Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ecological and Taxonomical Perspective of Yeasts in Indonesia WELLYZAR SJAMSURIDZAL; ARIYANTI OETARI; ATIT KANTI; RASTI SARASWATI; CHIHARU NAKASHIMA; YANTYATI WIDYASTUTI; ANDO KATSUHIKO
Microbiology Indonesia Vol. 4 No. 2 (2010): August 2010
Publisher : Indonesian Society for microbiology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8632.042 KB) | DOI: 10.5454/mi.4.2.3

Abstract

In the course of ecological and taxonomical study of yeasts in Indonesia, a total of 2147 yeast isolates from 315 samples in the year 2003, 2005, 2006, and 2008 had been obtained from eight locations e.g. Liwa (Sumatera), Cibinong (Java), Cibodas (Java), Kutai (Kalimantan), Enrekang (Sulawesi), Pucak (Sulawesi), Gili and Kuta (Lombok), and Kupang (Timor). Leaves, flowers, litters, soils, epiphytic soils, insects and insect's nests were collected for yeasts isolation. Our molecular identification based on D1/D2 region of nuclear large-subunit rDNA and the internal transcribed spacer (ITS) regions sequence data on 525 representative isolates revealed that 306 isolates belong to 48 described species (18 genera) and 209 strains belong to 19 undescribed species (19 genera), and 10 isolates were discarded because of contamination. Based on their substrates, litter had the highest yeasts genera (19) followed by soils (18), flowers (10), leaves (6), epiphytic soils (4), and insects and insect's nests (4). Genera found on soils were also common on litters. Yeasts genera found on flowers and epiphytic soils were common on leaves and litters. The genera Aureobasidium, Cryptococcus, Pseudozyma, Rhodotorula and Sporidiobolus were found in all substrates. Based on their locations, Kutai had the highest number of genera (15) followed by Cibodas (10), Cibinong (10), Enrekang (10), Kupang (10), Pucak (9), Liwa (7), and Lombok (7). The genus Cryptococcus was found in all locations. Our study shed a light to detection of many new taxa of yeasts, 41% of yeasts found in this study represented novel taxa.
PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT GAJAH DENGAN LIMBAH SERAI PADA PAKAN RUMINANSIA TINGGI HIJAUAN TERHADAPKECERNAAN DAN PRODUKSI METAN SECARA IN VITRO Rusli Fidriyanto; Gunawan Priadi; Yashanti Berlinda Paradisa; Wulansih Dwi Astuti; Roni Ridwan; Rohmatussolihat Rohmatussolihat; Ki Ageng Sarwono; Muh Whatman; Yantyati Widyastuti
Agric Vol. 33 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2021.v33.i2.p103-114

Abstract

Serai merupakan bahan baku untuk produksi minyak serai. Indonesia masuk dalam sepuluh negara terbesar produsen minyak serai di dunia. Industri pengolahan minyak serai akan menghasilkan limbah serai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi rumput gajah (Pennisetum purpureum) dengan limbah serai terhadap fermentasi rumen secara in vitro. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 5 perlakuan (100R: limbah serai 0%, 75R: limbah serai 25%, 50R: limbah serai 50%, 25R: limbah serai 75%, 0R: limbah serai 100%) dan 4 waktu pengambilan rumen yang berbeda sebagai kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi rumput dengan limbah serai tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar bahan kering, namun dapat menurunkan kadar protein dan meningkatkan serat kasar serta lemak kasar secara signifikan (P<0,05). Hasil analisis keceranaan in vitro terhadap aktivitas fermentasi rumen, menunjukkan bahwa substitusi serai tidak mempengaruhi pH, kecepatan produksi gas, asam butirat, asam valerat, asam isobutirat, dan asam isovalerat baik dari segi jumlah maupun proporsi. Substitusi rumput dengan limbah serai sebesar 25% (75R) tidak menghasilkan penurunan kadar bahan organik, produksi gas potensial dan produksi metan (jam ke-24) namun terjadi penurunan kadar protein dan meningkatkan lag time secara signifikan (P<0,05). Penggunaan serai sebesar 50% dapat menurunkan produksi gas metan secara signifikan (P<0,05). Peningkatan konsentrasi limbah serai yang digunakan menyebabkan terjadinya perubahan profil VFA parsial yang disebabkan oleh adanya perubahan komposisi asam asetat. Penurunan rasio asam asetat/ propionat (A/P) secara signifikan terjadi pada penggunaan serai sebesar 100%. Penggunaan limbah serai dapat mensubtitusi rumput gajah hingga 25% pada pakan tinggi hijauan tanpa terjadi penurunan pada produksi gas potensial, kecernaan dan total VFA.