Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Identifikasi Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Bank Sampah Dinda Audina; Lely Syiddatul Akliyah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8838

Abstract

Abstract. The waste bank management is one of the work programs in Cipamokolan Village as a form of effort in carrying out household-scale waste management. However, not all residents of each RW in Cipamokolan Village have participated in waste management efforts through waste bank management activities. The purpose of this study is to identify what factors that affecting community participation in waste bank management in Cipamokolan Village. The approach method used in this study is a quantitative method with the Guttman scale analysis method and multiple linear regression analysis. Based on the results of the study, it was found that community participation with the status of members in the planning stage of waste bank activities in Cipamokolan Village was classified into the high participation category with a percentage of 68%, while non-members were classified as moderate participation with a percentage of 49%. Furthermore, the participation of the community with the status of members in the stage of implementing waste bank activities in Cipamokolan Village is classified into the high participation category with a percentage of 75.6%, while non-members are classified as moderate participation with a percentage of 37%. There were also 3 factors that influenced community participation in this study, namely land availability variables, environmental/people influence variables, and communication effectiveness variables. Therefore, the management of the waste bank must strive for socialization and community empowerment so that they can participate in managing the waste bank. Therefore, the management of the waste bank must strive for socialization and community empowerment so that they can participate in managing the waste bank. Abstrak. Pengelolaan bank sampah menjadi salah satu program kerja di Kelurahan Cipamokolan sebagai salah satu bentuk upaya dalam melaksanakan pengelolaan sampah skala rumah tangga. Namun, belum semua warga tiap RW di Kelurahan Cipamokolan yang ikut serta dalam upaya pengelolaan sampah melalui kegiatan pengelolaan bank sampah. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi faktor apa saja yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Bank Sampah di Kelurahan Cipamokolan. Metode pendekatan yang digunakan pada penelitian ini ialah metode kuantitatif dengan metode analisis skala Guttman dan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa partisipasi masyarakat yang berstatus sebagai anggota dalam tahap perencanaan kegiatan bank sampah di Kelurahan Cipamokolan ini tergolong ke dalam kategori partisipasi tinggi dengan persentase sebesar 68%, sedangkan untuk non anggota tergolong kedalam partisipasi sedang dengan persentase sebesar 49%. Selanjutnya, partisipasi masyarakat yang berstatus sebagai anggota dalam tahap pelaksanaan kegiatan bank sampah di Kelurahan Cipamokolan ini tergolong ke dalam kategori partisipasi tinggi dengan persentase sebesar 75,6%, sedangkan untuk non anggota tergolong kedalam partisipasi sedang dengan persentase sebesar 37%. Ditemukan juga 3 faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat pada penelitian ini, yaitu variabel ketersediaan lahan, variabel pengaruh lingkungan/orang sekitar, dan variabel efektivitas komunikasi. Oleh karena itu, pihak pengelola bank sampah harus mengupayakan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat agar turut berpartisipasi dalam pengelolaan bank sampah.
NILAI EKONOMI TAMAN HUTAN RAYA IR. H. JUANDA KOTA BANDUNG DENGAN METODE BIAYA PERJALANAN LELY SYIDDATUL AKLIYAH
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 10 No. 2 (2010)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v10i2.247

Abstract

Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan rekreasi. TAHURA Ir. H. Juanda memiliki daya tarik wisata alam yang cukup beragam dengan berbagai obyek wisata yang cukup menarik. Dalam rangka pemanfaatan sumberdaya alam di Kawasan Tahura Juanda yang optimal, maka dilakukan penelitian tentang penilaian terhadap semua manfaat yang dapat dihasilkan oleh sumberdaya alam (valuasi ekonomi) tersebut dengan metode biaya perjalanan (Travel Cost Method).
KARAKTERISTIK PEMETAAN MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL DI KABUPATEN BEKASI LELY SYIDDATUL AKLIYAH
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 11 No. 1 (2011)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v11i1.250

Abstract

Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial atau PMKS yang ada di Kabupaten Bekasi sangat penting untuk diidentifikasi karena adanya keinginan dari Pemda kabupaten Bekasi untuk mensejahteraan masyarakanya. Pemetaan dilakukan dengan teknis survey sampling ke seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Bekasi. Hasil dari pemetaan menunjukkan jumlah Penyandang cacat yang ada cukup banyak dan pada umumnya merupakan penyandang cacat fisik mental, bukan karena penderita penyakit kronis. Jumlah penyandang tuna susila di Kabupaten Bekasi hanya terkonsentrasi di beberapa kecamatan yaitu, Kecamatan Karang Bahagia, Cibarusah, Tambun Utara dan Sukakarya. Korban penyalahgunaan NAPZA dari tahun ke tahun meningkat terus akibat berbagai factor, khususnya factor lingkungan. Penyandang HIV/AIDS terkonsentrasi di Kecamatan Tambun Utara karena terkait dengan kegiatan penyandang tuna susila.
IDENTIFIKASI DAMPAK PERUBAHAN FUNGSI EKOSISTEM PESISIR TERHADAP LINGKUNGAN DI WILAYAH PESISIR KECAMATAN MUARAGEMBONG YULIA ASYIAWATI; LELY SYIDDATUL AKLIYAH
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 14 No. 1 (2014)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v14i1.275

Abstract

Perubahan yang terjadi pada wilayah pesisir dan laut tidak hanya sekedar gejala alam semata, tetapi kondisi ini sangat besar dipengaruhi oleh aktifitas manusia yang ada di sekitarnya. Wilayah pesisir merupakan wilayah penerima tekanan lebih besar dibandingkan dengan wilayah lain, karena wilayah pesisir mempunyai fungsi sebagai penyedia sumberdaya alam, penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan, penyedia jasa kenyamanan dan sebagai penerima limbah dari aktivitas pembangunan yang terdapat di lahan atas (lahan daratan) seperti kegiatan permukiman aktivitas perdagangan, perikanan dan kegiatan industri. Semua dari kegiatan tersebut memberikan dampak terhadap wilayah pesisir yang dapat mempengaruhi pada kualitas lingkungan wilayah pesisir terutama pada penurunan kualitas ekosistem pesisir. Wilayah Pesisir Muaragembong dimanfaatkan sebagai multiuse, mengakibatkan ketidakteraturan dalam pemanfaatan kawasan sehingga menimbulkan perubahan fungsi dari ekosistem pesisir yang mengakibatkan penurunan terhadap kualitas ekosistem dan lingkungan. Hal ini mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan di wilayah pesisir Kecamatan Muaragembong. Berdasarkan kondisi yang ada, maka artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak perubahan fungsi ekosistem pesisir terhadap lingkungan di wilayah pesisir khusnya yang menjadi lokus kajian di wilayah pesisir Kecamatan muaragembong. Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang identifikasi dampak yang ditimbulkan dari perubahan fungsi ekosistem pesisir di Wilayah Pesisir Muaragembong,
Strategi Pengembangan Desa Wisata Berbasis Participatory Planning Gina Puspitasari Rochman Rochman; Lely Syiddatul Akliyah; Irland Fardani; Tarlani Tarlani; Nurcahyo Prabowo Prabowo
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v6i2.2084

Abstract

Pemerintah berupaya meningkatkan pengembangan ekonomi lokal melalui kebijakan pengembangan desa wisata. Desa Lamajang merupakan salah satu desa wisata berbasis budaya dan alam yang ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Bandung sejak tahun 2011. Desa ini memiliki potensi alam dan budaya yang dikembangkan sebagai atraksi wisata. Namun, kegiatan wisata mengalami stagnansi dan pengelolaan tidak berjalan sejak tahun 2017. Pada tahun 2021, pemerintah desa mengaktifkan kembali lembaga pengelola desa wisata yang merupakan mitra utama dalam kegiatan pengabdian ini. Permasalahan mitra dalam pengelolaan desa wisata adalah keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam penyusunan rencana pengembangan desa wisata. Artikel ini menguraikan proses dan hasil kegiatan pengabdian yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas mitra dalam mengelola desa wisata, khususnya dalam proses merencanakan pengembangan desa wisata. Kegiatan pengabdian menggunakan pendekatan participatory planning melalui metode pemetaan potensi dan masalah, serta focus group discussion (FGD). Sementara itu, perumusan strategi pengembangan menggunakan metode analisis SWOT. Kegiatan ini mampu mendorong peningkatan pengetahuan dan pengalaman mitra dalam memahami potensi dan masalah desa, serta merencanakan pengembangan desa wisata di masa mendatang. Selain itu, kegiatan ini menghasilkan strategi pengembangan desa wisata yang telah disepakati bersama para pemangku kepentingan terkait sektor pariwisata di tingkat desa.
Identifikasi Faktor Kurang Berjalannya TPS3R Citepus di Pasawahan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung Kania Sephiya Sunardi; Lely Syiddatul Akliyah
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 3, No. 2, Desember 2023, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v3i2.2758

Abstract

Abstract. The 3R Temporary Disposal Site (TPS) in Citepus, Pasawahan Village is a solution to the problem of waste by the community, but in reality, many problems occur such as the ineffectiveness of the 3R Temporary Disposal Site (TPS). So it is necessary to identify the factors that are not working properly at the 3R Temporary Disposal Site (TPS) in Citepus by identifying variables and supporting aspects to find out the factors that are not working properly at the 3R Temporary Disposal Site. This study used a quantitative descriptive analysis method by looking at the percentage of trends in the data and then comparing the existing conditions of the 3R Temporary Disposal Site. There are many variables obtained to identify factors that are not working at the Citepus 3R Temporary Disposal Site. Based on the identification results, 8 causal variables out of 13 variables are found that are not in accordance with their proper function, such as increasing the volume of waste residue, decreasing the volume of organic waste, no waste utilization, the location of the Temporary Disposal Site entering the flood area, no use of waste processing equipment, lack of waste management human resources, unfulfilled operational maintenance costs and no community involvement in management. The ineffectiveness of waste management at Temporary Disposal Sites is caused by the ineffectiveness of the 3R concept, which should be the core of the management carried out. Abstrak. TPS 3R Citepus Kelurahan Pasawahan disebut sebagai solusi dari permasalahan persampahan oleh masyarakat namun, kenyataannya banyak masalah yang terjadi seperti kurang berjalanya TPS 3R sehingga menjadikan tidak berjalannya konsep 3R pada TPS tersebut. Maka dari itu perlunya mengidentifikasi faktor kurang berjalannya TPS 3R Citepus dengan mengetahui variabel dan aspek pendukung untuk mengetahui indikator dalam hal faktor kurang berjalannya TPS 3R. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dengan melihat persentase kecenderungan data kemudian membandingkan ketentuan eksistingnya yaitu TPS 3R. Terdapat banyak variabel yang didapatkan untuk mengidentifikasi faktor kurang berjalannya TPS 3R Citepus, Berdasarkan hasil identifikasi didapatkan 8 variabel penyebab dari 13 variabel yang tidak sesuai dengan fungsi TPS 3R yang seharusnya, seperti meningkatnya volume residu sampah, menurunya volume sampah organik, tidak adanya pemanfaatan sampah, lokasi TPS masuk kedalam kawasan banjir, tidak adanya penggunaan alat pengolah sampah, kurangnya SDM pengelola sampah, belum terpenuhinya biaya pemeliharaan operasional dan tidak adanya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan. Kurang berjalannya pengelolaan sampah di TPS diakibatkan tidak berjalannya konsep 3R, yang dimana seharusnya konsep tersebut menjadi inti dari pengelolaan yang dijalankan.
PREFERENSI PENUMPANG KERETA API CIKURAY (GARUT KOTA-PASAR SENEN PP) Yusuf Erlangga, Rizki; Syiddatul Akliyah, Lely; Judiantono, Tonny
Berkala Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi Vol. 2 No. 1 (2024): Berkala Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi
Publisher : Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Jember dan Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/berkalafstpt.v2i1.907

Abstract

Cikuray train is an economy class train that serves Garut Kota, West Java province, to Pasar Senen station in Jakarta. The train has operated since early 2022 and shows a significant passenger increase. Amid the many choices of modes for this route, it is interesting to study the preferences of the train passenger in terms of the choice of modes. This study aims to determine the preferences of passengers using this train from Garut to Jakarta and other cities that it passes. Questionnaires were distributed to 211 passengers using cluster random sampling and assessed by the Likert scoring method and descriptive statistics on the reasons for using the train and first and last-mile modes. The analysis results show that ease of access, comfort, and safety are the main factors of choice; travel time and frequency of departure are the last considerations. ABSTRAK KA Cikuray merupakan kereta api kelas ekonomi yang melayani rute Garut Kota, Provinsi Jawa Barat hingga Stasiun Pasar Senen di Jakarta. Kereta api tersebut telah beroperasi sejak awal tahun 2022 dan menunjukkan peningkatan penumpang yang signifikan. Di tengah banyaknya pilihan moda pada jalur ini, menarik untuk mengkaji preferensi pilihan moda penumpang kereta api ini. Penelitian ditujukan untuk mengetahui preferensi penumpang yang menggunakan kereta api ini dari Garut menuju Jakarta dan kota-kota lain yang dilaluinya. Kuesioner dibagikan kepada 211 penumpang secara cluster random sampling, dan dinilai dengan metoda Likert, serta statistik deskriptif terhadap alasan penggunaan kereta api serta moda first dan last mile nya. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemudahan akses, kenyamanan, dan keamanan menjadi faktor utama pilihan, sedangkan waktu tempuh dan frekuensi keberangkatan menjadi pertimbangan terakhir.
Pengendalian Lingkungan: Pengaruh Edukasi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga Menggunakan Metode TAKAKURA Dewi, Rahma; Fatmadewi, Rose; Akliyah, Lely Syiddatul; Mukhsin, Dadan; Nafis’aly, Muhammad Zharfan; Raihan, Ananda Muhammad; Kurniawan, Sophi Ayni Putri
Abdi Geomedisains Vol. 5, No. 2, December 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/abdigeomedisains.v5i2.7105

Abstract

The amount of food waste and leaves generated in the city of Bandung in 2021 was 1,430.04 tons per day and will continue to increase in 2024 by 1,796.51 tons per day. This condition needs to be controlled, so that it does not cause waste problems in the city of Bandung. In light of these conditions, a team of lecturers from the Urban and Regional Planning Study Program at the Universitas Islam Bandung educated the community on the processing of food and household waste, aiming to enable the community to convert organic waste into a more beneficial resource while preventing environmental pollution, including its potential reuse as fertilizer. In order to achieve the goal of educating the community, the team conducted education on organic waste processing using the Takakura method, together with 29 women of the Ta'lim Abu Bakar Assembly at RT 001 RW 012 Sekejati Village - Buahbatu District. Service activities include 7 (seven) stages, namely planning, coordination, socialization, Pre-Test, education about waste, assistance in making products and evaluation of activities (Post-Test). In the core activity, before the presentation on the understanding of waste management using the Takakura Method, PkM participants were given a questionnaire to find out their understanding of waste and its processing system. Subsequently, the presentation of material and compost making practices using the Takakura Method was carried out, and ended with an evaluation of activities (Post-Test) with the distribution of questionnaires. The results of the PkM activity include an increase in the understanding of PkM participants from 60% to 77% after education. The highest understanding of participants in the types of organic waste and 3R waste sorting was 93%. In addition, PkM participants were also very active during the activity and continued the activity of making kompok (waste processing) using the Takakura Method in their respective homes. So it is hoped that PkM activities can help the community better understand waste sorting, the importance of sorting organic waste, a cleaner environment, and the realization of sustainability.
Valuasi Ekonomi Wisata Hutan Pinus Rahong Pangalengan dengan Metode Biaya Perjalanan Alhamdani, Sania Zaciska; Lely Syiddatul Akliyah
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6744

Abstract

Abstrak. Keberlanjutan sumber daya alam menjadi hal penting di tengah pertumbuhan pariwisata, termasuk di Hutan Pinus Rahong, Pangalengan, yang mengalami lonjakan pengunjung. Meski berdampak positif bagi ekonomi lokal, hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kelestarian hutan. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai ekonomi Hutan Pinus Rahong menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode Travel Cost Method dengan 100 responden wisatawan. Hasil analisis menunjukkan nilai ekonomi sebesar Rp99.602.532.000 per tahun, dengan surplus konsumen sebesar Rp2.766.737 per orang per kunjungan. Temuan ini menegaskan pentingnya optimalisasi potensi ekonomi hutan melalui perencanaan tata ruang yang baik dan pengelolaan lingkungan yang ketat. Pengembangan fasilitas ramah lingkungan serta kebijakan perlindungan hutan, alokasi dana konservasi, dan promosi wisata berkelanjutan dari pemerintah juga diperlukan untuk memastikan manfaat ekonomi dan kelestarian lingkungan berjalan seimbang. Abstract. The sustainability of natural resources is crucial amid the growing tourism sector, including at Rahong Pine Forest in Pangalengan, which has seen a significant increase in visitors. While this growth benefits the local economy, it also raises concerns about forest conservation. This study aims to assess the economic value of Rahong Pine Forest using a quantitative approach and the Travel Cost Method, with 100 tourist respondents. The analysis revealed an economic value of IDR 99,602,532,000 per year and a consumer surplus of IDR 2,766,737 per person per visit. These findings highlight the need to optimize the forest's economic potential through proper spatial planning and strict environmental management. Additionally, the development of eco-friendly facilities and government support in the form of forest protection policies, conservation funding, and sustainable tourism promotion are essential to ensure that economic benefits and environmental preservation go hand in hand.  
Pemetaan Tipologi Pengelolaan Sampah Secara Partisipatif di RW 05 Kelurahan Lebak Siliwangi Kota Bandung Rahma Dewi; Lely Syiddatul Akliyah; Rose Fatmadewi; Hilwati Hindersah; Muhammad Zharfan Nafis’aly; Ananda Muhammad Raihan; Sophi Ayni Putri Kurniawan
Abdi Geomedisains Vol. 6, No. 2, December 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/abdigeomedisains.v6i2.14739

Abstract

Community awareness regarding waste sorting and processing in RW 05, Lebak Siliwangi Subdistrict remains relatively low. This condition is primarily attributed to a top-down management approach and limited citizen involvement in planning and implementation processes. To foster active participation, a participatory and context-sensitive approach is essential. This activity aims to map the potential and challenges of waste management and facilitate the development of citizen-based programs. The methods employed include Focus Group Discussions (FGD), Geographic Information System (GIS)-based mapping, and classification into five management typologies based on a combination of educational status, sorting practices, and waste processing behavior. The findings reveal that out of 121 households, 67.8% have received education on waste management. However, only 25.6% practice waste sorting, and a mere 4.1% engage in waste processing. The majority (42.9%) of residents are educated but have yet to adopt sorting or processing practices, indicating the need for sustainable strategies to encourage independent waste management behaviors. This initiative produced several outputs, including thematic waste management maps, scientific publications, video documentation, and educational materials. These outputs support the ongoing efforts to achieve a Zero Waste Area status through enhanced community capacity and participation.