Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL KIMIA SAINS DAN APLIKASI

Oksidasi Lemak Dalam Daging Kelinci dan Ayam pada Kondisi Penyimpanan yang Berbeda Sarjono, Purbowatiningrum Ria; Sumardjo, Damin; Wuryanti, Wuryanti; Mulyani, Nies Suci
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 2, No 4 (1999): Volume 2 Issue 4 Year 1999
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3677.663 KB) | DOI: 10.14710/jksa.2.4.128-132

Abstract

Ketengikan akibat oksidasi merupakan masalah yang serius pada daging selama penyimpanan. Telah dilakukan penelitian untuk mengukur tingkat oksidasi pada daging kelinci dan ayam selama 1 sampai 9 hari penyimpanan dengan angka TBA sebagai parameter. Aldehid hasil oksidasi dari lemak akan membentuk kompleks berwarna dengan TBA yang intensitas warnanya diukur dengan UV -Vis pada panjang gelombang 450 nm untuk daging ayam dan 447 nm untuk daging kelinci. Kondisi penyimpanan dilakukan dengan pembungkus plastik dan pembungkus kedap udara pada suhu 4°C terhadap daging cacah dan utuh. Pada daging kelinci dengan pembungkus plastik dan pembungkus kedap udara baik cacah maupun utuh memiliki angka TBA yang lebih tinggi dibandingkan daging ayam. Namun daging kelinci dan ayam mengalami penurunan angka TBA dengan menggunakan pembungkus kedap udara.Dari hasil eksperimen diperoleh lemak total daging kelinci 2,949% dan daging ayam 7,2902%. Sedangkan daging kelinci memiliki lebih banyak asam lemak tak jenuh dibandingkan daging ayam. Semakin lama penyimpanan oksidasi lemak yang terjadi semakin besar. Tetapi dapat dihambat dengan menggunakan pembungkus kedap udara
Amobilisasi Enzim Bromelin dari Bonggol Nanas dengan Bahan Pendukung (Support) Karagenan dari Rumput Laut (Euchema cottonii) Wuryanti, Wuryanti
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 9, No 3 (2006): Volume 9 Issue 3 Year 2006
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.493 KB) | DOI: 10.14710/jksa.9.3.55-59

Abstract

Bromelin adalah enzim proteolitik yang terdapat pada tananam nanas (Ananas comosus L) Telah dilakukan amobilisasi bromelin dari bonggol nanas. Amobilisasi dilakukan dengan metode penjebakan dengan polimer karagenan. Penentuan unit aktifitas dengan substrat kasein dan penentuan kadar protein dengan metoda Lowry. Enzim bromelin dari bonggol nanas bebas mempunyai kondisi waktu inkubasi optimum 5 menit, suhu optimum 35 oC, pH optimum 6,0 dengan aktifitas spesifik 7,215 U/mg. Setelah amobilisasi enzim bromelin bonggol nanas amobil memiliki waktu inkubasi optimum 5 menit, suhu optimum 33 oC, pH optimum 6,5 dengan aktivitas spesifik 7,215 U/mg. Pada pemakaian pertama aktifitas spesifik 7,215 U/mg, pada pemakaian kedua 7,215 U/mg, pada pemakaian ketiga 7,020 U/mg. Stabilitas enzim bromelin bonggol nanas amobil dapat dipertahankan hingga dua kali pemakaian.
Penanganan Limbah Fenol dengan Peroksidase Hasil Isolasi dari Lobak (Horseradish) Sumardjo, Damin; Wuryanti, Wuryanti
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 1, No 1 (1998): Volume 1 Issue 1 Year 1998
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2223.289 KB) | DOI: 10.14710/jksa.1.1.11-14

Abstract

Dalam air limbah industri, banyak dijumpai komponen fenol yang bersifat racun. Karena itu pada penelitian ini dicoba untuk menghilangkan komponen fenol dengan cara proses enzimatik. Enzim yang digunakan adalah peroksidase yang berasal dari jenis tumbuhan yaitu lobak (Horseradish). Lobak seberat 0,5 kg dihomogenkan dalam blender dengan 100 mL K2HPO4 0,1 M, disaring, ditambahkan (NH4)2SO4 secara bertingkat (0-5%, 5-20%, 20-40%, 40-65% ) dalam supernatan, kemudian dipisahkan. Endapan yang didapat ditambah buffer Tris-HCl 0,05 M pH 7 dan didialisis dengan menggunakan membran selopan selama 12 jam dengan buffer yang sama. Hasil ekstrak kasar dan fraksinasi dengan kejenuhan yang berbeda terhadap (NH4)2SO4 diaplikasikan pada sampel limbah. Setelah dilakukan uji pendahuluan, 0,5 mL air limbah ditambah 0,3 mL H2O2 0,1 M dan 3 mL enzim ekstrak kasar dan hasil dialisis. Setelah dianalisa, kadar fenol dalam limbah dapat diturunkan dari 1,068 ppm menjadi 0,689 (35,53%), 0,436 (59,13%), 0,641 (39,96%), 0,736 (31,09%), dan 0,783 ppm (26,66%) masing-masing untuk ekstrak kasar, dan hasil dialisis 0-5%, 5-20%, 20-40%, 40-65%. Dari hasil eksperimen di atas dapat disimpulkan bahwa semakin besar kandungan enzim semakin besar pula penurunan kadar fenol dalam air limbah
Profil Kandungan Protein dan Tekstur Tahu Akibat Penambahan Fitat pada Proses Pembuatan Tahu Sarjono, Purbowatiningrum Ria; Mulyani, Nies Suci; Aminin, Agustina L. N.; Wuryanti, Wuryanti
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 9, No 1 (2006): Volume 9 Issue 1 Year 2006
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.786 KB) | DOI: 10.14710/jksa.9.1.6-9

Abstract

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mempelajari profil kandungan protein dan tekstur tahu akibat penambahan fitat pada proses pembuatan tahu dengan koagulan asam asetat. Fitat merupakan senyawa monoinositol heksafosfat yang terdapat pada biji-bijian berkisar 1-5 % (b/b) dan dikenal sebagai antioksidan alami. Oleh karena itu diupayakan untuk memanfaatkan fitat kedalam proses pengolahan makanan untuk meningkatkan produknya.Pada penelitian ini tekstur tahu diukur dengan alat Penetrometer dan kadar protein dengan metode Kjeldahl pada variasi pH penggumpalan protein susu kedelai tanpa penambahan fitat dan dengan penambahan fitat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi pH penggumpalan protein susu kedelai yang ditambahi fitat ternyata mempengaruhi gumpalan tahu yang terbentuk. Jika dibandingkan dengan tahu tanpa penambahan fitat maka terjadi penurunan berat protein tahu pada pH titik isoelektrik (4,5) yaitu dari 8,131 g menjadi 6,273 g. Bertambahnya konsentrasi fitat hingga 0,05 % (b/v) menyebabkan naiknya kekerasan tahu dari 3,02 cm menjadi 1,88 cm. Diatas konsentrasi tersebut kekerasan tahu menurun. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penambahan fitat akan menyebabkan meningkatnya kekerasan tahu namun dapat menurunkan kadar protein tahu.Kata kunci: tahu, fitat, titik isoelektrik.
Isolasi dan Penentuan Aktivias Spesifik Enzim Bromelin dari Buah Nanas (Ananas comosus L.) Wuryanti, Wuryanti
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 7, No 3 (2004): Volume 7 Issue 3 Year 2004
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.574 KB) | DOI: 10.14710/jksa.7.3.78-82

Abstract

Bromelin merupakan enzim proteolitik yang terdapat pada tanaman nanas (Ananas comosus L).Telah dilakukan isolasi dan penentuan aktivitas spesifik enzim bromelin dari buah nanas.Pada penelitian ini bromelin diisolasi dengan metoda ekstraksi, lalu ditentukan aktivitas unit dengan substrat kasein dan penentuan kadar protein dengan metoda Lowry menggunakan spektrofotometer. Hasil isolasi merupakan ekstrak kasar enzim bromelin dengan aktivitas spesifik 0,521 U/mg.
Penentuan Aktivitas Spesifik Heksokinase dari Limbah Anggur Pisang Biji Wuryanti, Wuryanti; Indriani, Ining; Agustina, Debora
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 6, No 1 (2003): Volume 6 Issue 1 Year 2003
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3778.889 KB) | DOI: 10.14710/jksa.6.1.1-3

Abstract

Heksokinase termasuk enzim yang berperan dalam mengkatalisis transfer gugus fosfat dari adenosin tri fosfat ke glukosa dengan melepaskan satu hidrogen sebagai asam. Penentuan aktivitas spesifik heksokinase dari limbah anggur pisang biji telah dilakukan. Unit aktivitas heksokinase ditentukan dengan metode Wajzer, kandungan protein ditentukan dengan metode Lowry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar heksokinase mempunyai aktivitas spesifik 270,48. Dapat disimpulkan bahwa aktivitas spesifik ekstrak kasar tersebut lebih tinggi dari pada ekstrak kasar limbah industri alkohol.