoles in liver tissue.Keywords: fat, black rice extract, dyslipidemia, fatty liverAbstrak: Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lemak yang ditandai peningkatan salah satu atau lebih dari fraksi lemak di dalam darah. Meningkatnya kasus dislipidemia menyebabkan banyak orang beralih ke gaya hidup sehat, antara lain mengonsumsi beras hitam. Beras hitam (Oryza sativa L.) merupakan beras varietas lokal dengan pigmen yang berbeda dari beras lain oleh karena kandungan antosianin. Ekstrak beras hitam bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol total dan LDL secara bermakna, meningkatkan kadar kolesterol HDL, serta memiliki efek antioksidan terhadap reactive oxygen species. Jenis penelitian ini ialah experimental posttest-only control group design. Sampel penelitian ini ialah kelinci New Zealand White sebanyak 3 ekor yang dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok A diberi pakan standar; kelompok B diberi pakan standar dan lemak; dan kelompok C diberi pakan standar dengan lemak dan ekstrak beras hitam selama 28 hari. Pemeriksaan kkolesterol total dan LDL dilakukan pada awal penelitian dan 28 hari setelah perlakuan 28 hari. Kelinci diterminasi untuk pengambilan jaringan hati yang kemudian dibuat sediaan histologik. Hasil pemeriksaan histologik ialah sebagai berikut: Kelompok 1 menunjukkan adanya vakuola lemak kecil-kecil disekitar nukleus; kelompok 2 menunjukkan adanya vakuola lemak yang luas di sekitar nukleus, gambaran signet ring, dan penggabungan vakuola lemak; kelompok 3 menunjukkan adanya vakuola lemak disekitar nukleus dengan beberapa gambaran signet ring tanpa penggabungan vakuola lemak. Simpulan: Ekstrak beras hitam dapat mengurangi vakuola lemak pada jaringan hatiKata kunci: lemak, ekstrak beras hitam, dislipidemia, perlemakan hati
PREVALENSI OBESITAS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI ANGKATAN 2011 Eka, _; Ticoalu, S. H.R; Wongkar, Djon
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.1218

Abstract

Abstract: Obesity is a condition where there are a large number of fat bodies due to some influencing factors. Recently, there has been a rising prevalency of overweight and obesity througout the world. According to the national survey in Indonesia, 8.1 % of men and 13.5% of women suffered from obesity. This study aimed to find out the prevalency of obesity in medical students of Sam Ratulangi University Manado 2011. The study used a simple descriptive method to get data from body weight, body height and both calculated to BMI. Waist circumference for males is ≥90 cm and for females is ≥80 cm. The results showed that of the 307 samples, 13.7% were underweight, 54.1% normal, 28% pre-obese, 3.9% obese-1, and 0.3% obese-2. Waist circumference data showed 13.5% with central obesity in males, and 4.1% with central obesity in females. Conclusion: Among the medical students of Sam Ratulangi University Manado 2011, overweight students based on their BMI were more frequently found than those who had central obesity based on their waist circumference. However, there were some students with underweight. Keywords: obesity, overweight, BMI, waist circumference. Abstrak: Obesitas adalah peningkatan lemak tubuh yang dapat terjadi oleh beberapa faktor. Beberapa tahun terkhir ini, terjadi peningkatan prevalensi kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas diseluruh dunia. Berdasarkan survei nasional di Indonesia, 8,1% laki-laki di indonesia menderita obesitas dan 13,5% perempuan. Tujuan penelitian untuk mengetahui prevalensi obesitas pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado angkatan 2011. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dimana diperoleh data melalui pengukuran berat badan, tinggi badan yang akan dihitung dengan menggunakan rumus IMT dan lingkar perut dengan kriteria laki-laki ≥ 90cm dan perempuan ≥ 80cm pada 307 populasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Angkatan 2011. Hasil penelitian memperlihatkan 13,7% underweight, 54,1% normal, 28% pre-obes, 3,9% obes 1, dan 0,3% obes 2. Penelitian yang dilakukan melalui pengukuran lingkar perut diperoleh 13,5% laki-laki dengan obesitas sentral dan 4,1% perempuan dengan obesitas sentral. Simpulan: Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Angkatan 2011 dengan kelebihan berat badan (overweight) melalui perhitungan IMT lebih sering ditemukan daripada yang dengan obesitas sentral melalui pengukuran lingkar perut; walaupun demikian, mahasiswa/i dengan underweight juga ditemukan. Kata kunci: obesitas, overweight, IMT, lingkar perut.
GAMBARAN POSISI TUBEROSITAS TIBIAE TERHADAP GARIS MEDIOLATERAL SENDI LUTUT PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT ANGKATAN 2010 Maryauw, Irene; Ticoalu, Shane H R; Wongkar, Djon
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.799

Abstract

Abstract: Anterior knee pain is a common musculoskeletal disorder found in children, adolescents and adults. A cause for the anterior knee pain is patella displacement. The researcher found that patella displacement can be influenced by the structure of the lower extremity. Previous study demonstrated that the tibial tuberosity was in a significant lateral position in the patellofemoral osteoarthritis and anterior knee pain patients. This study aimed to determine the profile of the mediolateral placement of the tibial tuberosity among the 2010 female students in Medical Faculty of Sam Ratulangi University according to categories of age, body weight, body height, body mass index, and ethnicity. This was a descriptive study, using 140 samples. All measurements were performed in a supine position, and the toe was pointing directly upwards. The legs were extended at the knee joint with the quadriceps muscle relaxed. The results showed that from 280 knees (140 subjects) there were 31 knees (11.1%) with TT in the medial position, while 19 knees (6.8%) had TT on the center of the mediolateral line of the knee joint; and 230 knees (82.1%) had TT in a lateral position. Conclusion: most of the female students of the Medical Faculty of Sam Ratulangi University showed a lateral position of the TT.Keyword: tibial tuberosity, anterior knee pain, patellofemoral osteoarthritisAbstrak: Nyeri lutut anterior merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering ditemukan pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Salah satu penyebab nyeri lutut anterior ialah dislokasi patela. Para peneliti telah menemukan bahwa terjadinya dislokasi patela ini dapat juga dipengaruhi oleh struktur ekstremitas bawah seseorang. Penderita osteoartritis patelofemoral dan nyeri lutut anterior memiliki posisi tuberositas tibiae (TT) lebih ke arah lateral. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran posisi TT terhadap garis mediolateral sendi lutut mahasiswi Fakultas Kedokteran Unsrat angkatan 2010 dan mengelompokkannya dalam kelompok usia, berat badan, tinggi badan, Indeks Massa Tubuh, dan suku. Metode penelitian deskriptif dengan 140 sampel. Pengukuran dilakukan pada posisi tidur terlentang dan ujung jari-jari kaki menghadap ke atas, sendi lutut diekstensikan dan otot kuadriseps dilemaskan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 280 lutut subyek (140 subyek) diperoleh 31 lutut (11,1%) dengan posisi TT cenderung ke arah medial, 19 lutut (6,8%) dengan posisi TT di tengah garis mediolateral sendi lutut dan 230 lutut (82,1%) dengan dengan posisi TT cenderung ke arah lateral. Simpulan: mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi angkatan 2010, memiliki posisi TT yang cenderung ke arah lateral dalam hampir semua kelompok usia, berat badan, tinggi badan, Indeks Massa Tubuh, dan suku.Kata Kunci: tuberositas tibiae, nyeri lutut anterior, osteoartritis patelofemoral
UKURAN LEBAR PANGGUL MAHASISWI KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI DENGAN TINGGI BADAN DIBAWAH 150 CM Simin, Nindi A.; Kalangi, Sonny J.R.; Wongkar, Djon
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.1221

Abstract

Abstract: The female hip has a wider lower part which plays an important role in pregnancy and labour. The WHO (1999) reported that there were 180-200 million pregnancies per year with 585,000 deaths of pregnant women due to complications, inter alia a narrow hip. Females with heights of less than 150 cm have to be suspect of having narrow hips. This study aimed to find out whether female students in the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado with heights of less than 150 cm were suspected of having narrow hips. This was a descriptive study. Samples were 60 female students with distantia spinosum less than 24-26 cm and distantia tuberosum less than 10.5 cm. The results showed that there were 25 students with heights of 147.0-148.9 cm. The smallest distantia spinosum was 15.3 cm while the smallest distantia tuberosum was 8.3 cm. Conclusion: All female students with heights of less than 150 cm had distantia spinosum less than normal, but most of them still had normal distantia tuberosum. Keywords: female students, height, distantia spinosum, distantia tuberosum.  Abstrak: Bentuk panggul wanita mempunyai bagian bawah yang lebih luas untuk keperluan kehamilan dan persalinan. Dari data WHO 1999 terdapat 180-200 juta kehamilan setiap tahunnya dan 585 ribu kematian wanita hamil berkaitan dengan komplikasi salah satunya ialah panggul sempit. Wanita dengan tinggi badan kurang dari 150 cm dapat dicurigai adanya kesempitan panggul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado dengan tinggi badan kurang dari 150 cm dapat dicurigai adanya kesempitan panggul. Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Sampel didapatkan dari 60 subjek yang memenuhi kriteria dengan tinggi badan yang kurang dari 150 cm, ukuran distansia spinarum kurang dari 24-26 cm dan distansia tuberum kurang dari 10,5 cm. Penelitian ini menunjukkan bahwa tinggi badan terbanyak yaitu 147,0-148,9 cm berjumlah 25 subjek, ukuran distansia spinarum terkecil 15,3 cm dan distansia tuberum terkecil yaitu 8,3 cm. Simpulan: Karakteristik distansia spinarum 100% wanita dengan tinggi badan kurang dari 150 cm mempunyai ukuran panggul yang kurang dari normal dan distansia tuberum didapatkan sebagian besar wanita dengan tinggi badan kurang dari 150 cm mempunyai ukuran distansia tuberum yang normal. Kata kunci: mahasiswi, tinggi badan, distansia spinarum, distansia tuberum.
KORELASI PANJANG RADIUS DENGAN TINGGI BADAN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT ANGKATAN 2010 Simatupang, Raja M.; Ticoalu, Shane H. R.; Wongkar, Djon
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.1208

Abstract

Abstract: There has been an increase in cases of post-mortem mutilated victims in recent years. Therefore, investigators have to use some methods to identify the mutilated victims. Measuring the length of a body when it is still intact is not difficult, but the challenge will arise when the body has undergone severe damage or is not intact anymore. This study aimed to determine the correlation of the length of the radius to height. This was a descriptive study. Samples were 140 students (males and females) of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado. The results showed that by using the regression coefficient in males: height = 84 + 3.2 x average radial length, the regression coefficient 3.2 means that a male’s height increases 3.2 cm for each 1 cm increase of radial length. However, the regression coefficient for females: height = 56 + 4.1 x average radial length, the regression coefficient 4.1 means that height increases 4.1 cm for each 1 cm increase of radial length. Conclusion: Height can be determined by the avereage radial length by using the regression coefficients for males 4.1 and for females 3.2. Keywords: gender, radial length, height.   Abstrak: Terjadinya peningkatan kasus-kasus korban mutilasi pada akhir-akhir ini membuat penulis berpikir bahwa proses identifikasi sangat dibutuhkan oleh penyidik untuk mengungkap identitas korban mutilasi tersebut. mengukur panjang badan jenazah bila masih utuh bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang sulit, namun kesulitan akan muncul bila jenazah mengalami kerusakan yang sangat hebat atau tidak lagi utuh. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai korelasi panjang radius dengan tinggi badan pada mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif. Sampel terdiri dari 140 mahasiswa/i. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada laki-laki tinggi badan (TB) = 84 + 3,2 x panjang rata-rata radius. Nilai koefisien regresi 3,2 berarti tinggi badan pada laki-laki akan bertambah sebesar 3,2 cm bila panjang rata-rata tulang radius bertambah 1 cm. Pada perempuan TB= 56 + 4,1 x panjang rata-rata radius. Nilai koefisien regresi 4,1 berarti tinggi badan pada perempuan akan bertambah sebesar 4,1 cm bila panjang rata-rata tulang radius bertambah 1 cm. Simpulan: Tinggi badan dapat ditentukan dengan menggunakan panjang rata-rata radius dan koefisien regresi yaitu untuk laki-laki 4,1 dan untuk perempuan 3,2. Kata kunci: jenis kelamin, panjang radius, tinggi badan.