Mamat Lukman
Fakultas Keperawatan, Universitas Padjadjaran

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Literature Review: Gambaran Strategi Koping Remaja dalam Menghadapi Perceraian Orang Tua Salma Nadia Hanifa; Mamat Lukman; Nur Oktavia Hidayati
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 12 No 1 (2022): Januari 2022
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/pskm.v12i1.1714

Abstract

Perceraian orang tua memberikan dampak positif dan negatif kepada anak berapapun usianya, terkhusus usia remaja. Salah satu diantara dampak negatif terbesarnya yaitu menimbulkan stres. Hal ini dapat teratasi apabila strategi koping yang digunakan adaptif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gambaran strategi koping remaja dalam menghadapi perceraian orang tua. Penelitian ini menggunakan metode literature review. Pencarian literatur berasal dari PubMed, EBSCOhost, SAGE Journals, dan Google Scholar tahun 2010-2020 dengan menggunakan kata kunci yang telah ditentukan. Hasil analisis didapatkan bahwa 5 dari 7 artikel menunjukkan penggunaan strategi koping adaptif (positif) dan 4 dari 7 artikel menunjukkan penggunaan koping secara bervariasi, yaitu problem-focused coping dan emotion-focused coping pada remaja dalam menghadapi perceraian orang tua. Terdapat perbedaan strategi koping remaja dalam menghadapi perceraian orang tua berdasarkan area penelitiannya. Strategi koping remaja di Indonesia cenderung bervariasi yakni menggunakan emotion-focused coping dan problem-focused coping yang termasuk ke dalam kategori koping adaptif (positif) dan maladaptif (negatif). Sedangkan, strategi koping yang digunakan oleh remaja di negara lain yaitu problem-focused coping dan emotion-focused coping yang termasuk ke dalam kategori koping adaptif (positif).
Studi Deskriptif: Sedentary Lifestyle pada Remaja di Era Digital Syifa Imaniar Rahma; Mamat Lukman; Witdiawati Witdiawati
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i5.19890

Abstract

ABSTRACT The development of technology in the digital era has significantly changed the lifestyle of adolescents, especially in increasing sedentary lifestyle. This lifestyle if ignored will have a negative impact on health. Therefore, it is important to understand the pattern of sedentary lifestyle in adolescents. This study aims to describe the level of sedentary lifestyle in adolescents and analyze the characteristics of respondents who contribute to sedentary time. This study is a quantitative descriptive study with a cross-sectional design. The population of this study were X and XI grade students at SMKN 2 Garut. The sampling technique used stratified random sampling with a sample 220 adolescents. The research tool used the Adolescents Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ). Data analysis used univariate analysis which resulted in frequency distribution and percentage. The results of this study showed 86.8% of adolescents had a high sedentary lifestyle, with an average sedentary time reaching 8.3 hours / day. The most sedentary activity is using a computer/laptop/HP for recreation (131.8 minutes/day). Age, gender, and involvement in activities outside of school contributed to the high level of sedentary lifestyle. Adolescents in the digital era tend to have a high sedentary lifestyle, especially the use of digital devices for entertainment and low physical activity exacerbates this condition. Therefore, promotive and preventive efforts such as education and motivation are needed to increase physical activity and the negative impacts of a sedentary lifestyle. Keywords: Adolescent, Digital Era, Sedentary Lifestyle  ABSTRAK Perkembangan teknologi di era digital telah membawa perubahan signifikan terhadap gaya hidup remaja, terutama dalam meningkatkan sedentary lifestyle. Gaya hidup ini jika dibiarkan akan berdampak negative terhadap kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk memahami pola sedentary lifestyle pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat sedentary lifestyle pada remaja serta menganalisis karakteristik responden yang berkontribusi terhadap waktu sedentary. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian ini merupakan siswa kelas X dan XI di SMKN 2 Garut. Teknik sampling menggunakan stratified random sampling dengan sampel sebanyak 220 remaja. Alat ukut penelitian menggunakan kuesioner Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ). Analisis data menggunakan analisis univariat yang menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan 86.8% remaja memiliki sedentary lifestyle yang tinggi, dengan rata-rata waktu sedentary mencapai 8.3 jam/hari. Aktivitas sedentary yang paling banyak dilakukan yaitu menggunakan computer/laptop/HP untuk hiburan (131.8 menit/hari). Faktor usia, jenis kelamin, serta keterlibatan dalam aktivitas di luar sekolah turut berkontribusi terhadap tingkat sedentary lifestyle yang tinggi. Remaja di era digital cenderung memiliki gaya hidup sedentary yang tinggi terutama penggunaan perangkat digital untuk hiburan dan rendahnya aktivitas fisik memperuruk kondisi ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotive dan preventif seperti edukasi dan motivasi dalam peningkatkan aktivitas fisik dan dampak negative dari gaya hidup sedentary. Kata Kunci: Era Digital, Remaja, Sedentary Lifestyle
Hubungan Antara Karakteristik Sosiodemografi dengan Kondisi Kesehatan Rumah di Desa Sukamulya Nida Nabilatuz Zahra; Laili Rahayuwati; Kosim Kosim; Iqbal Pramukti; Mamat Lukman
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.23116

Abstract

ABSTRACT Housing health conditions contribute to the improvement of health status. Unhealthy housing conditions can increase the risk of various health problems. Sociodemographic characteristics are among the factors influencing this. Identifying the relationship between sociodemographic characteristics and housing health condition is the primary purpose of this research. The study employs a quantitative strategy using a cross-sectional correlational design for analysis. The study population and sample consisted of households residing in rural areas, totaling 207 households. The Chi-Square statistical test and Spearman’s rank correlation were used for data analysis. The study found a significant relationship between sociodemographic characteristics and housing health conditions, specifically age (p= 0,001), education level (p= 0,000), occupation (p= 0,000), and income (p= 0,044). No significant association was observed with gender (p= 0,115). This could result from the majority of respondents being in the early adulthood age group, who typically have limited experience in maintaining housing health conditions. While the majority employed as agricultural or factory laborers may contribute to household economic limitations in maintaining housing health conditions. In addition, relatively low levels of education tend to hinder understanding and access to information related to housing health conditions. Most respondents also have low income, which may limit the availability of resources to achieve adequate housing health conditions. Meanwhile, the predominance of female respondents indicates greater concern for maintaining housing health conditions. The overall housing health conditions are generally good. Sociodemographic characteristics that show a significant relationship are age, education level, occupation, and income. However, continuous improvement efforts are still needed to support the improvement of public health. Keywords: Housing health, Rural areas, Sociodemographic.  ABSTRAK Kondisi kesehatan rumah berkontribusi terhadap peningkatan derajat kesehatan. Kondisi kesehatan rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan dapat meningkatkan resiko gangguan kesehatan. Faktor yang mempengaruhinya adalah karakteristik sosiodemografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara karakteristik sosiodemografi dengan kondisi kesehatan rumah. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik kuantitatif korelasional cross-sectional. Populasi dan sampel penelitian ini adalah rumah tangga yang tinggal di rumah tersebut di wilayah pedesaan, berjumlah 207 rumah tangga. Data dianalisis melalui Uji Chi Square dan Rank-Spearman. Dari hasil penelitian, terdapat hubungan antara karakteristik sosiodemografi dengan kondisi kesehatan rumah, yaitu usia (p= 0,001), tingkat pendidikan (p= 0,000), pekerjaan (p= 0,000), dan pendapatan (p= 0,044). Akan tetapi, tidak ada hubungan dengan jenis kelamin (p= 0,115). Hal ini dimungkinkan karena mayoritas berada pada kelompok usia dewasa awal, yang umumnya memiliki pengalaman terbatas dalam menjaga kondisi kesehatan rumah, tingkat pendidikan yang rendah cenderung kurang mendukung pemahaman dan akses informasi terkait kondisi kesehatan rumah. Sebagian besar responden bekerja sebagai buruh tani/buruh pabrik yang dapat berkontribusi pada keterbatasan ekonomi rumah tangga dalam memenuhi kondisi kesehatan rumah. Mayoritas responden juga memiliki pendapatan rendah sehingga dapat membatasi sumber daya dalam mewujudkan kondisi kesehatan rumah. Sementara itu, jenis kelamin yang didominasi oleh perempuan menunjukkan lebih peduli dalam menjaga kondisi kesehatan rumah. Kondisi kesehatan rumah secara umum tergolong baik. Karakteristik sosiodemografi yang menunjukkan hubungan signifikan dengan kondisi kesehatan rumah adalah usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. Meskipun demikian, upaya perbaikan berkelanjutan tetap diperlukan untuk mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Kata Kunci: Kesehatan Rumah, Pedesaan, Sosiodemografi.
Hubungan Literasi Digital dengan Kecemasan Orang Tua Terhadap Aktivitas Bermain Game Online Anak di SD Plus Al-Ghifari Kota Bandung Dilla Indah Sari; Mamat Lukman; Nenden Nur Asriyani Maryam
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i8.25532

Abstract

ABSTRACT The rapid development of digital technology has made online gaming a popular activity among elementary school children, which often triggers anxiety in parents regarding the negative impacts on child development. Parental digital literacy is hypothesized to play a role in shaping psychological responses to these challenges. The purpose of this study was to determine the relationship between digital literacy and parental anxiety levels regarding children's online gaming activities at SD Plus Al-Ghifari, Bandung. A quantitative correlational study with a cross-sectional approach was conducted in March 2026. A total of 84 parents of 4th and 5th-grade students were recruited using purposive sampling. Data were collected using the Digital Literacy Scale (25 items, Cronbach's alpha 0.950) and the State-Trait Anxiety Inventory Form Y-2 (STAI-T) Indonesian version (20 items, Cronbach's alpha 0.91), then analyzed using univariat (frequency distribution) and bivariate (Spearman's rank correlation) analyses. The results showed that 76 respondents (90,5%) had high digital literacy, while 38 respondents (45.2%,) had moderate anxiety and 28 respondents (33,3%) had severe anxiety. Spearman's correlation test showed a significant negative relationship between digital literacy and parental anxiety (ρ = -0.460, p = 0.000). This study concludes that higher digital literacy is associated with lower anxiety levels. However, high digital literacy does not automatically guarantee low anxiety, as cognitive and ethical dimensions as well as trait anxiety also play a role. It is recommended that community nurses develop holistic digital literacy interventions and facilitate support groups for parents.  Keywords: Digital Literacy, Parental Anxiety, Online Gaming, Elementary School Children, Digital Parenting.  ABSTRAK Kemajuan teknologi telah meningkatkan paparan game online pada anak usia sekolah dasar, sehingga orang tua perlu literasi digital yang memadai karena keterbatasan literasi digital dapat menyulitkan pengawasan dan memicu kecemasan orang tua. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara literasi digital dan kecemasan orang tua terhadap aktivitas bermain game online anak di SD Plus Al Ghifari. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional pada Maret 2026. Sebanyak 84 orang tua siswa kelas 4 dan 5 direkrut menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala Literasi Digital dan STAI-T versi Indonesia, kemudian dianalisis secara univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat (korelasi Spearman). Hasil penelitian menunjukkan 76 responden (90,5%) memiliki literasi digital tinggi, sedangkan 38 responden (45,2%) mengalami kecemasan sedang dan 28 responden (33,3%) mengalami kecemasan berat. Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara literasi digital dan kecemasan orang tua (ρ = -0,460, p = 0,000). Penelitian ini menyimpulkan bahwa semakin tinggi literasi digital, semakin rendah kecemasan yang dialami. Namun, literasi digital yang tinggi tidak secara otomatis menjamin kecemasan rendah karena dimensi kognitif, etika, dan trait anxiety turut berperan. Disarankan bagi perawat komunitas untuk mengembangkan intervensi peningkatan literasi digital secara holistik dan memfasilitasi kelompok dukungan bagi orang tua.  Kata Kunci: Literasi Digital, Kecemasan Orang Tua, Game Online, Anak Usia Sekolah Dasar, Pengasuhan Digital.