Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Classroom Meeting sebagai Alternatif Model Pembelajaran dan Pelaksanaannya Sulyati, Eneng
Infoman's Vol 3 No 1 (2009): Infoman's
Publisher : STMIK Sumedang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33481/infomans.v3i1.134

Abstract

“Teaching is guiding and facilitating learning, enabling the learner learns, setting the conditions for learning “(Brown, 1993:7). Dari pernyataan tersebut tampak bahwa tugas pengajar adalah menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif. Kondisi ini akan tercipta bila pengajar mampu mengelola dengan baik seluruh komponen pembelajaran yang terlibat, termasuk pembelajar. Pengajar hendaknya memahami benar siapa pembelajarnya, karakteristiknya, masalah yang dihadapinya dan bagaimana mengatasinya. Pada dasarnya pembelajaran akan berjalan dengan lancar apabila semua komponen pembelajaran siap untuk melaksanakan pembelajaran dengan penuh tanggung jawab termasuk kondisi fisik dan mental pembelajarnya itu sendiri. Kesehatan mental pembelajar merupakan salah hal yang sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Untuk itu pengajar harus berupaya sedemikian rupa agar kesehatan mental pembelajar tetap terjaga.
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA DAN KOMPETENSI KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME KARYAWAN E. Sulyati
Komitmen: Jurnal Ilmiah Manajemen Vol 1, No 1 (2020): KOMITMEN: Jurnal Ilmiah Manajemen
Publisher : FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jim.v1i1.8285

Abstract

Perusahaan yang memahami hubungan antara keterlibatan karyawan dan kesuksesan bisnis akan menemukan cara untuk mendorong dan memfasilitasi kesejahteraan emosional pekerja. Salah satu cara untuk mendorong keterlibatan karyawan adalah dengan memberikan pelatihan keterampilan bahasa dan komunikasi antarpribadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apa yang dilakukan oleh perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat untuk mencapai tujuan melalui pelatihan keterampilan bahasa dan komunikasi pribadi antara karyawan perusahaan. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Tiga implikasi nyata dari penelitian ini relevan untuk pendidikan bisnis profesional: (a) contoh analisis bisnis yang sebenarnya kegiatan kelas yang berharga, (2) siswa perlu mengenali peran interaksi tempat kerja sehari-hari pada produktivitas dan kepuasan kerja, dan (3) perusahaan mendapat manfaat dari layanan konsultasi ahli di bidang bahasa dan komunikasi bisnis.
Learning Foreign Language: Between Globalization and Hegemony in Indonesia E. Sulyati
International Journal of Science and Society Vol 1 No 1 (2019): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.142 KB) | DOI: 10.54783/ijsoc.v1i1.50

Abstract

Implementation of foreign language learning in Indonesia is an effort for the Indonesian people to be able to absorb and follow the development of science and technology in the world, as well as a way to get into the global society. Behind this goal, there is a concern about the infiltration of (Western) values that can erode the identity of foreign language learners as Indonesian. This concern arises because in learning foreign languages contained information about foreign culture (Western) and its cultural values. Western cultural values, if not critically viewed by foreign language teachers and learners, are very likely to change the cultural outlook of learners in Indonesia. Foreign language learning is even suspected of being a Western means of doing hegemony towards the people of Indonesia (East). In this article explained about the situation of foreign language learning in Indonesia, forms of "Western" hegemony against "East" through foreign language learning, Alternative forms of ethnopedagogic and intercultural-based foreign language learning.
Character Education and Language E. Sulyati
International Journal of Science and Society Vol 2 No 1 (2020): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.765 KB) | DOI: 10.54783/ijsoc.v2i1.75

Abstract

This paper describes the link between educational character and language education. Educational character is an important solution to overcome the moral decline, among young people (especially students). Educational character is closely related to language education, because some of the values of the character contained in the language education. Schools play an important role as a vehicle for character building and reinforce the cultural values of the nation. Language education, including literary, is one vehicle for shaping the character of students. In other words, it has a role in the formation of character. In learning the language and literature, strategies, methods, media, and teaching materials need to be optimized to form the character of students. Yet, language education is not only the duty and responsibility of the language teacher, but the responsibility of all teachers because all the teachers definitely use language. Thus, the most important thing to do is to increase students reading ability which is a key to success.
PENGGUNAAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA DALAM TALKSHOW MATA NAJWA SEBAGAI PENGEMBANGAN MATERI PEMBELAJARAN BERBICARA DI SMA Ariantidewi, Maya; E. Sulyati; Asep Saepurokhman
JESA-Jurnal Edukasi Sebelas April Vol 9 No 1 (2025): JESA - Jurnal Edukasi Sebelas April
Publisher : LPPM UNSAP & Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesantunan merupakan aspek yang sangat penting untuk membentuk karakter dan sikap seseorang terutama dalam ruang lingkup pendidikan. Oleh karena itu, siswa perlu dibina, diarahkan, serta diberi contoh berbahasa yang sopan. Semakin terdidik seseorang, semakin berkualitas pula kemampuan berbahasanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan prinsip kesantunan yang terdapat dalam Talkshow Mata Najwa edisi menuju pemilu 2024 terhadap 3 video sebagai sampelnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan sampelnya yaitu dengan menggunakan teknik purposive sampling atas dasar pertimbangan tertentu. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu studi dokumenter. Teknik analisis data dalam penelitian ini melewati empat tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan. Instrumen yang digunakan yaitu indikator pematuhan dan pelanggaran maksim serta kartu maksim. Pada dasarnya penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan kesan berbahasa yang terdapat dalam Talkshow mata najwa edisi pemilu 2024 kemudian setelah diketahui hasilnya dijadikan sebagai media pengembangan materi pembelajaran di SMA. Setelah dijelaskan terdapat enam maksim kesantunan berbahasa dalam video tersebut yang terdiri dari maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kemudahan atau kerendahan hati, maksim pemufakatan, dan maksim kesimpatian. Hal ini sesuai dengan teori yang digunakan yang menyatakan bahwa prinsip kesantunan ada enam. Keseluruhan isi dalam percakapan pada video ketiga tersebut terdapat 469 tuturan dengan diperoleh tuturan yang masuk ke dalam kategori maksim yaitu sebanyak 69 tuturan dan meliputi atas kesantunan dan ketidaksantunan. Kesantunan berbahasa yang masuk ke dalam maksim yaitu sebanyak 60 tuturan dan yang termasuk ke dalam tuturan bahasa ketidaksantunan yaitu sebanyak 9 tuturan. Setelah dianalis maka dilakukanlah pengklasifikasian pada setiap maksim sehingga mendapatkan hasil dari perhitungan dan dapat dikatakan lebih banyak kesantunan dibandingkan dengan ketidaksantunan. Sehingga penggunaan prinsip kesantunan berbahasa dalam Talkshow Mata Najwa dinyatakan santun sesuai dengan skala kesantunan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut maka penggunaan prinsip kesantunan berbahasa yang terdapat dalam penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan materi pembelajaran berbicara di SMA karena tingkat kesantunanya cukup memadai untuk dijadikan bahan pembelajaran. Bentuknya dapat berupa modul ataupun media lainnya yang dapat diimplikasikan ke dalam berbagai materi pembelajaran bahasa Indonesia dengan berorientasi pada kesantunan.
IMPLEMENTASI MEDIA DIGITAL STORYTELLING DALAM PEMBELAJARAN TEKS EKSPOSISI: KAJIAN TERHADAP HASIL MENULIS DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR Rina Hermayanti; Ece Sukmana; E. Sulyati
JESA-Jurnal Edukasi Sebelas April Vol 9 No 2 (2025): JESA - Jurnal Edukasi Sebelas April
Publisher : LPPM UNSAP & Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan hasil pembelajaran menulis teks eksposisi berbasis media digital storytelling pada siswa kelas V sekolah dasar di Kecamatan Sumedang Selatan. Latar belakang penelitian didasarkan pada rendahnya kualitas pembelajaran menulis yang disebabkan oleh metode konvensional dan kurangnya media yang menarik. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan pretest-posttest dan observasi kelas. Hasil observasi menunjukkan bahwa keberhasilan penggunaan media digital sangat bergantung pada kesiapan guru dalam mengelola pembelajaran multimodal. Sekolah yang gurunya siap menunjukkan keterlibatan siswa yang lebih tinggi dan kualitas pembelajaran yang lebih baik. Hasil tes menulis menunjukkan peningkatan signifikan pada struktur, isi, dan gaya bahasa teks eksposisi siswa. Selain itu, motivasi belajar siswa meningkat secara signifikan, didukung oleh unsur visual dan naratif dalam media yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif mereka. Temuan ini mendukung efektivitas digital storytelling sebagai strategi pembelajaran berbasis teknologi yang mampu meningkatkan keterampilan menulis dan motivasi belajar secara simultan.
The Read-Answer-Discuss-Explain-Create (RADEC) Model Assisted by Image Media to Improve Learning to Write Explanatory Texts for Fifth Grade Students Suryani, Amih; Sulyati, E.; Saepurokhman, Asep
Jurnal Bahasa Indonesia Prima (BIP) Vol. 7 No. 2 (2025): Bahasa Indonesia Prima (BIP)
Publisher : Bahasa Indonesia Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/bip.v7i2.7552

Abstract

This research is motivated by the low ability of fifth grade elementary school students in writing explanatory texts. The purpose of this study is to determine the effect of the Read Answer Discuss Explain Create (RADEC) learning model assisted by image media on students' ability to write explanatory texts. This study uses a quantitative approach with a quasi-experimental method and a posttest-only control group design . The research sample consisted of three elementary schools in Sumedang Regency, each with 25 students in the experimental and control classes. The instruments used were post-learning tests and observations. The results showed that the application of the RADEC model assisted by image media significantly improved students' ability to write explanatory texts compared to the conventional model. This can be seen from the higher scores obtained in the experimental class, which indicates that the RADEC model helps students develop critical and creative thinking skills, search for information independently, discuss in groups, and write explanatory texts based on their own experiences and understanding. This study proves the effectiveness of the RADEC model assisted by image media in improving the quality of learning to write explanatory texts in elementary school students.
ANALISIS WACANA KRITIS TEKS BERITA PEMINDAHAN IBU KOTA NEGARA SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MEMBACA KRITIS Wiguna, Ratna; Sulyati, E.; Saepurokhman, Asep
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 03 (2025): Volume 10 No. 03 September 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i03.32595

Abstract

Analisis wacana kritis merupakan pendekatan analisis yang mengurai dan mengevaluasi teks, secara tertulis maupun lisan dalam konteks sosial dan politik. Penelitian ini dilatarbelakangi kurangnya filter terhadap informasi yang beredar. Hal ini membuat masyarakat kesulitan untuk membedakan antara fakta dan opini, berita yang akurat dan berita hoaks. keterampilan membaca kritis sangat penting dalam memahami teks berita media daring yang kerap membentuk opini publik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur tekstual, praktik kewacanaan, praktik sosiokultural teks berita pemindahan Ibu Kota Negara dalam media daring serta penggunaannya sebagai sarana pengembangan keterampilan membaca kritis berdasarkan analisis wacana kritis model Norman Fairclough. Penelitian menggunakan deskriptif kualitatif serta teknik purposive sampling untuk memilih teks berita yang terbit pada Maret 2024 dari CNNIndonesia.com dan Kompas.com. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam struktur tekstual, seluruh teks berita merepresentasikan aktor negara sebagai sumber otoritatif dan dominan, dengan gaya penyajian netral serta penekanan pada identitas pejabat publik, memuat ideologi tertentu yang mengarahkan pembaca terhadap isu kebijakan. Dalam praktik kewacanaan, teks berita menunjukkan kecenderungan kuat dengan mengandalkan narasi resmi dan institusional wacana. Narasumber utama didominasi oleh pejabat negara dan tidak banyak memberikan ruang bagi masyarakat sipil. Dalam praktik sosiokultural, teks berita memperlihatkan bagaimana wacana pemindahan ibu kota dikonstruksi dalam konteks relasi antara kekuasaan institusional dan struktur sosial-politik yang lebih luas. Media tidak hanya menyampaikan informasi administratif, melainkan juga berkontribusi dalam memproduksi makna - makna ideologis mengenai pembangunan, stabilitas nasional, dan legitimasi kebijakan negara. Seluruh teks berita yang dianalisis menunjukkan potensi besar sebagai bahan ajar yang melatih siswa untuk berpikir reflektif, analitis, dan partisipatif.
MAKNA SEMIOTIKA DALAM LEGENDA NUSANTARA SEBAGAI BAHAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH: Penelitian Kualitatif Listiyana Solihah, Ade; Kuswara; Sulyati, E.
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 03 (2025): Volume 10 No. 03 September 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i03.32687

Abstract

Legends, as part of folklore, have great potential in character education because they are rich in moral values and local wisdom. However, the symbolic meanings in Nusantara legends have not been widely utilized in learning. This study aims to examine the semiotic meanings in five water-themed legends from Astri Damayanti’s Kumpulan Legenda Nusantara and to evaluate their potential as teaching materials for character education in elementary schools. The research employed a descriptive qualitative approach using Charles Sanders Peirce’s semiotic theory (icon, index, symbol). The findings show that these legends contain strong symbolism related to honesty, responsibility, empathy, and loyalty. The stories also have good readability for students, with simple language and clear narrative structures. Based on these results, this study recommends the integration of folklore into the curriculum as a medium for character education based on local wisdom.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, DAN EXTENDING (CORE) BERBANTUAN MEDIA CANVA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS POSTER PADA SISWA KELAS VI SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN GANEAS KABUPATEN SUMEDANG TAHUN PELAJARAN 2025/2026 Listiyanti Meira Mubarokah; E.Sulyati; Asep Saepurokhman
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 03 (2025): Volume 10 No. 03 September 2025 Build
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i03.34033

Abstract

Poster writing is an essential skill for students, especially in today's visual era. Through poster creation, students are trained to think creatively, organize ideas, and convey messages effectively and engagingly. Poster writing skills are beneficial not only in learning contexts but also in everyday life. Based on field observations, students experience difficulty formulating ideas or concepts, lack attractive designs, and lack writing skills. This is due to the lack of variety in the learning models implemented by teachers. This study aims to describe the differences in poster writing learning outcomes between sixth-grade elementary school students in Ganeas District, Sumedang Regency, using the Connecting, Organizing, Reflecting, and Extending (CORE) model with the aid of Canva and those without the CORE model with the aid of Canva in the 2025/2026 academic year. Therefore, the instruments used were teaching modules and tests. The method used in this study was a quasi- experimental study with qualitative and quantitative analysis. Based on data analysis, the success rate of poster writing learning using the CORE model with the aid of Canva in the experimental class was categorized as high. This is evidenced by the results of the z test which shows that z count -0.36 is located within the interval -Z0.4900 S.d Z0.4900 or -2.33 < -0.36 < 2.33. The success rate of learning to write posters using image media in the control class is classified as low. This is evidenced by the results of the z test which shows that z count -2.14 is located outside the interval -Z0.4900 S.d Z0.4900 or -2.14 > -2.33. There is no significant difference in the ability to write posters between those using the CORE model assisted by Canva media and those using the conventional model. This is evidenced by the results of the t test calculation which shows t count = 1.24 which is smaller than t0.995 = 2.66 or 1.24 < 2.66. Thus, both models can be used in