Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Hubungan Penyakit yang Mendasari dengan Status Antropometri pada Pasien Poli Anak Rumah Sakit Umum Daerah Saiful Anwar Malang Alifia, Rania Sofie; Puryatni, Anik; Melinda, Melinda; Tjahjono, Harjoedi Adji
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.1-8

Abstract

Latar belakang. Status antropometri merupakan parameter nutrisi anak yang dinilai berdasarkan indeks antropometri sesuai dengan Permenkes Nomor 2 Tahun 2020. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa status antropometri berkaitan dengan penyakit infeksi dan non-infeksi melalui beberapa mekanisme.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penyakit yang mendasari, baik infeksi maupun non-infeksi, dengan status antropometri.Metode. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional dan rancangan kohort. Sampel diambil dari data registrasi pasien di poli anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar Malang selama periode Agustus 2022 hingga Oktober 2022. Kriteria inklusi adalah pasien yang berusia 0-18 tahun, menderita penyakit infeksi atau non-infeksi, dan memiliki catatan medis lengkap. Pasien dengan catatan medis yang tidak lengkap atau menderita penyakit infeksi dan non-infeksi sekaligus dikeluarkan dari penelitian.Hasil. Dari 532 anak yang menjadi sampel, sebagian besar berusia 5-18 tahun (56,77%) dan menderita penyakit non-infeksi (82,89%). Sebagian besar anak dengan penyakit infeksi memiliki berat badan normal (61,9%), tinggi normal (54,8%), dan status gizi baik (76,2%) pada usia 0-60 bulan, serta status gizi baik (67,3%) pada usia 5-18 tahun. Anak dengan penyakit non-infeksi juga sebagian besar memiliki berat badan normal (63,3%), tinggi normal (54,8%), dan status gizi baik (66%) pada usia 0-60 bulan, serta status gizi baik (61,7%) pada usia 5-18 tahun. Metode analisis menggunakan uji likelihood menunjukkan bahwa nilai p pada semua variabel lebih dari 0,05.Kesimpulan. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara penyakit yang mendasari, baik infeksi maupun non-infeksi, dengan status antropometri pada anak.
Hubungan Pemakaian Steroid Inhalasi dengan Osteoporosis pada Pasien Asma Anak Tjahjono, Harjoedi Adji; Sayyaf Haydar, Farel Muhammad; Yuliarto, Saptadi; Olivianto, Ery
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.158-63

Abstract

Latar belakang. Asma merupakan penyakit saluran napas akibat adanya peradangan kronis pada saluran napas yang sering terjadi pada anak-anak dengan prevalensi mencapai 20%. Steroid merupakan anti-inflamasi yang dinilai paling efektif dalam terapi penyakit peradangan kronis seperti asma. Akan tetapi, penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa steroid memiliki potensi menyebabkan penurunan kepadatan massa tulang atau osteoporosis. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pemakaian steroid inhalasi dengan osteoporosis pada pasien asma anak. Metode. Studi observasional analitik ini menggunakan desain penelitian cross-sectional terhadap 13 pasien asma anak yang berobat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar, Malang, yang didapat melalui purposive sampling. Pasien asma anak yang memenuhi kriteria inklusi dalam rentang usia 5-18 tahun serta telah menjalani pengobatan steroid inhalasi minimal 3 bulan dilakukan pemeriksaan bone mass density (BMD) melalui alat dual energy x-ray absorptiometry (DXA) kemudian dicatat hasil z-score. Analisis data menggunakan metode korelasi Rank Spearman untuk variabel bebas, yaitu dosis steroid inhalasi dan durasi pemakaian steroid inhalasi dengan variabel terikat yaitu nilai z-score BMD. Hasil. penelitian ini didapatkan hubungan signifikan berkorelasi negatif kuat antara dosis steroid inhalasi kumulatif dengan nilai z-score BMD (p=0.000, r=-0.827) dan hubungan signifikan berkorelasi negatif sedang antara durasi pemakaian steroid inhalasi dengan nilai z-score BMD (p=0.043, r=-0.568). Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemakaian steroid inhalasi menyebabkan penurunan kepadatan massa tulang dan berisiko menyebabkan osteoporosis.
Hubungan antara Kadar Feritin Serum dan Kualitas Hidup Anak Talasemia Mayor dengan Hemosiderosis Widya Basmara, Tiara Arista; Wibowo, Satrio; Nugroho, Susanto; Tjahjono, Harjoedi Adji
Sari Pediatri Vol 26, No 5 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.5.2025.314-20

Abstract

Latar belakang. Talasemia mayor termasuk dalam penyakit kelainan darah yang diturunkan secara genetic autosomal resesif. Penyakit ini membutuhkan transfusi darah berulang sebagai terapi dari talasemia mayor dengan komplikasi berupa peningkatan kadar feritin serum berlebih yaitu hemosiderosis. Kualitas hidup anak dapat diukur dengan instrumen Pediatric Quality of Life Inventory (PedsQL) yang terdiri atas fungsi fisik, emosi, sosial, dan sekolah. Kadar feritin serum yang tinggi dapat mempengaruhi kualitas hidup. Tujuan. Tujuan untuk mengetahui hubungan kadar feritin serum dan kualitas hidup anak talasemia mayor dengan hemosiderosis Metode. Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelatif dengan metode crosssectional. Kadar feritin serum didapatkan dari rekam medik dan kualitas hidup diukur dengan menggunakan PedsQL kategorik general. Digunakan uji statistik korelasi Pearson untuk uji normalitas normal dan Rank Spearman pada uji normalitas tidak normal. Hasil. dari analisis bivariate didapatkan hasil signifikan (p<0,05) antara kadar feritin serum dengan fungsi fisik dan fungsi sekolah. Pada hasil analisis bivariate antara kadar feritin serum dengan kualitas hidup anak talasemia mayor dengan hemosiderosis, fungsi emosi, dan fungsi sosial didapatkan hasil tidak signifikan (p>0,05)Kesimpulan. untuk penelitian lebih lanjut dibutuhkan metode penelitian yang berbeda untuk menganalisis lebih dalam terkait faktor-faktor yang turut serta mempengaruhi masing-masing variabel.