Mukhlis Imanto, Mukhlis
Bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL), Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Seorang Laki-laki 17 tahun dengan Otitis Media Supuratif Kronis Benigna Kusuma, Anggia Shinta Wijaya; Imanto, Mukhlis; Khairani, Khairani
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 2 No. 1 (2016): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v2i1.1164

Abstract

Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan radang kronis telinga tengah dengan perforasi pada membran timpani dan riwayat keluar sekret dari telinga (otorea) yang terus menerus atau hilang timbul lebih dari 2 bulan dan biasanya diikuti dengan gangguan pendengaran. Etiologi tersering adalah Pseudomonas aeruginosa 34.8% yang merupakan bakteri aerob gram negatif dan bakteri aerob gram positif paling banyak adalah Staphylococcus aureus dengan persentase 33.3%. Pasien, seorang laki-laki An.R 17 tahun keluhan keluhan keluhan keluhan keluhan keluhan keluhan keluhan keluar cairan pada telinga sebelah kiri, berwarna putih kekuningan tapi tidak disertai darah, cairan yang keluar hilang timbul, cairan banyak keluar saat pagi hari. Berdasarkan pemeriksaan fisik pada daerah meatus akustikus telinga kiri tampak sekret berwarna kuning kental yang menutupi sebagian besar meatus akustikus. Terapi yang diberikan pada pasien berupa pencucian telinga menggunakan H202 3% dan pemberian antibiotika oral, co-amoxiclav. Terapi OMSK Benigna tipe aktif sebaiknya dilakukan pencucian telinga dengan H2O2 3% dan pemberian antibiotik sistemik berdasarkan hasil kultur bakteri dan uji resistensi. Beberapa hasil penelitian didapatkan beberapa antibiotik yang sensitifitasnya tinggi terhadap bakteri penyebab OMSK, diantaranya adalah ciprofloksasin, gentamisin, dan ofloksasin, dibekacin dan co-amoxiclav. Tujuan dari pembuatan jurnal ini adalah untuk mengetahui penatalaksanaan OMSK secara tepat sehingga tidak menimbulkan komplikasi.Kata kunci: antibiotik, otitis media supuratif kronis, terapi.
Sinusitis Maksilaris Sinistra Akut Et Causa Dentogen Augesti, Gita; Oktarlina, Rasmi Zakiah; Imanto, Mukhlis
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 2 No. 1 (2016): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v2i1.1165

Abstract

Sinusitis merupakan suatu inflamasi pada (mukosa) hidung dan sinus paranasal, disertai dua atau lebih gejala dimana salah satunya adalah buntu hidung (nasal blockage/obstruction/congestion) atau nasal discharge (anterior/posterior nasal drip) ditambah nyeri fasial dan penurunan atau hilangnya daya penciuman. Pasien perempuan berusia 42 tahun datang dengan keluhan keluar ingus dari hidung kiri berwarna kekuningan dan berbau busuk sejak 2 bulan yang lalu. Keluhan disertai dengan nyeri tumpul pada pipi kiri dan rasa penuh pada wajah. Pasien mengatakan bahwa 3 bulan yang lalu pasien sakit gigi dan berlubang pada gigi graham bagian kiri atas namun belum berobat ke dokter gigi. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan nyeri tekan pada hidung dan pipi kiri,pada pemeriksaan rhinoskopi anterior didapatkan edema, sekret dan hipertrofi pada konka inferior serta pada pemeriksaan foto rontgen posisi Waters’ didapatkan edema mukosa dan cairan dalam sinus. Pasien didiagnosa dengan sinusitis akut maksilaris sinistra et causa dentogen. Diagnosis pasien ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan diberikan edukasi tentang penyakit pasien, oksimetazolin HCl spray 15 ml 2x1 puff, amoksisilin tablet 3x500 mg dan asam mefenamat tablet 3x500 mg, serta merujuk pasien ke dokter pada bidang gigi.Kata Kunci : dentogen, sinusitis maksilaris, Waters’
Tuli Konduktif e.c Suspek Otosklerosis Auris Sinistra pada Pasien Laki-laki berusia 49 Tahun Salima, Jeanna; Imanto, Mukhlis; Khairani, Khairani
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 2 No. 1 (2016): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v2i1.1167

Abstract

Otosklerosis merupakan penyakit pada kapsul tulang labirin yang mengalami spongiosis di daerah kaki stapes, sehingga stapes menjadi kaku dan tidak dapat menghantarkan getaran suara ke labirin dengan baik. Pasien laki-laki berusia 49 tahun datang dengan keluhan penurunan kemampuan mendengar kronis, yang dirasakan memburuk secara progresif. Pendengaran yang membaik dalam keadaan ramai, rasa berdengung pada telinga dan rasa pusing berputar. Pada status lokalis telinga ditemukan adanya area kemerahan pada membram timpani (schwartze sign), setelah dilakukan pemeriksaan pendengaran ditemukan gangguan pendengaran bersifat konduktif dengan lateralisasi ke kiri, dari hasil audiogram ditemukan adanya carhart’s notch. Diagnosis pada pasien ini adalah Tuli konduktif e.c suspek otosklerosis. Penatalaksanaan diberikan edukasi tentang penyakit pasien, pengobatan simtomatik berupa Betahistine 2x6 mg, Methyl cobalamine 1x1 mg. Serta pengertian mengenai kemungkinan dilakukannya pemeriksaan penunjang tambahan berupa Timpanometri dan Ct scan untuk penegakan diagnosis dan tindakan selanjutnya.Kata Kunci : Tuli Konduktif, Otosklerosis, Telinga Hidung tenggorok
Edukasi Upaya Pencegahan Gangguan Kesehatan Mata di Rumah Sakit Harapan Bunda Kabupaten Lampung Tengah Yusran, Muhammad; Anggraini, Dwi Indria; Imanto, Mukhlis; Fauzi, Ahmad; Rodiani, Rodiani
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 7 No. 2 (2022): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v7i2.3057

Abstract

Gangguan penglihatan dan kebutaan merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang besar diseluruh dunia.Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi gangguan penglihatan dan kebutaan yang cukup besar dibandingkan beberapa negara di ASEAN. Prevalensi kebutaan di Indonesia sebesar 3 % dan berkontribusi sebesar 13%terhadap angkan kebutaan di negara-negara ASEAN. Gangguan kesehatan mata dapat dicegah dengan melakukanupaya skrining kesehatan mata secara berkala, pembatasan penggunaan gawai dan penggunaan alat pelinduing diri ditempat kerja. Rumah Sakit Harapan Bunda Lampung Tengah merupakan rumah sakit rujukan di kabupaten lampungtengah dengan populasi penduduk sebagian besar petani yang rentan terjadi penyakit akibat kerja. Evaluasi awaldidapatkan pengetahuan yang kurang dalam tindakan pencegahan dan deteksi dini. Penyuluhan tindakan pencegahangangguan kesehatan mata telah dilakukan dengan metode edukasi di Rumah Sakit Harapan Bunda pada tanggal 13Oktober 2022 dan diikuti oleh 50 orang keluarga pasien rawat jalan. Hasil evaluasi kegiatan didapatkan peningkatanpengetahuan peserta dalam upaya pencegahan gangguan kesehatan mata..Kata Kunci: Gangguan mata, Edukasi, Pencegahan
Pelatihan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SaDaRi) Pada Remaja Putri di Kelurahan Jatimulyo Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan Hanriko, Rizki; Suharmanto, Suharmanto; Imanto, Mukhlis; Ulya, M. Ridho
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 8 No. 2 (2023): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v8i2.3236

Abstract

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kanker merupakan problem kesehatan yang sangat serius karena jumlah penderita meningkat sekitar 20% per tahun. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), mendapatkan prevalensi penderita kanker pada penduduk semua umur di Indonesia sebesar 1,4 per 1000 penduduk pada tahun 2013 dan 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Data Global Burden Cancer, International Agency for Research on Cancer tahun 2012, terdapat 14.067.894 kasus baru kanker dan 8.201.575 kematian akibat kanker di seluruh dunia. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan keterampilan melalui pelatihan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SaDaRi) pada remaja putri di Kelurahan Jatimulyo Lampung Selatan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan dan dilanjutkan dengan diskusi. Penyuluhan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan kanker payudara dengan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SaDaRi) sebanyak 80%. Materi penyuluhan yang diberikan mencakup materi tentang pencegahan kanker payudara dengan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SaDaRi). Diskusi dilakukan setelah pemberian materi selesai dilaksanakan. Pesertabertanya tentang materi yang belum dipahami tentang pencegahan kanker payudara dengan PemeriksaannPayudara Sendiri (SaDaRi). Berdasarkan hasil pre-test yang telah dilakukan dengan nilai 20% peserta yang sudahmemahami tentang pencegahan kanker payudara dengan metode Pemeriksaan Payudara Sendiri (SaDaRi) dan setelah melakukan post-test mendapatkan hasil sebesar lebih dari 80% peserta telah memahami tentang pencegahan kanker payudara dengan metode Pemeriksaan Payudara Sendiri (SaDaRi). Penyuluhan terbukti efektif meningkatkan pemahaman dan keterampilan remaja putri tentang pencegahan kanker payudara dengan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SaDaRi) di Kelurahan Jatimulyo.Kata Kunci: kanker payudara, keterampilan, pencegahan, pengetahuan, SaDaRi
Efektivitas Kortikosteroid Intranasal vs Antihistamin Oral pada Rhinitis Dwiyanti, Fitri; Ferdiani, Fivien; Imanto, Mukhlis
Medula Vol 16 No 1 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i1.1742

Abstract

Allergic Rhinitis (AR) is a chronic inflammatory disorder of the nasal mucosa mediated by immunoglobulin E after exposure to specific allergens. It is characterized by rhinorrhea, nasal obstruction, sneezing, and nasal itching. AR has a high and increasing global prevalence and significantly affects quality of life, sleep quality, cognitive performance, and daily productivity. Effective management is required to control symptoms and prevent complications and comorbidities. This literature review compares the effectiveness of intranasal corticosteroids (INCS) and oral antihistamines (OAH) in the management of allergic rhinitis. A literature search was conducted using the Google Scholar database for studies published between 2017 and 2025, using the keywords “allergic rhinitis”, “allergic rhinitis therapy”, and “intranasal corticosteroids and oral antihistamines”. Included articles were accessible, written in English or Indonesian, and discussed the comparative effectiveness of INCS and OAH. Studies published before 2017 were excluded. The findings show that oral antihistamines effectively relieve early-phase, histamine-mediated symptoms such as sneezing, nasal itching, and rhinorrhea, with a rapid onset of action suitable for intermittent use. In contrast, intranasal corticosteroids are more effective in reducing nasal congestion and controlling persistent inflammation due to their broad anti-inflammatory effects. INCS also improve ocular symptoms and provide greater overall improvement in health-related quality of life compared to antihistamines alone. Overall, intranasal corticosteroids are recommended as first-line therapy for moderate to severe or persistent allergic rhinitis, while oral antihistamines remain useful for mild symptoms or as adjunctive therapy according to individual clinical needs.
Case Report: Laki-Laki Usia 42 Tahun dengan Laryngopharingeal Refluks Pangestu, Farhan Ridho; Imanto, Mukhlis
Medula Vol 16 No 2 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i2.1759

Abstract

Laryngopharyngeal Reflux (LPR) is an inflammatory condition affecting the mucosa of the larynx and pharynx caused by the retrograde flow of gastroduodenal contents into the upper aerodigestive tract. This condition is frequently underdiagnosed due to its nonspecific symptoms, which often mimic other upper airway disorders. LPR presents with a wide range of clinical manifestations and is commonly managed by multiple medical disciplines without an accurate or standardized diagnostic approach. This case report aims to describe the clinical presentation, risk factors, diagnostic process, and management of LPR in an adult patient. We report the case of a 42-year-old male who presented with recurrent choking sensations, shortness of breath, dry cough, frequent throat clearing, and hoarseness persisting for four months, accompanied by worsening heartburn and epigastric discomfort. The patient had several predisposing factors, including obesity and unhealthy lifestyle habits such as high-fat and acidic food consumption and lying down shortly after meals. The diagnosis of LPR was established based on a Reflux Symptom Index (RSI) score of 14 obtained during anamnesis and a Reflux Finding Score (RFS) of 9 derived from indirect laryngoscopic examination. Management consisted of pharmacological therapy with high-dose proton pump inhibitors and antacids, combined with non-pharmacological interventions including lifestyle and dietary modifications. This integrated approach aims to reduce reflux episodes and mucosal inflammation. This case highlights the clinical importance of RSI and RFS as practical diagnostic tools for LPR and emphasizes the need for comprehensive management strategies to improve patient outcomes and quality of life.
Laporan Kasus : Pasien Perempuan 25 Tahun dengan Rhinitis Alergi Ricardo, Muchammad Aqsa Enrico; Imanto, Mukhlis
Medula Vol 16 No 2 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i2.1792

Abstract

Allergic rhinitis is an immunoglobulin E mediated inflammation of the nasal mucosa characterized by recurrent sneezing, nasal obstruction, rhinorrhea, and ocular symptoms such as itching and tearing. This condition is commonly observed in young adults and is closely associated with environmental allergen exposure and genetic predisposition. This case report describes a 25 year old woman who presented with recurrent nasal obstruction for the past four years. The symptoms were more pronounced in the morning and during exposure to cold air. The patient also reported repetitive sneezing episodes, occurring 10 to 15 times after exposure to dust, accompanied by clear rhinorrhea, nasal and ocular itching, and a habitual nose rubbing behavior. Ocular complaints, including watery and itchy eyes, were consistently reported. Physical examination revealed livid discoloration of the nasal cavity mucosa and septum. The inferior turbinates appeared edematous and hyperemic with clear nasal secretions. No septal deviation or signs of acute infection were observed. Based on the persistence of symptoms for more than four weeks and the characteristic clinical findings, the patient was diagnosed with mild persistent allergic rhinitis. Management included oral antihistamine therapy with cetirizine, a nasal decongestant containing pseudoephedrine hydrochloride, and intranasal corticosteroid therapy with fluticasone furoate. In addition to pharmacological treatment, the patient received education on allergen avoidance, adoption of healthy lifestyle practices, and regular physical activity. This case highlights the importance of recognizing long term symptoms, performing a thorough physical examination, and applying an appropriate combination of pharmacological and non pharmacological interventions to achieve symptom control, improve quality of life, and prevent disease progression in patients with allergic rhinitis.
Dampak Diabetes Melitus Tipe 2 Terhadap Fungsi Auditorik: Tinjauan Literatur Fatwa, Zahra Ramadhani; Imanto, Mukhlis; Larasati, Ratri Mauluti; Kurniawaty, Evi
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.968

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan penyakit metabolik kronik yang ditandai oleh hiperglikemia akibat gangguan sekresi atau kerja insulin. Hiperglikemia kronik dapat menyebabkan komplikasi mikrovaskular dan neuropatik, termasuk pada sistem pendengaran. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengeksplorasi mekanisme gangguan fungsi auditorik akibat DM tipe 2 dan meninjau bukti ilmiah mengenai hubungan antara DM tipe 2 dan gangguan fungsi auditorik. Metode: Tinjauan ini menggunakan pendekatan narrative review melalui penelusuran literatur pada PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar menggunakan kata kunci “type 2 diabetes mellitus”, “hearing loss”, dan “auditory function”. Artikel yang dipilih adalah publikasi lima tahun terakhir (2020–2025) yang relevan dengan topik. Pembahasan: DM tipe 2 dapat memengaruhi pendengaran melalui kerusakan mikrovaskular pada kapiler koklea, neuropati saraf auditori, stres oksidatif, dan akumulasi advanced glycation end products (AGEs). Mekanisme tersebut mengakibatkan disfungsi stria vaskularis, atrofi sel rambut koklea, serta gangguan transmisi impuls saraf. Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan risiko sensorineural hearing loss bilateral pada pasien DM tipe 2, terutama dengan kontrol glikemik buruk dan durasi penyakit lebih lama. Simpulan: DM tipe 2 berhubungan dengan gangguan fungsi pendengaran akibat mekanisme vaskular, neuropatik, dan oksidatif. Pemeriksaan audiometri rutin disarankan untuk deteksi dini disfungsi auditori sebagai bagian dari perawatan komprehensif pasien diabetes.