Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENGARUH UMUR DAN WAKTU PENYADAPAN TERHADAP PRODUKSI GETAH KARET (Hevea brasiliensis) DI DESA BATALANG KECAMATAN JORONG KABUPATEN TANAH LAUT Muhammad Rusliansyah; Zainal Abidin; Adi Rahmadi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 2, Edisi April 2019
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v2i2.1074

Abstract

ABSTRACT. This study aims to determine the effect of age and time of interception of good rubber latex production. The benefits of this research can be used as a reference or guidance on the effect of age and time of interception on the production of good rubber latex. The method used is Completely Random Design 2x3 Factorial pattern as many as 5 replications with 30 units of experimental unit. Based on the calculation of Various Fingerprint Analysis it is known that the Treatment, Factor A (Age) and Interaction AB are very influential because the F value is bigger than F table 5% and 1%. While Factor B (Time wiretapping) has no significant effect. The results of the calculation of Continuous Difference Test The Smallest Factor A showed that the treatment A1 was very different with the treatment of A2 with different value greater than BNT 5% and 1% ie 2.89> 0.41 and 0.55. Treatment of A1 also differed very significantly with treatment of A3 because of different value more than 5% BNT value and 1% ie 3.61> 0.41 and 0.55. The results of the least significant difference in B-test (BNT) of factor A in Table 8 showed that the treatment of A3 was very different from that of A2. This happened because the different values between the two treatments were greater than the 5% and 1% BNT values of 0.71> 0 , 41 and 0.55 it occurs because the larger the age of the tree, the more rubber sap produced.  Keywords: Tapping, rubber sapABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur dan waktu penyadapan terhadap hasil produksi getah karet yang baik. Manfaat dari penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan atau pedoman mengenai pengaruh umur dan waktu penyadapan terhadap produksi getah karet yang baik. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial 2x3 sebanyak 5 kali ulangan dengan satuan percobaan 30 buah. Berdasarkan perhitungan Analisis Sidik Ragam diketahui bahwa Perlakuan, Faktor A (Umur) dan Interaksi AB berpengaruh sangat karena nilai F hitung lebih besar dari F tabel 5% dan 1%. Sedangkan Faktor B (Waktu penyadapan) tidak berpengaruh nyata. Hasil perhitungan Uji Lanjutan Beda Nyata Terkecil Faktor A menunjukan bahwa perlakuan A1 berbeda sangat nyata dengan perlakuan A2 dengan nilai beda lebih besar dibandingkan BNT 5% dan 1% yaitu 2,89 > 0,41 dan 0,55. Perlakuan A1 juga berbeda sangat nyata dengan perlakuan A3 karena nilai beda lebih dari nilai BNT 5% dan 1% yaitu 3.61 > 0,41 dan 0,55. Hasil uji Beda Nyata Terkecil (BNT) faktor A pada Tabel 8 menunjukan bahwa pada perlakuan A3 berbeda sangat nyata dengan perlakuan A2 hal tersebut terjadi karena nilai beda antara dua perlakuan tersebut lebih besar dari nilai BNT 5% dan 1% yaitu 0,71 > 0,41 dan 0,55 hal tersebut terjadi karena semakin besar umur pohon, maka semakin banyak getah karet yang dihasilkan.  Kata kunci: Penyadapan, getah karet 
EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI MESIN-MESIN DALAM SATU RANGKAIAN PADA PROSES PRODUKSI KAYU LAPIS (STUDI KASUS DI PT SURYA SATRYA TIMUR) Gottrezeki Xaverius Nadeak; Gusti Abdul Rahmat Thamrin; Adi Rahmadi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.281 KB) | DOI: 10.20527/jss.v4i5.4208

Abstract

This research aims to analyze the effectiveness and efficiency value of plywood production machines. This research was conducted by observing and recording the production flow or workflow of the machines in a series on the plywood production process used in PT Surya Satrya Timur. Data retrieval is only taken on the morning shift which is from 07.00 to 17.00 WITA and on each machine is observed three times. Based on the data obtained for log cutting machine, effectiveness (90%) and efficiency (41.70%). Rotary machine, effectiveness (90%) and efficiency (81.56%). Machine Continues Dryer, effectiveness (90%) and efficiency (85.19%). Core jointer machine, effectiveness (90%) and efficiency (76.1%). Glue spreader machine, effectiveness (90%) and efficiency (59.43%). Cold press machine, effectiveness (90%) and efficiency (30.03%). Hot press machine, effectiveness (90%) and efficiency (79.27%). Sizer machine, effectiveness (83.34%) and efficiency (37.41%). Sander machine, effectiveness (90%) and efficiency (54.15%). Thus, the effectiveness value of the use of machines in one series at PT Surya Satrya Timur has achieved a high effectiveness value of 90% on eight machines in the phase of the plywood production process including Log cutting, Rotary, Continues Dryer, Core Jointer, Glue Spreader, Cold Press, Hot press and Sander and one machine the value is not yet high i.e. at the stage Sizer only reached 83.34%. While the efficiency value of the machine at PT Surya Satrya Timur ranges from 30.03% - 85.19%. The most efficient stage in the production process is the Continues Dryer stage of 85.19% and the lowest efficiency is at the Cold Press, Sizer and Log Cutting stages of 30.03%, 37.41 and 41.70% respectivelyPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai efektifitas dan efisiensi mesin-mesin produksi kayu lapis. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati dan mencatat alur produksi atau alur kerja mesin-mesin dalam satu rangkaian pada proses produksi kayu lapis yang digunakan di PT Surya Satrya Timur. Pengambilan data hanya diambil pada shift pagi yaitu dari jam 07.00 sampai 17.00 WITA dan pada setiap mesin dilakukan pengamatan sebanyak tiga kali. Berdasarkan data yang didapat untuk mesin Log cutting, efektivitas (90%) dan efisiensi (41,70%). Mesin Rotary, efektivitas (90%) dan efisiensi (81,56%). Mesin Continues Dryer, efektivitas (90%) dan efisiensi (85,19%). Mesin Core jointer, efektivitas (90%) dan efisiensi (76,1%). Mesin Glue spreader, efektivitas (90%) dan efisiensi (59,43%). Mesin Cold press, efektivitas (90%) dan efisiensi (30,03%). Mesin Hot press, efektivitas (90%) dan efisiensi (79,27%). Mesin Sizer, efektivitas (83,34%) dan efisiensi (37,41%). Mesin Sander, efektivitas (90%) dan efisiensi (54,15%). Jadi, Nilai efektifitas penggunaan mesin pada satu rangkaian di PT Surya Satrya Timur sudah mencapai nilai efektifitas yang tinggi sebesar 90% pada delapan mesin tahap proses produksi kayu lapis diantaranya tahap Log cutting, Rotary, Continues Dryer, Core Jointer, Glue Spreader, Cold Press, Hot press dan Sander dan satu mesin nilainya belum tinggi yaitu pada tahap Sizer hanya mencapai 83,34%. Sedangkan nilai efisiensi mesin pada PT Surya Satrya Timur berkisar antara 30,03% - 85,19%. Tahap yang paling efisien dalam proses produksi yaitu tahap Continues Dryer sebesar 85,19% dan efisiensi paling rendah yaitu pada tahap Cold Press, Sizer dan Log Cutting masing – masing 30,03%, 37,41 dan 41,70%
ANALISIS PERSEDIAAN BAHAN BAKU KAYU SENGON LAUT (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) UNTUK MENUNJANG KELANCARAN PRODUKSI PLYWOOD DI PT SURYA SATRYA TIMUR CORPORATION BANJARMASIN Muhamad Heri Ende Adil; Noor Mirad Sari; Adi Rahmadi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 2, Edisi April 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.544 KB) | DOI: 10.20527/jss.v3i2.1982

Abstract

This study aims to find out and analyze the estimated use of raw materials for sengon laut wood in the manufacture of plywood, determine the number of orders of economical raw materials, find out the time of reorder and find out the amount of safety supplies at PT Surya Satrya Timur Banjarmasin Corporation. The benefits of this research can be used as a source of reference for companies in analyzing a production management activity, especially controlling raw material inventories. Data is generated through interviews and field observations which then data is processed using the moving average method to analyze the estimated raw material use in 2019 and use the Economic Order Quantity (EOQ) method to analyze economic raw material processing. Based on the calculation results it is known that the raw material needed for 2019 is 24,419,750 m3 with the optimum number of orders as much as 45 times with a total raw material of 541,781 m3 in one message. The amount of safety supplies provided by the company is 238,482 m3 with the point of reorder when the raw materials are left with 485,979 m3. The warehouse capacity is enough to provide raw materials as much as 780,265 m3 to avoid running out of raw materials and avoiding waste of raw materials. Thus the availability of raw materials will facilitate an economical and efficient production process.Keywords: Inventory Control; Raw Materials; Plywood; EOQ
ETNOBOTANI TANAMAN OBAT OLEH MASYARAKAT DAYAK MERATUS DI KECAMATAN HALONG KABUPATEN BALANGAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Ahmad Hafizi; Adi Rahmadi; Diana Ulfah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i1.5041

Abstract

This study aims to determine the ability of Batra in his knowledge using traditional medicinal plants in Halong District, Balangan Regency, South Kalimantan Province. The knowledge of Batra and the community in the use of medicinal plants is very diverse both in terms of processing, how to use, the parts used and the efficacy of each type of plant that can cure a disease or be used as a prevention against a disease that is often suffered by the community. The method used was an interview with Batra in order to obtain information from the Meratus Dayak community in Halong sub-district, Balangan district about the use of plants used as medicine and determining key informants who knew more about medicinal plants. The results obtained from this study are approximately 20 types of plants that are often used as medicine by Batra in Halong sub-district. The percentage shows the highest utilization, namely 40% root, 30% leaf part, and 20% stem part. Utilization of thorns and feathers on plant parts was found to be only 5%. The type used by all parts of the plant is 5%Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan batra dalam pengetahuannya yang menggunakan tanaman obat tradisional di Kecamatan Halong Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan selatan. Pengetahuan Batra maupun masyarakat dalam pemanfaatan tumbuhan obat sangat beragam baik dari cara pengolahan, cara menggunakan, bagian-bagian yang digunakan serta khasiat dari masing-masing jenis tumbuhan yang dapat menyembuhkan suatu penyakit maupun digunakan sebagai pencegahan terhadap suatu penyakit yang sering di derita pada masyarakat. Metode yang digunakan adalah wawancara dengan Batra guna menggali informasi dari masyarakat Dayak Meratus di kecamatan Halong, kabupaten Balangan tentang tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat dan penentuan informan kunci yang mengetahui tentang tumbuhan obat. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu kurang lebih diperoleh 20 jenis tumbuhan yang sering digunakan sebagai obat oleh Batra yang ada di kecamatan Halong. Presentase menunjukkan pemanfaatan yang paling tinggi yaitu akar 40%, bagian daun 30%, dan bagian batang 20%. Pemanfaatan duri dan bulu pada bagian tumbuhan ditemukan hanya 5%. Jenis yang dimanfaatkan semua bagian tumbuhannya sebanyak 5%
Pemanfaatan Pekarangan Dengan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat Sekitar KHDTK ULM Arfa Agustina Rezekiah; Adi Rahmadi; Abdi Fithria; Hafizianor Hafizianor; Mufidah Asy'ari
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v2i1.5076

Abstract

Desa Mandiangin Timur memiliki luas wilayah kurang lebih 85.000 ha, berjarak 7 Km dari Kecamatan Karang Intan. Desa Mandiangin Timur berbatasan dengan Desa Padang Panjang di Sebelah selatan. Berbatasan dengan Desa Awang Bangkal Barat di Sebelah Timur, Desa Kiram di sebelah Selatan dan Desa Mandiangin Barat di Sebelah Barat.  Desa Mandiangin Timur merupakan salah satu desa yang berada di sekitar KHDTK ULM.   Selama ini masyarakat desa kurang optimal dalam memanfaatkan lahan pekarangan, mereka menanami pekarangan hanya dengan pohon rambutan atau mangga dan masih banyak lahan kosong yang tidak digunakan secara optimal.  Permasalahan yang dialami mitra adalah a) rendahnya pengetahuan dan keterampilan inovatif dalam budidaya tanaman obat, b) rendahnya pengetahuan tentang tanaman obat dan cara bertani, c) kurangnya pengetahuan tentang pelestarian tanaman obat.  Tujuan kegiatan PKM ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan anggota kelompok mitra tentang budidaya dan pemeliharaan tanaman berkhasiat obat. Solusi dalam program ini adalah a) penyuluhan tentang tanaman obat di pekarangan, b) transfer teknologi dengan demonstrasi plot, c) praktek penataan pekarangan dengan system blok.  Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM ini terdiri dari penyuluhan, pelatihan budidaya dan pemeliharaan TOGA, penanaman TOGA pada demplot. Hasil yang diperoleh berupa peran serta mitra dalam kegiatan paket teknologi intensifikasi TOGA yang dapat diterapkan masyarakat (mitra) untuk pemanfaatan lahan pekarangan.. Kata kunci: Pekarangan, tanaman obat keluarga, Kesehatan, KHDTK ULM 
PKm Alat Penjernih Air Di Desa Pemangkih Tengah Abdi Fithria; Adi Rahmadi; Arfa Agustina Rezekiah; Friska Septian Pratiwi
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v2i1.5077

Abstract

Clean water is an invaluable need for the residents of Pemangkih Tengah village. The water in the village of Pemangkih Tengah is actually blackish in color, because the area of this village is located in a location with peaty soil and acid soil. To overcome this problem, it is necessary to have a water purification device using materials that are easily available. Materials that are easily available include rice husks, sand, gravel and palm fibers. The goal is that people are more enthusiastic about making their own, because the materials used are around them. Moreover, part of the village land is planted with rice, so that the husks produced from the rice grinder can be used for natural water purification. In contrast to water purification using chemical techniques, natural techniques are preferred by the community because the costs incurred to make tools are cheaper. From the results of the purification that has been carried out, it is clear that there is a difference in the level of water clarity before and after it is done.
PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH SUKU DAYAK MERATUS KALIMANTAN SELATAN Arfa Agustina Rezekiah; Abdi Fithria; Adi Rahmadi
Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 2 EDISI JULI 2021
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v9i2.11273

Abstract

Dayak Meratus in Loklahung Village, Loksado District, South Hulu Sungai Regency, South Kalimantan is one of the tribes living around the forest. They use forest resources to meet their daily needs. This research aims to analized the utilization of types and the forms of forest resources by indigenous peoples.   Data collecting that used in this research are in-depth interviews and field observations. The analysis of data used tabulation matrix and qualitative description. The results showed that the utilization of forest resources is inherited from ancestors. The utilization of forest resources is mostly carried out in the forest in the form of activities: (1) Finding fuel and firewood; (2) Hunting; (3) Looking for handicraft materials; (4) Looking for nontimber forest products and (5). Looking for medicinal ingredients.  The perception of dayak meratus people to the impact of forest resource utilization both flora and fauna belongs to the moderate category.
PEMANFAATAN LIMBAH INDUSTRI PENGGERGAJIAN DAN STIK ES KRIM PADA PEMBUATAN MINIATUR RUMAH ADAT BANJAR “GAJAH MANYUSU” Rizky Pratama; Kurdiansyah Kurdiansyah; Adi Rahmadi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i5.6706

Abstract

Making a miniature design of the Banjar traditional house “Gajah Manyusu” using raw materials from sawn wood waste and Analyzing production costs in the manufacture of miniature of Banjar traditional house “Gajah Manyusu”. Data analysis on the manufacture of banjar traditional houses miniature includes several stages of economic analysis, namely calculating the total cost of raw materials, calculating manufacturing costs, return on investment, analysis of production costs, analysis of revenue and income, analysis of the revenue-cost ratio (revenue-cost ratio). Analysis of the percentage use of waste in miniature, Analysis of the percentage of use of waste in miniature. The manufacture of Banjar traditional house miniature “Gajah Manyusu” mostly comes from sawn cut waste material from the Banjarbaru forestry faculty workshop and the costs incurred for its manufacture are quite cheap. The waste raw materials include sawn pieces and pieces of plywood which are then used as floor and roof frameworks in miniature buildings, while the walls use duplex paper as raw material, which makes building walls much easier. The tools used in the manufacture of miniatures have a relatively long service life depending on the quality of the tools used so that the depreciation costs are relatively small. This miniature of Banjar traditional house Gajah Manyusu is rectangular in shape, one of the characteristics of this traditional house is that the roof is in the form of a stump or nose shield that covers the entire building, then over time there are additional platforms on the right and left of the building for the roof itself does not use a stump roof, but an arch roof.Membuat rancangan miniatur rumah adat Banjar Gajah Mayusu dengan menggunakan bahan baku dari limbah kayu gergajian dan Menganilisis biaya produksi pada pembuatan miniatur rumah adat Banjar Gajah Manyusu. Menghitung total biaya bahan baku, menghitung biaya pembuatan, Pengembalian investasi, Analisis biaya produksi, analisis penerimaan dan pendapatan, analisis rasio penerimaan-biaya (revenue-cost ratio).Pembuatan miniatur rumah adat banjar gajah manyusu ini sebagian besarnya berasal dari bahan limbah potongan gergajian yang berasal dari workshop fakultas kehutanan banjarbaru dan biaya yang dikeluarkan untuk pembuatannya terbilang cukup murah. Bahan baku limbah tersebut antara lain potongan bekas gergajian dan potongan plwood yang kemudian dimanfaatkan sebagai kerangka lantai dan atap pada bangunan miniatur, sedangkan pada dinding menggunakan bahan baku kertas duplex yang mana dengan menggunakan bahan tersebut pembuatan bangunan dinding jauh lebih mudah. Alat yang digunakan pada pembuatan miniatur memiliki umur pakai yang relatif lama tergantung dengan kualitas alat yang digunakan sehingga biaya penyusutan relatif kecil. Miniatur rumah adat banjar gajah manyusu ini berbentuk persegi panjang, salah satu ciri khas pada rumah adat ini yaitu pada atapnya berbentuk perisai buntung atau hidung bapicik yang menutupi hingga seluruh bangunan, kemudian selang berjalannya waktu terjadi penambahan anjung pada bagian kanan dan kiri bangunan untuk bagian atap sendiri tidak menggunakan atap perisai buntung melainkan atap sengkuap.
SEBARAN TANAMAN OBAT DI DESA TEBING SIRING KECAMATAN BAJUIN KABUPATEN TANAH LAUT BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Septian Aditya Wira Buana; Zainal Abidin; Adi Rahmadi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8209

Abstract

Indonesia is overgrown with various kinds of plants that are often used by the community as traditional medicine. Therefore, it is necessary to conduct research on the distribution of medicinal plants based on a geographic information system which aims to determine the distribution of medicinal plants in Tebing Siring Village, Bajuin District, Tanah Laut Regency in order to provide information and add insight to the community about the distribution of medicinal plants in Mount Batu and Mount Langkaras, Tebing Siring Village, Bajuin District, Tanah Laut Regency. The data processing used in this study was two kinds of primary data and secondary data, while the data analysis used the NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) analysis method. The result of this study is the distribution of medicinal plants in the area of Mount Batu and Mount Langkaras, Tebing Siring Village, Bajuin District, Tanah Laut Regency, there are 2 types of tree habitus, namely Eucalyptus and Eucalyptus. The NDVI value in Eucalyptus and Eucalyptus Plants has a range of values of 0.42 – 0.76 which means that these two types of plants are suitable and easily adapted to the environment there so that the vegetation that lives is healthy.Indonesia banyak ditumbuhi berbagai macam tumbuhan yang sering dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai sebaran tanaman obat berbasis sistem informasi geografis yang bertujuan untuk mengetahui penyebaran tanaman obat di Desa Tebing Siring, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut guna memberikan informasi dan menambah wawasan kepada masyarakat mengenai penyebaran tanaman obat di Gunung Batu dan Gunung Langkaras Desa Tebing Siring, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut tersebut. Pengolahan data yang digunakan pada penelitian ini ada dua macam data primer dan data sekunder, sedangkan analisis datanya menggunakan metode analisis NDVI (Normalized Difference Vegetation Indeks). Hasil dari penelitian ini adalah penyebaran tanaman obat di wilayah Gunung Batu dan Gunung Langkaras Desa Tebing Siring, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut terdapat 2 jenis habitus pohon yaitu Ekaliptus dan Kayu Putih. Nilai NDVI pada Tanaman Eukaliptus dan Kayu Putih memiliki rentang nilai 0,42 – 0,76 yang berarti bahwa kedua jenis tanaman ini cocok dan mudah beradaptasi dengan lingkungan disana sehingga vegetasi yang hidup sehat
KARAKTERISTIS DAN LAJU PEMBAKARAN BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA DENGAN PENAMBAHAN AROMATERAPI AKAR WANGI (Vetiveria zizanoides) DAN GAHARU (Aquilaria malaccensis) Muhammad Faisal Mahdie; Adi Rahmadi; Eko Rini Indrayatie; Noor Mirad Sari; Hanifa Arsya
Jurnal Hutan Tropis Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 11 NOMER 1 EDISI MARET 2023
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v11i1.15997

Abstract

Limbah dari buah kelapa adalah tempurung kelapa yang umumnya digunakan sebagai bahan bakar sehari – hari. Serbuk akar wangi dan limbah serbuk kayu gaharu mengandung resin yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal menjadi solusi dalam penyediaan bahan aromaterapi karena mengandung aroma yang menenangkan dan menghilangkan stress. Tujuan dari penelitian adalah (1) Menganalisis Uji Karakteristik briket arang aromaterapi tempurung kelapa dengan penambahan serbuk akar wangi dan serbuk kayu gaharu yang meliputi kerapatan, uji kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat, nilai kalor dan laju pembakaran (2) Mengetahui perlakuan terbaik dari briket arang aromaterapi tempurung kelapa dengan penambahan serbuk akar wangi dan limbah serbuk kayu gaharu.  Pengujian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 kali ulangan, jadi jumlah seluruh sampel sebanyak 18 buah. Kadar air tertinggi sebesar 8,55% terdapat pada perlakuan E dan terendah terdapat pada perlakuan C yaitu 4,05%, kadar abu briket aromaterapi bervariasi yaitu nilai terendah  6,19% pada perlakuan E dan tertinggi 11,46% pada perlakuan A. Nilai rata-rata zat terbang tertinggi 60,29% terdapat pada perlakuan E dan kadar zat terbang terendah 42,83% terdapat pada perlakuan F. Kadar karbon terikat tertinggi terdapat pada perlakuan F yaitu 43,66% dan rata-rata terendah terdapat pada perlakuan E yaitu 24,97%. Nilai kalor bervariasi antara 4885,21 kal/gr - 5516,24 kal/gr, kadar karbon terendah terdapat pada perlakuan E dan perlakuan F memiliki nilai kalor tertinggi. Rata-rata kerapatan briket arang aromaterapi tertinggi sebesar 0,8546 gr/cm3 terdapat pada perlakuan F dan perlakuan E memiliki rata-rata kerapatan terendah yaitu 0,5740 gr/cm3 . Laju pembakaran terendah terdapat pada perlakuan D yaitu 0,39 gr/menit dan tertinggi terdapat pada perlakuan E yaitu 0,63 gr/menit. Kadar air terbaik terdapat pada perlakuan C yaitu 4,05% (SNI < 8%), kadar abu terbaik terdapat pada perlakuan E yaitu 6,19% (SNI < 8%), semua perlakuan untuk zat terbang belum memenuhi standar (SNI < 15%), pengujian karbon terikat dan kerapatan tidak mensyaratkan standar SNI,  nilai karbon terbaik pada perlakuan F yaitu 5516,24 kal/gr (SNI > 5000 kal/gr).