Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Hubungan antara Need for Affiliation dan Personality Traits dengan Kecenderungan Nomophobia pada Gen Z Chika Athadelia Zakirin Basuki; Amherstia Pasca Rina; Ricky Alejandro Martin
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.2042

Abstract

Penggunaan ponsel pintar telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z. Kemudahan dalam berkomunikasi, memperoleh informasi, serta mengakses berbagai layanan digital menyebabkan ponsel pintar digunakan hampir di seluruh aktivitas harian. Namun, penggunaan ponsel pintar yang semakin intens juga dapat memunculkan parasaan cemas dan tidak nyaman berlebihan ketika individu tidak dapat mengakses ponsel pintarnya. Kondisi ini merupakan suatu fenomena fobia situasional baru yang dikenal dengan istilah nomophobia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara need for affiliation dan personality traits dengan kecenderungan nomophobia pada Generasi Z di Surabaya. Populasi penelitian terdiri atas Generasi Z berusia 17 – 25 tahun yang aktif menggunakan ponsel pintar dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 270 partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan tabel Krejcie and Morgan. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Instrumen yang digunakan meliputi skala Interpersonal Orientation Scale untuk mengukur need for affiliation, skala personality traits, serta Nomophobia Questionnaire untuk mengukur kecenderungan nomophobia. Hasil analisis menunjukkan bahwa need for affiliation serta dimensi openness to experience, extraversion, dan agreeableness memiliki hubungan yang signifikan dengan kecenderungan nomophobia. Sedangkan dimensi conscientiousness dan neuroticism tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa need for affiliation dan beberapa dimensi personality traits berhubungan dengan kecenderungan nomophobia pada Generasi Z di Surabaya.
Hubungan Antara Trauma Dengan Sikap Posesif Dalam Berpacaran Pada Dewasa Awal Yang Memiliki Keluarga Broken Home Cecilia Jocelyn Lesmana; Amherstia Pasca Rina; Ricky Alejandro Martin
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.2066

Abstract

Fenomena sikap posesif dalam hubungan berpacaran pada dewasa awal diduga berkaitan dengan pengalaman trauma yang dialami individu, khususnya akibat kondisi keluarga broken home. Trauma tersebut dapat memengaruhi rasa aman, kepercayaan, dan pola hubungan interpersonal sehingga berpotensi meningkatkan kecenderungan sikap posesif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara trauma dengan sikap posesif dalam berpacaran pada dewasa awal yang memiliki keluarga broken home. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling terhadap 278 responden berusia 20–24 tahun yang berasal dari keluarga broken home dan pernah atau sedang menjalin hubungan berpacaran. Data dikumpulkan menggunakan skala trauma keluarga broken home dan skala sikap posesif, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank (Spearman's rho). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara trauma dengan sikap posesif dalam berpacaran, dengan nilai Spearman's rho sebesar 0,988 dan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat trauma yang dialami individu akibat keluarga broken home, semakin tinggi pula kecenderungan individu menunjukkan sikap posesif dalam hubungan berpacaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara trauma dengan sikap posesif dalam berpacaran pada dewasa awal yang memiliki keluarga broken home. Namun, karena penelitian ini menggunakan desain korelasional, hasil penelitian tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat.