This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Sri Budi Lestari
Unknown Affiliation

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Penggunaan Instagram sebagai Media Promosi Kuliner Kota Semarang (Studi Kasus pada Komunitas Online @jakulsemarang) Wafda Afina Dianastuti; Lintang Ratri Rahmiaji; Sri Budi Lestari; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.574 KB)

Abstract

Instagram adalah social media berbagi foto yang mulai banyak digunakan untuk kepentingan komunikasi pemasaran dengan ciri khasnya yang mengedepankan pesan visual dan interaktivitas yang tinggi. Pemasaran menggunakan media sosial sedang populer khususnya di bidang kuliner. Salah satunya adalah akun @jakulsemarang atau Jajanan Kuliner Semarang yang memanfaatkan Instagram untuk memberi ulasan mengenai kuliner Kota Semarang dan mempromosikannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan Instagram sebagai media promosi kuliner Kota Semarang dengan studi kasus pada komunitas online @jakulsemarang. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh dari studi dokumentasi unggahan akun @jakulsemarang serta wawancara dengan pemilik akun dan follower. Teori yang digunakan adalah Teori Media Baru dan The 7C Framework. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram sebagai media promosi memiliki fitur-fitur yang memenuhi enam aspek dari The 7C Framework, yaitu context, content, community, communication, connection, dan commerce. Context berperan dalam menarik minat, tetapi content merupakan penentu respon target sasaran. Community menyebarkan pesan secara luas dan personal, communication menjalin interaksi antara pemasar dengan target sasaran, connection memberi kemudahan akses informasi dalam sekali klik melalui tag dan hashtag, sedangkan commerce mendorong terjadinya pembelian. Kekuatan utama Instagram terletak pada content, community, dan connection. Satu-satunya aspek yang tidak terpenuhi adalah customization, tetapi ternyata aspek ini tidak berperan. Dalam kasus akun @jakulsemarang, respon followers terhadap kuliner yang dipromosikan sangat dipengaruhi oleh tren, selera, dan media habit. Followers paling aktif pada pukul 12.00-19.00 dan terutama sore hari. Keberhasilan terlihat ketika followers tertarik dengan foto yang diunggah, sehingga mereka mengklik like, menulis komentar, testimonial, merekomendasikannya kepada teman, mem-follow akun online shop yang dipromosikan, dan mengunjungi tempat kuliner tersebut. Keberhasilan juga dapat dibuktikan dengan klaim para klien bahwa jumlah followers dari akun online shop mereka bertambah dan pengunjung meningkat.
Memahami Komunikasi Ibu yang Berkarier dalam Membentuk Konsep Diri Anak Sebagai Pribadi yang Mandiri Rakasiwi Oktaviana Hadi Saputri; Sri Budi Lestari; Agus Naryoso; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.475 KB)

Abstract

Latar belakang dilakukannya penelitian ini adalah fenomena ibu yang berkarier membuat anak harus bersikap mandiri dalam melakukan setiap hal dikarenakan kesibukan orangtua, oleh karena itu setiap ibu yang berkarier menginginkan anaknya memiliki konsep diri sebagai pribadi yang mandiri. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komunikasi antara ibu yang berkarier dalam membentuk konsep diri anak sebagai pribadi yang mandiri. Penelitian ini merujuk pada paradigma interpretif dan teknik analisa data yang digunakan mengacu pada metode fenomenologi. Subyek penelitian ini ialah tiga pasang informan dari keluarga dengan ibu yang berkarier dan memiliki anak berusia 12-14 tahun (Sekolah Menengah Pertama). Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Relationship Development dan Close Relationship. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis pekerjaan yang digeluti oleh ibu yang berkarier berpengaruh pada intensitas pertemuan, frekuensi dan durasi komunikasi antara ibu dan anak. Hal tersebut berpengaruh pada kedekatan antara keduanya sehingga pengembangan hubungan dengan cara komunikasi yang efektif perlu dilakukan. Respon positif dari orangtua membuat anak senang untuk bercerita sehingga keterbukaan dan kedekatan antara keduanya dapat terbentuk. Kedekatan yang tercipta membuat anak merasa bergantung pada orangtua dalam hal pengambilan keputusan mengenai masa depan, yakni mereka lebih mantap untuk memutuskan suatu hal setelah berdiskusi terlebih dahulu dengan orangtua. Komunikasi yang efektif antara ibu dan anak serta sikap orangtua yang konsisten memberlakukan pembagian tugas dirumah disertai dengan pemberian reward dan punishment, akan membuat anak memiliki konsep diri positif. Dua dari tiga informan anak memiliki konsep diri positif dan kemandirian meskipun masih terbatas pada kemandirian emosi dan intelektual, sedangkan informan anak lainnya memiliki konsep diri negatif karena kurangnya intensitas komunikasi antara ibu yang berkarier dengan anaknya serta kemandirian dalam hal intelektual dan sosial
MEMAHAMI POLA KOMUNIKASI SINGLE MOTHER TERHADAP PERKEMBANGAN KONSEP DIRI ANAK PEREMPUAN Astifah Asdir; Sri Budi Lestari; Agus Naryoso; Dwi Purbaningrum
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.026 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah fenomena single mother yang berperan ganda dalam keluarga membuat tugas utamanya sebagai seorang ibu menjadi terabaikan, sehingga tidak sedikit anak menjadi korban dari keadaan keluarga yang tidak utuh. Potret ibu yang dapat memberikan kontribusi positif berperan besar bagi perkembangan konsep diri sebagai pribadi yang positif.Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola komunikasi antara single mother dalam perkembangan konsep diri anak perempuan. Penelitian ini merujuk pada paradigma interpretif dan teknik analisa data yang mengacu pada fenomenologi. Subyek penelitian ini ialah dua pasang informan dengan ibu yang berperan sebagai single mother dan memiliki anak perempuan 12-21 tahun (usia remaja). Teori yang digunakan adalah teori skema hubungan dalam keluarga, teori kebohongan interpersonal, dan self-disclosure.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi yang berorientasi pada conversation orientation dan conformity orientation memberikan dampak pada perkembangan konsep diri anak. Hubungan ibu dan anak perempuannya terlihat dari komunikasi yang terjalin dan pengambilan keputusan yang tidak berpusat pada satu pihak semata. Feedback positif dari ibu memunculkan sikap keterbukaan bagi anak sehingga hubungan keduanya semakin intim. Dalam suatu hubungan yang intim, seseorang cenderung memercayai apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya. Keterbukaan yang terjalin membuat kedua belah pihak dapat saling memahami satu sama lain meskipun anak pada pasangan kedua terkadang masih ada hal yang ditutupi. Komunikasi yang efektif antara ibu dan anak akan memberikan dampak pada perkembangan konsep diri yang positif pada anak.
Hubungan antara Tingkat Pemanfaatan Path, Frekuensi Face to Face Communication, dengan Eskalasi Hubungan Pertemanan Jarak Jauh. Adi Sukma Waldi; Agus Naryoso; Sri Budi Lestari; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.372 KB)

Abstract

Pertemanan jarak jauh bukan lagi menjadi hal yang asing saat ini. Seseorang bisa saja berpisah atau tidak lagi berdomisili di daerah yang sama dengan teman mereka dikarenakan oleh berbagai hal, salah satunya pendidikan. Namun, hubungan pertemanan jarak jauh tergolong rapuh dan membutuhkan usaha lebih untuk mempertahankannya karena menurunnya frekuensi face to face communication secara drastis. Berkat perkembangan teknologi, kini mempertahankan hubungan pertemana jarak jauh dapat terbantu dengan adanya sosial media, salah satunya Path.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan dengan menggunakan paradigma positivisktik. Populasi dari penelitian ini adalah Alumni SMA 1 Batusangkar angkatan 2011 yang terlibat hubungan pertemanan jarak jauh, menjadi pengguna aktif sosial media Path minimal 1 tahun dan berusia antara 21 – 23 tahun. Penarikan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan responden sejumlah 30 orang. Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya hubungan antara tingkat pemanfaatan Path, frekuensi face to face communication, dengan eskalasi hubungan pertemanan jarak jauh. Teori yang digunakan adalah CMC dan Teori Penetrasi sosial. Hipotesis dari penelitian ini adalah adanya hubungan antara tingkat pemanfaatan Path, frekuensi face to face communication, dengan eskalasi hubungan pertemanan jarak jauh.Berdasarakan hasil temuan dalam penelitian ini, terbukti bahwa adanya korelasi positif antara tingkat pemanfaatan Path dengan eskalasi hubungan pertemana jarak jauh. Semakin tinggi tingkat pemanfaatan Path maka semakin eskalasi hubungan pertemanan jarak jauh juga semakinnaik. Dengan memanfaatkan Path, seseorang bisa tetap terhubung dan berinteraksi dengan teman mereka sehingga mereka tetap dapat saling mengetahui perkembangan kehidupan satu sama lain. Selain itu juga terbukti adanya korelasi positif antara frekuensi face to face communication dengan eskalasi hubungan pertemanan jarak jauh. Semakin tinggi frekuensi face to face communication maka eskalasi hubungan pertemanan jarak jauh juga semakin naik. Saat melakukan komunikasi face to face, informasi yang dipertukarkan lebih luas dan lebih dalam dan personal. Dengan memanfaatkan sosial media Path dan face to face communication, akan dapat tercipta hubungan pertemanan jarak jauh yang harmonis dan menurunnya kemungkinan terjadinya konflik.
OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM MAJALAH PRIA DEWASA (Analisis Semoiotika Foto pada Majalah For Him Magazine Indonesia) Annisa Arum Putri; Sunarto Sunarto; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.491 KB)

Abstract

OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM MAJALAH PRIA DEWASA (Analisis Semoiotika Foto pada Majalah For Him Magazine Indonesia)Annisa Arum Putri1ABSTRAKSIMajalah merupakan media massa yang kini hadir sesuai dengan segmentasi pembacanya. Salah satunya adalah ‘For Him Magazine’ (FHM) Indonesia, yang merupakan majalah dengan segmentasi pembaca pria dewasa. FHM Indonesia pada setiap edisinya menampilkan foto-foto perempuan dengan menonjolkan sisi sensualitasnya. Jika dicermati secara kritis, perempuan dalam majalah ini dijadikan objek. Lantas bagaimana bentuk-bentuk objektivikasi perempuan dalam majalah ini dan apa ideologi yang tersembunyi yang melatarbelakanginya?Penelitian ini bertujuan untuk melihat posisi perempuan sebagai objek dalam majalah FHM Indonesia melalui foto-foto perempuan yang terdapat di dalamnya dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakanginya. Teori yang digunakan adalah teori standpoint dan teori feminis radikal kultural. Metode yang digunakaan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika Roland Barthes, yaitu dengan analisis leksia dan lima kode pembacaan.Temuan dalam penelitian ini adalah pada majalah FHM Indonesia terdapat dualitas objektivikasi seksual perempuan. Pertama, perempuan dijadikan “objek santapan” atau komodifikasi seksual yakni perempuan dan nilai seksualitasnya dijadikan komoditas yang dijual pada pembaca majalah ini. Kedua, perempuan dijadikan “objek tatapan“ atau objek hasrat seksual laki-laki pembaca majalah ini. Objektivikasi perempuan dalam majalah ini dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki, dimana laki-laki memiliki posisi yang lebih berkuasa sehingga dapat melakukan kontrol seksualitas pada perempuan. Praktik objektivikasi perempuan agaknya disadari oleh masyarakat, namun praktik ini masih dianggap alami dan seolah dibiarkan saja.Kata kunci : majalah pria dewasa, objektivikasi, perempuan,1 Penulis merupakan mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoroannisaarumputri@gmail.comOBJECTIFICATION OF WOMEN IN MEN'S MAGAZINES (Semiotic Analysis Photos on the For Him Magazine Indonesia)Annisa Arum PutriABSTRACTMagazine was one of the mass media that present in accordance with the intended audience segmentation. One of them was For Him Magazine (FHM) Indonesia, which was the magazine with the adult male readership segmentation. FHM Indonesia, on each publication, features pictures of women with accentuated their sensuality side. In critically observed, women in this magazine became an object. Hence, what were the manifestations of women objectification in this magazine and what were the hidden dominant ideology that exist in this situation?The purpose of this study was to see the position of women as objects in FHM Indonesia through photographs of women contained in it and explain the background ideology of it. This study used standpoint theory and radical cultural feminist theory. The method in this study was semiotic analysis by Roland Barthes, include the lexias analysis and five major codes.The results of this research was there was duality of sexual objectification of women on FHM magazine Indonesia. First, commodification of women and their sensuality. The women became commodity which was sold on readers. Second, the women became object of sexual desire male readers of this magazine. Objectification of women in the FHM Indonesia distributed by patriarchal ideology, where men had a more powerful position, so they can control women including their sexuality. The practice of objectification of women presumably realized by the public, but the practice was still considered to be natural and seemed to be left alone.Key words: men’s magazine, objectification, women1. PendahuluanKonten majalah hadir mengikuti segmentasi pembacanya. Demikian pula dengan majalah For Him Magazine (FHM) Indonesia yang menjadi fokus bahasan penelitian ini. Konten majalah ini mengikuti segmentasi pembaca pria dewasa, yakni seputar gadget, gaya hidup, pengetahuan, karier, seks, dan perempuan. Namun, di dalamnya, FHM Indonesia menampilkan foto-foto perempuan berbusana minim dan artikel-artikel yang menngarah pada sensualitas dari perempuan.Perempuan dalam majalah ini adalah komoditas yang disajikan bagi pembacanya yang merupakan laki-laki dewasa berusia 21 tahun ke atas. Foto-foto perempuan berbusana minim merupakan bagian dari objektivikasi perempuan. Objektivikasi terjadi ketika seseorang melalui sarana-sarana sosial direndahkan derajatnya, dijadikan benda atau komoditas, dibeli atau dijual (Syarifah, 2006: 153).Laki-laki menonton perempuan dan perempuan disajikan sedemikian rupa untuk kesenangan laki-laki. Hal ini mengindikasikan bahwa wanita adalah pihak inferioritas sedangkan pria ada di posisi superior. Kondisi ini berbenturan dengan apa yang tertuang dalam pasal 5 (a) UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita disebutkan: “Negara-negara peserta wajib melakukan langkah-tindak yang tepat untuk mengubah pola tingkah laku sosial budaya pria dan wanita dengan maksud untuk mencapai penghapusan-penghapusan prasangka dan kebiasaan dan segala praktek lainnya yang berdasarkan atas inferioritas atau superioritas salah satu jenis kelamin atau berdasar peranan stereotip bagi pria dan wanita”. Secara garis besar, penelitian ini bertujuanuntuk melihat posisi perempuan sebagai objek dalam majalah ini dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakanginya.2. MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta menggunakan metode analisis semiotika milik Roland Barthes, yakni analisis sintagmatik melalui analisis leksia dan analisis paradigmatik melalui lima kode pembacaan. Lima kode pembacaan tersebut adalah kode hermeneutika, kode proairetik, kode simbolik, kode kultural, dan kode semik. Unit analisis dalam penelitian ini adalah: FHM Indonesia Mei 2011 halaman 44 dan 46, FHM Indonesia April 2011 halaman 46 dan 42, dan foto dengan subjek bernama Sitha Destya pada FHM Indonesia Januari 2012.3. Hasil Penelitian3.1 Analisis SintagmatikBerdasarkan analisis yang telah dilakukan, semua unit analisis menggunakan konsep glamour photography, yang menurut Pegram (2008: 90-93) adalah konsep fotografi yang memfokuskan pada keindahan tubuh subjek. Sehingga dapat disimpulkan bahwa foto-foto yang terdapat pada majalah FHM Indonesia di berbagai edisi memiliki fokus untuk menonjolkan keindahan tubuh subjek semata.3.2 Analisis Paradigmatik: Adanya Objektivikasi Perempuan dalam Majalah FHM Indonesia3.2.1 Kode HermeneutikaKode hermeneutika pertama dari teknik pengambilan gambar. Berdasarkan teknik pengambilan gambar yang digunakan dapat memperlihatkan detail subjek sepertilekukan tubuh subjek, detail kostum subjek, ekspresi subjek, dan setting foto.Kode hermeneutika kedua yang muncul selanjutnya adalah pose subjek. Gestur-gestur yang ditampilkan oleh subjek dalam majalah ini banyak diantaranya yang tergolong dalam isyarat-isyarat yang menggoda laki-laki. Kemudian dari aspek kostum, subjek pada kelima unit analisis dalam penelitian ini semuanya diarahkan untuk menggunakan kostum tertentu oleh majalah ini. Hal ini terlihat dari keterangan foto yang menyebutkan bahwa terdapat pengarah kostum dalam foto ini. Selanjutnya, kostum yang banyak digunakan adalah bra. Kemudian asesoris yang sering ditemukan adalah sepatu hak tinggi.Menurut Danesi (2012: 216), dalam representasi seksual pakaian memainkan peranan sentral dalam menekankan seksualitas. Sehingga disini bra dan celana dalam yang dikenakan subjek dapat dipahami sebagai penegasan seksualitas perempuan yang dapat merangsang laki-laki secara visual. Secara keseluruhan, perempuan pada unit-unit analisis di atas digambarkan sebagai sosok yang sensual dan berusaha mengundang gairah pembaca.3.2.2 Kode ProairetikHasil dari analisis kode proairetik menyebutkan bahwa pada foto-foto kelima unit analisis penelitian ini, terdapat 3 jenis implikasi yang tidak berpihak pada perempuan yang berada di dalamnyaImplikasi pertama yang muncul adalah eksploitasi bagian tubuh subjek dan kualitas fisik subjek. Kemudian implikasi kedua dari tindakan-tindakan pada kelima unit analisis ini adalah merupakan lanjutan dari implikasi pertama, dimana eksploitasi tubuh subjek dapat berlanjut pada memunculkan fantasi erotis bagi laki-laki ataumemberikan rangsangan secara visual bagi laki-laki.Implikasi ketiga yang kemudian berkaitan dengan perempuan dalam foto ini adalah ia dapat dipersepsikan sebagai perempuan “tidak baik”. Menunjukkan hasrat seksual atau bahkan pengalaman seksual ini berarti menjebloskan diri perempuan itu sendiri ke dalam kategori “perempuan jalang”. (Prabasmoro, 2006:53).3.2.3 Kode SimbolikKesimpulan dari kode simbolik yang ditelaah dalam kelima unit analisis di atas adalah terdapat simbol-simbol yang menyatakan bahwa perempuan adalah objek seksual bagi pembaca laki-laki majalah FHM Indonesia.Pada akhirnya, simbol-simbol perempuan yang ada merujuk kepada suatu simbol dominan yaitu simbol dominasi laki-laki. Perempuan ini diarahkan oleh majalah ini untuk menarik di mata laki-laki dan merangsang secara visual bagi laki-laki. Kostum seksi yang digunakan, pose yang merangsang hasrat seksual, kemudian bagian-bagian tubuh subjek yang ditonjolkan, kesemuanya itu diarahkan mengikuti selera atau kesukaan laki-laki.3.2.4 Kode KulturalSetelah menganalisis kode kultural dari masing-masing unit analisis dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa lima foto yang diambil dalam majalah FHM Indonesia tidak mencerminkan kultur Indonesia. Kesimpulan ini didasarkan pada dua aspek yang dianggap mampu mengarahkan peneliti pada kode kultural tersembunyi, yakni kostum subjek dan pose subjek.Kostum subjek secara eksplisit dapat dikatakan terbuka atau memamerkan bagian-bagian tubuh tertentu dan menonjolkan keindahannya. Keadaan ini tentu tidaksesuai dengan kultur masyarakat Indonesia dimana dijelaskan Hidayana (2013: 60) dalam Jurnal Perempuan No.77 bahwa perempuan yang berpakaian mengumbar aurat, terbuka, dan seksi dapat diberi label perempuan ‘tidak baik’. Dengan begitu, subjek sebagai perempuan Indonesia yang tampak mengenakan pakaian yang ‘terbuka’ dapat dianggap sebagai ‘perempuan tidak baik’.Tidak hanya itu, perempuan dalam kelima unit analisis ini terlihat mengekspresikan seksualitasnya melalui beberapa bentuk gestur dan ekspresi yang diterjemahkan menjadi isyarat-isyarat merangsang laki-laki. Keadaan ini bertolak belakang dengan kultur masyarakat Indonesia. Perempuan dituntut untuk membendung dan mengontrol hasrat seksualnya. Setiap gerak tubuh perempuan seperti kerling mata, senyuman, cara duduk, dan lainnya selalu diawasi dengan ketat (Hidayana, 2013: 61).Perempuan yang menjadi subjek foto memang perempuan Indonesia, namun bagaimana majalah ini merepresentasikannya jelas bukan menggunakan kultur Indonesia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perempuan Indonesia pada majalah waralaba asal Britania Raya ini dikontruksi menggunakan kultur barat.3.2.5 Kode SemikSetelah melakukan analisis pada kelima foto yang menjadi unit analisis penelitian ini, penulis melihat bahwa perempuan yang menjadi subjek foto dalam majalah FHM Indonesia digambarkan sebagai objek seksual bagi pembacanya yang merupakan laki-laki. Dengan begitu FHM Indonesia turut melanggengkan mitos bahwa perempuan adalah objek seksual bagi laki-laki.Pada saat pembaca laki-laki melihat foto-foto ini maka terjadi sebuah alur yakni: memandang foto secara keseluruhan, mengidentifikasi aspek-aspek yang ada dalam foto, memandang bagian-bagian tubuh subjek sekaligus nilai-nilai sensualitasnya (berupa kualitas fisik, pose, dan lainnya), kemudian terjadi stimulasi seksual. Dengan begitu, terciptalah suatu konsep dimana perempuan dalam majalah ini adalah objek ‘tatapan’ laki-laki dan laki-laki adalah subjek atau pelaku ‘tatapan’. Konsep ini meminjam konsep Laura Mulvey, bahwa perempuan dipajang sebagai objek seksual yang berfungsi secara simultan bagi khalayak laki-laki yang dapat memperoleh kepuasan scopophilis dari kehadiran mereka.4. PembahasanGambaran perempuan dalam foto-foto yang ada pada majalah FHM Indonesia ini merupakan perwujudan dari objektivikasi perempuan. Terkait dengan objektivikasi, Star menguraikannya sebagai berikut:Objektivikasi adalah analisis yang digunakan untuk menjelaskan perlakuan-perlakuan terhadap perempuan (seringkali citra perempuan) yang mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subjek manusia seutuhnya. Gagasan yang berhubungan dengan objektivikasi antara lain: tatapan (gaze), stereotip, komodifikasi, tontonan (spectatorship), dan pembelajaran peran-peran gender (Sunarto, 2009:163).Pada lima foto yang dianalisis terdapat indikasi adanya dualitas objektivikasi perempuan, dimana perempuan dijadikan “santapan“ dan “tatapan“ pada majalah FHM Indonesia. “Santapan“ disini merujuk pada posisi perempuan sebagai objek komodifikasi yang dijual oleh FHM Indonesia kepada pembaca laki-laki. Kemudian “tatapan“ yang merujuk pada posisi perempuan sebagai objek seksual bagi pembaca laki-laki.Pada tahapan pertama, perempuan dalam majalah ini dijadikan sebagai “objek santapan“, dimana perempuan dijadikan komoditas yang dijual kepada para pembaca. Hal ini merupakan perwujudan dari gagasan dalam objektivikasi yang diutarakan diatas, yakni komodifikasi perempuan. Majalah FHM Indonesia adalah majalah dengan segmentasi pembaca utama laki-laki dewasa atau berusia 21 ke atas, atau yang dikenal sebagai ‘majalah pria dewasa‘.Kemudian berbicara mengenai motif media dengan tema seperti ini. Hal ini pernah dideskripsikan Yasraf Amir Pilliang bahwa penggunaan unsur seks dan sensualitas di dalam berbagai media akibat diterapkannya prinsip ‘Libidinal Economy‘ atau merangsang hasrat setiap konsumen melalui strategi sensual komoditas (Syarifah, 2006: 7). Perempuan merupakan hal yang disukai laki-laki, majalah pria dewasa kemudian mengusung tema sensualitas untuk meraup lebih banyak keuntungan dari pembaca laki-laki yang menghasrati perempuan sensual.Kedua, perempuan dalam majalah ini dijadikan sebagai “objek tatapan“ yang merujuk pada posisi perempuan sebagai objek hasrat seksual bagi pembaca laki-laki. Subjek pada foto-foto ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan kesenangan pandang laki-laki, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Dengan begitu hal ini sesuai dengan gagasan objektivikasi yakni: tatapan (gaze). dimana perempuan adalah objek ‘tatapan’ laki-laki dan laki-laki adalah subjek atau pelaku ‘tatapan’.Namun terdapat temuan yang menarik disini. perempuan dalam kelima foto ini juga terlihat secara aktif mengekspresikan seksualitasnya dalam berpose. Penulismenyimpulkan bahwa perempuan dalam foto ini merupakan objek seksual aktif, yang berarti suatu kondisi dimana perempuan dalam majalah ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan male gaze, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Namun ia sendiri tidak bersifat pasif, melainkan memiliki keterlibatan aktif dimana ia terlihat secara sadar melakukan pose-pose yang kerap disebut “pose syur”.Terdapat suatu pola dimana semua berpusat pada pembaca laki-laki, termasuk pendefinisian seksualitas perempuan yang ada dalam majalah ini. Prabasmoro (2006: 293) menyebutnya dengan pemusatan seksualitas pada seksualitas laki-laki menyebabkan seksualitas perempua dimaknai dan ditandai sebagai sesuatu untuk seksualitas laki-laki .Laki-laki terkesan superior dan perempuan sebagai pihak dibawahnya. Hal ini yang kemudian sejalan dengan konsep penting teori standpoint, bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang bergantung pada konteks dan keadaan tertentu dimana perbedaan lokasi dalam kedudukan sosial akan menghasilkan standpoint yang berbeda, tergantung dari pengalaman masing-masing.Melalui posisi superior, laki-laki dapat melanggengkan kekuasaannya atas seksualitas perempuan. Salah satu bentuk kontrol laki-laki dalam seksualitas perempuan adalah objektivikasi seksual, yaitu perlakuan-perlakuan yang mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subjek manusia seutuhnya (Sunarto, 2009:163). Namun perempuan yang berada di posisi marjinal hanya bisa mengikutisudut pandang bentukan laki-laki bahkan terlibat aktif agar biasa diterima di lingkungan sosial. Feminis radikal kultural memandang bahwa objektivikasi seksual dimana laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek merupakan suatu bentuk opresi seksualitas.Objektivikasi perempuan dalam majalah FHM Indonesia terjadi karena adanya ideologi besar yang tersembunyi di dalamnya, yakni patriarki yang dianut oleh majalah ini dan masyarakat pada umumnya. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan.Patriarkisme menurut Bhasin (dalam Sunarto, 2009: 38), merupakan suatu pandangan yang menempatkan kaum laki-laki lebih berkuasa dibanding kaum perempuan. Pada penerapannya, seperti yang dijelaskan Soemandoyo (1999: 63) posisi laki-laki yang lebih dominan, lebih menentukan. Sedangkan posisi perempuan yang sub-ordinat, dalam beberapa hal, ditentukan dan dikuasai oleh laki-laki. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan. Keberadaan perempuan dalam masyarakat dilihat dari perspektif laki-laki.5. Penutup5.1 SimpulanPada majalah FHM Indonesia terdapat dualitas objektivikasi perempuan. Objektivikasi perempuan yang terjadi dalam majalah FHM Indonesia terdiri dari 2 poin. Pada tahapan pertama, perempuan dalam majalah ini dijadikan “objek santapan“ atau komoditas yang dijual kepada para pembaca. Ini merupakan perwujudan dari salah satu gagasan dalam objektivikasi, yakni komodifikasi seksual perempuan. Majalah ini mengusung tema sensualitas perempuan untuk meraup keuntungan daripembaca laki-laki. Kedua, perempuan dalam majalah ini dijadikan “objek tatapan“ atau objek hasrat seksual bagi pembaca laki-laki. Perempuan pada foto-foto ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan kesenangan pandang laki-laki, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Dengan begitu hal ini sesuai dengan gagasan objektivikasi yakni: tatapan (gaze).Objektivikasi perempuan berkaitan dengan struktur yang tanpa disadari telah lama tertanam di masyarakat yakni dominasi laki-laki. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan. Keberadaan perempuan dalam masyarakat dilihat dari perspektif laki-laki.5.2 RekomendasiSecara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan atau refrensi bagi peneliti-peneliti lainnya untuk dilakukannya penelitian yang lebih lanjut, detail dan komprehensif tentang objektivikasi perempuan. Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi pemahaman bagi para praktisi industri media massa, mengenai ketimpangan relasi gender yang terjadi melalui penggambaran perempuan dalam media massa khususnya majalah. Para praktisi diharapkan dapat memperhatikan kepentingan kaum perempuan agar dapat melakukan pemberitaan atau penggambaran yang layak dan berimbang mengenai perempuan. Dengan demikian, tidak semakin mengecilkan posisi perempuan dalam struktur masyarakat.Secara sosial, penelitian ini berusaha mengungkap objektivikasi yang dialami perempuan dalam masyarakat sebagai implikasi dari ideologi dominan patriarki. Khalayak diharapkan dapat berpikir kritis dan terus mempertanyakan ketimpanganyang terjadi pada perempuan, sebagai berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam masyarakat. Sehingga terwujudnya masyarakat yang berkeadilan gender.6. Daftar RujukanSumber Buku:Barthes, Roland. (2010). Imaji, Musik, dan Teks. Yogyakarta: Jalasutra.Brooks, Ann. (2011). Posfeminisme & Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: JalasutraBudiman, Kris. (2011). Semiotika Visual: Konsep, Isi, dan Problem Ikonitas. Yogyakarta: Jalasutra.Danesi, Marcel. (2012). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Ibrahim, Idi Subandy, (2011), Kritik Budaya Komunikasi, Yogyakarta: Jalasutra.Kurniawan, Heru. (2009). Sastra Anak: dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha IlmuPegram, Billy. (2008). Posing Techniques: For Photographing Model Portfolios. New York: Amherst Media.Prabasmoro, Aquarini Priyatna. (2006). Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra dan Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.Soemandoyo, Priyo. (1999). Wacana Gender dan Layar Televisi: Studi Perempuan dalam Pemberitaan Televisi Swasta, Jakarta, Yayasan Galang.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan dan Perempuan. Jakarta: KompasSyarifah. (2006). Kebertubuhan Perempuan dalam Pornografi. Jakarta: Yayasan Kota Kita.Sumber JurnalApsari, Diani. (2010). “Visualisasi Wanita Indonesia dalam Majalah Pria Dewasa”. Wimba Jurnal Komunikasi Visual dan Multimedia Vol. 2 No. 1: hal 65-79.Hidayana, Irwan. M. (2013, Mei). “Budaya Seksual dan Dominasi Laki-Laki dalam Perikehidupan Seksual Perempuan”. Jurnal Perempuan Edisi 77 Vol.18. No.2: hal 57-67.Muhammad, Husein. (2013, Mei). “Bukan Soal Tubuh tetapi Ruh”. Jurnal Perempuan Edisi 77 Vol.18. No.2: hal 103-115.
Pemaknaan Jilbab Kreatif bagi Perempuan Muslim sebagai Identitas Diri Mar'atul Hanifah; Wiwid Noor Rakhmad; Taufik Suprihartini; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.699 KB)

Abstract

Peminat menggunakan jilbab meningkat setelah model-model jilbab kreatif mulai hadirmenghiasi ranah fashion. Tidak dapat dipungkiri, perkembangan jilbab sebagai trend fashiontelah membuat sebagian perempuan muslim lainnya menjadi dapat berkreasi mengenai modeljilbab seperti apa yang ingin dikenakannya. Karena jilbab yang dahulu dikenal denganmodelnya yang polosan dan ukuran yang besar atau lebar, telah berubah menjadi jilbab yangserba modern dan dinamis. Hal ini bergantung pada pengetahuan dan pengalaman perempuanmuslim dalam memaknai jilbab. Penampilan masih terus berperan penting dalammencerminkan identitas pemakainya, serta berdampak pada orang lain dalam menentukansikap terhadap orang tersebut. Meskipun sebagian orang tidak memperdulikannya, dan hanyamengubah penampilan sesuai tren yang sedang berkembang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemaknaan mengenai jilbab yangdipahami oleh perempuan muslim sebagai sarana mempresentasikan diri. Penelitian inimerupakan penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Sedangkan teknik analisis datadilakukan berdasarkan model analisis data fenomenologi dari Von Eckartsberg. Penelitimenggunakan teori dari Erving Goffman tentang presentasi diri yang menjelaskan beberapahal seperti busana yang dipakai, tempat tinggal, cara berjalan, berbicara, dan lain-laindigunakan untuk presentasi diri. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakanindepth interview kepada lima informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni perempuanmuslim yang menggunakan jilbab syar’i, menggunakan jilbab kreatif, dan belummenggunakan jilbab.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan muslim memaknai jilbab kreatifsebagai pakaian yang modis, elegan, dan menjadikan penggunanya terlihat lebih cantik.Meski alasan mereka menggunakan jilbab adalah karena jilbab merupakan pakaian wajibbagi perempuan muslim, terkadang secara sadar ataupun tidak, jilbab kreatif tersebutmengabaikan beberapa aturan berjilbab dalam Islam dan lebih terpusat pada perkembangantren. Meski demikian, adanya variasi model, bahan, dan aksesoris jilbab membuat perempuanmuslim tertarik untuk mengenakannya.Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa kehadiran trend fashionjilbab kreatif menimbulkan bermacam makna mengenai jilbab. Namun, jilbab kreatif lebihmemperhatikan aspek kecantikan dan tren yang sedang berkembang. Jilbab kreatif membuatbeberapa perempuan muslim merasa lebih nyaman melaksanakan kewajiban berjilbab dengantetap terlihat cantik dan modern.
PENGELOLAAN KONFLIK YANG BERSUMBER PADA PRASANGKA SOSIAL (KASUS SUAMI LEBIH MUDA-ISTERI LEBIH TUA) ROBBIANTO ROBBIANTO; Sri Budi Lestari; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.323 KB)

Abstract

ABSTRAKJUDUL : PENGELOLAAN KONFLIK YANG BERSUMBER PADAPRASANGKA SOSIAL (KASUS SUAMI LEBIH MUDA-ISTERILEBIH TUA)NAMA : ROBBIANTONIM : D2C007076Fenomena perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua kini tidak hanya populerdi kalangan para pesohor saja, melainkan juga terjadi di kalangan masyarakat umum.Perbedaan usia kedua pasangan itu pun bervariasi antara satu sampai lima tahun ataulebih dari lima tahun. Konsep nilai tradisional memercayai bahwa usia suami yang lebihtua dipercaya akan membawa pernikahan ke arah yang lebih baik, mengingat suamisudah sepantasnya menjadi sosok pemimpin dan pengayom dalam rumah tangga. Dengandemikian, perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua dianggap telah bertentangan nilaitersebut, sehingga pasangan yang menjalani perkawinan tersebut seringkali dihadapkanpada prasangka sosial yang dapat muncul dari lingkungan di sekitar mereka.Penelitian ini bertujuan untuk melihat bentuk prasangka sosial yang muncul dalamkehidupan pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua, bagaimana situasi tersebut dapatmemengaruhi keharmonisan perkawinan mereka, dan bagaimana pengalaman komunikasipasangan tersebut dalam hal mengelola konflik yang sumbernya dari prasangka sosial itu.Teori yang digunakan adalah Relational Dialectics Theory yang dikemukakan olehBaxter dan Montgomery dan didukung konsep pengelolaan konflik K.W Thomas danR.H Kilmann (1974) yang dikenal dengan metode “The Thomas-Kilmann Conflict ModeInstrument (TKI)”. Pengalaman individu ini diungkapkan dengan metode fenomenologiyang mengutamakan pada pengalaman individu secara sadar dalam memaknai suatu hal.Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap tiga pasang informan yangmemiliki isterinya lebih tua lebih dari leima tahun daripada suami ,serta telah menikahselama lebih dari sepuluh tahun.Hasil dari penelitian ini menunjukkan untuk menghadapi situasi konflik yangpenuh prasangka sosial, pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua secara umummenggunakan seringkali menggunakan metode kompetisi dimana mereka tidak terlalumemperdulikan apa kata orang, menghiraukannya, dan tetap fokus pada pendiriannyauntuk memelihara rumah tangga yang harmonis. Selain itu, tidak jarang mereka jugamelakukan metode kompromi dimana mereka berusaha untuk memberikan penjelasandan pengertian kepada orang-orang yang berprasangka. Faktor internal dari pasangansuami-isteri seperti, komitmen, kebutuhan yang saling melengkapi, dan penerimaan diriyang positif juga membantu mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang diliputiprasangka sosial. Prasangka sosial setidaknya juga telah membawa dampak bagipasangan suami lebih muda-isteri lebih tua. Dampak negatif akibat prasangka sosialantara lain munculnya tekanan di dalam pikiran maupun batin bagi masing-masingpasangan, perubahan emosi yang terkadang dapat memicu pertengkaran di dalam rumahtangga, dan merenggangnya hubungan mereka dengan orang tua, saudara, atau teman.Sedangkan dampak positifnya, yakni dirasakan adanya penguatan hubungan di antarapasangan suami-isteri tersebut dan meningkatnya sikap supportif satu sama lain.Key words : suami lebih muda-isteri lebih tua, pengelolaan konflik, prasangka sosialABSTRACTTITLE : CONFLICT MANAGEMENT WHICH IS BASED ON SOCIALPREJUDICE (THE CASE OF YOUNGER HUSBAND-OLDERWIFE)NAME : ROBBIANTONIM : D2C007076Nowadays, the phenomenon of younger husband-older wife marriage is not onlypopular among celebrities, but also occurs in the general societies. The couple‟s age isvaried between one to five years or more than five years. The concept of traditionalvalues believe that the age of older man was believed to bring the marriage into a betterdirection, it is considered that men should become a leader and protector in the family.Thus, the younger husband-older wife marriage is considered to have conflicting values,so the couples whom undergoing that marriage are faced with the social prejudice oftenlywhich can arise from the people around them.This study aims to look at forms of social prejudice that arise in the life ofyounger husband-older wife, how that situation may affect the harmony of their marriage,and how the couple‟s experience in managing the conflict that comes from socialperjudice. The theory used is Relational Dialectics by Baxter and Montgomery andsupported by the concept of K.W Thomas and R.H Kilmann (1974) conflict managementwhich is known as “The Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI)”. Thisindividual experience is expressed by the phenomenological method which priotitizesindividual experience concious of understanding a thing. The researcher used in-depthinterviewing technique to three pairs of informants who have an age gap of more thanfive years older at the wife than her husband, and has been married for more than tenyears.The results of this study indicate that to deal with situations of social conflictprejudiced, The younger husband-older wife couples in general often use competitionmethod in which they are not too concerned with what people say, ignore it, and remainfocused on the establishment to maintain harmonious family. In addition, not infrequentlythey also do the compromising method in which they strive to provide an explanation andunderstanding to the prejudiced people. Internal factors of the husband and wife, like thecommitment, complementary needs, and positive self acceptance also help them to live alife filled with domestic social prejudice. The social prejudice also has impact on at leastyounger husband-older wife couple. The negative impact of the emergence of socialprejudices among others in mind as well as the pressure in the inner for each partner,emotional changes that can sometimes lead to quarrels in the household, and theirrelationship with parents, siblings, or friends become distant. While the positive impactare strengthening the relationship between husband and wife, and the increasingsupportive attitude to each other.Key words : younger husband-older wife, conflict management, social prejudicePENDAHULUANDewasa ini, perkawinan suami lebih muda dan isteri lebih tua semakinbanyak dijumpai di masyarakat. Perbedaan usia diantara mereka pun semakinbervariasi, mulai 1-2 tahun, sampai lebih dari 5-10 tahun. Ungkapan “Cintamemang buta, tak lagi memandang status, strata, apalagi usia.” layaknya tepatuntuk menggambarkan tipe perkawinan semacam ini. Hubungan percintaansemacam ini lebih dulu populer di kalangan selebritas yang kemudian seringkalimenjadi bahan perbincangan umum.Namun perkawinan antara pria lebih muda dengan wanita lebih tua inibukannya tanpa masalah, mereka seringkali dihadapkan pada prasangka sosial,yang wujudnya dapat berupa stigma negatif, gunjingan, cibiran, hinggapenolakan, terlebih lagi jika usia wanita tersebut terlampau lebih tua dari sangpria. Beberapa juga menganggap hal ini sebagai ketidaklaziman atau tabu.Berbagai stereotip secara konsisten juga diasosiasikan pada pasangan suami lebihmuda-isteri lebih tua.Terkait perbandingan usia antara pria dan wanita dalam sebuahperkawinan, sesuai dengan konsep pemikiran tradisional atau nilai yang dipegangdalam masyarakat idealnya adalah seorang pria menikah dengan wanita yanglebih muda. Usia suami yang lebih tua dipercaya akan membawa pernikahan kearah yang lebih baik, mengingat suami sudah sepantasnya menjadi sosokpemimpin, pengayom, dan pembimbing dalam rumah tangga dan keluarga. Halini juga sebenarnya tersirat dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun1974 dimana perbandingan usia dalam suatu perkawinan memperlihatkan bahwausia pria lebih tua daripada wanitanya. Dalam Pasal 7 Ayat 1 disebutkan bahwaperkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas)tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.Dalam Teori Relational Dialektika, Baxter dan Montgomery menyatakanbahwa hubungan tidak terdiri atas bagian-bagian yang bersifat linear, melainkanterdiri atas fluktuasi yang terjadi antara keinginan-keinginan yang kontradiktif(West dan Turner, 2008: 236). Dialektis mengacu pada sebuah tekanan antarakekuatan-kekuatan yang berlawanan dalam sebuah sistem (Littlejohn, 2009: 302).Hubungan perkawinan dalam konteks suami lebih muda-istri lebih tuaberasumsi adanya dialektika yang bersifat kontekstual, yakni antara keputusanmereka untuk menikah berseberangan nilai yang dianut masyarakat yangmeyakini bahwa pernikahan biasanya terjalin antara pria yang lebih tua denganwanita yang lebih muda. Dialektika konstektual yang seperti ini, dinamakan olehRawlins (1992) sebagai dialektik antara yang nyata dan yang ideal. Keteganganantara dialektika yang nyata dan yang ideal (real and ideal dialectic) munculketika orang menerima pesan ideal mengenai seperti suatu hubungan itu, danketika melihat hubungan mereka mendiri, mereka harus menghadapi kenyataanyang berlawanan dengan yang ideal tadi.Perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua juga merupakan sebuahrelasi yang memuat unsur konflik di dalamnya. R.D Nye (1973) menilaiperbedaan nilai sebagai salah satu penyebab atau sumber konflik (dalam Rakhmat,2005: 129). Konflik terjadi karena adanya kontroversi. Sikap kontroversi munculkarena masing-masing pihak mempunyai sudut pandang analisis, argumen yangberbeda (Suranto, 2010: 111). Pertentangan nilai yang dianut pasangan suamilebih muda-isteri lebih tua dengan yang dianut masyarakat mengenaiperbandingan usia antara suami-istri yang ideal dalam perkawinan inilah yangmenjadi situasi konflik dalam relasi perkawinan tersebut. Konflik tidak berasaldari internal kedua belah pihak pasangan melainkan antara masing-masingpasangan dengan pihak di luar pasangan tersebut, yakni masyarakat sekitarmereka.Salah satu teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan pengelolaankonflik dalam penelitian ini adalah Teori Analisis Transaksional dari Eric Berne(1964) yang ditulis dalam bukunya Games People Play. Analisis transaksionalsebagai pendekatan komunikasi interpersonal, bertujuan mengkaji secaramendalam proses transaksi yang berlangsung dalam proses komunikasi, yaknimengenai siapa saja yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang diperlukan.(Andayani, 2009: 70). Selain itu penelitian ini juga berbasis pada metodepengelolaan konflik dari K.W Thomas dan R.H Kilmann (1974) yang dikenaldengan metode “The Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI)” tentangpengelolaan konflik yang terdiri atas lima gaya atau cara (five conflict-handlingmodes yang dapat dijabarkan ke dalam dua dimensi yaitu kepedulian terhadap dirisendiri (assertiveness) dan kepedulian terhadap orang lain (cooperativeness).PEMBAHASANUsia merupakan salah satu pertimbangan seorang pria atau wanita dewasadalam memilih pendamping hidup. Di dalam masyarakat pada umumnya terjadiadalah seorang pria yang lebih tua menikah dengan seorang wanita yang lebihmuda darinya. Namun kini fenomena perkawinan antara pria yang lebih mudadengan wanita yang lebih tua juga semakin banyak dijumpai di masyarakatumum, tidak hanya terbatas pada kalangan para pesohor yang lebih dahulupopuler. Perbedaan usia kedua pasangan itu pun bervariasi antara satu sampailima tahun atau lebih dari lima tahun.Konsep nilai tradisional mempercayai bahwa usia suami yang lebih tuadipercaya akan membawa pernikahan ke arah yang lebih baik, mengingat suamisudah sepantasnya menjadi sosok pemimpin dan pengayom dalam rumah tangga.Dengan demikian, perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua dianggap telahbertentangan atau “melanggar” nilai tersebut, sehingga pasangan yang menjalaniperkawinan tersebut seringkali dihadapkan pada prasangka sosial yang dapatmuncul dari lingkungan di sekitar mereka.Penelitian ini menguraikan tentang pengalaman pasangan suami lebihmuda-isteri lebih tua dan prasangka sosial yang mereka hadapi serta bagaimanamereka mengelola situasi tersebut. Penelitian ini melibatkan tiga pasangresponden yang memiliki perbedaan usia di atas lima tahun lebih tua isteridibandingkan suami serta telah menikah selama lebih dari sepuluh tahun. Lewatpenelitian ini peneliti berupaya menggambarkan bagaimana pasangan dengankondisi demikian mengelola konflik eksternal atau dalam hal ini prasangka sosialyang mereka hadapi karena kondisi perkawinan mereka dianggap tidak ideal olehmasyarakat di sekitar mereka. Dengan wawancara mendalam, penelitimengumpulkan informasi tentang kondisi rumah tangga mereka dan metodepengelolaan konflik yang mereka lakukan.Pembahasan tentang penemuan-penemuan penelitian ini menghasilkanbeberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian yang telah dilaksanakan,yakni:1) Perbedaan usia antara suami dan isteri dalam pasangan suami lebih mudaisterilebih tua tidak menjadi suatu halangan bagi mereka untuk membinahubungan rumah tangga layaknya pasangan–pasangan lain. Walaupun secarabiologis isteri memiliki usia yang jauh lebih tua dibandingkan dengan suami.Namun ketika isteri mampu untuk membuat penampilan mereka lebih muda dansegar maka pasangan pun ini secara kasat mata terlihat layaknya pasanganpasanganpada umumnya. Sifat saling melengkapi yang dimiliki pasangan ini jugamenjadi hal yang mendukung terciptanya suasana rumah tangga yang selaras danbahagia.2) Prasangka sosial yang dialami oleh pasangan suami lebih muda-isteri lebihtua dapat dibedakan menjadi beberapa kategori. Pertama, prasangka sosial inimuncul ke dalam suatu bentuk pembiacaraan negatif (anti-lokusi) mengenaipasangan tersebut. Materi pembicaraan itu pun berkisar pada perbedaan usia diantara pasangan yang terlampau jauh sehingga dianggap tidak ladzim, perbedaanfinansial yang dimiliki pasangan dimana isteri diketahui ternyata lebih mapandibandingkan suami, dan latar belakang isteri yang sebelumnya pernah gagalmenjalin hubungan rumah tangga. Pembicaraan negatif ini juga termasuk didalamnya adalah gurauan yang tidak pada konteksnya dan sifatnya merendahkanatau menyinggung perasaan. Kedua, stereotip secara konsisten diasosiasikankepada masing-masing pasangan, baik suami maupun isteri yang menjalaniperkawinan semacam ini. Salah satunya adalah suami yang lebih muda seringkalimasih dianggap gemar mencari kesenangan pribadi dan kurang dapat diandalkan.Sedangkan isteri yang lebih tua juga masih dipandang akan lebih mendominasi didalam pola komunikasi keluarga tersebut, terlebih lagi jika isteri tersebut jugalebih mapan secara finansial dibandingkan sang suami. Ketiga, prasangka sosialjuga diwujudkan dalam bentuk penolakan dan penghindaran baik secarakomunikasi atau pun tindakan terhadap pasangan suami lebih muda-isteri lebihtua ini.3) Prasangka sosial adalah pengalaman yang kurang menyenangkan bagipasangan suami lebih muda-isteri lebih tua. Dampak negatif yang dialami olehpasangan akibat prasangka sosial tersebut antara lain, munculnya tekanan secarabatin atau pikiran yang dapat membuat pasangan terkadang merasa ragu akanhubungan mereka sendiri dan hampir tenggelam oleh suara-suara dari orang yangberprasangka. Pasangan yang menjalani perkawinan semacam ini membutuhkankesabaran yang lebih untuk membiasakan diri menghadapi prasangka sosial yangmuncul dari lingkungan sekitar mereka tersebut. Melalui penerimaan diri yangpositif, pasangan tersebut dapat mengubah prasangka sosial yang semula adalahancaman bagi keharmonisan rumah tangga mereka menjadi peluang bagi merekauntuk bersikap solid atau saling mendukung (supportif) membina keluarga yangkokoh dan bebas dari pengaruh penilaian orang lain.4) Pertentangan nilai yang dianut masyarakat dan pasangan informanmengenai perbandingan usia yang ideal antara suami dan isteri dalam suatuperkawinan yang kemudian melahirkan suatu prasangka sosial adalah bentukkonflik eksternal yang terjadi pada pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua.Sangatlah penting bagi pasangan tersebut untuk mengetahui cara pengelolaankonflik agar keharmonisan rumah tangga dapat terjaga. Secara umum carapengelolaan konflik yang lebih sering dilakukan pasangan suami-isteri adalahdengan tetap fokus pada komitmen awal menjalin hubungan rumah tangga dantidak menaruh perhatian yang besar terhadap berbagai prasangka yang hadirdalam kehidupan mereka.PENUTUPPenelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi penelitian komunikasidalam mengkaji teori-teori yang berkaitan dengan Dialektika Relasional yangdikemukaan oleh Baxter dan Montgomery. Dalam teori tersebut hubunganpasangan suami-isteri bukan hanya dilihat dari pendekatan monologis maupundualistik yang melihat hubungan dimulai dari dekat menjadi sangat intimmelainkan bagaimana individu menangani pertentangan dalam hubungannya.Pasangan dalam kondisi demikian tidak perlu menutup diri dari pergaulansosial dan merasa malu atau rendah diri karena merasa atau dianggap berbedadibandingkan pasangan-pasangan suami-isteri pada umumnya. Pasangan suamiisteripun juga tidak perlu merasa terancam kehidupan rumah tangganya denganadanya prasangka sosial di seputar kehidupan mereka. Komitmen dari awal untukmembina rumah tangga yang harmonis kiranya harus terus dijaga agar pasangansemacam ini tidak tenggelam dalam suara-suara dan pendapat dari luar yang tidakselalu sesuai atau benar.Sebagai syarat menjadi pengayom dan pemimpin keluarga yang baik makakedewasaan pun diperlukan, salah satunya oleh masyarakat sosial hal ini dicirikandengan usia yang lebih tua. Nilai itu pun diteruskan secara turun-temurun darigenerasi ke generasi. Masyarakat seringkali tidak mau memahami kenapa ada priayang lebih muda mau menikah dengan wanita yang lebih tua. Memahamikeputusan orang lain memang tidak selalu mudah. Lebih mudah mengungkapkanketidaksetujuan dengan komentar atau ejekan. Perkawinan semacam ini pun padaakhirnya dijadikan sasaran prasangka sosial oleh masyarakat. Komentar negatifhingga penolakan seringkali ditujukan bagi pasangan tersebut. Seharusnyamasyarakat tidak mudah memberikan penilaian atau penghakiman (judgement)kepada seseorang tanpa mengetahui kebenaran atau alasan ketika seseorangmenjadi berbeda dengan apa yang biasanya terjadi dalam masyarakat itu sendiri.Masyarakat agaknya dapat lebih berempati dan lebih bijak lagi dalam menilaikarena pada hakikatnya manusia secara individu juga memiliki kemauan atauprinsip yang tidak dapat dikendalikan orang lain, termasuk dalam memilihpasangan hidup.Daftar Pustaka:Andayani, Tri Rejeki. 2009. Efektivitas Komunikasi Interpersonal. Semarang:Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.Beebe, Steven A. 2005. Interpersonal Communication Relation With Other.Boston: Pearson Education, Inc.Harsanto, Priyatno. 2006. Pendekatan Interpretif dalam Ilmu Sosial:Fenomenologi, Etnometodologi dan Simbolik Interaksionisme. Modul PelatihanPenelitian Kualitatif. Semarang: FISIP UndipKnapp, Mark L & Anita L. Vangelisti. 1992. Interpersonal Communication andHuman Relationships. Boston: Allyn and BaconKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Liliweri, Alo. 1991. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi. Jakarta:Salemba Humanika.Littlejohn. 1999. Theories of Human Communication. Belmont, California:Wadsworth Publishing Company.Moleong, Lexy J. Dr. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakaryaMorissan, M.A. 2010. Psikologi Komunikasi. Bogor: Ghalia IndonesiaMoustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. California: SagePublications, IncNarwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2007. Sosiologi Teks Pengantar danTerapan. Jakarta: Kencana Prenada.Older Women-Younger Men Relationships: The Social Phenomenon of„Cougars‟. A Research Note. Institute of Policy Studies, Working Paper, January2010.Olson, David H., dan John DeFrain. 2006. Marriages & Families: Intimacy,Diversity, and Strengths. Lindenhurst, NY: McGraw-Hill Humanities Social.Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya: Bandung.Thomas, K.W., & R.H. Kilmann. 1974. Thomas-Kilmann Conflict ModeInstrument. Sterling Forest, NY: Xicom, Inc.Tubbs, Stewart L., dan Sylvia Moss. 1996. Human Communication Prinsip-Prinsip Dasar Buku Pertama, diedit dan diterjemahkan oleh Dr. Deddy Mulyana,M.A. dan Gembirasari. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.West, Ricard dan Lyn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis danAplikasi Edisi 3. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.Sumber Internet:http://id.omg.yahoo.com/news/kisah-nunung-mencari-cinta.htmlhttp://www.vemale.com/relationship/love/13801-wanita-paruh-baya-suka-melirikpria-muda.htmlhttp://life.viva.co.id/news/read/321023-ada-apa-di-balik-wanita-pencinta--daunmudahttp://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/500613htttp://www.selebrita.com/entertainment/nassar-muzdalifah-menikah.html
PEMAKNAAN MASYARAKAT BELITUNG TERHADAP MARGINALISASI KELOMPOK DAN MOTIVASI DALAM FILM LASKAR PELANGI Putri Ramadhini; Sri Budi Lestari; Wiwid Noor Rakhmad; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.719 KB)

Abstract

Phenomenal movie titled Laskar Pelangi represent group discrepancy occur in Belitong. Interpretation of Belitong’s citizen toward group marginalization and motivation that happen in Belitong potrayed in Laskar Pelangi to be background of this research. The problem that arises is movie has many multiple interpretations message that could be interpreted by audience in asymmetric way. Audience within Belitong Island have their own mindset to interpret Laskar Pelangi, accompanied their straight experience because the movie has background as it main story in Belitung. The purpose of this research to discribe the interpretation of Belitong’s citizens about marginalization symptom that newcomer group did toward local group, and motivation as represented in Laskar Pelangi movie. This reserarch uses theory of social stratifications, theory of active audience, and theory of audience interpretation with reception analyze methods. Object of research is Belitong’s local citizens that watched Laskar Pelangi movie. The result is show audience capability to identify group marginalization potrayed in many scene such as the comparison between students PN Timah primary school with Muhammadiyah primary school. Discrepancy also seen from the difference of look, tools and infrastucture of school, activities during holiday and their job. Boundary areas between groups be marked on guardrail with disallowance to enter specific area. Informants have different interpretation and interpret movie based on mindset that being affected b y their own background. Based on the decoding-encoding audience theory of Stuart Hall, informants grouped in Dominant-Hegemonic Position, Negotiated Position and Oppositional Position.Informant at Dominant-Hegemonic position accept the meaning as it contained in the film about group marginalization and motivation recognized by the informant indeed found in the real life. Informant at Negotiated position generally accept the meaning as it defined and signed but deny some inappropriate aspect because being represented excessively and unsuitable according Belitongs conditions are better than before. Informant at Opppositional position measure scenes in the film were too excessive and only intended to make the story being more attractive, even considered disfigure the condition of Belitong’s society that couldn’t found in the real life.
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAK DALAM EXTENDED FAMILY MERCYANA MAJESTY YULION; Sri Budi Lestari; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.802 KB)

Abstract

JURNALMEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYMERCYANA MAJESTY YULIOND2C009132JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYABSTRAKSIKeluarga merupakan lembaga sosial inti di dalam masyarakat, sebab di dalamkeluargalah seorang anak memperoleh berbagai bekal dalam menghadapikehidupannya kelak di masyarakat. Konsep keluarga meluas (extended family)atau keluarga besar yang tidak hanya terdiri dari orang tua dan anak (keluarga inti)tetapi juga anggota keluarga besar yang lain seperti kakek-nenek, paman, bibi, dansaudara sepupu. Di dalam keluarga besar yang memiliki anak sebagai salah satuanggotanya menimbulkan adanya intervensi atau campur tangan juga dominasipengasuhan anak oleh anggota keluarga besar selain orang tua kandung anak itusendiri.Penelitian ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologiyang berusaha untuk menyelami dunia pengalaman perceiver dalam kasus ini,yaitu orang tua dan anggota keluarga besar yang lain ketika melakukan kegiatanpengasuhan anak sehari-hari di dalam keluarga besar. Dengan menggunakan teorirelational dialectics theory (RDT) atau teori dialektika hubungan yang berfokuspada dialog multivocal dalam komunikasi keluarga, penelitian ini berupaya untukmenjelaskan pemaknaan partisipan terhadap pengasuhan anak dalam keluargabesar.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa figur orang tua di dalam keluargabesar memiliki pemaknaan bahwa pengasuhan anak, selain dari segi fisik seperimemberikan suplai kebutuhan pokok, juga berkaitan dengan segi psikis dan sosialyang diwujudkan dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi,pembelajaran, serta kontrol orang tua kepada anak-anak. Keberadaan pihak ketigadalam pengasuhan anak dipandang dapat memicu konflik akibat perbedaan carapandang dan cara pengasuhan anak. Hal ini terlihat pada pengalaman informan, dimana keberadaan anggota keluarga lain sebagai pihak ketiga yang lebih banyakberinteraksi dengan anak pada pengasuhan anak dalam keluarga besar, kerapmenimbulkan konflik antara orang tua dan anggota keluarga besar. Penyelesaianmasalah dalam keluarga besar dilakukan dengan gaya collaboration dimanapihak-pihak yang terlibat dalam konflik berdiskusi mengenai suatu masalah untukdiselesaikan bersama.Kata kunci: intervensi, pengasuhan anak, keluarga besarUNDERSTANDING THE COMMUNICATION EXPERIENCE OFPARENTING IN EXTENDED FAMILYABSTRACTThe family is a core social institution in society, as in the family a child obtainsvarious provisions to face their future life in the community. The concept of anextended family or a big family does not only consist of parents andchildren (nuclear family), but also other major family members, such asgrandparents, uncles, aunts, and cousins. In an extended families who havechildren as their members raises any intervention or interference, and also thedominance of parenting by a family member other than the child's biologicalparents itself.This research uses interpretive genre and phenomenology approach todeeply understanding the perceiver's world, which is parents and other familymembers when performing activities of daily child care within the family. Byaccomodating the theory of relational dialectics (RDT) focusing on familycommunication in multivocal dialog, this study seeks to explain participants’sdefinition of parenting in an extended family.The results of this research shows that the figure of the elderly within thefamily have the meaning of parenting, aside from the physical aspects such asdelivering supplies of basic necessities, also related to psychic and social aspectwhich is manifested in the form of affection, attention, communication, learning,as well as parent’s control to children. The presence of a third party in parenting isseen could trigger the conflict due to differences in viewpoints and ways ofparenting. It can be seen at the informants’s experience, in which the existence ofother family members as third parties that dominate the parenting in an extendedfamily, often gives rise the conflicts between parents and other family members.To solve a problem in an extended family is using collaboration style where theparties involved in the conflict discuss about an issue to be resolved together.Keywords: intervention, parenting, extended familyPendahuluanPengasuhan anak di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) tidak hanyamenjadi dominasi orang tua si anak, tetapi turut menimbulkan adanya intervensibahkan dominasi dari keluarga besar. Mengasuh dan merawat anak menjadi perandan tanggung jawab orang tua di dalam keluarga. Namun di saat sebuah keluargainti tinggal bersama dengan orang tua maupun saudara-saudara mereka, makaperan mengasuh dan merawat tidak hanya menjadi milik orang tua. Akibatnyamuncul suatu campur tangan atau intervensi dari keluarga besar di dalampengasuhan anak tersebut.Keluarga merupakan lembaga sosial dasar di dalam masyarakat. Dalampraktiknya masyarakat memiliki berbagai definisi mengenai keluarga. Keluargainti (nuclear family) merupakan keluarga yang didasarkan pada pertalianperkawinan atau kehidupan suami-istri dengan anak-anak mereka. Selain keluargainti, juga ada keluarga hubungan sedarah yang dewasa ini lebih dikenal denganistilah keluarga meluas (extended family), yaitu keluarga inti berikut kerabat laindengan siapa hubungan baik dipelihara dan dipertahankan. Bentuk keluarga initidak didasarkan pada perkawinan, melainkan pada pertalian darah dari sejumlahkerabat dekat. (Horton, 2006: 268).Bentuk keluarga tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakatsekitar tempat tinggal. Bagi masyarakat kebudayaan barat keluarga bisa terbentukbaik dengan atau tanpa ikatan perkawinan yang sah, sedangkan di budaya timuryang disebut keluarga adalah mereka yang terikat dalam ikatan perkawinan yangsah. Jumlah anggota keluarga di masyarakat barat biasanya hanya terdiri darianggota keluarga inti yaitu ayah, ibu, dan anak. Sedangkan di masyarakat timurkonsep anggota keluarga bukan hanya terdiri dari keluarga inti namun termasukanggota keluarga yang lainnya seperti nenek, kakek, adik, keponakan, dansebagainya yang tinggal dalam satu rumah. (Sumarwan, dalam Wardyaningrum,2010: 289-298).Perubahan bentuk keluarga inti akan menimbulkan kesulitan dalamkomunikasi keluarga dan peran yang disandang. Hal ini juga berlaku ketikabentuk keluarga inti berubah ke bentuk keluarga meluas. Anak yang dibesarkanoleh kakek-neneknya mungkin merasa bahwa bentuk keluarganya tidak lazim danmenolak untuk membicarakan tentang keluarganya ketika berada di sekolah. (LePoire, 2006: 17-19).Salah satu peran utama dalam keluarga inti adalah pengasuhan anak.Namun di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) peran ini tidak hanyamenjadi dominasi orang tua, tetapi turut menimbulkan adanya intervensi darikeluarga besar. Peran yang disandang oleh ayah dan ibu di dalam keluarga intisebenarnya memiliki porsi yang sama terutama dalam hal mendidik anak mereka.Pendidikan non formal dalam lingkungan keluarga sadar atau tidak, akan turutmembentuk karakter dan kepribadian anak. (Le Poire, 2006: 16-22).Sosialisasi juga menjadi salah satu fungsi keluarga. Keluarga menjadiujung tombak bagi masyarakat untuk melakukan sosialisasi kepada anak-anakmengenai alam dewasa sehingga nantinya mereka dapat berfungsi dengan baik didalam masyarakat itu. (Horton, 2006: 275-276).Fungsi sosialisasi tersebut diterapkan perlahan-lahan dalam prosespengasuhan anak. Pengasuhan yang dilakukan keluarga ini memiliki pola.Menurut pedoman yang dikeluarkan oleh Tim Penggerak PKK Pusat (1995) yangdimaksud sebagai pola asuh anak dalam keluarga, adalah usaha orang tua dalammembina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahirsampai dewasa (18 tahun), serta kegiatan kompleks yang memiliki dampak padaanak dengan tujuan menciptakan kontrol pada anak. (Puspa, 2013).Keberadaan beberapa orang dewasa ini memicu adanya intervensi atauikut campur tangan bahkan dominasi dari orang-orang sekitar dalam mendidikanak. Keberadaan keluarga besar yang terlibat dalam mengasuh anak terkadangmenimbulkan kontra terhadap peraturan yang sudah disepakati sebelumnya yangdapat menimbulkan kebingungan bagi anak. Bahkan dominasi pengasuhan olehpihak ketiga membuatnya menjadi lebih dekat dengan anak, sehingga memicuadanya kecemburuan orang tua terhadap pihak ketiga. Hal-hal tersebut dapatmemicu konflik di antara orang tua si anak dengan anggota keluarga besar yanglain.Teori dan Metoda PenelitianTeori dialektika hubungan (RDT) digunakan untuk memahami bahwa orangorangyang telah memiliki hubungan menggunakan komunikasi untuk mengatasikekuatan yang bertentangan secara alami yang menimpa hubungan mereka setiapsaat. RDT menjelaskan bagaimana di dalam setiap hubungan mengalamikontradiksi dialektika, yaitu suara-suara yang bersatu tetapi bertentangan. Dalamteori ini disebutkan 3 pandangan mengenai dialog yaitu dialog sebagai proseskonstitutif, dialog sebagai percakapan, dan dialog sebagai estetika. (Littlejohn danFoss, 2009: 298-300).Pengasuhan anak dalam keluarga besar melibatkan beberapa pihak selainorang tua kandung si anak. Hubungan antar partisipan (orang tua, kakek-nenek,paman, bibi, anak) berkembang melalui proses komunikasi yang kontradiktifterutama dalam konteks pengasuhan anak. Pemaknaan masing-masing individuterhadap pengasuhan anak mungkin berbeda dan bahkan bertentangan. Dalamperbedaan ini justru makna dapat terbentuk. Tidak menutup kemungkinan masingmasingindividu dapat saling mengerti dan hubungan keluarga semakin dekat.Dalam keluarga besar yang terdiri dari beberapa individu menggunakan dialogsebagai proses komunikasi yang tidak terlepas dari kontradiksi dialektika. Meskiterdapat kontradiksi, dalam dialog tersebut muncul suatu pemahaman yang estetistentang hubungan keluarga besar yang dimiliki oleh partisipan (Littlejohn danFoss, 2009: 306).Sedangkan untuk menyelesaikan konflik yang muncul di dalam keluarga,terdapat lima macam gaya penyelesaian konflik menurut K.W.Thomas dan R.H.Killmann (dalam Bebee, 2005: 231-236): (1) avoidance atau menghindar darimasalah yang ada, (2) accomodation atau mengalah kepada partner, (3)competition atau menyelesaikan masalah dengan beradu pendapat hingga salahsatu pihak menang, (4) compromise atau menentukan jalan tengah, (5)collaboration atau menampilkan konflik sebagai sebuah masalah untukdiselesaikan bersama-sama.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif yang merujuk padaparadigma intepretif. Penelitian tipe kualitatif merupakan penelitian yangmenggunakan pendekatan alamiah untuk mencari dan menemukan pengertian ataupemahaman tentang fenomena dalam suatu latar yang berkonteks khusus dantidak mengadakan perhitungan. (Moleong, 2007: 3-5).Pendekatan yang digunakan dalam mengkaji fenomena tersebut adalahtradisi fenomenologi. Fenomenologi berusaha memahami arti suatu peristiwa dankaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu, dimana yangditekankan adalah aspek subjektif dari perilaku orang tersebut. Fenomenologimenganggap bahwa manusia secara aktif merepresentasikan pengalaman merekadan memahami dunia berdasarkan pengalaman mereka. (Littlejohn, 2002: 38).Komunikasi dalam pengasuhan anak merupakan fenomena yang dialamisecara sadar yang diseleksi untuk menjadi pengalaman masing-masing individu.Tujuan penelitian ini sejalan dengan tujuan fenomenologi, yaitu untukmempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, dan tindakan,seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis.(Kuswarno, 2009: 2).Memahami Pengalaman Komunikasi Pengasuhan Anak Dalam ExtendedFamilyCara pengasuhan anak yang diterapkan seseorang tidak terlepas dari pemaknaanmasing-masing individu terhadap pengasuhan itu sendiri. Pengasuhan anak dimata para informan bukan saja merupakan perkara fisik atau sesuatu hal yangdapat dilihat mata. Lebih dari itu seluruh informan mengungkapkan bahwapengasuhan anak juga berkaitan dengan memberikan pendidikan baik secarapsikis dan sosial dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi, pembelajaran,dan kontrol. Le Poire (2006: 134) mencatat bahwa figur orang tua di dalamkeluarga amat memperhatikan keperluan anak-anak agar mereka tumbuh dengansehat. Orang tua berkomunikasi dalam cara-cara yang dibentuk untuk membantuanak berkembang secara intelektual, fisik, emosional, dan sosial, yang mengarahpada kesehatan dan kesejahteraan terbaik bagi mereka.Kegiatan pengasuhan anak yang dilakukan para informan sehari-haridilakukan bergantian dengan anggota keluarga besar yang lain, biasanyaberdasarkan waktu luang di luar jam kerja mereka. Aktifitas keseharian tersebutterkadang digunakan informan untuk berbincang-bincang dengan anak, mengajakmereka bercerita kegiatan selama di sekolah, atau menjelaskan kepada anak halhalyang baru mereka temukan. Akan tetapi kemajuan teknologi yang berkembangsampai ke dunia permainan lebih menarik bagi anak-anak dari pada harusmenuruti perintah orang tua untuk belajar, tidur siang, bahkan makan. Dalammenghadapi dan menyelesaikan hal ini hampir seluruh informan mengambillangkah serupa yaitu memarahi anak dan menjelaskan. Langkah ini selaludilakukan agar perilaku anak dapat terkontrol dengan baik.Meskipun berpartisipasi dalam kegiatan pengasuhan anak yangmelibatkan orang ketiga, mayoritas informan justru menyatakan ketidaksetujuanbahkan ketidaksukaan terhadap keberadaan pihak ketiga dalam proses pengasuhananak. Menurut mereka campur tangan pihak ketiga justru berpotensi menimbulkanperbedaan pandangan yang berdampak pada perbedaan cara pengasuhan anak.Berdasarkan temuan penelitian kedua ibu yang menjadi informan memilikipandangan bahwa sebagai ibu, mereka lah yang mengemban tanggung jawabdalam mengasuh anak, sementara anggota keluarga besar hanya membantu,selama yang bersangkutan tidak bisa melakukan kewajibannya.Strategi komunikasi pengasuhan anak meliputi aspek perawatan dankontrol. (Baumrind, dalam Le Poire 2006: 134-139). Kedua hal ini memerlukanproses interaksi orang tua dan anak. Dalam penelitian ini ditemukan suatu realitadimana anggota keluarga besar memiliki intensitas interaksi dengan anak yanglebih tinggi, jika dibandingkan dengan ibu sebagai orang tua, sehingga seolaholahmereka mendominasi pengasuhan anak. Tingginya intensitas interaksi pihakketiga dengan anak dalam keluarga besar membuat anak-anak lebih merasa dekatdan terbuka kepada nenek dan paman.Upaya Menangani Konflik tentang Pengasuhan Anak dalam ExtendedFamilySaat berhubungan dengan pengasuhan anak di dalam keluarga, terutama dalamkeluarga besar, dimungkinkan terjadi adanya perbedaan pendapat, cara pandang,cara pengasuhan, yang seringkali menimbulkan pertengakaran di antara anggotakeluarga. Dalam menyelesaikan masalah tentang pengasuhan anak dalam keluargabesar, masing-masing informan mengesampingkan gaya penyelesaian konfliknya,dan cenderung mengambil gaya collaboration dimana mereka mengambil jalanberdiskusi dengan anggota keluarga yang bermasalah untuk mencari jalankeluarnya bersama-sama. Semua proses komunikasi secara tatap mata tersebutdilakukan tanpa adanya pihak ketiga dari anggota keluarga besar yang menjadipenengah.Berdasarkan pengalaman menghadapi konflik di dalam keluarga, semuainforman sepakat bahwa mereka tetap memiliki hubungan baik dengan anggotakeluarga, bahkan menjadi semakin dekat dan mengenal kepribadian masingmasing.Kesimpulan1. Kegiatan pengasuhan anak dianggap lebih tepat jika dilakukan oleh orang tuakandung anak dari pada oleh figur orang tua yang lain, sebab merekalah yanglebih mengerti apa saja kebutuhan pokok anak. Anggota keluarga besar hanyabersifat mendukung dalam proses kegiatan pengasuhan dalam bentukmemberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan anak di saat orang tuakandung mereka tidak berada di rumah karena berbagai alasan, misalnyakarena harus bekerja.2. Proses pengasuhan anak yang terjadi di dalam keluarga besar tetapmelibatkan dimensi responsif dan tuntutan guna mengarahkan perilaku anak.Gaya authoritative di mana tingkat responsif dan kontrol tinggi menjadipilihan anggota keluarga dengan pertimbangan anak-anak akan menjadi lebihsegan terhadap figur orang tua memegang kuasa penuh atas diri mereka,namun di saat lain tetap memberikan perhatian, kehangatan, dan kasihsayang.3. Perbedaan cara pengasuhan dan intensitas komunikasi tatap muka dengananak di antara orang tua dan anggota keluarga besar berdampak padakedekatan dan keterbukaan anak dengan pihak ketiga lebih besar dari padadengan orang tuanya sendiri.4. Penyelesaian konflik yang muncul di dalam keluarga besar cenderungmenggunakan gaya collaboration di mana anggota keluarga besar berdiskusimengenai suatu masalah untuk diselesaikan bersama. Gaya penyelesaiankonflik individu tidak selalu diterapkan. Mereka akan menyesuaikan diridengan anggota keluarga yang lain, terutama demi kepentingan anak-anak.DAFTAR PUSTAKABeebe, Steven. A. (2005). Interpersonal Communication Relating to Others(4thed). USA : Pearsons Education.Braithwaite, Dawn O and Leslie A. Baxter. (2006). Engaging Theories in FamilyCommunication Multiple Perspectives. California: Sage Publications,Inc.Horton, Paul dan Chester L. Hunt. (2006). Sosiologi Jilid I (Edisi 6). Jakarta:ErlanggaKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. Bandung: WidyaPadjadjaranLe Poire, Beth. A. (2006). Family Communication Nurturing and Control in aChanging World. California: Sage PublicationLittlejohn, Stephen W. (2002). Theories of Human Communication (7thed).USA:Wadsworth.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi(Edisi 9).Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosda KaryaWadyaningrum, Damayanti. (2010). Pola Komunikasi Keluarga dalamMenentukan Konsumsi Nutrisi bagi Anggota Keluarga. Jurnal IlmuKomunikasiFISIP UPN Yogyakarta 8 (3): 289-298.Puspa, Dian. (2013). Pola Asuh Anak dalam Keluarga (Makalah). http://blogdianpuspa.blogspot.com/2013/04/pola-asuh-anak-dalam-keluargamakalah.html. Diunduh 1 Juli 2013, pukul 10.20 WIB
Memahami Komunikasi Antarpribadi Guru Dan Santriwati Terhadap Santriwati Yang Melakukan Pelanggaran Peraturan Di Pondok Pesantren Al-Multazam – Kuningan – Jawa Barat Fitri Kaniyah; Sri Budi Lestari; Agus Naryoso; Dwi Purbaningrum
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.567 KB)

Abstract

Latar belakang dilakukannya penelitian ini adalah terkait dengan banyak ditemukannya masalah mengenai komunikasi yang meyimpangan dan kurang efektif, contohnya adalah komunikasi antara guru dan siswa, masih banyak guru yang menggunakan cara salah dalam mendidik dan mendisiplinkan siswa, tak terkecuali dengan guru di pondok pesantren Al-Multazam. Seperti pondok pesantren pada umumnya, pesantren Al-Multazam juga menerapkan peraturan yang ketat bagi santriwati dimana mengatur kehidupan sehari-hari santriwati di asrama. Cara pendisiplinan dari guru yang tidak bisa diterima oleh santriwati menjadi salah satu alasan santriwati melanggar peraturan di pesantren.Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komunikasi antarpribadi yang dilakukan keduanya untuk dapat membangun kedekatan, mendeskripsikan latar belangkang pelanggaran yang dilakukan santriwati dan mendeskripsikan komunikasi yang dilakukan guru bagi santriwati yang melakukan pelanggaran peraturan di pesantren Al-Multazam. Penelitian ini merujuk pada paradigma interpretif dan metode fenomenologi. Subyek penelitian ini ialah dua informan dari santriwati dan dua informan dari guru yang tinggal di asrama Al-Multazam. Dalam penelitian ini menggunakan konsep efektivitas komunikasi antarpribadi, keakraban dan responses relationship dissatisfaction (Rusbult dan Zembrodt Model).Hasil penelitian menunjukkan bahwa membangun kedekatan antar santriwati dan guru menjadi salah satu cara satu agar dapat bertahan untuk tinggal di pesantren. Sedangkan bagi guru, membangun kedekatan dengan santriwati bertujuan agar dapat merubah sikap santriwati. Cara komunikasi yang diberikan guru untuk mendisiplinkan tidak bisa diterima oleh santriwati, hal ini berpengaruh terhadap alasan melakukan pelanggaran peraturan. Tujuan guru untuk mendisiplinkan santriwati telah dilakukan, yaitu dengan cara mendekati, memberi nasehat dan memberikan kepercayaan kepada santriwati. Pelanggaran peraturan yang dilakukan oleh santriwati menunjukkan respon ketidakpuasan dalam hubungan dengan guru, terdapat dua respon ketidakpuasa dalam hubungan, yaitu respon guru yang aktif-konstruktif untuk tetap memperbaiki dan mempertahankan hubungan (berusaha kembali membangun komunikasi) dan respon pasif-kontruktif, membiarkan hubungan rusak dan memilih mengakhiri hubungan.