Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

FENOMENA TIDUR BERSAMA BOS : POTRET DOMINASI PRIA DI TEMPAT KERJA SITI MARIYAM; ADHI PUTRA SATRIA
GANEC SWARA Vol 17, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Mahasaraswati K. Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35327/gara.v17i2.468

Abstract

This is a conceptual article discussing the phenomenon of staycations, or vacations taken in the same location as one's workplace, between bosses and female employees that has gone viral on social media. This practice can potentially lead to sexual harassment of female employees and reaffirms the domination of men over women in the workplace. Furthermore, many staycation victims are reluctant to report incidents due to a lack of trust in the state's protection system for its citizens. In this article, the author will discuss factors that contribute to victims' reluctance to report such harassment, such as gender inequality and power imbalances in work relationships. As a solution, an active role is needed from the government and companies to ensure the safety and protection of employee rights, especially for women. In addition, there is a need for increased awareness and education about workers' rights and self-protection against sexual harassment in the workplace.
What are the Forms and Obstacles of Community Participation in Environmental Damage Prevention? Siti Mariyam; Adhi Putra Satria; M. Samsudin
Administrative and Environmental Law Review Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25041/aelr.v4i2.2992

Abstract

This research examines the national and international legal frameworks governing community involvement in environmental damage prevention and the challenges and various forms of community participation in environmental damage prevention efforts globally. This study uses a qualitative method to conduct normative legal research, which involves a literature review of various international legal instruments and field cases related to community participation in the prevention of environmental damage and uses Seherly Arnenstein's theory of community participation to examine community participation in environmental conservation. The results show that community participation in preventing environmental damage has a legal position at the national and international levels. At the international level, several agreements, such as the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), the Convention on Biological Diversity (CBD), and the Basel Convention, have established a legal framework for preventing environmental damage, including community participation. Meanwhile, at the national level, Law No. 32/2009 on Environmental Protection and Management (UU PPLH) has regulated the rights and obligations of the community in protecting the environment. Furthermore, this study found that community participation in preventing environmental damage can be done through various means, such as decision-making processes, access to environmental information, and participation in implementing environmental policies. However, there are still challenges and obstacles in its implementation, such as limited access to information, lack of public awareness, and lack of government and private sector support. Based on this, more significant efforts are needed to strengthen community participation in preventing environmental damage, including increasing access to environmental education and information and establishing more active and effective forums for community participation. The active involvement of the government, civil society organizations, and private institutions is needed to ensure that community participation in preventing environmental damage can be achieved.
Perlindungan Hukum Pelaku Usaha Tradisional dari Ekspansi Ritel Modern Perspektif Negara Hukum Pancasila Sri Hartati; Rubiyanto Rubiyanto; Ceprudin Ceprudin; Siti Mariyam
Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Iqtisad
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/iq.v10i2.9583

Abstract

Legal protection for traditional retail businesses in the perspective of Pancasila state law must include efforts to create a sustainable and inclusive economic environment. By the principles of Pancasila, legal protection for traditional retail businesses can play an important role in maintaining the continuity of traditional businesses and preserving local cultural values. The Pancasila legal state is not only a legal framework but also reflects the soul and values of the Indonesian nation. The research method used in this research is descriptive-qualitative with a library approach. The law governing the layout of modern retail stores to protect traditional stores by adhering to Pancasila values has a significant impact on business and socio-economic conditions in Indonesia. Presidential Regulation Number 112 of 2007 is the main basis for setting the role of modern shops and traditional shops. Apart from implementation challenges, this regulation protects small and traditional businesses by providing equal opportunities for training and protection as well as maintaining a balance of competition. Reconstruction of modern shop organizations in residential areas with due observance of Pancasila values encourages cooperation and harmonization of modernity and local culture. By bringing together cooperation, solidarity, and diversity, this framework creates a fair, inclusive, and sustainable business environment.Keywords: Traditional retail; modern retail; law; reconstruction; PancasilaAbstrakPerlindungan hukum terhadap usaha ritel tradisional dalam perspektif hukum negara Pancasila harus mencakup upaya untuk menciptakan lingkungan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Sesuai dengan asas Pancasila, perlindungan hukum terhadap usaha ritel tradisional dapat berperan penting dalam menjaga keberlangsungan usaha tradisional dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal. Negara hukum Pancasila bukan hanya kerangka hukum, tetapi juga mencerminkan jiwa dan nilai-nilai bangsa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Undang-undang yang mengatur tata letak toko ritel modern untuk melindungi toko tradisional dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila berdampak signifikan terhadap kondisi bisnis dan sosial ekonomi di Indonesia. Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 menjadi dasar utama pengaturan peran toko modern dan toko tradisional. Terlepas dari tantangan implementasi, peraturan ini melindungi usaha kecil dan tradisional dengan memberikan kesempatan yang sama untuk pelatihan dan perlindungan serta menjaga keseimbangan persaingan.Rekonstruksi organisasi toko modern di kawasan pemukiman dengan memperhatikan nilai-nilai Pancasila mendorong kerjasama dan harmonisasi modernitas dan budaya lokal. Dengan menyatukan gotong royong, solidaritas dan keragaman, kerangka kerja ini menciptakan lingkungan bisnis yang adil, inklusif dan berkelanjutan.
Mewujudkan Perlindungan Hukum bagi Pekerja Anak melalui Edukasi Hak Anak dan Ketenagakerjaan di Panti Sosial Anak Tawangmangu Mahmuda Pancawisma Febriharini; Hadi Karyono; Krismiyarsi; Siti Mariyam
Jurnal Suara Pengabdian 45 Vol. 5 No. 2 (2026): Juni: Jurnal Suara Pengabdian 45
Publisher : LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/pengabdian45.v5i2.3876

Abstract

Anak merupakan amanah dan generasi penerus bangsa yang harus memperoleh perlindungan secara optimal dari segala bentuk eksploitasi, termasuk eksploitasi ekonomi melalui pekerjaan yang dapat mengganggu tumbuh kembangnya. Meskipun hukum Indonesia telah mengatur perlindungan anak melalui Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, masih ditemukan rendahnya pemahaman anak dan masyarakat mengenai hak-hak anak dalam dunia kerja. Kegiatan penyuluhan hukum ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran hukum anak-anak di Panti Sosial Anak Tawangmangu mengenai hak anak, batasan pekerjaan yang diperbolehkan bagi anak, serta perlindungan hukum terhadap praktik eksploitasi anak. Metode yang digunakan berupa ceramah, diskusi interaktif, studi kasus, dan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil penyuluhan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai hak-hak anak, ketentuan pekerja anak, dan mekanisme perlindungan hukum apabila terjadi pelanggaran hak anak. Penyuluhan hukum ini diharapkan mampu membangun kesadaran hukum sejak dini sehingga anak-anak dapat memahami hak dan kewajibannya serta terhindar dari berbagai bentuk eksploitasi ekonomi dan pelanggaran hak anak.
BUDAYA HUKUM PADA PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR TERHADAP KESELAMATAN LALU LINTAS Siti Mariyam; Kunarto Kunarto; Mig Irianto; Agus Widodo
UNTAG Law Review Vol 9, No 1 (2025): UNTAG LAW REVIEW
Publisher : Faculty of Law Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/ulrev.v9i1.5511

Abstract

Keselamatan berlalu lintas merupakan kebutuhan dasar manusia yang berkaitan dengan hak untuk hidup dan merasa aman. Namun, tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia menunjukkan masih rendahnya budaya hukum pengemudi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potret budaya hukum pengemudi kendaraan bermotor di Indonesia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya terhadap keselamatan lalu lintas. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan yuridis sosiologis dan memanfaatkan Teori Sistem Hukum Lawrence M. Friedman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya hukum pengemudi di Indonesia masih rendah, ditandai dengan kurangnya pengetahuan dan pemahaman hukum lalu lintas, sikap yang mengabaikan keselamatan, serta perilaku yang cenderung melanggar aturan. Faktor-faktor yang mempengaruhi budaya hukum pengemudi meliputi faktor internal (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pemahaman agama, dan pengalaman berkendara) dan faktor eksternal (lingkungan sosial, penegakan hukum, kondisi infrastruktur jalan, dan akses terhadap informasi serta edukasi lalu lintas). Upaya perbaikan budaya hukum pengemudi perlu dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan melalui peningkatan efektivitas penegakan hukum, optimalisasi program edukasi dan sosialisasi, penguatan peran serta masyarakat, pemanfaatan teknologi, serta kerjasama antar stakeholder.
Pengaruh Teknologi dan Globalisasi terhadap Perkembangan Cybercrime dalam Perdagangan Berjangka Bitcoin di Indonesia Siti Mariyam; Masrkus Suryoutomo
Jurnal Suara Pengabdian 45 Vol. 5 No. 1 (2026): Maret: Jurnal Suara Pengabdian 45
Publisher : LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/njz6tb13

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi blockchain dan arus globalisasi telah mendorong penggunaan Bitcoin di Indonesia, yang kini diakui sebagai komoditas dalam perdagangan berjangka. Namun, karakteristik anonimitas dan desentralisasi mata uang digital ini membuka celah signifikan bagi kemunculan cybercrime, seperti pencucian uang dan peretasan, yang menuntut perhatian yuridis serius. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak teknologi tersebut terhadap risiko kejahatan siber serta efektivitas regulasi yang berlaku. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan untuk menelaah kerangka hukum terkait. Hasil penelitian menunjukkan adanya dualisme regulasi di Indonesia, di mana Bappebti melegalkan Bitcoin sebagai aset investasi, sementara Bank Indonesia melarangnya sebagai alat pembayaran. Ketidaksinkronan ini, diperparah dengan sifat lintas batas blockchain, menciptakan tantangan dalam penegakan hukum terhadap kejahatan siber. Disimpulkan bahwa harmonisasi regulasi antara otoritas keuangan dan penguatan aturan keamanan siber sangat mendesak dilakukan guna memitigasi risiko kejahatan tanpa menghambat inovasi ekonomi digital.
Between Efficiency And Risk: Data Security in Digital Transportation And the Legal Liability of Platform Providers Siti Mariyam; Mahmuda Pancawisma Febriharini; Krismiyarsi; Hadi Karyono
Jurnal Ilmu Hukum Tambun Bungai Vol 11 No 1 (2026): June 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Tambun Bungai Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61394/jihtb.v11i1.634

Abstract

The era of digitalization has revolutionized the transportation sector, both air and land, by bringing operational service efficiency and transaction practicality for consumers. However, this massive digital transformation poses serious challenges regarding cybersecurity vulnerabilities and the protection of users' personal data privacy. This study aims to examine the legal protection of digital personal data of ride-hailing users in Indonesia and to analyze the responsibility of application provider companies for potential data protection failures. Through a normative legal approach, the study indicates that legal protection for consumers' digital privacy remains weak. This weakness is driven by specific regulatory gaps, the implementation of standard clauses that disadvantage consumers by shifting liability, and the storage of data outside Indonesia's legal jurisdiction which complicates oversight. Furthermore, companies often claim to be merely technology platform providers, effectively positioning themselves as having no direct responsibility for consumer losses, including the potential misuse of data by third parties such as driver-partners. In conclusion, specific regulations and comprehensive legal mechanisms are urgently needed to effectively ensure the protection of users' privacy rights in the digital era.
Pengaruh UU Ciptakerja Terhadap Kinerja Dan Keseimbangan Pasar Investasi Di Indonesia Andi Wasis; Siti Mariyam; Kunarto
Notary Law Research Vol. 5 No. 2 (2024): Juni: Notary Law Research
Publisher : Program Studi Kenotariatan Program Magister Fakultas Hukum UNTAG Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/nlr.v5i2.1640

Abstract

Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) telah menjadi fokus perhatian dalam upaya pemerintah Indonesia untuk mereformasi struktur ekonomi guna meningkatkan daya saing. Dalam konteks pasar investasi, implementasi UU Ciptaker menjadi kunci dalam memahami perubahan dalam kinerja dan keseimbangan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh UU Ciptaker terhadap pasar investasi di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan data statistik untuk mengukur dampak UU Ciptaker terhadap kinerja dan keseimbangan pasar investasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi UU Ciptaker memiliki dampak yang signifikan terhadap pasar investasi, terutama dalam perubahan tren pertumbuhan, distribusi aset, dan struktur pasar. Terlihat adanya perubahan yang cukup besar dalam berbagai aspek pasar investasi setelah UU Ciptaker diberlakukan. Dengan demikian, kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa UU Ciptaker memainkan peran penting dalam membentuk kinerja dan keseimbangan pasar investasi di Indonesia. Implikasi dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk merumuskan kebijakan ekonomi yang lebih efektif dalam mendukung pertumbuhan pasar investasi di Indonesia. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah untuk memperluas cakupan analisis dan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi pasar investasi di Indonesia secara lebih komprehensif.
Efforts to Overcome Illegal Fishing Practices as a form of Criminal Action in The Economic Field Eva - Arief; Siti Mariyam
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 23 No. 1 (2024): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v23i3.5329

Abstract

Indonesia is an archipelago with a larger water area than land, which produces abundant marine wealth which is a strategic potential for national economic development. Geo-politically, Indonesia has a very strategic role because it is located between the Asian continent and the Australian continent, as well as the Pacific and Indian oceans, placing Indonesia as the world's maritime axis in the context of global trade connecting the Asia-Pacific region with Australia. Indonesia is often faced with various security issues and violations of the law in Indonesia's marine territory, including illegal fishing, which causes significant losses. Illegal fishing is a form of illegal action that can have an impact on the country's economy. Therefore, illegal fishing can be qualified as an economic crime. Illegal fishing can be classified as property crimes because its existence clearly threatens the safety of the State's property or wealth. Thus, the qualification as an economic crime is more on the basis of consideration of the consequences/loss caused to the state economy.