Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Optimalisasi Peran Pola Asuh Orang Tua dalam Pencegahan Stunting pada Balita: Edukasi Komprehensif Ari Indra Susanti; Insi Farisa Desy Arya; Ginna Megawati; Siti Nur Fatimah; Sri Yusnita Irda Sari; Ariyati Mandiri
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 13 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v13i2.73046

Abstract

Pengetahuan ibu balita kurang mengenai pola asuh dalam pemberian makan pada bayi dan balita, maka diperlukan edukasi komprehensif mengenai pola asuh pemberian makanan pada balita yang diawali dengan pemberian ASI Eksklusif. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan peran ibu dalam memberikan pola asuh kepada balita untuk mencegah terjadinya stunting pada balita. Metode pengabdian  ini merupakan pengabdian  cross sectional dengan pendekatan pengabdian  kuantitatif yang dilakukan pada bulan Oktober di Aula Puskesmas Caringin. Adapun pelaksanaan kegiatan ini, dengan memberikan edukasi tentang pola asuh dalam pemberian makan pada bayi dan balita secara komprehensif kepada ibu yang memiliki bayi dan balita. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat didapatkan sebagian besar ibu yang memiliki balita dengan karakteristik usia 20-35 tahun (15 orang), pendidikan SMA/SMK (11 orang), dan pekerjaan Ibu Rumah Tangga (21 orang). Namun, sebagian kecil pengetahuan ibu lebih baik setelah diberikan edukasi tentang dukungan dalam pemberian asi eksklusif (5 orang), pola asuh yang dapat mencegah terjadinya stunting (20 orang), pemberian variasi sayuran dan buah (20 orang). Simpulan dari kegiatan ini bahwa pentingnya pengetahuan ibu dalam memberikan pola asuh pada balita yang dimulai dari memberikan ASI Eksklusif, memberikan makanan, dan memantau pertumbuhan untuk mencegah stunting pada balita. Implikasi kegiatan ini, ibu dapat memperbaiki pola asuh dalam pemberian makan sesuai dengan kebutuhan asupan gizi dan usia bayi dan balita sehingga dapat mencegah terjadinya balita stunting.
HUBUNGAN PENGUKURAN LEMAK SUBKUTAN DENGAN INDEKS MASSA TUBUH PADA LAKI-LAKI USIA LANJUT Siti Nur Fatimah; Leva B Akbar; Ambrosius Purba; Vita Murniati Tarawan; Gaga Irawan Nugraha; Putri Tessa Radhiyanti; Titing Nurhayati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 40 No. 1 (2017)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v40i1.6295.

Abstract

Degenerative diseases are associated with obesity. Body mass index (BMI) measurement is a way to measure disease risk,howeverfat mass more explain metabolic conditions associated with degenerative diseases. Research shows consistent relation between these two parameters with diseases risk. This study aims to determine the association of fat mass by skinfold thickness measurement with BMI. The study design was observational with cross-sectional approach. This research was done at the UniversitasPadjadjaran in 2015. The number of subjects were 96 men with the inclusion criteria over 50 years, exclusion criteria have abnormal posture and edema. Statistical analysis used Spearman rank correlation test and a simple linear regression. Characteristics of age 67.98 (SD: 9.81) years, height 1.61 (SD: 0.61) m, weight 66.67 (SD: 10.74) kg, BMI: 26.28 (SD 3,55) kg / m2, body fat: 30.98 percent. The distribution of nutritional status category: underweight 2 percent, normoweight 11.9 percent, overweight 27.27 percent, obese 58.4 percent. Fat mass category: normal category 41.6 percent and overfat 58.4 percent. Correlation between fat mass with age of 0.094 percent, with heights 0.14 percent and with a BMI 0.55 percent. Simple linier regression analysis shows the equation: percent fat mass = 2,757 + 0.089. This equation means every increase of 1 BMI will increase the fat mass percent by (2.757 + 1*0.089)2. The implications of this equation show that BMI can predict fat mass in elderly men based on subcutaneous fat thicknessmeasurements. Penyakit degeneratif berhubungan dengan faktor risiko obesitas. Pengukuran indeks massa tubuh (IMT) merupakan cara untuk mengukur risiko penyakit, tetapi massa lemak dapat menggambarkan kondisi metabolik yang berhubungan dengan penyakit degeneratif. Penelitian menunjukkan hubungan konsisten antara kedua parameter ini dengan risiko penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara massa lemak berdasarkan pengukuran tebal lemak subkutan dengan IMT. Disain penelitian adalah observasional dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dilakukan di kampus Universitas Padjadjaran tahun 2015. Jumlah subjek 96 laki-laki dengan kriteria inklusi di atas 50 tahun, kriteria ekslusi  memiliki postur tubuh tidak normal dan edema. Variabel bebas adalah umur, tinggi badan dan IMT, variabel tergantung adalah massa lemak. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman rank dan uji regresi linier sederhana.Karakteristik usia 67,98(SD: 9,81) tahun, tinggi badan 1,61(SD : 0,61) m, berat badan 66,67 (SD : 10,74) kg, IMT: 26,28 (SD : 3,55) kg/m2, lemak tubuh: 30,98 persen.Sebaran kategori status giziterdiri dari berat badan kurang 2 persen, normal 11,9 persen, berat badan lebih 27,27 persen, obesitas 58,4 persen. Kategori massa lemak terdiri dari kategori normal 41,6 persen dan lebih 58,4 persen. Korelasi antara massa lemak dengan usia0,094 persen, dengan tinggi badan 0,14 persen dan dengan IMT 0,55 persen. Analisis regresi linier menghasilkan persamaan: persen massa lemak = 2,757 + 0.089 (IMT). Persamaan ini mempunyai arti setiap peningkatan 1 IMT akan meningkatkan persen massa lemak sebesar (2,757 + 1*0,089)2. Implikasi persamaan ini memperlihatkan IMT dapat memprediksi massa lemak pada laki-laki lanjut usia berdasarkan pengukuran tebal lemak subkutan.
ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT ASURANSI BINA DANA ARTA (ABDA) TBK SEBELUM, MASA TRANSISI, DAN SETELAH ADANYA BPJS KESEHATAN PERIODE 2010-2019 Zeze Zakaria Hamzah; Benny Osta Nababan; Heru Satria Rukmana; Siti Nur Fatimah
Economicus : Jurnal Ekonomi dan Manajemen Vol. 13 No. 1 (2022): Desember: Economicus : Jurnal Ekonomi dan Manajemen
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis Dewantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47860/economicus.v13i1.61

Abstract

This study aims to determine whether there are differences in the financial performance of the company PT Asuransi Bina Dana Arta (ABDA) before (2010-2013 period), during the transition period (2014-2015 period), and after (2016-2019 period) the implementation of BPJS Kesehatan. The analysis technique used is Financial Ratio Analysis and Trend Analysis. This study uses a type of comparative research with a quantitative approach, using data collection techniques through documentation and literature study. The location of this research is by means of a desk study using data published on the Indonesia Stock Exchange (IDX) through www.idx.co.id, the company's official website www.abdainsurance.co.id and www.bpjs-kesehatan.go.id. While the time of this research starts from February 2021 to October 2021. The results showed that PT Asuransi Bina Dana Arta (ABDA) Tbk when viewed from the analysis of Liquidity showed a stable condition, Solvency improved, but from the analysis of Activity and Profitability showed a decrease. So it can be concluded that the trend that occurred after the BPJS Health showed a trend line that experienced more decline. To improve and maintain its existence, PT Asuransi Bina Dana Arta (ABDA) Tbk can provide benefits in the form of more facilities to its participants that cannot be obtained from BPJS Health, or collaborate with BPJS Health to implement the COB (Coordination Of Benefit) principle.