Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL HUTAN TROPIS

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN CUKA KAYU GALAM PADA PENGAWETAN KAYU KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) TERHADAP SERANGAN RAYAP Diana Ulfah; Lusyiani Lusyiani; Budi Harionarso
Jurnal Hutan Tropis Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 1 Edisi Maret 2016
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v4i1.2878

Abstract

This study aims to examine the use of wood vinegar Galam as a natural preservative, the value of dry wood termite mortality, utilization Galam wood vinegar as a natural preservative, and the effect of storage time and the concentration of wood vinegar Galam the timber weight reduction due to termite attack. Galam wood vinegar can be applied as a natural preservative for wood destroying organisms avoid attacks such as dry wood termites. The average value of dry wood termite mortality for all treatments ranged from 81.33% to 100%. Treatment solution concentration of wood vinegar Galam very significant effect on weight reduction of rubber wood, while the duration of storage of wood vinegar Galam no real effect. The longer the storage time of wood vinegar Galam and the higher the level of concentration of the solution of wood vinegar Galam used the weight reduction of rubber wood tends to decrease mortality and the percentage of dry wood termites tend to increase. Galam wood vinegar treatment concentration of new and old with a concentration of 50% can already be applied to reduce the dry wood termite infestation. The need for further research on the content of chemical compounds contained in wood vinegar Galam so better to be used as a natural preservative to wood type Karet atapun other wood species. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan cuka kayu Galam sebagai bahan pengawet alami, nilai mortalitas rayap kayu kering, pemanfaatan cuka kayu Galam sebagai bahan pengawet alami, dan pengaruh lama penyimpanan dan konsentrasi cuka kayu Galam terhadap pengurangan berat kayu akibat serangan rayap.  Cuka kayu Galam dapat diaplikasikan sebagai bahan pengawet alami untuk menghindari serangan organisme perusak kayu seperti rayap kayu kering.  Nilai rata-rata mortalitas rayap kayu kering untuk semua perlakuan berkisar antara 81,33% hingga 100%.  Perlakuan konsentrasi larutan cuka kayu galam berpengaruh sangat nyata terhadap pengurangan berat kayu Karet, sedangkan lama penyimpanan cuka kayu Galam tidak berpengaruh nyata.  Semakin lama waktu penyimpanan cuka kayu Galam dan semakin tinggi tingkat konsentrasi larutan cuka kayu Galam yang digunakan maka pengurangan berat kayu Karet cenderung semakin menurun dan persentase mortalitas rayap kayu kering cenderung semakin meningkat.  Perlakuan konsentrasi cuka kayu Galam baru maupun lama dengan konsentrasi 50% sudah dapat diaplikasikan untuk mengurangi serangan rayap kayu kering.  Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai kandungan senyawa-senyawa kimia yang terdapat pada cuka kayu Galam sehingga lebih baik lagi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pengawet alami terhadap jenis kayu Karet atapun jenis kayu yang lainnya.
PENGARUH KONSENTRASI BAHAN STABILISATOR PEG 1000 DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP KESTABILAN DIMENSI KAYU KECAPI (Sandoricum koetjape Merr) Lusyiani Lusyiani; Violet Burhanuddin; Putri Nadilla
Jurnal Hutan Tropis Vol 3, No 3 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No 3 Edisi November 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v3i3.2270

Abstract

Kayu bersifat higroskopis dan anisotropis, karena itulah untuk meningkatkan kualitas kayu diperlukan suatu perlakuan stabilisasi dimensi.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh konsentrasi Polyethylene Glycol 1000 dan waktu perendaman terhadap stabilisasi dimensi kayu yakni nilai penyusutannya.  Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Polyethylene glycol 1000, kayu Kecapi dan air suling sebagai pelarutnya.  Proses stabilisasi dimensi dilakukan dengan menggunakan metode proses difusi bulking yang mengganti bahan penstabilnya dengan air.  Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 120 buah sampel.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Polyethylene Glycol 1000 pada tingkat konsentrasi 30% dan lama perendaman 5 hari memiliki nilai stabilisasi dimensi terbaik untuk semua parameter yang diuji.  Tingkat konsentrasi tertinggi untuk Polyethylene Glycol 1000 dan lama perendaman yang terlama, nilai penyusutannya paling kecil dan juga dapat meningkatkan nilai stabilisasi dimensi.Wood is hygroscopic and anisotropic, hence it is needed to improve the quality of wood by dimension stabilization treatment. The aim of study is to examine the effect of Polyethylene Glycol  1000 concentration and soaking time on the shrinkage rate stabilization dimensions. Polyethylene glycol 1000 and Kecapi wood were used in the research and distilled water as a solvent.  Stabilization was carried out by bulking method that replaced stabilizer material with water by diffusion process.  A member of 120 pieces samples were used in the study. The research results showed that Polyethylene Glycol  1000 at 30% concentration level and 5 days of soaking time have the best value of stabilization for all tested parameters.  The hingher level concentration of Polyethylene Glycol 1000 and the longer immersion time, smaller shrinkage and increasing the value of stabilization dimensions, as well.
KUALITAS BRIKET ARANG DARI KULIT SABUT BUAH NIPAH (Nypa fruticans WURMB) DALAM MENGHASILKAN ENERGI The qualty of charcoal briquettes that made from nypah (nypa fruticans wurmb) outshel to product energy Rosidah Muis Radam; Lusyiani Lusyiani; Diana Ulfah; Noor Mirad Sari; Violet Violet
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 1 Edisi Maret 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v6i1.5105

Abstract

The availability skin fiber of fruit Nipah abundant each season can be used as alternative energy sources such. The purpose of this study is to determine the quality of charcoal briquettes from the skin fiber of nipah peel in its ability to produce energy. The results of this study can be used as a consideration in the development of the utilization of the nipah plant part of the fruit peel as briquette fuel. The method used is to compare the capability of 1 kg of charcoal briquettes compared to the 1 liter kerosene capability inserted in the Hock stove with 16 axis in producing energy. The test do the Laboratory of Standardization Center for Industry of Banjarbaru. The Charcoal briquettes in this study contain 5.12% water content, ash content 4.15%, airborne content 36.66%, carbon content bound 58.19% and calorific value 5438,80 cal / gram. The results of charcoal briquette quality analysis when compared with SNI-01-6235-2000 charcoal quality standards of water content, ash content, and calorific values that meet the charcoal quality standard requirements as good fuel, but the content of fly and carbon bound does not meet the requirements charcoal quality standard, airborne content of 33.66% and carbon bound to 58.19%, according to SNI-01-6235-2000 maximum airborne content 15%. and carbon bound ≥ ≥ 77%. Average initial time of ignition for 3’25 “long smoldering 1 hour 9 ‘. The average time of boiling 1 liter of water is 22 ‘05 “. When compared to the use of kerosene by using the Hock stove with 16 axis and if converted to economic value, the charcoal briquettes results of this study can be used as a renewable energy alternative.Keywords: charcoal briquettes, skin fiber of fruit Nipah, energyKetersediaan kulit sabut buah Nipah yang melimpah setiap musimnya dapat dimanfaatkan menjadi sumber energy alternative. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui kualitas briket arang kulit sabut buah nipah dalam kemampuannya menghasilkan energy. Manfaat penelitian ini sebagai bahan infotmasi untuk mengembangkan teknologi pengolahan bagian tumbuhan nipah yaitu bagian kulit buah sebagai bahan bakar briket. Metode yang digunakan adalah membandingkan kemampuan 1 kg briket arang dibandingkan dengan kemampuan 1 liter minyak tanah yang dimasukkan dalam kompor Hock sumbu 16 dalam mengthasilkan energy. Pengujian dilakukan di Laboratorium Balai Risert Standardisasi Industri Banjarbaru. Briket Arang dalam penelitian ini mengandung kadar air 5,12 %, kadar abu 4,15 % , kadar zat terbang 36,66 % , kadar carbon terikat 58,19 % dan nilai kalor 5438,80 cal/gram. Hasil pengujian sifat Fisik dan Kimia briket arang dibandingkan dengan SNI-01-6235-2000, parameter kadar air, kadar abu, dan nilai kalor yang memenuhi persyaratan standar kualitas arang sebagai bahan bakar yang baik, namun kadar zat terbang dan karbon terikat tidak memenuhi 3’25” lama membara 1 jam 9’. Rata-rata waktu mendidihkan 1 liter air adalah 22’ 05”. Jika dibandingkan dengan pemakaian minyak tanah dengan memakai kompor Hock 16 sumbu dan jika dikonversi ke nilai ekonomi, maka briket arang hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai energy alternative yang bersifat renewableKata kunci: Briket arang, kulit sabut buah nipah, energy
KAJIAN NILAI GIZI TEPUNG BUAH NIPAH (Nypa fruticans WURMB) SEBAGAI TEPUNG SUBSTITUSI Rosidah R. Radam; Noor Mirad Sari; Lusyiani Lusyiani
Jurnal Hutan Tropis Vol 7, No 3 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 3 Edisi November 2019
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v7i3.7583

Abstract

Buah Nipah merupakan hasil hutan yang berlimpah dan bersifat musiman. Buah Nipah pada tingkat kematangan tua dapat diolah  menjadi tepung buah untuk digunakan dalam pembuatan roti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan nilai gizi apa saja yang terkandung tepung buah nipah yang tumbuh pada 3 (tempat yang berbeda tiga). Pengujian nilai gizi  tepung buah nipah dilakukan di Balai Laboratorium Standarisasi Industri Banjarbaru dan Balai Pengawasan Obat dan Makanan Kalimantan Selatan. Rata-rata nilai gizi tepung nipah dari hasil penelitian adalah rata rata kadar air  5,57%, kadar abu 2,35%, protein 4,23, karbohidrat 52,14%, serat kasar 24,14%, lemak 1,06% , nilai kalori 226,29 kal / 100 gr, seng 17,13 mg / kg dan besi 405,32 mg / kg. Parameter uji Nilai gizi tepung nipah yang memenuhi standar SNI 3751: 2009 adalah kadar air, dan Zat Besi, dar air, Rata-rata kadar besi dan  kadar protein tidak memenuhi standar,   sedangkan karbohidrat, lemak dan serat tidak dipersyaratkan Parameter Seng dan protein tidak memenuhi standar karena nilainya di bawah . Nilai gizi tepung nipah Dibandingkan dengan tepung segitiga biru,  rata-rata kadar protein dan karbohidrat tepung buah nipah lebih rendah, Tepung buah nipah mengandung karbohidrat dan kalori yang cukup tinggi, kadar lemak rendah, kadar serat kasar  dan kadar besi yang sangat  tinggi. Oleh karena itulah maka  tepung buah nipah ini dapat dijadikan sebagai tepung substitusi tepung terigu