Articles
Distribution of Water Borne Preservative on Wood Preserved Using Full Cell and Empty Cell Processes
Fauzi Febrianto;
Adiyantara Gumilang;
Anne Carolina;
Fengky S Yoresta
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (267.915 KB)
|
DOI: 10.51850/jitkt.v12i1.79
This research focused on distribution of water borne preservative on woods preserved using full cell and empty cell processes. Retention, penetration, and durability of preserved woods against dry wood termite (Cryptotermes cynochephalus LIGHT) attacked were evaluated. Pine (Pinus merkusii) and sengon (Paraserianthes falcataria) woods were preserved using 5% Wolmanit CB (water soluble preservative) using full cell and empty cell processes. The results indicated that retention of preservative preserved with full cell process was higher than empty cell process. Copper penetration on sengon wood preserved using full cell process was much higher than empty cell process. Distribution of copper and chromium on wood preserved using full cell process evenly distributed through the wood both in pine and sengon woods. They were sharply decreased from outerpart to inner part of wood when preserved using empty cell process. The whole part of pine and sengon woods preserved by either full cell or empty cell processes strongly resistance against dry wood termite attacked. Quantitative analysis of active substance of preservative using atomic absorption spectroscopy (AAS) could detect the preservative in preserved wood more accurately compared using conventional method (retention and penetration tests).Key words: distribution pattern, durability, empty cell process, full cell process, water borne preservative
PENGARUH VARIASI BENTUK KOMBINASI SHEAR CONNECTOR TERHADAP PERILAKU LENTUR BALOK KOMPOSIT BETON-KAYU
Fengky Satria Yoresta;
Muhammad Irsyad Sidiq
Jurnal Rekayasa Sipil (JRS-Unand) Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Civil Engineering Departement, Andalas University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (368.876 KB)
|
DOI: 10.25077/jrs.12.2.95-102.2016
Tulangan besi yang berfungsi menahan beban tarik yang diterima oleh balok beton digantikan oleh kayu menjadi balok komposit beton-kayu. Penelitian ini bertujuan menentukan nilai MOE dan MOR balok komposit beton-kayu dan pengaruh variasi bentuk kombinasi penghubung geser (shear connector) terhadap perilaku lentur balok komposit beton-kayu. Balok komposit dalam penelitian ini menggunakan dua tipe bentuk kayu perkuatan dan tiga tipe bentuk shear connector. Beton dicor dengan perbandingan 1:2:3 (semen : pasir : kerikil). Kayu perkuatan yang dipakai adalah jenis kayu kamper (Dryobalanops sp). Balokkomposit beton-kayu diuji dengan metode one point loading dengan dimensi 60x120x900 mm3. Balok komposit beton-kayu yang menggunakan cekukan memiliki kekuatan yang lebih tinggi daripada balok komposit beton-kayu yang rata. Nilai MOE dan MOR terbesar terdapat pada sampel uji B2K2. Sedangkan MOE dan MOR terendah terdapat pada sampel uji B1K1. Nilai MOR beton bertulang berada dibawah MOR semua sampel uji, namun nilai MOE nya lebih besar dari balok tipe 1 dan lebih rendah dari balok tipe 2.Kata kunci : balok komposit, beton, kayu, shear connector
Pengaruh Perkuatan Pelat Besi Terhadap Kekuatan Sambungan Kayu Takikan Lurus
Agustina Hayatunnufus;
Naresworo Nugroho;
fengky satria yoresta
Jurnal Rekayasa Sipil (JRS-Unand) Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : Civil Engineering Departement, Andalas University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (829.234 KB)
|
DOI: 10.25077/jrs.14.1.21-34.2018
Sambungan kayu pada konstruksi merupakan faktor kritis dalam desain struktur karena kekuatan strukturnya ditentukan oleh kekuatan sambungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh pelat besi terhadap kekuatan sambungan kayu menggunakan sambungan takikan lurus. Pada penelitian ini, material sambungan yang digunakan yaitu kayu Kamper (Dryobalanops sp) dan kayu Mersawa (Anisoptera sp) menggunakan alat pengencang paku dengan perkuatan pelat besi dengan ukuran panjang masing-masing 5 cm, 10 cm, dan 15 cm. Pengujian sifat fisis, sifat mekanis, dan kapasitas sambungan kayu dilakukan berdasarkan standar ASTM D143-94, BS 373-1957, ASTM 1575-03, dan SNI 7973: 2013. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kayu Kamper memiliki peningkatan yang signifikan pada kapasitas dan momen setelah diperkuat oleh pelat besi; sementara kayu Mersawa memiliki peningkatan kapasitas namun tidak signifikan. Kayu Mersawa pada perkuatan pelat besi 15 cm dan kayu Kamper pada perlakuan kontrol memiliki nilai kapasitas dan momen yang hampir sama.
Perbedaan Desain Tulangan Elemen Struktur Beton Bertulang Berdasarkan Jenis Tanah Pada SNI-1726-2002
Fengky S. Yoresta
Jurnal Rekayasa Sipil (JRS-Unand) Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Civil Engineering Departement, Andalas University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (559.394 KB)
|
DOI: 10.25077/jrs.13.1.23-28.2017
Runtuhnya bangunan menjadi penyebab utama banyaknya korban jiwa saat terjadi gempa. Peraturan gempa 2002 (SNI–1726–2002) telah mengatur tata-tata cara desain ketahanan struktur gedung terhadap gempa dengan membagi kondisi tanah menjadi tiga (tanah lunak, sedang, dan keras) pada respon spektrum gempa rencana. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh ketiga jenis tanah tersebut terhadap desain tulangan elemen struktur. Sebuah struktur beton bertulang dimodelkan sebagai gedung parkir yang berlokasi di wilayah gempa 4. Hasil analisis dan desain (berdasarkan SNI 03-2847-2002) menunjukkan bahwa kebutuhan tulangan terbesar pada balok maupun kolom terdapat pada struktur dengan kondisi tanah lunak. Sementara kebutuhan tulangan yang paling kecil terdapat pada kondisi tanah keras. Perbedaan keduanya bahkan mencapai dua kali lipat untuk balok, dan tiga kali lipat untuk kolom. Kata kunci : balok, beton bertulang, desain tulangan, ketahanan gempa, kolom
MODULUS ELASTISITAS DAN KEKUATAN LENTUR BALOK KAYU LAMINASI
Fengky S. Yoresta
Jurnal Rekayasa Sipil (JRS-Unand) Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Civil Engineering Departement, Andalas University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.293 KB)
|
DOI: 10.25077/jrs.11.1.41-44.2015
Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pengaruh penggunaan paku dan perekat serta diameter paku terhadap Modulus Elastisitas (MOE) dan kekuatan lentur (MOR) balok kayu laminasi. Pengujian lentur dilakukan dengan metode pembebanan terpusat di tengah bentang (one-point loading method). Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi penempatan paku dan perekat tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai MOR balok, akan tetapi memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai MOE. Selain itu, diameter paku tidak berpengaruh signifikan baik terhadap nilai MOE maupun MOR.
PENGUJIAN SIFAT MEKANIK KAYU MERBAU DARI DAERAH BOGOR JAWA BARAT
Fengky S. Yoresta
Jurnal Rekayasa Sipil (JRS-Unand) Vol 11, No 2 (2015)
Publisher : Civil Engineering Departement, Andalas University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (862.143 KB)
|
DOI: 10.25077/jrs.11.2.81-84.2015
Penelitian ini bertujuan menentukan MOE, MOR, dan kuat tekan sejajar serat kayu Merbau. Penelitian dilakukan mengacu pada standar ASTM D 143-94 menggunakan mesin Instron berkapasitas 5 ton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MOE, MOR, dan kuat tekan sejajar serat kayu Merbau berturut-turut adalah 162728.43 kg/cm², 1090.64 kg/cm², dan 605.42 kg/cm². Berdasarkan hasil penelitian, kayu Merbau dapat digolongkan kedalam kayu kelas kuat I PKKI 1961, sehingga dapat direkomendasikan untuk digunakan pada konstruksi berat seperti jembatan, serta balok dan kolom pada bangunan.Kata kunci : MOE, MOR, kuat tekan sejajar serat, kayu Merbau
KAPASITAS DAN PERILAKU LENTUR BALOK KOMPOSIT BETON – KAYU
Fengky Satria Yoresta;
Lona Mahdriani Puspita
Jurnal Hutan Tropis Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 1 Edisi Maret 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/jht.v3i1.4168
. Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik dan perilaku lentur balok komposit betonkayu. Balok komposit berdimensi 5x10x115 cm diuji lentur dengan pembebanan terpusat ditengah bentang dengan jarak antara dua tumpuan 83 cm. Beton menggunakan perbandingan campuran 1:2:3. Balok dibagi menjadi 3 tipe (A, B, dan C) untuk masing-masing penggunaan kayu Kamper dan Bangkirai. Tipe A memiliki lapisan kayu atas dengan tebal 1 cm dan kayu bawah 0.5 cm. Tipe B memiliki lapisan kayu atas dengan tebal 0.5 cm dan kayu bawah 1 cm. Tipe C memiliki lapisan kayu dengan tebal 0.5 cm yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri balok. Semua tipe balok menggunakan paku sebagai penghubung antara beton dan kayu. Modulus of Elasticity (MOE), Modulus of Rupture (MOR), kekakuan balok, serta pola kerusakan beton menjadi parameter-parameter dalam proses identifikasi dan analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa balok komposit dengan kayu bangkirai memiliki nilai MOE dan MOR lebih tinggi dibandingkan balok yang menggunakan kayu kamper. Nilai MOE, MOR dan kekakuan tertinggi berturut-turut adalah 959808.49 kg/cm² pada balok AB, 229.45 kg/cm² pada balok CB, dan 706.09 kg/cm² pada balok AB. Kerusakan pada semua balok hampir sama yaitu belah pada lapisan kayu, retak pada beton, dan pergeseran paku. Retak pada beton merupakan jenis retak lentur. Balok komposit dengan lapisan kayu bangkirai cenderung lebih kaku dibandingkan balok komposit yang menggunakan kayu kamper.Kata kunci: balok komposit, beton, kayu, retak lentur
TEKNIK PERKUATAN BALOK KAYU DENGAN LAMINASI CFRP: TINJAUAN LITERATUR
Dr. Eng. Fengky Satria Yoresta, S.T.,M.T.
Journal of Infrastructural in Civil Engineering Vol 4, No 02 (2023): Volume 04, Issue 02, July 2023
Publisher : Universitas Teknokrat Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33365/jice.v4i02.2853
Kayu merupakan salah satu material konstruksi tertua. Beberapa diantara yang menjadi keunggulan kayu dibandingkan material konstruksi lain adalah bahwa kayu memiliki nilai yang tinggi dalam hal perbandingan kekuatan terhadap bobotnya, mudah dikerjakan, serta mempunyai nilai estetika yang baik. Namun, kerentanan kayu mengalami degradasi kekuatan akibat berbagai faktor membuat strategi untuk memperkuatnya menjadi sangat penting untuk dilakukan. Banyak penelitian telah dilakukan dan dipublikasikan terkait perkuatan elemen kayu struktural dengan menggunakan material tambahan. Namun, penggunaan material fiber reinforced polymer (FRP) untuk sebagai memperkuat kayu struktural masih terbatas. Paper ini merieview hasil kajian yang telah dilakukan oleh para peneliti mengenai penggunaan material FRP terutama jenis carbon fiber reinforced polymer (CFRP) dalam memperkuat elemen kayu. Topik yang disajikan difokuskan pada perkuatan dengan teknik penempelan pada sisi luar kayu atau externally bonded (EB) dan teknik pembenaman didekat permukaan atau dikenal near surface mount (NSM). Kesimpulan yang disajikan pada akhir paper ini diharapkan memberikan gambaran bagimana kedua teknik perkuatan tersebut memberikan kontribusi terhadap perbaikan kinerja elemen kayu yang diperkuat.
PENGUJIAN KUAT LELEH LENTUR DAN KUAT TUMPU PAKU
Setiasih, Kenny;
Yoresta, Fengky Satria
Journal of Infrastructural in Civil Engineering Vol 4, No 01 (2023): Volume 04, Issue 01, Januari 2023
Publisher : Universitas Teknokrat Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33365/jice.v4i01.2423
Salah satu parameter yang menentukan dalam perencanaan sambungan kayu adalah kuat leleh lentur dan kuat tumpu alat sambung paku. Penelitian ini bertujuan menentukan nilai kuat leleh lentur (bending yield strength/Fyb) serta kuat tumpu paku beton dan paku kayu. Pengujian kuat leleh lentur paku dilakukan dengan metode three point loading menggunakan universal testing machine (UTM). Sedangkan pengujian kuat tumpu paku dilakukan terhadap dua jenis kayu, yaitu kayu keruing dan kayu meranti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tumpu paku meningkat seiring dengan peningkatan berat jenis kayu dan dipengaruhi oleh diameter dan jenis paku. Semakin besar diameter paku maka semakin menurunkan nilai kekuatan tumpu paku. Kayu keruing memiliki nilai kuat tumpu paku tertinggi (434 kg/cm2) dan terendah terdapat pada kayu meranti yaitu 356 kg/cm2. Selain itu, berdasarkan nilai Fyb yang diperoleh dapat diketahui bahwa paku yang digunakan dalam penelitian ini memiliki kuat lentur lebih tinggi dari nilai Fyb yang disyaratkan SNI 7973:2013. Terdapat kecenderungan bahwa semakin besar diameter paku maka nilai Fyb semakin rendah. Nilai Fyb terendah terdapat pada paku kayu dengan diameter 0,42 cm yaitu sebesar 7563 kg/cm2 dan Fyb tertinggi terdapat pada jenis paku beton putih dengan diameter 0,34 cm yaitu sebesar 14716 kg/cm2.
Karakteristik Hubungan Balok-Kolom Beton Berserat Akibat Pembebanan
Kurniawan, Rendy Yudha;
Yoresta, S.T.,M.T., Dr. Eng. Fengky Satria
Journal of Infrastructural in Civil Engineering Vol 5, No 01 (2024): Volume 5, Issue 01, January 2024
Publisher : Universitas Teknokrat Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33365/jice.v5i01.2800
Fibrous concrete material can improve the performance of beam-column connections characteristics. This study aims to determine the effect of addition of palm fibers, coconut fibers, and wire bendrat to the performance of the Beam- Column connection due to loading. The method applied in this study was experimental with test sample used in the form of T-shaped columns with the size of cross section of the beam (200 x 120) mm and the size of the cross-sectional area of the column (120 x 130) mm. Test sample total is 4 pieces, the first test sample is the control which is not given additional fiber, and the other three test samples are given the addition of palm fibers, coconut fibers, and wire bendrat each 1% of the volume of sample. The test results showed that the tensile load maximum fiber highest was obtained in bendrat wire test sample that was 21.3 kg. The result of beam-column connections concrete showed that beam-column connection coconut fibrous concrete test of has maximum acceptance value and lowest rigidity of 636 kg and 460 kg/mm. In contrast to its maximum dactality and deflection value, the beam-column connection concrete coconut fiber test sample increased the highest ductality and maximum deflection value of 1.77 and 7.9 mm.