Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Uterine Prolapse in Postmenopausal Women in the Coastal Areas: Prolaps Uteri pada Perempuan Postmenopause di Daerah Pesisir Juminten Saimin; Indria Hafizah; Nina Indriyani; Ashaeryanto; Satrio Wicaksono
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 8 No. 4 October 2020
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32771/inajog.v8i4.1349

Abstract

Objective: To assess the characteristics of postmenopausal women in the coastal areas that experience uterine prolapse.Methods: This was a retrospective descriptive study conducted at Alpha Gynecology Clinic in Kendari. Samplesare cases of uterine prolapse from coastal areas that visited in January to December 2017. Samples were taken by consecutive sampling. The diagnosis of uterine prolapse is based on the Pelvic Organ Prolapse Quantification system. Data is presented with tables and narration.Results: There were 21 respondents who experienced uterine prolapse. Most respondents were aged 61-70 years (42.8%), work as housewives (71.4%), parity more than 4 (85.7%), and duration of menopause >5 years (100.0%). The most common complaint at the fi rst time was a feeling of a lump in the vagina (81.0%), in the third degree of uterine prolapse (57.1%), and accompanied by comorbidities (66.7%). Conclusions: Uterine prolapse in postmenopausal women in the coastal areas was found in housewives, aged 61-70 years, grande-multiparous, and duration of menopause >5 years. The main complaint was felt a lump in the vagina, in the third degree and accompanied by comorbidities. Counselling, information and education regarding symptoms and management of uterine prolapse need to be done.Keywords: coastal areas, postmenopausal women, uterine prolapse.AbstrakTujuan: Mengetahui karakteristik perempuan postmenopause di daerah pesisir yang mengalami prolapsus uteri.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif yang dilakukan di Klinik Ginekologi Alfa di Kendari. Sampel adalah kasus prolapse uteri yang berasal dari daerah pesisir yang berkunjung pada bulan Januari sampai Desember 2017. Sampel diambil secara consecutive sampling. Diagnosis prolapsus uteri berdasarkan sistem Pelvic Organ Prolapse Quantification. Data disajikan dalam bentuk tabel dan narasinya.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat 21 responden yang mengalami prolapsus uteri. Responden terbanyak berusia 61-70 tahun (42,8%), pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (71,4%), paritas lebih dari 4 (85,7%), dengan lama menopause lebih dari 5 tahun (100,0%). Keluhan yang paling sering dialami pada saat pertama datang adalah terasa ada yang mengganjal di jalan lahir (81,0%), dengan diagnosis prolapsus uteri derajat 3 (57,1%), dan disertai penyakit penyerta (66,7%).Kesimpulan: Prolapsus uteri pada perempuan postmenopause di daerah pesisir ditemukan pada ibu rumah tangga, usia 61-70 tahun, grande multipara, menopause >5 tahun. Keluhan utama terasa ada yang mengganjal di jalan lahir disertai penyakit penyerta, dengan diagnosis prolapse uteri derajat 3. Perlu dilakukan penyuluhan, konseling dan edukasi mengenai gejala dan penatalaksanaan prolapsus uteri.Kata kunci: daerah pesisir, prolaps uteri, perempuan postmenopause.
Kecemasan Wanita Premenopause dalam Menghadapi Masa Menopause,Sebuah Studi Crossectional Juminten Saimin; Cici Hudfaizah; Indria Hafizah
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1619

Abstract

Jumlah dan proporsi penduduk wanita yang memasuki usia menopause terus mengalami peningkatan yang signifikan. Ada banyak kekhawatiran yang menyelubungi pikiran wanita ketika memasuki masamenopause. Masalah psikis yang paling sering dialami adalah rasa cemas. Kecemasan tersebut berupa perasaaan menjadi tua, tidak menarik lagi, mudah tersinggung, khawatir keinginan seksual menurun, merasa tidak berguna dan tidak menghasilkan sesuatu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 205 wanita premenopause berusia 40-50 tahun di Kota Kendari. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner dan mengacu pada Taylor Manifest Anxiety Scale (T-MAS). Data dianalisis menggunakan uji Chisquare dengan nilai kemaknaan p = 0,05. Hasil penelitian didapatkan bahwa112 responden (54,6%)mengalami kecemasan. Usia terbanyak yang mengalami kecemasan adalah usia 40-45 tahun sebanyak 69 responden (33,7%), namun tidak terdapat hubungan antara usia dengan kecemasan (p = 0,606).Kecemasan terbanyak didapatkan pada pendidikan rendah yaitu 107 responden (52,2%) dan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kecemasan (p = 0,000). Kelompok tidak bekerja terbanyak mengalami kecemasan yaitu 69 responden (33,7%) dan terdapat hubungan antara pekerjaan dengan kecemasan(p = 0,001). Kelompok yang tinggal dengan pasangan terbanyak mengalami kecemasan yaitu 60 responden (35,1%), namun tidak terdapat hubungan antara status tinggal dengan kecemasan (p = 0,941). Kecemasan terbanyak pada kelompok dengan aktivitas fisik berat yaitu 96 responden (46,8%) dan terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kecemasan (p = 0,000). Kelompok dengan berat badan lebih terbanyak mengalami kecemasan yaitu 67 responden (32,7%), tetapi tidak terdapathubungan antara indeks massa tubuhdengan kecemasan (p = 0,396). Simpulan : Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas fisik dengan kecemasan pada wanita premenopause. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata kunci : aktivitas fisik, kecemasan, pekerjaan, tingkat pendidikan, wanita premenopause,
Correlation between Knowledge and Attitude with Malaria Prevention Practices in the Working Area of the Kabawo Public Health Center Arimaswati; Ninis I. Octasari; Ashaeryanto; Indria Hafizah; Pranita Aritrina
MEDULA: Jurnal Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo Vol. 11 No. 1 (2023): Akhir
Publisher : MEDULA: Jurnal Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Malaria is still one of the public health problems in Southeast Sulawesi Province. Annual Parasite Incidence (API) in the work area of Kabawo Primary Health Center was 48.90‰ in 2016. Limited public knowledge is an essential determinant of the emergence of malaria and influences community participation in malaria prevention programs. Purpose: This research aims to determine the relationship between knowledge and behavior in malaria prevention practices in the work area of Kabawo Primary Health Center. Methods: This research was an observational analytic design using a cross-sectional approach. The dependent variable in this research was malaria prevention practice, and the independent variable was knowledge and behavior. The research location was in the Kabawo Primary Health Center's working area, with 56 respondents using the total sampling method. Data were obtained by filling out the knowledge questionnaires, behaviors and practices, and interviews. Data analysis used a spearman rank statistical test with a p-value <0.05 and contingency coefficient (r-value). Result: The result of this research of 56 respondents found 22 respondents (39.3%) had good knowledge, good behavior, and good prevention practices, as many as 12 respondents (21.4%) had good knowledge, good behavior, and less of prevention practices, as many as 22 respondents (39,3%) have less knowledge, less behavior and less of prevention practices. Based on the results of the Spearman rank statistical test analysis, it was found that the knowledge and behaviors with malaria prevention practices showed the p-value of 0,000 <0,05 with the value r = 0,647. Conclusion: This research concluded that there was a relationship between knowledge and behaviors to prevention practices in the work area of Kabawo Primary Health Center and had a strong correlation between variables with a positive correlation direction, meaning that the better knowledge and behaviors, the better prevention practices.
Vitamin D as The Primary Predictor of Perceived Stress Levels In Bipolar Disorder Siti Wahyuni; Rohmaningtyas Hidayah Setyaningrum; Emika Ambar Pangesti; Indria Hafizah; Farida Murtiani
Public Health of Indonesia Vol. 12 No. 2 (2026): April - June
Publisher : YCAB Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36685/phi.v12i2.1489

Abstract

Background: An individual's perception of a situation plays a large role in determining the level of perceived stress. Previous studies have shown that bipolar disorder patients have higher levels of perceived stress than healthy individuals. A number of biological, psychosocioeconomic and environmental factors are thought to influence stress perception in bipolar patients. Objective: This study aimed to determine the factors that influence stress perception in bipolar patients. Methods: This study is an observational study with cross sectional desaign. Thirty-two bipolar disorder patients who met the inclusion and exclusion criteria during August - September 2024 at the Psychiatry outpatient installation of UNS Hospital measured stress perception with the Perceived Stress Scale 10 form. Data normality was tested with Shapiro Wilk. Data were tested for correlation with Pearson product moment if normally distributed, and Spearman rank if not normally distributed, while nominal data used the eta correlation test. Then continued multivariate analysis of multiple linear regression. Results: Variables that are significantly correlated with PSS-10 scores are vitamin D levels (r = 0.587; p =0.001), occupation (r = 0.400; p = 0.023), income (r = 0.407; p = 0.021) and moderate correlation strength (r = 0.400 to -0.599). The variable that has the most significant effect on perceived stress of bipolar patients is vitamin D levels (B =-0.164; p=0.043), This indicates that for every one-unit increase in vitamin D level, the PSS-10 score decreases by 0.167 points. Conclusion: There are factors that correlate with stress perception in bipolar patients, namely vitamin D levels, occupation, and income. The variable that has the most significant effect on stress perception of bipolar patients is vitamin D levels.
Penyuluhan Berbasis Media Video Mengenai Gizi Ibu Hamil Pada Kelas Ibu Hamil Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Djusiana Eka Cessaria; Indria Hafizah; La Ode Alifariki; Muhammad Rustam HN; Pranita Aritrina; Amiruddin Eso
Jurnal Pengabdian Meambo Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEAMBO
Publisher : PROMISE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56742/jpm.v5i1.217

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama disebabkan oleh kekurangan gizi kronis sejak masa kehamilan. Edukasi gizi yang efektif bagi ibu hamil sangat diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku gizi seimbang selama masa kehamilan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai gizi seimbang melalui penyuluhan berbasis media video pada kelas ibu hamil sebagai upaya pencegahan stunting. Metode pelaksanaan meliputi tahap pra pelaksanaan (persiapan materi dan media video), pelaksanaan (penyuluhan interaktif dan pemutaran video edukatif), evaluasi (pre-test dan post-test), serta monitoring (observasi keberlanjutan kegiatan dan umpan balik peserta). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan minat ibu hamil terhadap penerapan gizi seimbang selama kehamilan. Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa media video efektif dalam menyampaikan pesan gizi dengan cara yang menarik, mudah dipahami, dan berkelanjutan. Kesimpulannya, penyuluhan berbasis media video dapat menjadi metode edukatif yang efisien dan aplikatif dalam mendukung upaya pencegahan stunting sejak masa kehamilan.  
Hubungan Tingkat Spiritualitas dan Tingkat Depresi dengan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 di RSUD Kota Bau-bau Tirta Islaminuru Ismail; Indria Hafizah; Sri Susanty
Nursing Care and Health Technology Journal (NCHAT) Vol. 5 No. 2 (2025): Nursing and Health Care Technology-July to December Period
Publisher : Progres Ilmiah Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56742/nchat.v5i2.128

Abstract

Komplikasi kesehatan dapat berdampak pada psikologis dan sosial pasien dengan DM tipe 2, seperti depresi dan spiritualitas yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien dengan DM tipe 2. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubugan tingkat spiritual dan depresi terhadap kualitas hidup pasien dengan DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan total 63 total sampel pasien dengan diagnosa DM Tipe 2 di RSUD Kota Baubau. Sampel diambil secara purposive menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Spiritual Well Being Scale  (SWBS) untuk menilai tingkat spiritualitas, Beck Depression Inventory (BDI) untuk menilai tingkat depresi  dan Diabetes Quality of Life (DQOL) untuk mengukur kualitas hidup pasien. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Spearmen Rank. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat spiritualitas dan tingkat depresi terhadap kualitas hidup pasien  DM Tipe 2 di RSUD Kota Bau-bau. Didapatkan hasil uji tingkat spiritualitas terhadap kualitas hidup memberikan nilai koefisien r = 0.725 dengan nilai p = 0.00 (? 0.05) dan tingkat depresi terhadap kualitas memberikan nilai koefisien r= -0.534 dengan nilai p=0.00 (? 0.05). Kesimpulan penelitian bahwa pasien dengan tingkat spiritualitas yang tinggi cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik, sementara pasien dengan tingkat depresi yang tinggi menunjukkan kualitas hidup yang lebih rendah.