Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PROSES KREATIF MEMBANGUN STRUKTUR NARATIF DALAM FILM DOKUMENTER OBSERVASIONAL œPADU AREP Putra, I Made Denny Chrisna; Pamungkas, Epriliana Fitri Ayu; Bumiarta, Made Rai Budaya
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.50275

Abstract

Gending rare or sekar rare in Bali represents a form of singing that parents traditionally perform for their children. The ever-expanding influence of globalization, ushering in new cultural trends that often transform into popular culture, has consistently overshadowed indigenous cultures, including that of gending rare. It is imperative to undertake preservation efforts through appropriate means before traditional cultures and artistic expressions become marginalized amidst the tidal wave of popular culture. One effective avenue for cultural preservation is the creation of observational-style documentary films. As a medium for preservation, documentary films should be meticulously crafted, not only to engage the audience but also to adhere to a coherent narrative structure. The objective of this endeavor is to unveil the creative process involved in constructing a narrative framework within the context of an observational-style documentary, titled "Padu Arep". The creation of this documentary adheres to the established five stages of film production: development, pre-production, production, post-production, and distribution. The outcomes of this undertaking demonstrate that by employing the story circle approach popularized by Dan Harmon, filmmakers can adeptly shape the narrative structure within an observational-style documentary, such as "Padu Arep". The critical analysis of interview results, subsequently interpreted in an open manner to fit seamlessly within the narrative structure, plays a pivotal role in the editing phase of this documentary. These findings are further affirmed through quality control measures during the preview editing stage, thereby affording the filmmaker the latitude to preserve their subjectivity while successfully attaining the objectives of the documentary film "Padu Arep". The implication of this research is to empower filmmakers to create observational-style documentary films without compromising the preservation of subjectivity in shaping the narrative structure.Keywords: documentary, gending rare, narrative structure. AbstrakGending rare atau sekar rare di Bali merupakan nyanyian yang dinyanyikan oleh orang tua kepada anaknya. Dampak globalisasi yang membawa budaya baru dan menjadi budaya pop selalu berhasil menghegemoni budaya lokal termasuk gending rare. Perlu melakukan pelestarian dengan cara yang tepat sebelum suatu budaya dan seni tradisi jauh tenggelam akibat marjinalisasi budaya pop. Salah satu bentuk pelestarian suatu budaya dapat berupa penciptaan film dokumenter bergaya observasional. Sebagai media pelestarian film dokumenter harus dikemas semenarik mungkin dengan memperhatikan struktur naratifnya. Tujuan penciptaan ini adalah mengungkapkan proses kreatif dalam membangun struktur naratif dalam penciptaan film dokumenter yang menerapkan pendekatan bergaya observasional di film dokumenter pendek berjudul œPadu Arep. Metode penciptaan ini menggunakan lima tahap produksi film yaitu development, pra-produksi, produksi, pasca-produksi, dan distribusi. Hasil yang didapatkan memperlihatkan bahwa dengan menggunakan pendekatan story circle yang dipopulerkan oleh Dan Harmon, sineas dapat dengan mudah membangun struktur naratif pada film dokumenter bergaya observasional berjudul œPadu Arep. Analisa terhadap hasil wawancara yang kemudian ditafsirkan secara terbuka untuk ditempatkan dalam struktur naratif menjadi proses penting dalam proses penyuntingan gambar di film dokumenter ini. Hasil ini dipertegas dengan hasil kontrol saat tahap pratinjau, sehingga pembuat film masih memiliki ruang subjektifitasnya agar tujuan film dokumenter œPadu Arep ini dapat dicapai. Implikasi penciptaan ini adalah untuk memberi ruang sineas menciptakan film dokumenter baergaya observasional tanpa kehilangan ruang subjektifitas dalam membentuk struktur naratif.Kata Kunci: dokumenter, gending rare, struktur naratif. Authors:I Made Denny Chrisna Putra : Institut Seni Indonesia DenpasarEpriliana Fitri Ayu Pamungkas : Institut Bisnis dan Teknologi IndonesiaMade Rai Budaya Bumiarta : Institut Seni Indonesia Denpasar References: Buda, I. K., Payuyasa, I. N., & P, I. M. D. C. (2020). PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN DALAM FILM œSOKOLA RIMBA. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 9(2), Article 2. https://doi.org/10.24114/gr.v9i2.19823.Buda, I. K., Payuyasa, I. N., & Putra, I. M. D. C. (2018). Film Dokumenter “Sesuluh” Sebagai Media Pembentuk Karakter Bangsa. Segara Widya¯: Jurnal Penelitian Seni, 6(2), Article 2. https://doi.org/10.31091/sw.v6i2.549.Gunawarman, R. (2021, December 18). Wawancara Narasumber Raka Gunawarman”Emoni Lestarikan Gending Rare [Teks]. https://docs.google.com/document/d/19DwVY8GwT4_44P2JsUIfcBKm5S7BBjLy/edit?usp=share_link&ouid=109642893573991947595&rtpof=true&sd=true.Ida, R. (Ed.). (2017). Budaya populer Indonesia: Diskursus Global/Lokal dalam Budaya Populer Indonesia (Cetakan Pertama). Surabaya: Airlangga University Press.Murniti, N. W. (2019). NILAI PENDIDIKAN RELEGI DALAM SEKAR RARE. Widyacarya: Jurnal Pendidikan, Agama dan Budaya, 3(1), Article 1. https://doi.org/10.55115/widyacarya.v3i1.211.Nichols, B. (2001). Introduction to Documentary. Bloomington: Indiana University Press.Payuyasa, I. N., Susanthi, N. L., & Putra, I. B. H. K. (2022). The Embodiment of Mahakrya Lango Film. Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts, 5(2), Article 2. https://doi.org/10.31091/lekesan.v5i2.2157.Pertiwi, G., & Yusril, Y. (2019). PENCIPTAAN FILM FIKSI œSIRIAH JADI KARAKOK DENGAN FENOMENA LESBIAN DI SUMATERA BARAT. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 8(1), Article 1. https://doi.org/10.24114/gr.v8i1.13140.Pincus, E., & Ascher, S. (2012). The Filmmaker™s Handbook: A Comprehensive Guide for the Digital Age (Fourth Edition). Plume.Wahyuni, S., Darma, S., & Saaduddin, S. (2021). PENCIPTAAN FILM FIKSI œDIBALIK SUNGAI ULAR MENGGUNAKAN ALUR NON-LINEAR. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 10(1), Article 1. https://doi.org/10.24114/gr.v10i1.22018.Yasa, D. P. Y. A. T., & Payuyasa, I. N. (2019). PEMANFAATAN FILM DOKUMENTER THE COVE SEBAGAI MEDIA KAMPANYE PENYELAMATAN LUMBA. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 8(2), Article 2. https://doi.org/10.24114/gr.v8i2.16072.
PENERAPAN ARTISTIK PADA INTERAKSI KARAKTER TERHADAP RUANG MENGGUNAKAN SHOT TOP DOWN DALAM MUSIC VIDEO BIN IDRIS DI EPI PRODUCTION Putu Kenta Menggala Ruspa; I Nyoman Payuyasa; I Made Denny Chrisna Putra
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Calaccitra November 2023
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/cc.v3i2.2932

Abstract

Produksi karya musik video Bin Idris “Inside A Room” diciptakan dengan tujuan mengembangkan lagi dunia kreatif terutama pada bidang audio visual salah satunya adalah musik video. . Dampak era digital munculnya media sosial dan teknologi yang semakin berkembang membuat lingkungan dengan kreativitas, penggunaan teknologi yang cerdas, dan bahasa visual yang kaya. Musik video merupakan media yang secara unik untuk memberi tahu kita tentang perubahan bentuk budaya popular arus utama. Dalam pembuatan sebuah musik video tentunya banyak elemen penting yang dirancang sebelum proses produksi, salah satu elemen penting tersebut adalah artistik. Artistik atau perancang set membuat sketsa desain mereka atau menyusun desain dan kreasi seperti, diorama, kolase, dan papan desain dengan berbagai elemen seperti tekstur, kain, objek, dll. Set desain atau artistik merupakan bahasa visual untuk menyampaikan makna atau emosi tertentu sesuai dengan konsep awal yang dibuat. Semua hal yang muncul di visual selain karakter disebut properti , atu alat peraga. Alat peraga set seperti furnitur, dan dekorasi adalah jenis barang yang melengkapi set danharus menjadi bagian dari desain set.
PENERAPAN TEKNIK COMPUTER GENERATED IMAGERY (CGI) SEBAGAI PEMBANGUN CERITA PADA MUSIC VIDEO TINKERBELLE BALI Agustina, I Kadek Indra; Yasa, Desak Putu Yogi Antari Tirta; Putra, I Made Denny Chrisna
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 4 No. 1 (2024): Junal Calaccitra Maret 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan music video Tinkerbelle Bali bertujuan menciptakan karya audio visual menarik dan memberikan manfaat luas. Harapannya, stigma negatif terhadap band metal dapat berkurang, dan Tinkerbelle mendapat dukungan untuk menyampaikan pesan lagu melalui CGI. Berdasarkan riset genre dan lirik lagu, penggunaan CGI membantu membangun cerita dan visual menarik, sambil tetap memperhatikan cerita dan semiotika. Diharapkan karya ini berdampak positif pada berbagai lapisan masyarakat, mendorong Tinkerbelle untuk terus menciptakan karya menarik.
TOKOH DAN PENOKOHAN PADA PENCIPTAAN NASKAH FILM PERCEPTION Armandio, Michelly Dante; Payuyasa, I Nyoman; Putra, I Made Denny Chrisna
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 4 No. 1 (2024): Junal Calaccitra Maret 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

"Perception" adalah judul naskah film yang dicaptakan dengan memasuki dunia secara psikis melalui narasi sinematik, menyatukan teori-teori Sigmund Freud dengan kedalaman naratif. Karakter-karakter menggambarkan konsep-konsep Freud, menjelajahi dorongan id, konflik ego, dan bayang-bayang bawah sadar. Saat cerita terbuka, penonton dihadapkan pada diri mereka sendiri, menjelajahi tema-tema penindasan, hasrat, dan penebusan. Melalui perpaduan seni dan psikologi ini, "Perception" mengundang penonton untuk mengungkap misteri di dalam diri mereka sendiri.
PENERAPAN ASPEK KOMPOSISI GAMBAR SEBAGAI PENDUKUNG UNSUR DRAMATIK DALAM FILM WONG SAMAR Manik Darmaputra , Ida Bagus; Denny Chrisna Putra, I Made; Hari Kayana, Ida Bagus
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Calaccitra November 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinematografi memainkan peran penting dalam dunia perfilman, terutama untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Unsur dramatik dalam sebuah film mencakup konflik, klimaks, resolusi, dan pengembangan karakter yang semuanya bertujuan untuk memicu respons emosional dari penonton. Dalam film "Wong Samar" penulis menggunakan berbagai teknik komposisi gambar untuk mendukung unsur dramatik. Dalam pembuatan film horor, pembuat film biasanya menekankan unsur dramatik melalui suasana mencekam, kejutan tak terduga, dan alur cerita yang intens. Dalam penerapan sinematografi penulis memanfaatkan komposisi gambar, pencahayaan, warna, dan pergerakan kamera untuk memperkuat efek dramatik. Beberapa inspirasi dalam pembuatan film "Wong Samar" adalah "The Shining" karya Stanley Kubrick, yang menerapkan penggunaan komposisi simetris serta pergerakan kamera lambat, serta "Hereditary" oleh Ari Aster, dimana dalam film itu memanfaatkan pencahayaan dan komposisi gambar untuk menciptakan suasana yang suram. Serta film "Losmen Melati" yang juga memberikan inspirasi melalui set yang detail dan penataan ruang untuk mendukung suasana horor. Dengan penerapan teknik komposisi, film "Wong Samar" diharapkan mampu menyajikan unsur dramatik yang kuat, serta memberikan pengalaman horor yang tak terlupakan bagi penonton, dan dapat memberikan pengalaman sinematik yang mencekam.
PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER NAUR PENEMPUH DENGAN PENDEKATAN GAYA EKSPOSITORI Widhi Asih, Made; Payuyasa, I Nyoman; Denny Chrisna Putra, I Made
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Calaccitra November 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film dokumenter memiliki potensi besar untuk menyampaikan warisan budaya, sejarah, dan nilai-nilai melalui visualisasi gambar dan suara, sehingga lebih banyak menjangkau masyarakat. Film dokumenter juga memiliki beberapa gaya pengimplementasiannya, salah satunya adalah pendekatan gaya ekspository, penerapannya pada film dokumenter yaitu berisi sebuah narasi sebagai pengantar penonton menuju materi pada film dokumenter yang ingin di sampaikan atau dengan kata lain sebagai benang merah pada cerita. Materi film yang di sampaikan melalui film dokumenter ini adalah tradisi yang berasal dari sebuah daerah, tepatnya di Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Tradisi yang diangkat bernama tradisi Naur Penempuh, merupakan tradisi pembayaran hutang yang hanya dilakukan apabila seorang perempuan asli Desa Suwug melakukan pernikahan dengan laki laki dari luar dari Desa. Tradisi Naur Penempuh, merupakan salah satu tradisi yang belum mempunyai publikasi mengenai pemaknaannya secara lengkap dan jelas, maka dari itu penulis akan memvisualisasikan sejarah, pemaknaan serta bagaimana pelaksanaan dari tradisi Naur Penempuh ini melalui sebuah film dokumenter dengan metode observasional dan wawancara untuk penggalian sumber informasinya, serta melakuakn pengkonsepan film baik secara materi, narasi, serta visualisasinya.
GAYA DAN STRUKTUR DOKUMENTER DI BALIK LAYAR PRODUKSI FILM PENDEK CENING NEPUKIN I KAWA Oktrino, Gespanne Fayyadh; Putra, I Made Denny Chrisna; Bumiarta, Made Rai Budaya
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Calaccitra November 2025
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The documentary film Melihat Cening dan Kawa explores the implementation of documentary styles and Dan Harmon’s Story Circle structure to construct a compelling narrative. Unlike conventional documentation videos that merely record events chronologically, this documentary interprets and presents reality with emotional depth and storytelling elements. By analyzing Bill Nichols’ six documentary modes and their seven defining aspects, the film balances observational and participatory approaches. The creation process, divided into three stages—pre-production, production, and post-production—aligns with the production of the main film, Cening Nepukin I Kawa, ensuring a coherent structure and thematic relevance. The findings indicate that the documentary is including some of the documentray styles and structured. The use of Story Circle enhances the narrative arc, providing a clear and engaging progression. Each production phase contributes to a well-rounded story, capturing significant moments that deepen the audience’s understanding of the filmmaking journey.
KONSTRUKSI IDENTITAS KARAKTER LANSIA DALAM PENYUTRADARAAN FILM PENDEK “SEPI DI UJUNG HARI” Jasmine, Raniya; Putra, I Made Denny Chrisna; Bumiarta, Made Rai Budaya
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Calaccitra November 2025
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research explores the construction of elderly character identities in the short film "Sepi di Ujung Hari." Using Carl Plantinga’s theory, the study examines how cinematographic techniques, storytelling, and direction shape audience perception. Through script analysis, cinematography review, and directorial study, findings reveal that close-up shots, lighting contrast, and framing effectively convey emotions and psychological depth. The narrative structure further strengthens audience empathy by depicting the internal struggles of elderly individuals. Additionally, directorial choices, such as actor direction and blocking, significantly enhance authenticity. This study provides valuable insights for filmmakers in constructing engaging elderly characters and contributes to broader discussions on elderly representation in cinema.