Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Mining Engineering

Optimasi Proses Kominusi Bijih Timah Primer Domain Oxide Menggunakan Alat Ball Mill di PT Timah Tbk UPTP Batu Besi, Desa Burong Mandi, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Hardianti Putri; Yunus Ashari; Solihin
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.045 KB) | DOI: 10.29313/bcsme.v2i1.1887

Abstract

Abstract. Primary Tin Production Unit (UPTP) Batu Besi PT Timah Tbk is one of the mining companies with primary tin mineral deposits. Primary tin deposits are formed from the magmatism process of granite which is a carrier rock or source rock where tin ore is formed with many associated minerals and is bound to each other. There are three types of tin-bearing mineral domains, namely skarn, greissen, and oxide. One that is being processed is oxide with a mineral composition dominated by cassiterite minerals and iron oxide minerals. Tin ore is processed in several stages, namely the comminution stage, size uniformity, and concentration. The comminution process using a ball mill aims to reduce the size of the minerals that are bound together so that they can be properly liberated. Ball mill work with a wet process with the incoming feed material in the form of a slurry (a mixture of water and solids) so as to produce a certain percentage of solid. The grinding operation runs continuously, the material will be eroded due to the force of impact, compression, shear/chipping and abrasion of the material with steel balls in it so as to produce a product in the form of material with a certain fraction. To get the right grain size, it is necessary to pay attention to and optimize the control variables that can affect the grinding process, namely the feed size and the percent solid value used. To determine the exact size of the grinding results using a ball mill, it can be seen from the value of the degree of liberation of the cassiterite mineral in the oxide material. Experiments were carried out with 30 different percent solid values ​​which resulted in different grain sizes so that optimal scouring results could be known. Based on these experiments, the optimal grain size for the concentration process in the shaking table was -325 mesh with a solid percentage of 20%-35%. Abstrak. Unit Produksi Timah Primer (UPTP) Batu Besi PT Timah Tbk merupakan salah satu perusahaan tambang dengan endapan bahan galian timah primer. Endapan timah primer terbentuk dari proses magmatisme batu granit yang merupakan batuan pembawa atau batuan induk tempat bijih timah terbentuk dengan banyak mineral ikutan yang saling berasosiasi dan saling terikat. Terdapat tiga jenis domain mineral pembawa timah yaitu skarn, greissen, dan oxide. Salah satu yang sedang diolah adalah oxide dengan komposisi mineralnya didominasi oleh mineral kasiterit serta mineral oksida besi. Bijih timah diolah dengan beberapa tahapan, yaitu tahap kominusi, penyeragaman ukuran, serta konsentrasi. Proses kominusi menggunakan alat ball mill bertujuan untuk mereduksi ukuran mineral yang saling terikat sehingga dapat terliberasi dengan baik. Ball mill bekerja dengan proses basah (wet) dengan material umpan yang masuk berbentuk slurry (campuran air dan padatan) sehingga menghasilkan nilai persen solid tertentu. Operasi penggerusan berjalan secara kontinu, material akan tergerus karena adanya gaya impact, compression, shear/chipping dan abrasion dari material dengan bola-bola baja di dalamnya sehingga menghasilkan produk berupa material dengan fraksi tertentu. Untuk mendapatkan ukuran butir yang tepat perlu memperhatikan dan mengoptimasi variabel kontrol yang dapat mempengaruhi proses penggerusan yaitu ukuran umpan dan nilai persen solid yang digunakan. Untuk mengetahui ukuran yang tepat dari proses kominusi dengan menggunakan ball mill dapat dilihat dari nilai derajat liberasi mineral kasiterit pada material oxide. Percobaan dilakukan sebanyak 30 nilai persen solid yang berbeda-beda dan menghasilkan ukuran butir yang berbeda-beda pula, sehingga dapat diketahui hasil gerusan yang optimal. Berdasarkan percobaan tersebut diperoleh ukuran butir yang optimal untuk proses konsentrasi pada shaking table adalah -325 mesh dengan persen solid sebesar 20%-35%.
Studi Pendahuluan Pengaruh Fly Ash pada Netralisasi Air Asam Tambang di Penambangan Batubara PT XYZ, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur Gumilar Rayana; Sri Widayati; Solihin
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v3i1.5693

Abstract

Abstract. Acid mine drainage can affect water quality in the area which requires an authority to improve water quality in mining areas. So that the neutralization of acid mine drainage must be carried out, one of which is using fly ash. Fly Ash has alkaline properties with a pH value between 4.5 to 12. The pH value of fly ash is determined by the sulfur content of the coal parent material. Therefore fly ash can increase the pH value of acid mine water. The research method used in this study is the active method by mixing fly ash into the water in the settling pond which has a pH value of less than 7, it aims to neutralize the pH value in the settling pond. From the previous testing, it was found that the effect of fly ash on neutralizing acid mine drainage required a fly ash dose of 60 gr/L with a pH value of 7.57, then a linear regression calculation was performed to determine the optimal value of 58.35 gr/L for a pH value of 7. Then The dose was neutralized to acid mine drainage which has a pH value of less than 7, so that a dose value was obtained within 31 days of 632.21 gr/L or 381.532 kg/month. In addition to the effect of fly ash on the pH value, a calculation of the effect of fly ash with the same dose of neutralizing the pH value on the decrease in Fe and Mn levels was also carried out. The effect of decreasing the previous Fe content with an average value of 7.33 mg/L becomes 5.57 mg/L, and the effect of the previous Mn content with an average value of 4.32 mg/L becomes 3.56 mg/L Abstrak. Air asam tambang dapat mempengaruhi kualitas air di daerah tersebut yang membutuhkan suatu kewenangan untuk dapat memperbaiki kualitas air di daerah pertambangan. Sehingga kegiatan penetralan air asam tambang harus dilakukan salah satunya menggunakan Fly ash. Fly Ash memiliki sifat alkalin yang memiliki nilai pH antara 4,5 sampai 12. Nilai pH yang dimiliki fly ash ditentukan oleh kandungan sulfur bahan induk batubara. Oleh karena itu fly ash dapat menaikan nilai pH air asam tambang. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan fly ash terhadap proses penetralan air asam tambang. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode aktif dengan cara mencampurkan fly ash ke dalam air di kolam pengendapan yang memiliki nilai pH kurang dari 7, hal tersebut bertujuan untuk dapat menetralkan nilai pH di kolam pengendapan Dari pengujian yang dilakukan bahwasannya pengaruh fly ash terhadap penetralan air asam tambang dibutuhkan dosis fly ash sebesar 60 gr/L dengan nilai pH sebesar 7.57, lalu dilakukan perhitungan linier regresi untuk mengetahui nilai optimal sebesar 58.35 gr/L untuk nilai pH 7. Kemudian dosis tersebut dilakukan penetralan terhadap air asam tambang yang memiliki nilai pH kurang dari 7, sehingga didapatkan nilai dosis dalam waktu 31 hari sebesar 632.21 gr/L atau 381.532 kg/bulan. Selain pengaruh fly ash terhadap nilai pH, juga dilakukan perhitungan pengaruh fly ash dengan dosis yang sama dengan penetralan nilai pH terhadap penurunan kadar Fe dan kadar Mn. Pengaruh penurunan kadar Fe yang sebelumnya dengan nilai rata – rata 7.33 mg/L menjadi 5.56 mg/L, dan pengaruh kadar Mn yang sebelumnya dengan nilai rata – rata 4.32 mg/L menjadi 3.56 mg/L
Studi Pendahuluan Pengelolaan Air Asam Tambang Menggunakan Karbon Aktif Fine Coal di Penambangan Batubara pada Kolam Pengendapan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur Muhammad Aziz Rahmatullah; Sri Widayati; Solihin
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v3i1.5739

Abstract

Abstract. Acid mine water is water that has a low pH (pH<5) which contains various dissolved metals such as iron (Fe), manganese (Mn), and other sulfate compounds. Acid mine water has an impact in the form of environmental pollution, so it is necessary to handle acid mine drainage using activated carbon so that it does not affect the surrounding environment. The research method used in this study is the active method by mixing activated carbon into 6 settling ponds, it aims to be able to determine the effect of activated carbon on settling ponds in the form of pH and Fe and Mn levels based on standard water quality standards.The rate of decrease in Fe metal content and Mn metal content after mixing using activated charcoal was 76,0% for Fe metal content and 18,60% for Mn metal content. The need for activated carbon for 31 days for the purpose of neutralizing acid mine water is 154790,8 kg/liter. Abstrak. Air asam tambang merupakan air yang memiliki pH rendah (pH<5) yang mengandung berbagai logam terlarut seperti besi (Fe), mangan (Mn), serta senyawa sulfat lainnya. Air asam tambang menimbulkan dampak berupa terjadinya pencemaran lingkungan sehingga perlu dilakukannya penanganan air asam tambang dengan menggunakan Karbon aktif sehingga tidak mempengaruhi lingkungan sekitar. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode aktif dengan cara mencampurkan Karbon aktif kedalam 6 kolam pengendapan, hal tersebut bertujuan untuk dapat mengetahui pengaruh karbon aktif pada kolam pengendapan berupa pH serta kadar Fe dan Mn dengan berdasarkan standar nilai baku mutu air. Laju penurunan kadar logam Fe dan kadar logam Mn setelah pencampuran dengan menggunakan Karbon aktif yaitu sebesar 76,0% untuk kadar logam Fe dan 18,60 % untuk kadar logam Mn. Kebutuhan karbon aktif selama 31 hari untuk keperluan penetralan air asam tambang sebesar 154790,8 kg/liter.