Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : AQUATIC SCIENCE

Ratio of C:N in culture media of silk worm, Tubifex sp. Solang, Jhonly; Pangkey, Henneke; Wullur, Stenly; Lantu, Sartje
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 2, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.2.1.2014.12391

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Rasio C:N pada media kultur cacing sutra, Tubifex sp. This study aimed to determine the C:N ratio on each medium for the growth of the sludge worm. This study used mud and soybean curd residue (treatment A), mud and chicken manure (treatment B), mud and pig manure (treatment C), and control (mud only) (K) as culture media of the sludge worm (Tubifex sp.). The decomposition process was proceeding for six days, and then the sludge worms were stocked with initial weight of 30 grams per container. Culture period was 21 days in running water systems. The resulting C:N ratio was 60.5 for treatment A, 45.8 for treatment B, 36 for treatment C and 35 for K. The soybean curd residue and mud medium gave the highest influence on the growth of the sludge worm, followed by pig manure and mud, chicken manure and mud, and then mud (control). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbandingan C:N ratio dalam media budidaya untuk pertumbuhan cacing sutra. Penelitian ini menggunakan lumpur dan ampas tahu (perlakuan A), lumpur dan kotoran ayam (perlakuan B), serta lumpur dan kotoran babi (perlakuan C) dan perlakuan K (kontrol: hanya lumpur) sebagai media kultur cacing sutra (Tubifex sp). Proses dekomposisi dilakukan selama 6 hari, kemudian dilakukan penebaran cacing sutra dengan berat awal 30 gram/wadah penelitian. Waktu pemeliharaan dilakukan selama 21 hari dalam sistem air mengalir. Hasil penelitian menunjukkan rasio C:N sebesar 60,55 untuk perlakuan A, 45,85 untuk perlakuan B, 36,08 untuk perlakuan C, dan 35,25 untuk K. Media yang menggunakan ampas tahu dan lumpur memberikan pengaruh tertinggi terhadap pertumbuhan cacing sutra, kemudian disusul oleh media kotoran babi dan lumpur, media kotoran ayam dan lumpur dan terendah media lumpur (kontrol).
The design of a simple water heater on eel (Anguilla marmorata) development in controlled pond Sudrajat, Iman; Solang, Jhonly
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2014.7304

Abstract

Eels (Anguilla marmorata) can adapt to the temperature of 12-31 ° C but require an optimum temperature to support growth due to their slow growth. Low water temperature could also influence their appetite and be susceptible to disease. The water heater is needed in the location where source water is abundant but low temperature, such as Tatelu Freshwater Aquaculture Center with 22-25°C. This activity was aimed to increase the  the water temperature of eel enlargement treatment tank. The design began with making an easily operated-water heating working block system diagram and detailing low cost budget for good equipment production. This application gave a fairly good impact on the eel rearing, in which the eels were not susceptible to disease and  had stable appetite. The  temperature could be adjusted as desired by installing a microcontroller to save energy and prevent  overheating the media. For 1 ton of water with initial temperature of 25°C takes about 2 hours to produce a water temperature of 28 ° C.  To make a prototype water heater costs about  IDR 3 million for 450 watts of power and water flow of 25 liters/min. Ikan sidat (Anguilla marmorata) membutuhkan suhu optimal dalam budidaya agar mendukung pertumbuhannya yang cenderung lambat. Suhu air rendah dapat juga mempengaruhi nafsu makan dan potensi munculnya penyakit. Pemanas air dibutuhkan pada lokasi yang sumber airnya melimpah tetapi bersuhu rendah, seperti BBAT Tatelu yang memiliki kisaran suhu air 22 - 25°C. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai suhu air pada bak treatment pembesaran ikan sidat. Perancangan dimulai dengan membuat diagram blok sistem kerja pemanas air dengan operasional yang mudah dan merinci anggaran agar didapatkan biaya yang murah dibandingkan peralatan sejenis produksi pabrikan. Hasil penerapan memberi dampak yang cukup baik dalam menunjang pemeliharaan ikan sidat. Selama masa pemeliharaan, benih sidat tidak mudah terserang penyakit dan nafsu makan stabil. Suhu yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan keinginan dengan adanya penambahan alat mikrokontroller yang berfungsi memutus arus jika suhu mencapai batas yang diinginkan sehingga dapat menghemat energi dan mencegah terjadinya panas berlebih pada media pemeliharaan. Kisaran suhu yang dihasilkan untuk 1 ton air dengan suhu awal 25°C membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menghasilkan suhu air 28°C. Untuk membuat prototipe pemanas air ini membutuhkan biaya sekitar 3 juta rupiah dengan daya 450 watt dan kecepatan aliran 25 liter /menit.