Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Hotpack Terhadap Penurunan Derajat Shivering Pada Pasien Pasca Anestesi Di RSUD Cilacap Mutiara Ustia Nengsih; Roro Lintang Suryani; Tophan Heri Wibowo; Amin Susanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.169

Abstract

Shivering pasca anestesi merupakan komplikasi yang sering terjadi dan dapat mengganggu kenyamanan serta meningkatkan kebutuhan metabolik pasien. Pemberian hotpack sebagai intervensi nonfarmakologis menjadi salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengurangi shivering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian hotpack terhadap penurunan derajat shivering pada pasien pasca anestesi di RSUD Cilacap. Desain penelitian menggunakan Quasi eksperiment dengan pendekatan pretest-posttest control group. Sebanyak 40 responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi yang diberikan hotpack dan kelompok kontrol yang diberikan selimut biasa. Data dikumpulkan melalui observasi menggunakan skala derajat shivering Alfonsi dan dianalisis dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil penelitian responden terbanyak mengalami derajat shivering 3, terdapat 8 responden (40%) pada kelompok kontrol dan 7 responden (35%) pada kelompok eksperimen mengalami derajat shivering 4. Hasil uji Mann-Whitney didapatkan hasil p = 0.143 (p>0.05) menjelaskan bahwa tidak ada pengaruh pemberian hotpack terhadap penurunan derajat shivering sehingga ha ditolak. Kesimpulannya, ada pengaruh hotpack terhadap penurunan derajat shivering pada pasien pasca anestesi di RSUD Cilacap.
Pengaruh Teknik Nafas Dalam Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Sectio Caesarea Di RSUD dr. Soedirman Kebumen Mega Rapita Sari; Tophan Heri Wibowo; Indri Heri Susanti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.181

Abstract

Sectio caesarea merupakan prosedur bedah yang sering memicu kecemasan pada pasien pra-operasi, yang dapat memengaruhi kondisi fisiologis dan psikologis mereka secara negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah teknik napas dalam dapat memengaruhi tingkat kecemasan pada pasien pra-operasi sectio caesarea di RSUD dr. Soedirman Kebumen. Penelitian ini mengadopsi metode kuantitatif dengan desain pra-eksperimen one group pretest-posttest. Sebanyak 49 sampel dipilih melalui teknik purposive sampling. Untuk mengukur tingkat kecemasan, digunakan lembar observasi dan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), baik sebelum maupun sesudah intervensi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan penurunan tingkat kecemasan yang signifikan pada pasien pra sectio caesarea setelah mendapatkan intervensi teknik napas dalam. Sebelum intervensi, ada 21 orang (42,9%) mengalami kecemasan berat. Namun, setelah intervensi, angka tersebut berubah drastis menjadi 32 orang (65,3%) yang tidak lagi mengalami kecemasan. Uji Wilcoxon juga mendukung temuan ini dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05), yang menyimpulkan bahwa teknik napas dalam efektif dalam mengurangi kecemasan.
Hubungan Usia Dan Lama Operasi Dengan Waktu Pulih Sadar Pada Pasien Post General Anestesi Di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Hilda Nesa Dwiningrum; Tophan Heri Wibowo; Wilis Sukmaningtyas
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.189

Abstract

Pulih sadar post anestesi umum merupakan tahap penting pada post operasi. Penelitian ini dilakukan di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, untuk melihat bagaimana usia dan durasi operasi memengaruhi waktu pemulihan kesadaran pasien setelah anestesi umum. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 185 responden yang dipilih melalui quota sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan Aldrete Score. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia dewasa (19-59 tahun) yaitu 136 responden dan sebagian besar menjalani operasi berdurasi sedang (60-120 menit), yaitu 78 responden. Dan sebagian besar pasien (134 responden) menunjukkan pemulihan kesadaran yang cepat. Analisis statistik menggunakan uji Spearman Rank menunjukkan adanya hubungan signifikan antara usia (p=0,000; rsp = 0,445) dan durasi operasi (p=0,000; rsp = 0,461) dengan waktu pemulihan kesadaran. Hubungan ini bersifat positif sedang, yang artinya semakin tua usia pasien dan semakin lama durasi operasi, semakin lambat waktu yang dibutuhkan untuk pulih sadar.
Hubungan Intensitas Nyeri Dengan Kualitas Tidur Pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea Dengan Anestesi Spinal Di RSUD dr. Soedirman Kebumen Fajar kurniadi; Tophan Heri Wibowo; Murniati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.200

Abstract

Pasien post operasi sectio caesarea (SC) dengan anestesi spinal sering mengalami nyeri pascaoperasi yang dapat memengaruhi kualitas tidur. Nyeri yang tidak tertangani dengan baik dapat meningkatkan risiko gangguan tidur, yang pada akhirnya memperlambat proses pemulihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas nyeri dengan kualitas tidur pada pasien post operasi sectio caesarea dengan anestesi spinal di RSUD Dr. Soedirman Kebumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi dan jenis penelitian cross sectional. Sampel terdiri dari 81 responden yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengukur nyeri adalah Numeric Rating Scale (NRS), sedangkan kualitas tidur diukur dengan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dilakukan menggunakan uji spearman rank. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden mengalami nyeri sedang hingga berat dan memiliki kualitas tidur yang buruk. Uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas nyeri dengan kualitas tidur (p-value < 0,05). Terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas nyeri dengan kualitas tidur pada pasien post operasi sectio caesarea dengan anestesi spinal. Penatalaksanaan nyeri yang optimal diperlukan untuk meningkatkan kualitas tidur pasien pasca operasi.
Kepuasan Pasien Tentang Pelayanan Anestesi: Studi Deskriptif Di RS Emanuel Banjarnegara Haryani Yolanda Tri Septia; Roro Lintang Suryani; Tophan Heri Wibowo; Amin Susanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.217

Abstract

Layanan anestesi sangat penting untuk kenyamanan dan kepuasan pasien dalam pembedahan, sehingga kepuasan pasien menjadi indikator kualitas layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan pasien terhadap layanan anestesi di RS Emanuel Banjarnegara. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Sebanyak 204 responden dipilih menggunakan rumus Slovin dari total 418 pasien. Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner berisi 23 pertanyaan tentang kepuasan pasien. Penelitian ini menunjukkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi terhadap pelayanan anestesi, dengan 86.3% responden merasa sangat puas dan 13.7% merasa puas. Karakteristik responden yang dominan adalah berusia >46 tahun (60%), laki-laki (54%), menggunakan teknik anestesi regional (55%), dengan status ASA II (58%), riwayat pendidikan dasar (60%), status ekonomi rendah (59%), dan belum pernah menjalani operasi (89%). Secara keseluruhan, tingkat kepuasan pasien di Rumah Sakit Emanuel Banjarnegara adalah sangat puas.
Pengaruh Pemberian Selimut Aluminium Foil Terhadap Peningkatan Suhu Tubuh Pada Pasien Hipotermia Pasca Anestesi Di Recovery Room Di RSUD Ajibarang Diah Febri Cahyani; Roro Lintang Suryani; Tophan Heri Wibowo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.221

Abstract

Hipotermia pasca anestesi sering terjadi dan dapat menyebabkan komplikasi seperti masalah jantung, infeksi, dan masa inap yang lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh selimut aluminium foil terhadap peningkatan suhu tubuh pada pasien hipotermia pasca-anestesi di RSUD Ajibarang. Penelitian ini menerapkan desain pra-eksperimen (one-group pre-test post-test) dengan sampel 20 responden yang diambil melalui purposive sampling. Data dikumpulkan lewat kuesioner dan observasi, lalu dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebanyak 95% responden (19 orang) mengalami hipotermia ringan. Berdasarkan uji Wilcoxon (p = 0,000), ditemukan adanya pengaruh signifikan dari penggunaan selimut aluminium foil. Kesimpulannya, selimut ini terbukti efektif dalam menaikkan suhu tubuh pasien pasca anestesi di RSUD Ajibarang.
Hubungan Posisi Pasien Dengan Keberhasilan Spinal Anestesi Pada Pasien Bedah Urologi Di RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Ita Oktaviana; Tophan Heri Wibowo; Ita Apriliyani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.291

Abstract

Keberhasilan spinal anestesi penting untuk mengurangi risiko penyuntikan berulang dan komplikasi. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan menentukan titik acuan, pengalaman penyedia layanan, serta posisi punggung pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keberhasilan spinal anestesi dengan posisi pasien. Penelitian menggunakan desain observasional potong lintang dengan 41 responden melalui total sampling. Data dianalisis secara deskriptif dan menggunakan koefisien kontigensi. Hasil menunjukkan 51% pasien berada pada Hamstring Stretch Position (HSP) dan 49% pada Crossed Leg Sitting Position (CLSP), dengan sebagian besar memerlukan satu kali penyuntikan. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara posisi HSP dan CLSP terkait keberhasilan spinal anestesi. Keberhasilan dipengaruhi kemampuan pasien melakukan fleksi tulang belakang sehingga mempermudah palpasi prosesus spinosus dan penetrasi jarum ke ruang subaraknoid.
Pengaruh Audiovisual Persiapan Saddle Block Regional Anestesi Terhadap Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Tingkat II Keperawatan Anestesiologi Universitas Harapan Bangsa Wahyu Dwi Prakoso; Tophan Heri Wibowo; Septian Mixrova Sebayang
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.364

Abstract

Media audiovisual memberikan pesan pembelajaran baik secara audio dan visual yang mencakup konsep, prinsip, persiapan, dan teori aplikasi pengetahuan untuk membantu pemahaman materi pelajaran seperti persiapan saddle block regional anestesi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh audiovisual persiapan saddle block regional anestesi terhadap tingkat pengetahuan mahasiswa tingkat II keperawatan anestesiologi  universitas harapan bangsa. Metode penelitian ini menggunakan quasi-eksperimen, di mana grup kontrol pre-test dan post-test digunakan. Cluster random sampling digunakan untuk memilih 68 mahasiswa dari universitas harapan nasional. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Kelompok intervensi sebelum intervensi mean pre test tingkat pengetahuan yaitu 74,15 dan setelah diberikan intervensi mean post test tingkat pengetahuan yaitu 93,91. Kelompok kontrol sebelum diberikan intervensi mean pre test tingkat pengetahuan yaitu 68,82 dan setelah diberikan inervensi, Rata-rata tingkat pengetahuan setelah ujian adalah 76,03. Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa kelompok intervensi memiliki p-value 0.000 kurang dari 0,05 membuktikan ada perbedaan antara sebelum dan sesudah penggunaan lalu lintas audiovisual; sebaliknya, kelompok kontrol memiliki p-value 0,06 lebih dari 0,05, yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan sebelum dan sesudah penggunaan lembaran. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa p-value 0,000 kurang dari 0,05 membuktikan bahwa ada perbedaan antara kelompok intervensi dan kontrol. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan pada peningkatan pengetahuan mahasiswa. Oleh sebab itu, media audiovisual termasuk dalam jenis media yang memiliki kapasitas untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa.
Hubungan Durasi Pembedahan dengan Nyeri Tenggorokan pada Pasien Post General Anestesi Teknik Intubasi Endotracheal Tube di RSI Purwokerto Ghaihab Dzikir Mufiid Alkatiri; Tophan Heri Wibowo; Ita Apriliyani
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v9i2.971

Abstract

Surgery is one of the medical procedures divided into three periods of pre operative, intra operative, and post operative. At least 11% of the global disease burden comes from conditions that can actually be addressed through surgery. Surgical procedures will certainly require anesthesia, one of which is general anesthesia with the Endotracheal Tube (ETT) intubation technique. Endotracheal Tube (ETT) intubation can cause various complications, the most common being postoperative sore throat. One of the risk factors for sore throat after Endotracheal Tube (ETT) intubation is the duration of surgery. This research is a quantitative study with a descriptive correlational design and a cross-sectional approach. The sample in this study consisted of 30 patients undergoing surgery with general anesthesia using the Endotracheal Tube (ETT) intubation technique, determined by quota sampling. The research instruments used were a clock to measure the duration of surgery and an observation sheet containing the measurement of sore throat level using the Numeric Rating Scale (NRS). Data analysis in this study included univariate and bivariate analyses, with the latter tested using the Spearman rank test. The results of the Spearman rank test between the variables of surgical duration and postoperative sore throat in general anesthesia with the Endotracheal Tube (ETT) intubation technique showed a p = 0.000 and an r = 0.912, which means that the two variables have a significant and positive relationship in line with a very strong correlation strength. This indicates that the longer the duration of surgery, the higher the postoperative sore throat scale in general anesthesia with the Endotracheal Tube (ETT) intubation technique.