Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

HAZARD IDENTIFICATION AND RISK CONTROL ON THE NICU-PONEK BUILDING CONSTRUCTION PROJECT OF TABANAN REGIONAL GENERAL HOSPITAL Ni Komang Armaeni; IWG. Erick Triswandana; IB. Dalem Gunawangsa
International Journal of Engineering and Emerging Technology Vol 6 No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Doctorate Program of Engineering Science, Faculty of Engineering, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the implementation of construction projects, management of the project work time so that the project is completed on time, but in reality on the ground there are still many things that can hamper the work of the project, one of which is a work accident that occurs to project workers.. In the process of building the NICU-Ponek Building, workers on the project are very rarely using Personal Protective Equipment, even though it has been provided by the company. Based on this, the authors devised this plan with the aim of minimizing the risk of work accidents through the process of hazard identification, risk assessment, and continued risk control. This planning method was done by qualitative method by explaining variables at the hazard identification stage and processing data at the risk assessment stage. Quantitative methods are also used against questionnaire results at the risk assessment stage including validity tests. The results of planning at the hazard identification stage through the "Expert Test" questionnaire resulted in 74 variables and 290 indicators that will be influential and continue to the end of the risk assessment questionnaire. At the risk assessment phase through a risk assessment questionnaire produces 3 types of risk levels, namely low risk rating, moderate and high risk rating which is further controlled by advanced risk controlling. Based on the results of the risk assessment questionnaire, there are 32 variables and 38 indicators that have a high rating of risk carried out by means of technical control and administrative control.
Pemberdayaan Masyarakat dalam Penataan Air Terjun Gulung Tikeh Desa Siangan, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar-Bali Nyoman Ratih Prabandari; Made Mas Surya Wiguna; Wayan Gde Erick Triswandana
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 1 No. 7 (2023): September
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v1i7.304

Abstract

Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk membantu masyarakat Desa Siangan dalam mendeskripsikan master plan Air Terjun Gulung Tikeh sebagai objek wisata alam yang dikembangkan untuk meningkatkan nilai ekonomi tanpa mengurangi nilai ekologisnya. Melalui penyusunan konsep dan master plan penataan air terjun Gulung Tikeh dengan pendekatan studi banding objek sejenis berbasis pemberdayaan masyarakat, yaitu objek wisata ditata dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan potensi yang dimiliki alam. di Desa Siangan. Pengabdian Kepada Masyarakat berupa penyusunan master plan Air Terjun Tikeh Gulung ini bekerjasama dengan Pemerintah Daerah di Desa Siangan. Kegiatan survei lapangan, Studi Preseden, dan Focus Group Discussion dilakukan untuk menjaring masukan dan gagasan terkait kebutuhan masyarakat dalam pengembangan Air Terjun Tikeh Gulung sebagai objek wisata alam di Desa Siangan. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata agar masyarakat sadar akan potensi yang dimiliki dan dapat mengoptimalkan keasliannya sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan alam di Desa Siangan.
Pemberdayaan Obyek Guna Lahan Di Kawasan Desa Sanur Sebagai Alternatif Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Denpasar Ni Komang Armaeni; Putu Gede Suranata; I Wayan Gde Erick Triswandana
Jurnal Sutramas Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Sutramas
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki banyak fungsi selain fungsi ekologi sebagai paru-paru kota atau wilayah. Kota Denpasar memiliki setidaknya 1.091,07 Ha Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK) dimana belum semua potensinya dimanfaatkan dengan optimal sebagai contoh RTHK Desa Sanur Kaja. Topografi Desa Sanur Kaja khususnya pada area Jl. Hangtuah dan Jl. Sedap Malam merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 0-7 meter diatas permukaan laut dengan pemanfaatan lahan sebagai Ruang Terbuka Hijau seluas kurang lebih 39,4311 Ha sesuai dengan dokumen RTRW Kota Denpasar tahun 2011-2031. Dari hasil pengumpulan data menggunakan citra satelit dan superimpose pengukuran lapangan, didapatkan adanya pelanggaran terkait pembangunan bangunan dengan peruntukan rumah tinggal dan usaha. Pelanggaran yang terekam adalah seluas 11.6529 Ha sehingga menyisakan kurang lebih 27.7782 Ha RTH Existing yang harus diselamatkan dengan melakukan pengembangan untuk nantinya dapat di transformasi sebagai Objek Daya Tarik Wisata
Desain Detail Konservasi Pura Pajinengan Gunung Tap Sai Di Kabupaten Karangasem I Putu Andi Wira Adnyana Adnyana; I Nyoman Warnata; I Wayan Runa; I Wayan Gde Erick Triswandana
Jurnal Sutramas Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Sutramas
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura Pajinengan Gunung Tap Sai terletak di Dusun Puragae, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem yang selanjutnya disebut Pura Tap Sai. Pura terletak di lereng barat laut Gunung Agung dan banyak umat ke pura untuk memohon keselamatan dan anugerah. Tap Sai berasal dari kata matapa sai sai (bertapa atau semedi setiap hari). Pada halaman utama (utamaning mandala) Pura terdapat pelinggih Lingga Yoni yang dililit akar pohon yang dipercaya umat sebagai tempat memohon anak atau keturunan, jodoh, segala permasalahan kesehatan, memohon obat, dan juga rezeki. Setelah persembahyangan di utamaning mandala, maka setiap umat (pemedek) akan diberikan seikat (11 Buah) dupa untuk melakukan permohonan khusus di Lingga Yoni. Pura juga memiliki tiga palinggih utama untuk memuja Dewi Sri, Dewi Rambut Sedana, dan Dewi Saraswati. Keberadaan pura ini di tengah hutan sehingga suasana alamnya tenang, damai, dan sakral. Oleh karena itu pura ini juga menjadi daya tarik masyarakat untuk kegiatan spiritual maupun untuk berwisata. Dengan jumlah masyarakat yang berkunjung ke Pura Pajinengan Gunung Tap Sai semakin meningkat, maka perlu adanya penataan mandala pura agar mampu menampung jumlah pengunjung secara optimal dan tentunya aman bagi para penyandang disabilitas, mengingat kondisi mandala pura yang cukup tinggi seperti terasering dikarenakan kontur tanah yang miring. Berdasarkan permasalahan di atas maka metode pelaksanaan pada tahun ke-3 ini adalah melalui desain detail konservasi pura. Pengumpulan data berupa penjajakan ke Pura untuk memperoleh data dalam proses desain detail konservasi pura. Desain detail pura agar lebih unik atau khas termasuk desain bangunan penunjang dan material pelinggih serta sirkulasi bagi para penyandang disabilitas. Jajak pendapat/wawancara dan sosialisasi juga dilaksanakan untuk mengoptimalkan desain detail konservasi Pura. Luaran akhir dari Program adalah desain detail konservasi pelinggih pura. Sebagai luaran akademis adalah publikasi pada Jurnal Ilmiah Nasional ber-ISSN. luaran lain seperti video tayang di Youtube dan berita di koran.
PERBANDINGAN ANTARA SRPMK DAN SISTEM GANDA PADA GEDUNG RUMAH SAKIT GIGI MULUT UNIVERSITAS UDAYANA angganawibawa I Gusti; I Putu Ellsa Sarassantika; Ida Ayu Cri Vinantya Laksmi; I Wayan Gde Erick Triswandana; I Putu Deny Surastika Aditama
Jurnal Rekayasa Teknik Sipil dan Lingkungan - CENTECH Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal Rekayasa Teknik Sipil dan Lingkungan, Oktober 2024, ISSN 2722-0230 (Onli
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/cen.v5i2.6100

Abstract

Bali is one of the provinces that are destinations for foreign and domestic tourists. This causes Bali to follow developments in several sectors, one of which is the construction sector. Of course, every building in Bali must guarantee its safety and comfort. Especially in infrastructure buildings, the security of which must be guaranteed because it involves the safety of many people inside. For example, hospital buildings included in risk category IV need to pay attention to their deviations. For example, in the Udayana University oral dental hospital building which was previously planned using SRPMK, the design deviation value met the requirements or did not exceed the permit deviation. This oral dental hospital building will be re-planned using a dual system. So these two structural systems are chosen for comparison regarding the deviation values ​​between the two to provide information regarding which structural system is more optimal. In this writing, the analysis shows that the deviation value produced by the dual system is smaller than the special moment resisting frame system. Namely, with a maximum value of the double system of 8.96 mm and SRPMK with a maximum value of 21.696 mm with a clearance of 30.77 mm on the 2nd floor in the x direction and in the Y direction the maximum value of the double system is 12.60mm and SRPMK with the The maximum value is 20.07 mm with a permit of 26.92 mm on the 3rd floor.
ANALISIS PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN SISTEM STRUKTUR OPEN FRAME DAN INFILLED FRAME Ni Luh Putu Nada Patricia; Ni Komang Ayu Agustini; I Wayan Gde Erick Triswandana
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 9 No. 1 (2025): JCEBT MARET
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v9i1.12762

Abstract

Dinding umumnya dianggap sebagai elemen nonstruktural dan beban dalam sebuah bangunan, namun memiliki kecenderungan untuk berinteraksi dengan struktur rangka utama saat terjadi beban lateral. Penelitian ini menganalisis bangunan ruko empat lantai dengan dua pemodelan struktur yaitu struktur rangka terbuka (open frame) dan struktur rangka dengan dinding pengisi sebagai shell element (Infilled frame) menggunakan bantuan program aplikasi SAP2000. Parameter pembanding adalah simpangan antar tingkat dan gaya-gaya dalam struktur. Hasil analisis menunjukkan simpangan arah X dan Y pada struktur OF masing-masing 83% dan 93% lebih besar dibandingkan struktur IF. Nilai momen, gaya lintang dan gaya aksial struktur IF lebih kecil dibandingkan struktur OF. Dapat disimpulkan bahwa dengan penambahan dinding pengisi dapat meningkatkan kekakuan dari struktur bangunan.
ANALISIS PERBANDINGAN EFEKTIVITAS METODE KONVENSIONAL DAN BIM AUTODESK REVIT DALAM PERENCANAAN KONSTRUKSI GEDUNG Putu Aryastana; I Wayan Gde Erick Triswandana; Putu Agus Sepiantara
Matriks Teknik Sipil Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v13i2.107648

Abstract

Building Information Modeling (BIM) provides a significant improvement in efficiency, accuracy, and coordination compared to conventional 2D-based methods in construction planning and cost estimation. This study employs a descriptive quantitative approach with a comparative method to analyze the effectiveness of conventional and BIM-based methods using Autodesk Revit software in preparing the Quantity Take Off (QTO), Bill of Quantity (BOQ), and Cost Budget Plan (RAB) for the Kerobokan Traditional Village Office Building project in Bali. The secondary data include architectural, structural, and utility design drawings, as well as the 2022 Work Unit Price Analysis (AHSP). The findings indicate that the implementation of BIM reduces project preparation time by 37.72% compared to the conventional method. Furthermore, volume discrepancies were found in concrete work (11.63%), formwork (-5.99%), and reinforcement (36.26%) due to differences in modeling and measurement principles. These results highlight BIM’s crucial role in enhancing estimation accuracy, time efficiency, and design adaptability, particularly in government building projects that must comply with the Ministry of Public Works Regulation No. 22 of 2018 on Cost Budgeting Guidelines.Keywords: autodesk Revit; BIM; BOQ; cost estimation; QTO.
Analisis Perbandingan Perhitungan Volume dan Biaya Penggunaan Metode Konvensional dengan BIM Software Revit (Studi Kasus Proyek Pembangunan Villa Di, Tabanan, Bali) I Putu Candra Ditya; I Wayan Gde Erick Triswandana; I Gusti Ngurah Hesa Respati Haditama
CIVeng: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 7 No. 2 (2026): CIVENG VOLUME 7 NO.2 JULI 2026
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/civeng.v7i2.29365

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dalam industri konstruksi telah mendorong penggunaan Building Information Modeling (BIM) sebagai alternatif metode konvensional dalam proses perencanaan dan estimasi biaya proyek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan hasil perhitungan volume dan biaya antara metode konvensional dan metode BIM menggunakan program Revit pada proyek Pembangunan Villa di Kediri, Tabanan, Bali. Metode penelitian deskriptif komparatif digunakan melakukan perbandingan langsung terhadap hasil estimasi volume dan biaya pekerjaan struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan volume menggunakan BIM cenderung lebih kecil dibandingkan metode konvensional karena perbedaan tingkat detail dan ketepatan dimensi model tiga dimensi, dimana metode konvensional kerap menggunakan asumsi atau penyederhanaan. Estimasi biaya berdasarkan metode konvensional mencapai Rp1.677.300.571, sedangkan metode BIM menghasilkan Rp1.535.763.317, dengan selisih sebesar Rp141.537.254. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan BIM mampu meningkatkan efisiensi biaya sekaligus membuat Proses desain dan konstruksi menjadi lebih lancar dan transparan, yang memungkinkan perhitungan yang lebih akurat dan mencegah kesalahan selama transisi dari perencanaan ke implementasi, dan juga mengurangi waktu pelaksanaan. Perhitungan menggunakan BIM cenderung menghasilkan volume lebih kecil dibandingkan metode konvensional. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan tingkat detail dalam pendekatan perhitungan