Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan antara Need for Affiliation dan Personality Traits dengan Kecenderungan Nomophobia pada Gen Z Chika Athadelia Zakirin Basuki; Amherstia Pasca Rina; Ricky Alejandro Martin
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.2042

Abstract

Penggunaan ponsel pintar telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z. Kemudahan dalam berkomunikasi, memperoleh informasi, serta mengakses berbagai layanan digital menyebabkan ponsel pintar digunakan hampir di seluruh aktivitas harian. Namun, penggunaan ponsel pintar yang semakin intens juga dapat memunculkan parasaan cemas dan tidak nyaman berlebihan ketika individu tidak dapat mengakses ponsel pintarnya. Kondisi ini merupakan suatu fenomena fobia situasional baru yang dikenal dengan istilah nomophobia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara need for affiliation dan personality traits dengan kecenderungan nomophobia pada Generasi Z di Surabaya. Populasi penelitian terdiri atas Generasi Z berusia 17 – 25 tahun yang aktif menggunakan ponsel pintar dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 270 partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan tabel Krejcie and Morgan. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Instrumen yang digunakan meliputi skala Interpersonal Orientation Scale untuk mengukur need for affiliation, skala personality traits, serta Nomophobia Questionnaire untuk mengukur kecenderungan nomophobia. Hasil analisis menunjukkan bahwa need for affiliation serta dimensi openness to experience, extraversion, dan agreeableness memiliki hubungan yang signifikan dengan kecenderungan nomophobia. Sedangkan dimensi conscientiousness dan neuroticism tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa need for affiliation dan beberapa dimensi personality traits berhubungan dengan kecenderungan nomophobia pada Generasi Z di Surabaya.
Hubungan Antara Trauma Dengan Sikap Posesif Dalam Berpacaran Pada Dewasa Awal Yang Memiliki Keluarga Broken Home Cecilia Jocelyn Lesmana; Amherstia Pasca Rina; Ricky Alejandro Martin
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.2066

Abstract

Fenomena sikap posesif dalam hubungan berpacaran pada dewasa awal diduga berkaitan dengan pengalaman trauma yang dialami individu, khususnya akibat kondisi keluarga broken home. Trauma tersebut dapat memengaruhi rasa aman, kepercayaan, dan pola hubungan interpersonal sehingga berpotensi meningkatkan kecenderungan sikap posesif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara trauma dengan sikap posesif dalam berpacaran pada dewasa awal yang memiliki keluarga broken home. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling terhadap 278 responden berusia 20–24 tahun yang berasal dari keluarga broken home dan pernah atau sedang menjalin hubungan berpacaran. Data dikumpulkan menggunakan skala trauma keluarga broken home dan skala sikap posesif, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank (Spearman's rho). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara trauma dengan sikap posesif dalam berpacaran, dengan nilai Spearman's rho sebesar 0,988 dan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat trauma yang dialami individu akibat keluarga broken home, semakin tinggi pula kecenderungan individu menunjukkan sikap posesif dalam hubungan berpacaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara trauma dengan sikap posesif dalam berpacaran pada dewasa awal yang memiliki keluarga broken home. Namun, karena penelitian ini menggunakan desain korelasional, hasil penelitian tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat.
Resiliensi dan Harapan Mendorong Flourishing pada Keluarga Pengasuh Pasien Penyakit Kronis Angelia Hanna Stevany; IGAA Noviekayati; Amherstia Pasca Rina
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Individuals with chronic illnesses depend on family caregivers due to the severity of their illness, causing physical, emotional, and economic burdens that increase the risk of depression and fatigue. This has the potential to reduce the quality of care, increase the risk of patient relapse, and cause family dysfunction. This study aims to determine the relationship between resilience and hope with flourishing in family caregivers of individuals with chronic illnesses, both partially and simultaneously. The study used a correlational quantitative approach with purposive sampling techniques. The sample consisted of 85 family caregivers. The measurement tools included the Secure Flourishing Index, Connor-Davidson Resilience Scale, and Herth Hope Index. Data analysis techniques used multiple regression to test the predictors of flourishing in family caregivers of individuals with chronic diseases. The results of the study simultaneously showed a significant relationship between the variables of resilience and hope with flourishing in family caregivers of individuals with chronic diseases. Partially, the variable of resilience with flourishing showed very significant results with a positive direction, and the variable of hope with flourishing showed very significant results with a positive direction. Keywords: Family Caregiver; Flourishing; Hope; Individuals with Chronic Diseases; Resilience Individu dengan penyakit kronis bergantung pada family caregiver akibat keparahan penyakitnya, menyebabkan beban fisik, emosional, dan ekonomi yang meningkatkan risiko depresi serta kelelahan. Hal ini berpotensi menurunkan kualitas perawatan, meningkatkan risiko relaps pasien, dan menyebabkan disfungsi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan resiliensi dan harapan dengan flourishing pada family caregiver individu dengan penyakit kronis, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling. Sampel berjumlah 85 family caregiver. Alat ukur meliputi the Secure Flourishing Index, Connor-Davidson Resilience Scale, dan Herth Hope Index. Teknik analisis data menggunakan regresi berganda untuk menguji prediktor flourishing pada family caregiver individu dengan penyakit kronis. Hasil penelitian secara simultan menunjukkan adanya hubungan yang signifikan variabel resiliensi dan harapan dengan flourishing pada family caregiver  individu dengan penyakit kronis. Secara parsial variabel resiliensi dengan flourishing menunjukkan hasil yang sangat signifikan dengan arah yang positif dan variabel harapan dengan flourishing menunjukkan hasil yang sangat signifikan dengan arah yang positif. Kata kunci: Family Caregiver; Flourishing; Harapan; Individu dengan Penyakit Kronis; Resiliensi
Resiliensi Pasangan Menikah: Peran Optimisme dan Regulasi Emosi Nora Fitriani Setyo Harsono; IGAA Noviekayati; Amherstia Pasca Rina
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marriage presents various challenges requiring couples' adaptability. Resilience is key for married individuals to endure and manage conflicts positively. This study aims to examine the relationship between optimism and emotion regulation with resilience in married individuals. This quantitative correlational research involved 107 participants aged 19 to 60 years. Data were collected using a Likert scale-based questionnaire via Google Form. Multiple regression analysis results indicated that optimism and emotion regulation simultaneously have a significant relationship with resilience. Partially, both optimism and emotion regulation were significant positive predictors of resilience. Emotion regulation contributed more significantly to resilience compared to optimism. In conclusion, optimism and emotion regulation are crucial aspects contributing to the resilience of married individuals, enabling them to navigate relationship dynamics more effectively. Keywords: Emotion Regulation; Marriage; Optimism; Resilience Pernikahan menghadapi berbagai tantangan yang menuntut kemampuan adaptasi pasangan. Resiliensi menjadi kunci bagi individu yang sudah menikah untuk bertahan dan mengelola konflik secara positif. Penelitian ini bertujuan menguji keterkaitan antara optimisme dan regulasi emosi dengan resiliensi pada individu yang sudah menikah. Penelitian kuantitatif korelasional ini melibatkan 107 partisipan berusia 19 hingga 60 tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis skala Likert melalui Google Form. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa optimisme dan regulasi emosi secara simultan memiliki hubungan yang signifikan dengan resiliensi. Secara parsial, optimisme dan regulasi emosi masing-masing merupakan prediktor positif yang signifikan terhadap resiliensi. Regulasi emosi memberikan kontribusi lebih besar terhadap resiliensi dibandingkan optimisme. Kesimpulannya, optimisme dan regulasi emosi adalah aspek penting yang berkontribusi pada resiliensi individu yang sudah menikah, membantu mereka menghadapi dinamika hubungan dengan lebih baik. Kata kunci: Optimisme; Pernikahan; Regulasi Emosi; Resiliensi
Peran Kontrol Diri dalam Dinamika Perilaku Bullying di Lingkungan Sekolah Moch Syahirul Alam Bagasul Ulum; IGAA Noviekayati; Amherstia Pasca Rina
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bullying behavior is one of the problems that is often found in the world of education. In the data from the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) in the period 2020-2023 there were 1,916 reports related to bullying cases in the field of education and continued to increase. Based on previous research, there are internal and external factors of bullying behavior. One of them is self-control. This study examines the relationship between self-control and bullying behavior in schools. The study population included 122 students in one of the junior high schools in Sidoarjo. The sampling technique used accidental sampling. This study uses the product moment approach method which shows that there is a significant negative relationship between self-control and bullying behavior (rxy = 0.495, p < 0.001) which means that if the level of self-control is high, the level of bullying behavior is low and vice versa. This finding underlines the importance of self-control in reducing bullying behavior and highlights the need for various aspects of both the school, environment, and parents in improving self-control in children or students. Keywords: Self-control, Bullying Behavior, Students, Junior High School Perilaku bullyiing merupakan salah satu permasalahan yang sering ditemui pada dunia pendidikan. Pada data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam kurun waktu 2020-2023 terdapat 1.916 laporan terkait kasus bullying di bidang Pendidikan dan terus meningkat. Berdasarkan penelitian sebelumnya, terdapat faktor internal dan eksternal dari perilaku bullying. Salah satunya adalah kontrol diri. Penelitian ini meneliti hubungan antara kontrol diri dengan perilaku bullying di sekolah. Populasi penelitian mencakup 122 Siswa di salah satu SMP di Sidoarjo. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan product moment yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif signifikan antara kontrol diri dengan perilaku bullying (rxy=-0,495, p < 0,001) yang artinya jika tingkat kontrol diri tinggi, maka tingkat perilaku bullying rendah dan begitupun sebaliknya. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya kontrol diri dalam mengurangi perilaku bullying dan menyoroti perlunya berbagai macam aspek baik pihak sekolah, lingkungan, maupun orangtua dalam meningkatkan kontrol diri pada anak atau siswa. Kata kunci: Kontrol diri; Perilaku Bullying; Siswa; SMP