Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Menelusuri Mazhab Walisongo Kholili Hasib
TSAQAFAH Vol 11, No 1 (2015): Islamic Civilization
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.101 KB) | DOI: 10.21111/tsaqafah.v11i1.257

Abstract

The background of this article is the emergence of new studies that argue about the origin of Walisongo and the school of faith (akidah) they adopted. On the other hand, historical writings about Walisongo are still dominated by many tales and legends. Eventhough the history of Walisongo is real, but if it is dominated by tales or legends, then in time it could become vague and full of doubt. Current debates about the identity of Walisongo have begun to enter the territory of academic studies. Orientalists, for instance, have their own perspectives about the subject, together with some historians of Nusantara. Different opinions about the subject are also found among the writers of the history of Nusantara. In this study, the author found that the Orientalist studies of Walisongo which conclude that they were not from Arab had some colonial motives and interests, and also some ideological backgrounds. Orientalists assume that it was the Arab is Islam. Therefore, their studies were directed to the Indian-centric framework. This orientalist politics is called notification. This movement is held by raising local Non-Muslims cultures. For example, by promoting Hindu-Buddhist culture as the national native culture and burying Islamic culture in which it was stigmatized as foreign Arab culture. In the context of this study, most Orientalists refused the fact of the Arab as the origin of Walisongo. They tend to choose the other opinion that stated that Walisongo came from India. Meanwhile, some new studies of Indonesian scholars questioned the school of faith (aqeedah) of Walisongo. Some of their finding that stated that Walisongo were Shia is still based on assumptions. This is the main reason why such studies have to be examined more carefully in this article.
Epistemologi dan Teologi dalam Pemikiran al-Ghazali tentang Ilmu Kasyf Syamsuddin Arif; Kholili Hasib; Zainal Abidin; Neneng Uswatun Khasanah
TSAQAFAH Vol 16, No 2 (2020): Islamic Theology
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v16i2.4765

Abstract

 Epistemologi dalam tradisi tasawuf memiliki karakter yang intuitif, metafisik dan illuminatif. Salah satu bentuk epistemologi tasawuf imam al-Ghazali adalah kasyf. Pengetahuan kasyf merupakan pengetahuan tertinggi dalam pandangan imam al-Ghazali. Pengetahuan kasyf merupakan bentuk pengintuisian yang melibatkan jiwa, hati dan akal. Menurut imam al-Ghazali, pengintuisian melalui jalan kasyf merupakan limpahan dari Allah swt. Tetapi, seseorang yang mengalami pengintuisian ini apabila jiwa dan hatinya bersih. Selain itu akal yang mengalami pengintuisian ini adalah bukan akal diskursif dalam pengertian biasa. Tetapi bagi imam al-Ghazali ada bagian akal yang dalam disebut intellektus. Jiwa yang mengalami kasyf ia mendapatkan pengalaman spiritual hingga kondisi jiwanya itu berada pada posisi tinggi. Pengetahuan yang dimiliki dan masuk ke dalam jiwa menjadi pengetahuan yang tinggi pula. Melihat realitas dunia tidak seperti pandangan mata orang awam dalam kesadaran biasa. Sehingga pemahaman tauhidnya juga berbeda dengan pemahaman tauhid orang biasa. Seorang yang mendapatkan limpahan kasyf ini disebut muqarrabun. Melihat alam tidak seperti orang biasa melihat alam. Ia mendapatkan penemuan-penemuan pada tiga aspek. Penemuan hal (perasaan), penemuan kognitif (ilmu) dan penemuan tertinggi yaitu penemuan berupa pengintuisian terhadap kewujudan. Pada penemuan kognitif ini kasyf dapat difungsikan sebuah sebuah metode pengetahuan. Ia melalui beberapa fase. Fase pertama melibatkan ilmu rasional-empirik, kemudian dilanjutkan dengan proses intuitif sehingga sampai mencapai hakikat sejati. Berarti perspektif dalam tasawuf imam al-Ghazali memerlukan pengkajian ilmu sains (thabi’iyyat), dan ilmu thabi’iyyat harus ditimbang sebagai wasilah pada puncak tauhid. Epistemologi harus didasarkan pada teologi.
Studi Agama Model Islamologi Terapan Mohammed Arkoun Kholili Hasib
TSAQAFAH Vol 10, No 2 (2014): Religious Studies
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.271 KB) | DOI: 10.21111/tsaqafah.v10i2.190

Abstract

This article discusses the problems of renewal religious studies offered by the contemporary Islamic thinker of Algerian, Mohammed Arkoun. Arkoun study model is knownas‘Applied Islamology’, which is a method that comes from various different ideas to build a mutually reinforcing method. Basically, these models are influenced by an orientalist Richard Bestide, so what Arkoun produced wasactually a shynthesis. In his study, Arkoun adopted social-sciences approaches and Western humanities approaches, i.e. deconstruction. This study is a model of theological crticism on various Islamic studies which Arkoun considered itover based on Turath-centric and logos-centric andeven caused Islamic science to retrogress. In general, this model studied Islam based onthe paradigm ofhumanism approach. This approach delivers on two issues. First, because it involves a wide range of scientifical approaches, the study becomes overlapped with each other.Therefore, it is not easy to trace where this study will occur except the effect of deconstruction. Second, the concept of eclecticism used in his study isto releasethe Islamic tradition fromtheological and ideological- boundaries. He opened fullylogical explorationbeyond ideological prejudices, ethnicity, or religion. The method results in erroneous impressionof God, religion, divine revelation, prophets, and any otherreligious concepts. In essentials, Applied Islamology has a problem in the realm of theology and epistemology.
Konsep Siyasah dan Adab Bernegara Menurut Imam Al-Ghazali Kholili Hasib
FALASIFA : Jurnal Studi Keislaman Vol 8 No 1 (2017): MARET
Publisher : STAIFAS-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.275 KB) | DOI: 10.36835/falasifa.v8i1.35

Abstract

Imam al-Ghazali is an expert scholar of various fields, kalam, tasawuf, fiqh, andphilosophy. Even so, he did not care about the political issues of his time. Hispolitical thinking is in his book Al-Tibr al-Masbuk fii Nashihat al-Muluk.According to Imam al-Ghazali, various political issues that engulf the Islamicworld boils down to a scientific crisis. Therefore, Imam al-Ghazali's criticism isdirected to the 'ulama' as the bearer of knowledge. The tyranny of science hascreated an epistemological crisis that leads to the weakness of the ummah againstforeign powers. Thus, the thought of politics is described by al-Ghazali imam withSufism frames. Efforts to improve the politics of al-Ghazali is done by applyingthe concept of amar ma'ruf nahi munkar to the ulama and the ruler at once. Stagesof business is done, warning, then advice. Al-Ghazali is very committed to thefactors of improvement and renewal. For him, a scholar or scientist should notundertake a constructive reform in the political arena. Because this is a form ofamar ma'ruf nahi munkar. Keyword: Siyasah Syar’iyah, Adab, Epistemologi
Metodologi Sains dan Agama: Pembacaan Kritis terhadap Teori Integrasi Holmes Rolston Zainal Abidin; Kholili Hasib
Adabuna : Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Vol 1 No 1 (2022): Adabuna : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran
Publisher : Program Pascasarjana Institut Agama Islam (IAI) Darullughah Wadda'wah Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.925 KB)

Abstract

Kajian ini didasarkan oleh pemikiran dasar bahwa hubungan sains dan agama bukan hubungan saling berlawanan. Tetapi bisa berkawan. Holmes Rolston, termasuk ilmuan Barat kontemporer yang memiliki dasar pemikiran demikian. Atas dasar itu Holmes mengajukan tesis bahwa, antara teori dalam sains dan teologi dalam agama lebih banyak memiliki kesamaan dari pada perbedaannya. Tesis ini mengandung masalah utama yang akan dikaji yaitu bagaimana suatu teori ilmiyah dan teologi itu dirumuskan. Sejauh ini dalam tradisi sains modern (sains Barat), teori ilmu pengetahuan dan teologi tidak bisa bertemu. Kajian Homes ini sebenarnya masuk ke wilayah basis filsafat ilmu yang menjadi dasar tumbuh berkembangnya suatu teori. Persoalan berikutnya adalah, apakah metolologi yang digunakan dalam sains, baik sains sosial atau sains humaniora itu dapat digunakan dalam penyelidikan agama?. Maka, ada empat masalah pokok yang dibahas oleh Holmes, yaitu Pertama, Teori, Keyakinan dan Pengalaman. Kedua, Model, pola dan paradigma. Ketiga, Objektivitas dan Keterlibatan. Keempat, Logika ilmiah dan agama. Paper ini akan mengkaji empat isu pokok di atas sebaimana tercantum dalam buku Holmes Rolston berjudul ilmu dan agama sebuah survai kritis bab Pertama, metode penyelidikan sains dan agama. Keyword: integrasi, sains, agama, Holmes Rolston
Analisis Kritis terhadap Epistemologi Studi al-Qur’an Mohammed Arkoun Kholili Hasib
al-Rasῑkh: Jurnal Hukum Islam Vol. 6 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda'wah Bangil Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.518 KB) | DOI: 10.38073/rasikh.v6i1.26

Abstract

Studi ilmu al-Qur’an pada era kontemporer menemui berbagai tantangan baru. Salah satu di antaranya penggunaan metode-metode modern yang lahir dari tradisi filafat Barat. Persoalannya adalah, penggunaan metode modern itu dalam perjalanannya menggeser metode standar dalam ulum al-Qur’an sebagaimana dijalankan oleh para ulama ahli al-Qur’an. Dalam hal ini, Mohammed Arkoun, menggunakan metode filsafat postmodernisme dalam menganalisis al-Qur’an. Pemikiran-pemikiran tentang tradisi Islam dan konsep wahyu diuraikan oleh Arkoun dengan analisa-analisa filosofis yang berasal dari para ilmuan-ilmuan Prancis, seperti Jecques Derrida, Paul Ricour, Michel Foucault, Ferdinand de Saussure, Roland Barthes dan lain-lain. Arkoun mempertanyakan kembali esensi wahyu sebagai Kalamullah yang suci. Ia membaca kalam Allah yang transenden dan kalam-Nya dalam tataran imanen yang ia sebut wacana wahyu.Dengan merujuk kepada pendapat Paul Ricoeur, Arkoun membedakan tiga tingkatan wahyu. Pertama, wahyu Allah sebagai yang transenden, dengan beberapa fragmen kecil saja yang diwahyukan lewat para nabi. Kedua, wahyu yang diturunkan secara oral melalui nabi-nabi Israel, Yesus dan nabi Muhammad. Wahyu ini diwujudkan dengan berbagai bahasa, wahyu yang turun kepada para nabi Israel menggunakan bahasa Ibrani, wahyu yang turun kepada Yesus berwujud bahasa Aramaik dan nabi Muhammad SAW menerima wahyu dalam bentuk bahasa Arab. Wahyu ini menurut Arkoun disampaikan secara lisan dalam waktu yang panjang sebelum ditulisakan. Ketiga, obyektifitas firman Tuhan berlangsung menjadi korpus tertulis dan kitab suci ini pun bisa dibaca oleh kaum beriman hanya lewat versi tertulisnya, terlindung dalam korupus yang secara resmi ditutup. Dalam konsep al-Qur’an, kanon firman Tuhan itu diresmikan secara tertulis oleh Khalifah Ustman bin Affan. Dengan menggunakan perangkat-perangkat ilmu Barat-modern, Arkoun mengubah status al-Qur’an. Arkoun mengharuskan mempraktikkan ilmu antropologi, linguistik dan sejarah untuk membeber fakta yang sebenarnya yang bersemayam dalam wahyu. Secara terus terang metode yang ditawarkan adalah metode yang telah diterapkan oleh masyarakat Kristen dan Yahudi. Ia ingin mengubah masyarakat Islam seperti Barat pada era renaissance. Dengan demikian, persoalan pemikirannya tentang studi al-Qur’an bermula dari epistemologi Arkoun yang ia gunakan. Artikel ini mengkaji pemikiran Arkoun tentang stui al-Qur’an dengan didahului oleh kajian kritis epistemologinya.
Tasawuf Dan Reformasi Umat Berdasarkan Pemikiran Imam al-Ghazali Kholili Hasib
al-Rasῑkh: Jurnal Hukum Islam Vol. 6 No. 02 (2017)
Publisher : Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda'wah Bangil Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.377 KB) | DOI: 10.38073/rasikh.v6i02.58

Abstract

Sejauh ini masih terdapat kesalahfahaman terhadap ilmu tasawuf. Kesalah fahaman terhadap ilmu tasawuf yang melahirkan tuduhan sesat biasanya bersumber dari ketiada fahaman tentang hakikat tasawuf yang terkait dengan syariah. Di antara pemahan yang menolak tasawuf adalah, kaum sufi dikatakan tidak terlalu taat pada syariah, bahkan ada di antara kaum sufi yang menafikan syariah. Padahal, mempraktikkan syariah pada taraf sempurna itulah akan ditemukan intisari tasawuf. Syariah yang dijalankan dengan sempurna itu tidak sekedar hukum dzahir, tapi juga mementingkan fiqih batin. Maka, tasawuf yang sebenar merupakan praktik dari syariah itu pada tingkat yang sempurna (ihsan), dzahir dan batin. Antara syariah dan tasawuf memiliki kaiatan erat yang tiada dapat dipisah. Jika dipisah, maka Islam menjadi tidak sempurna. Selain itu, ada tuduhan tasawuf penyebab kemunduran umat Islam. Terkhusus, tasawuf yang dipraktikkan imam al-Ghazali oleh sebagian sarjana – baik dari orientalis maupun dari kalangan sarjana Muslim sendiri – diyakini penyebab matinya ilmu sains, dan filsafat di dunia Islam. Padahal, pemikiran imam al-Ghazali menurut Majid Irsan Kailani memiliki kontribusi signifikan dalam kebangkitan umat pada masa perang Salib. Maka, di sinilah menariknya mengkaji ulang kembali hakikat tasawuf imam al-Ghazali. Makalah ini menemukan bahwa, justru dengan tasawuf imam al-Ghazali terjadi kebangkitan umat. Tuduhan mematikan sains ternyata tidak terbukti. Karena setelah era imam al-Ghazali, sains berkembang bahkan pesat. Imam al-Ghazali hanya mengoreksi, bahwa ilmu pengetahuan termasuk sains dan filsafat tidak menemukan hakikat kebeneran kecuali dengan mengintegrasikan dengan tasawuf.
Studi Agama Model Islamologi Terapan Mohammed Arkoun Kholili Hasib
TSAQAFAH Vol. 10 No. 2 (2014): Religious Studies
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v10i2.190

Abstract

This article discusses the problems of renewal religious studies offered by the contemporary Islamic thinker of Algerian, Mohammed Arkoun. Arkoun study model is knownas‘Applied Islamology’, which is a method that comes from various different ideas to build a mutually reinforcing method. Basically, these models are influenced by an orientalist Richard Bestide, so what Arkoun produced wasactually a shynthesis. In his study, Arkoun adopted social-sciences approaches and Western humanities approaches, i.e. deconstruction. This study is a model of theological crticism on various Islamic studies which Arkoun considered itover based on Turath-centric and logos-centric andeven caused Islamic science to retrogress. In general, this model studied Islam based onthe paradigm ofhumanism approach. This approach delivers on two issues. First, because it involves a wide range of scientifical approaches, the study becomes overlapped with each other.Therefore, it is not easy to trace where this study will occur except the effect of deconstruction. Second, the concept of eclecticism used in his study isto releasethe Islamic tradition fromtheological and ideological- boundaries. He opened fullylogical explorationbeyond ideological prejudices, ethnicity, or religion. The method results in erroneous impressionof God, religion, divine revelation, prophets, and any otherreligious concepts. In essentials, Applied Islamology has a problem in the realm of theology and epistemology.
Menelusuri Mazhab Walisongo Kholili Hasib
TSAQAFAH Vol. 11 No. 1 (2015): Islamic Civilization
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v11i1.257

Abstract

The background of this article is the emergence of new studies that argue about the origin of Walisongo and the school of faith (akidah) they adopted. On the other hand, historical writings about Walisongo are still dominated by many tales and legends. Eventhough the history of Walisongo is real, but if it is dominated by tales or legends, then in time it could become vague and full of doubt. Current debates about the identity of Walisongo have begun to enter the territory of academic studies. Orientalists, for instance, have their own perspectives about the subject, together with some historians of Nusantara. Different opinions about the subject are also found among the writers of the history of Nusantara. In this study, the author found that the Orientalist studies of Walisongo which conclude that they were not from Arab had some colonial motives and interests, and also some ideological backgrounds. Orientalists assume that it was the Arab is Islam. Therefore, their studies were directed to the Indian-centric framework. This orientalist politics is called notification. This movement is held by raising local Non-Muslims cultures. For example, by promoting Hindu-Buddhist culture as the national native culture and burying Islamic culture in which it was stigmatized as foreign Arab culture. In the context of this study, most Orientalists refused the fact of the Arab as the origin of Walisongo. They tend to choose the other opinion that stated that Walisongo came from India. Meanwhile, some new studies of Indonesian scholars questioned the school of faith (aqeedah) of Walisongo. Some of their finding that stated that Walisongo were Shia is still based on assumptions. This is the main reason why such studies have to be examined more carefully in this article.
Epistemologi dan Teologi dalam Pemikiran al-Ghazali tentang Ilmu Kasyf Syamsuddin Arif; Kholili Hasib; Zainal Abidin; Neneng Uswatun Khasanah
TSAQAFAH Vol. 16 No. 2 (2020): Islamic Theology
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v16i2.4765

Abstract

 Epistemologi dalam tradisi tasawuf memiliki karakter yang intuitif, metafisik dan illuminatif. Salah satu bentuk epistemologi tasawuf imam al-Ghazali adalah kasyf. Pengetahuan kasyf merupakan pengetahuan tertinggi dalam pandangan imam al-Ghazali. Pengetahuan kasyf merupakan bentuk pengintuisian yang melibatkan jiwa, hati dan akal. Menurut imam al-Ghazali, pengintuisian melalui jalan kasyf merupakan limpahan dari Allah swt. Tetapi, seseorang yang mengalami pengintuisian ini apabila jiwa dan hatinya bersih. Selain itu akal yang mengalami pengintuisian ini adalah bukan akal diskursif dalam pengertian biasa. Tetapi bagi imam al-Ghazali ada bagian akal yang dalam disebut intellektus. Jiwa yang mengalami kasyf ia mendapatkan pengalaman spiritual hingga kondisi jiwanya itu berada pada posisi tinggi. Pengetahuan yang dimiliki dan masuk ke dalam jiwa menjadi pengetahuan yang tinggi pula. Melihat realitas dunia tidak seperti pandangan mata orang awam dalam kesadaran biasa. Sehingga pemahaman tauhidnya juga berbeda dengan pemahaman tauhid orang biasa. Seorang yang mendapatkan limpahan kasyf ini disebut muqarrabun. Melihat alam tidak seperti orang biasa melihat alam. Ia mendapatkan penemuan-penemuan pada tiga aspek. Penemuan hal (perasaan), penemuan kognitif (ilmu) dan penemuan tertinggi yaitu penemuan berupa pengintuisian terhadap kewujudan. Pada penemuan kognitif ini kasyf dapat difungsikan sebuah sebuah metode pengetahuan. Ia melalui beberapa fase. Fase pertama melibatkan ilmu rasional-empirik, kemudian dilanjutkan dengan proses intuitif sehingga sampai mencapai hakikat sejati. Berarti perspektif dalam tasawuf imam al-Ghazali memerlukan pengkajian ilmu sains (thabi’iyyat), dan ilmu thabi’iyyat harus ditimbang sebagai wasilah pada puncak tauhid. Epistemologi harus didasarkan pada teologi.