Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PENERAPAN TEKNIK LIVE ON TAPE DALAM PRODUKSI EVENT VIRTUAL “MAGSTAR” PADA LIVE STREAMING YOUTUBE CHANNEL MAGTV I Putu Agus Endra Widiantara; I Kadek Puriartha; I Made Denny Chrisna Putra
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Calaccitra September 2022
Publisher : CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi COVID-19 memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan,sehingga menuntut manusia untuk terus berkembang dan berinovasi46Jurnal Calaccitrakhususnya pada media digital. Pemanfaatan media digital membuatbanyak masyarakat, kelompok, maupun perusahaan tetap bisa melakukanpekerjaan dan aktivitasnya. Salah satunya CV Phenominca Radharani yangbertahan berkat ide para staff-staffnya yang kreatif. Perusahaan inibertahan dengan mengandalkan teknologi media yang sangat dibutuhkandi masa pandemi ini yaitu sebuah Studio Virtual yang memiliki banyakkegunaan dibidangnya. MAGTV merupakan salah satu program yangmemanfaatkan Studio Virtual sebagai media digital pendukung padasituasi pandemi COVID-19. Setelah berjalan selama satu tahun MAGTVmerancang suatu acara yaitu kompetisi vokal dengan menghadirkan parajuri-juri yang sudah berpengalaman di ajang nasional. Pada acarakompetisi vokal “MAGSTAR” ini, MAGTV menggunakan program vMixsebagai pengganti switcher kamera. vMix merupakan software videomixer dan video switcher yang memanfaatkan kemajuan perangkat keraskomputer untuk menyediakan mixing video live HD serta berfungsisebagai live streaming software yang memungkinkan proses publikasiproduksi dapat dilakukan secara langsung ke internet. Sehingga padapelaksanaan MAGSTAR akan diimplementasikan teknik live on tapeberdasarkan ilmu yang penulis dapatkan ketika pembelajaran kognitif diperguruan tinggi. Maka dari itu tujuan penulisan tugas akhir ini adalahuntuk mendeskripsikan penerapan teknik live on tape dalam produksievent virtual “MAGSTAR” pada live streaming YouTube channel MAGTV.Pada deskripsi penerapan teknik live on tape juga dijelaskan proses alihpengetahuan, keterampilan, serta teknologi yang penlis dapatkan dalamprosesnya. Yang mana dari analisis yang telah penulis lakukan, vMixmemiliki kelebihan dalam fitur pengolahan data yang dapat bekerja cepatdan tampilan vMix yang simple memudahkan penguasaan nya sehinggakru dapat meminimalisir masalah yang dihadapi di lapangan. Keberhasilanpenerapan live on tape tersebut dapat dilihat melalui kanal YouTubechannel MAGTV berjudul MAGTSTAR.
MEMBANGUN NUANSA DRAMATIS MELALUI RHYTHMIC EDITING DALAM FILM “BUKAN KUPU-KUPU MALAM” Rizky Achmad Fadil; I Nyoman Payuyasa; I Made Denny Chrisna Putra
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Calaccitra September 2022
Publisher : CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film ”Bukan Kupu-Kupu Malam” merupakan film yang menceritakanseorang perempuan yang bekerja di sebuah karaoke dan stigma pekerjakaraoke yang buruk membuat perempuan tersebut mengalami tindakpelecehan seksual dan pemerkosaan. Penulis menerapkan aspek editingritmis pada film “Bukan Kupu-Kupu Malam” agar menimbulkan nuansadramatis kepada penonton. Proses penciptaan film ini melalui berbagaimetode, yang pertama adalah metode pencarian data dengan observasifilm karya dengan penerapan teknik ritmis yang kedua adalah bersumberdari jurnal, skripsi. Praproduksi, produksi dan pascaproduksi dilakukanuntuk menerapkan atau mengimplementasikan teknik ritmis. Dalampelaksanaannya penulis sudah melakukan banyak tahap untuk penerapanaspek editing ritmis, dari proses riset observasi dan wawancara mengenaiaspek ritmis editing dalam pasca produksi, melakukan cut scene yangmemakan waktu lama, memperhatikan dimensi shot agar menyesuaikanpada editing ritmis yang diterapkan pada film “Bukan Kupu-Kupu Malam”.Hasil dari penerapan teknik ritmis dan spasial adalah, kedua tekniktersebut memiliki cara penerapan yang berbeda – beda, aspek ritmisadalah aspek yang mampu mengontrol panjang durasi sebuah shotdengan kata lain menekankan suatu momen, sedangkan spasial adalahmemanipulasi dimensi shot, ketika dua teknik tersebut dipadupadankanpada scene 13 dan scene 20 akan menghasilkan atau mewujudkan suatuemosi yaitu membangun emosi karakter pemeran seperti ketenangan,keraguan dan ketakutan.
Mewarisi Tradisi Dari Film Dokumeter “Sang Hyang Jaran : Teja Darmaning Kauripan” I Nyoman Payuyasa; I Made Denny Chrisna Putra
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni dan budaya adalah bentuk identitas yang menjadikan Bali sebagai salah satu tujuan wisata dunia. Sekilas, seni dan budaya Bali bertahan dengan baik. Faktanya berbagai media memberitakan beberapa bentuk seni sudah punah seperti tari Sang Hyang, baris kraras, wayang wong, dan lain sebagainya. Bahkan di Karangasem terdapat sepuluh seni adat yang sudah punah. Di Kabupaten Badung terdapat lima belas jenis kebudayaan yang hampir punah, begitu juga seperti Buleleng dan Denpasar. Penting kiranya digiatkan sebuah usaha untuk menyelamatkan bentuk kesenian dan tradisi yang terancam punah. Salah satu bentuk penyelamatan untuk mewarisikan segala bentuk budaya yang rentan adalah mencatatkan dalam dokumentasi audio dan visual seperti film. Terdapat sebuah film dokumenter yang sangat menarik untuk dikaji, yaitu film dokumenter yang berjudul “Sang Hyang Jaran : Teja Darmaning Kauripan”. Film ini merekam perwujudan kembali seni tari Sang Hyang Jaran di Desa Sanur Kaja yang sempat punah. Masalah menarik yang dikaji dalam penelitian ini adalah unsur pembentuk film dokumenter “Sang Hyang Jaran : Teja Darmaning Kauripan” sebagai bentuk media untuk mewariskan sebuah tradisi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data observasi dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan prosedur model interaktif Milles dengan tahapan tiga analisis data, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) verifikasi atau penarikan simpulan. hasil penelitian ini adalah film ini dokumenter ini dapat dimanfaatkan sebagai media mewariskan seni tradisi yang dapat dilihat dari dua unsur pembentuk film : yaitu unsur visual meliputi observasionalisme proaktif dan observasional reaktif dan unsur verbal kesaksian.
Using The Documentary Film “Sang Hyang Jaran: Teja Darmaning Kauripan” as A Medium For Preserving Traditional Art I Nyoman Payuyasa; I Made Denny Chrisna Putra
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 5 No. 1 (2022): April
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lekesan.v5i1.1988

Abstract

Arts and culture make Bali one of the world's tourist destinations. At first glance, it seems that Balinese art and culture are holding up well. In fact, various media reports that several art forms have become extinct, such as the Sang Hyang dance, the baris kraras dance, the wayang wong dance, and so on. Even in Karangasem, there are ten traditional arts that have become extinct. In Badung Regency, there are fifteen types of culture that are almost extinct, as well as in Buleleng and Denpasar. It is very important to save endangered art forms by using audio-visual media, especially documentary films. There is a documentary that is very interesting to study, namely a documentary entitled "Sang Hyang Jaran: Teja Darmaning Kauripan". This film records the re-embodiment of the art of the Sang Hyang Jaran dance in Sanur Kaja Village, which was once extinct. The problem studied in this study is how to use the documentary film "Sang Hyang Jaran: Teja Darmaning Kauripan" as a medium for preserving traditional arts? This research is a qualitative descriptive study using observation and interview data collection methods. Data analysis in this study used the Milles interactive model procedure with three stages of data analysis, namely (1) data reduction, (2) data presentation, and (3) verification or drawing conclusions. The result of this study is that the use of this film as a medium for preserving traditional arts can be seen from two elements, namely the first element is the visual element which includes the proactive observationalism and reactive observationalism, and the second element is verbal testimony.
Electronic News Gathering (Eng) Style in The Production of Dabdap Putih Village’s Profile Video I Made Denny Chrisna Putra; Nyoman Lia Susanthi; I Nyoman Payuyasa; Made Rai Budaya Bumiarta; Ida Bagus Hari Kayana Putra; Gangga Lawranta; Ketut Hery Budiyana
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research focuses on analyzing the process of creating a profile video of Dabdap Putih Village with the application of the Electronic News Gathering (ENG style) concept as part of village branding efforts. The background of the study illustrates the change of village name from Dapdap Putih to Tista, which is considered to have a negative impact on the community's economy. In response, on January 1, 2023, the name of the village was re-inaugurated as Dapdap Putih, requiring an effective information medium to disseminate this change. The research method used is qualitative with data collection through literature studies, in-depth interviews with related parties, direct observation at profile video production sites, and electronic and non-electronic media documentation. The research analysis refers to the concept of ENG style by utilizing film production management theory and process management. The results of the analysis show that the use of ENG mode in making profile videos provides speed, flexibility in editing, and effective mobility. The production process of the Dabdap Putih Village profile video consists of three stages, namely pre-production, production, and post-production. In production management, five management process frameworks are applied: planning, organizing, staffing, leading, and controlling. In conclusion, the use of modern media technology such as village profile videos with an ENG style approach can be an effective village branding tool. With the involvement of a skilled production team, the use of this technique can increase efficiency in disseminating information and promoting village name changes, as well as showing the best characteristics of the village to the wider community.
“PADU AREP” FILM DOKUMENTER GENDING RARE DALAM HEGEMONI BUDAYA POP Putra, I Made Denny Chrisna; Pamungkas, Epriliana Fitri Ayu; Bumiarta, Made Rai Budaya
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan cinta kasih antara orang tua dengan anaknya, termasuk pola didik, bisa diumpamakan sebagai samudra yang hadir dalam khazanah material dan spiritual, mengandung makna yang mendalam. Seperti samudra yang menyediakan kehidupan bagi berbagai makhluk laut, orang tua juga melalui gending rare memberikan pendidikan dan dukungan untuk membantu anak berkembang secara karakter dan emosional. Berdasarkan pengamatan, dalam lima tahun trakhir gending rare mulai kehilangan popularitas di kalangan masyarakat Bali. Pengaruh globalisasi memunculkan anggapan bahwa menyanyikannya merupakan keterbelakangan budaya sehingga orang tua lebih memilih untuk menyanyikan anaknya lagu asing dan popular, begitu pula dengan anak-anak. Upaya melestarikan seni budaya di tengah arus globalisasi dan hegemoni budaya pop diperlukan langkah yang tepat. Penciptaan film dokumenter diterapkan dalam upaya mempopulerkan kembali gending rare pada masyarakat luas. Penggunaan narasi dan kehadiran subjektifitas pembuat mampu membentuk opini penonton. Penciptaan film dokumenter “Padu Arep” menggunakan metode yang diawali dengan riset dan menerapkan tiga tahap baku proses produksi karya film yaitu pra-produksi, produksi dan pasca produksi. Kebaruan dalam penciptaan ini menjawab permasalahan untuk melestarikan gending rare dan mempopulerkannya kembali melalui penciptaan karya film dokumenter berjudul “Padu Arep” yang memiliki arti mencocokan bersama-sama atau bermakna menggali, melihat, mendengar, dan bertutur bersama. Implikasi dari penelitian ini mengajak penonton mempopulerkan kembali gending rare ditengah hegemoni budaya pop melalui pemanfaatan media film dan membangun kesadaran bersama akan pentingnya menjaga warisan yang tidak berwujud ini.
PENERAPAN TEKNIK COMPUTER GENERATED IMAGERY (CGI) SEBAGAI PEMBANGUN CERITA PADA MUSIC VIDEO TINKERBELLE BALI Agustina, I Kadek Indra; Yasa, Desak Putu Yogi Antari Tirta; Putra, I Made Denny Chrisna
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 4 No. 1 (2024): Junal Calaccitra Maret 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan music video Tinkerbelle Bali bertujuan menciptakan karya audio visual menarik dan memberikan manfaat luas. Harapannya, stigma negatif terhadap band metal dapat berkurang, dan Tinkerbelle mendapat dukungan untuk menyampaikan pesan lagu melalui CGI. Berdasarkan riset genre dan lirik lagu, penggunaan CGI membantu membangun cerita dan visual menarik, sambil tetap memperhatikan cerita dan semiotika. Diharapkan karya ini berdampak positif pada berbagai lapisan masyarakat, mendorong Tinkerbelle untuk terus menciptakan karya menarik.
TOKOH DAN PENOKOHAN PADA PENCIPTAAN NASKAH FILM PERCEPTION Armandio, Michelly Dante; Payuyasa, I Nyoman; Putra, I Made Denny Chrisna
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 4 No. 1 (2024): Junal Calaccitra Maret 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

"Perception" adalah judul naskah film yang dicaptakan dengan memasuki dunia secara psikis melalui narasi sinematik, menyatukan teori-teori Sigmund Freud dengan kedalaman naratif. Karakter-karakter menggambarkan konsep-konsep Freud, menjelajahi dorongan id, konflik ego, dan bayang-bayang bawah sadar. Saat cerita terbuka, penonton dihadapkan pada diri mereka sendiri, menjelajahi tema-tema penindasan, hasrat, dan penebusan. Melalui perpaduan seni dan psikologi ini, "Perception" mengundang penonton untuk mengungkap misteri di dalam diri mereka sendiri.
PENERAPAN ASPEK KOMPOSISI GAMBAR SEBAGAI PENDUKUNG UNSUR DRAMATIK DALAM FILM WONG SAMAR Manik Darmaputra , Ida Bagus; Denny Chrisna Putra, I Made; Hari Kayana, Ida Bagus
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Calaccitra November 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinematografi memainkan peran penting dalam dunia perfilman, terutama untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Unsur dramatik dalam sebuah film mencakup konflik, klimaks, resolusi, dan pengembangan karakter yang semuanya bertujuan untuk memicu respons emosional dari penonton. Dalam film "Wong Samar" penulis menggunakan berbagai teknik komposisi gambar untuk mendukung unsur dramatik. Dalam pembuatan film horor, pembuat film biasanya menekankan unsur dramatik melalui suasana mencekam, kejutan tak terduga, dan alur cerita yang intens. Dalam penerapan sinematografi penulis memanfaatkan komposisi gambar, pencahayaan, warna, dan pergerakan kamera untuk memperkuat efek dramatik. Beberapa inspirasi dalam pembuatan film "Wong Samar" adalah "The Shining" karya Stanley Kubrick, yang menerapkan penggunaan komposisi simetris serta pergerakan kamera lambat, serta "Hereditary" oleh Ari Aster, dimana dalam film itu memanfaatkan pencahayaan dan komposisi gambar untuk menciptakan suasana yang suram. Serta film "Losmen Melati" yang juga memberikan inspirasi melalui set yang detail dan penataan ruang untuk mendukung suasana horor. Dengan penerapan teknik komposisi, film "Wong Samar" diharapkan mampu menyajikan unsur dramatik yang kuat, serta memberikan pengalaman horor yang tak terlupakan bagi penonton, dan dapat memberikan pengalaman sinematik yang mencekam.
PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER NAUR PENEMPUH DENGAN PENDEKATAN GAYA EKSPOSITORI Widhi Asih, Made; Payuyasa, I Nyoman; Denny Chrisna Putra, I Made
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Calaccitra November 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film dokumenter memiliki potensi besar untuk menyampaikan warisan budaya, sejarah, dan nilai-nilai melalui visualisasi gambar dan suara, sehingga lebih banyak menjangkau masyarakat. Film dokumenter juga memiliki beberapa gaya pengimplementasiannya, salah satunya adalah pendekatan gaya ekspository, penerapannya pada film dokumenter yaitu berisi sebuah narasi sebagai pengantar penonton menuju materi pada film dokumenter yang ingin di sampaikan atau dengan kata lain sebagai benang merah pada cerita. Materi film yang di sampaikan melalui film dokumenter ini adalah tradisi yang berasal dari sebuah daerah, tepatnya di Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Tradisi yang diangkat bernama tradisi Naur Penempuh, merupakan tradisi pembayaran hutang yang hanya dilakukan apabila seorang perempuan asli Desa Suwug melakukan pernikahan dengan laki laki dari luar dari Desa. Tradisi Naur Penempuh, merupakan salah satu tradisi yang belum mempunyai publikasi mengenai pemaknaannya secara lengkap dan jelas, maka dari itu penulis akan memvisualisasikan sejarah, pemaknaan serta bagaimana pelaksanaan dari tradisi Naur Penempuh ini melalui sebuah film dokumenter dengan metode observasional dan wawancara untuk penggalian sumber informasinya, serta melakuakn pengkonsepan film baik secara materi, narasi, serta visualisasinya.