Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Levels of 25(OH)D3, IL-2, and C-peptide in Children with Type 1 Diabetes Mellitus (T1DM) Receiving Vitamin D3 Supplementation Suryanto, Tjahyo; Tjahjono, Harjoedi Adji; Widjajanto, Edi
Journal of Tropical Life Science Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/jtls.08.01.06

Abstract

Type 1 Diabetes Mellitus (T1DM) has become a health problem in many countries. T1DM is the consequence of autoimmune destruction process of β cells. There was relationship between vitamin D deficiency with T1DM. The destruction process was caused by an imbalance of pro-inflammatory and anti-inflammatory cytokines. One of the pro-inflammatory cytokines is IL-2. C-peptide examination to see the function of beta cells due to destruction of pancreatic beta cell. Administration of vitamin D3 supplementation still cause controversy and give varying results. This randomized clinical trial was conducted to determine the levels of 25(OH)D3, IL-2, and C-peptide in people with T1DM who received vitamin D3 supplementation. The subjects were 26 children with T1DM, divided into K1 group (received vitamin D3 supplementation) and K2 group (received placebo). The results showed higher levels of 25(OH)D3 in the K1 group and statistically found a significant difference (p = 0.00). Higher levels of IL-2 and lower C-peptide were obtained in the K1 group and no statistically significant differences were found (p = 0.76 and p= 0.26). The insignificant relationship and the negative correlation were found between 25(OH)D3 and IL-2 (p = 0.71; r = - 0.12), 25(OH)D3 and C-peptide (p = 0.59; r = -0.16), also levels of IL-2 and C-peptide (p = 0.13; r = -0.44) in children with type 1 diabetes who received vitamin D3 supplementation. From this study can be concluded that administration vitamin D3 supplementation in patients with T1DM can increase levels 25(OH)D3 significantly. This increase has not significantly lowered levels of IL-2 and increased levels of C-peptide. However, there was an absolute decrease in the rate of slower C-peptide in the supplemented group than in the placebo group.
Hubungan antara Status Kontrol Glikemik, Vitamin D dan Gizi pada Anak Diabetes Melitus Tipe 1 Indriyani, Ratna; Tjahjono, Harjoedi Adji
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.7

Abstract

Di beberapa negara barat kasus DM tipe-1 adalah 5-10% dari kasus  diabetes, dan lebih dari 90% penderita diabetes pada anak dan remaja adalah DM tipe-1. Vitamin D berperan penting dalam membangun dan memelihara mineralisasi tulang. Defisiensi vitamin D dapat menyebabkan penekanan bone turnover sehingga menyebabkan gangguan kecepatan tinggi badan. Kontrol glikemik yang buruk berupa HbA1c yang tinggi dapat menyebabkan berat dan tinggi badan tidak naik secara adekuat. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan antara status kontrol glikemik(HbA1c), status vitamin D (25(OH)D), dan status gizi pada anak DM tipe-1. Desain penelitian berupa studi cross-sectional dilakukan pada 28 subjek penelitian yaitu anak DM tipe 1 usia 1-18 tahun yang menjalani rawat jalan di Poli Endokrinologi Rumah Sakit Umum dr. Saiful Anwar Malang. Kriteria eksklusi yaitu menderita penyakit autoimun lain, infeksi berat, gangguan hati, gangguan fungsi ginjal dan  anemia. Variabel yang diukur status gizi, kadar HbA1c dan 25(OH)D. Untuk mengetahui perbedaan rerata kadar 25(OH)D dan HbA1c berdasarkan status gizi digunakan uji beda Kruskal wallis, dan uji korelasi Spearman. Dari 28 subjek didapatkan 68% anak dengan status gizi baik, 64% anak dengan kontrol metabolik buruk dan 61% anak dengan defisiensi/insufisensi 25(OH)D. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi, kontrol glikemik,  dan vitamin D. 
Hubungan antara Kadar 25(OH)D3 dan C-Peptida Berdasarkan Lama Sakit pada Anak dengan Diabetes Melitus Tipe 1 Suryanto, Tjahyo; Tjahjono, Harjoedi Adji
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No. 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.01.6

Abstract

Diabetes melitus (DM) tipe 1 menjadi masalah kesehatan di banyak negara, dengan keseluruhan peningkatan per tahun diperkirakan sebesar 3%. DM tipe 1 merupakan konsekuensi dari proses destruksi autoimun sel β pankreas. Ditemukan hubungan antara defisiensi vitamin D dengan DM tipe 1. Penelitian cross sectional ini dilakukan untuk melihat hubungan antara kadar 25(OH)D3 dan C-peptida berdasarkan lama sakit pada anak dengan DM tipe 1. Subjek penelitian adalah 26 anak dengan DM  tipe 1, status vitamin D pada sampel penelitian didominasi dengan status vitamin D yang tidak normal sebanyak 16 orang (61,5%). Hasil penelitian menunjukkan kadar 25(OH)D3 yang lebih rendah pada kelompok dengan lama sakit ≤ 5 tahun dan secara statistik tidak didapatkan perbedaan kadar 25(OH)D3 yang bermakna antara kedua kelompok (p=0,403). Didapatkan kadar C-peptida yang lebih tinggi pada kelompok dengan lama sakit ≤ 5 tahun dan secara statistik tidak didapatkan perbedaan kadar C-peptida yang bermakna antara kedua kelompok (p=0,137). Hubungan yang tidak signifikan didapatkan antara kadar vitamin D dan kadar C-peptida pada anak DM tipe 1, dengan keeratan hubungan yang lemah dan dengan korelasi bernilai positif (p=0,069; r=0,363). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada anak dengan DM tipe 1 didapatkan kadar 25(OH)D3 dan kadar C-peptida yang rendah. Semakin lama anak menderita DM tipe 1 dan tidak mendapatkan terapi yang adekuat, maka akan semakin rendah kadar 25(OH)D3 dan kadar C-peptida.
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN D3 TERHADAP KADAR OSTEOKALSIN, 25(OH)D DAN DURASI SAKIT PADA DIABETES MELLITUS TIPE 1 PADA ANAK Setia, Daendy Nova; Tjahjono, Harjoedi Adji
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 2 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.505 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.006.02.3

Abstract

Diabetes mellitus tipe 1 (DM tipe 1) adalah salah satu penyakit kronik yang sampai saat ini belum dapat disembuhkan. Anak dan remaja dengan T1D (type 1 diabetes) mempunyai risiko osteoporosis dan komplikasi jangka panjang lainnya lebih tinggi daripada anak dan remaja nondiabetik. Kadar 25(OH)D ditemukan lebih rendah pada anak dengan DM tipe 1. Penelitian ini ingin membuktikan bahwa suplementasi vitamin D3 pada anak dengan DM tipe 1 dapat meningkatkan kadar 25(OH)D dan osteokalsin, serta ingin mengetahui hubungan antara durasi sakit terhadap kadar osteokalsin dan 25(OH)D serum. Desain penelitian ini adalah double-blinded randomized controlled trial suplementasi vitamin D3 pada anak dengan DM tipe 1. Sebanyak 26 pasien rawat jalan dengan DM tipe 1 berusia 1-18 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini. Pasien kemudian dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, sedangkan durasi sakit dibagi menjadi 2, yaitu kurang dan lebih dari lima tahun. Pasien diberikan vitamin D3 2000 IU tiap hari selama 6 bulan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa kadar osteokalsin pada kelompok perlakuan lebih tiggi namun tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol (p=0,663). Namun, kadar 25(OH)D pada kelompok perlakukan lebih tinggi secara signifikan dibanding dengan kelompok kontrol (p=0,000). Tidak ada korelasi antara durasi penyakit, baik dengan kadar osteokalsin maupun kadar 25(OH)D (p=0,955 dan p=0,203 secara berurutan). Pemberian vitamin D3 selama 6 bulan pada anak dengan DM tipe 1 dapat meningkatkan kadar osteokalsin dan 25(OH)D serum. Durasi penyakit tidak berhubungan dengan kadar osteokalsin dan 25(OH)D setelah suplementasi vitamin D3 selama 6 bulan. 
Hubungan Kadar Vitamin D, Sel T Regulator (CD4+Cd25+Foxp3+) dan Kadar C-Peptida pada Anak dengan Diabetes Melitus Tipe 1 Septiana, Rurin Dwi; Tjahjono, Harjoedi Adji; widjajanto, edy -
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.12

Abstract

Diabetes melitus tipe 1 bersifat multifaktorial dan bergantung pada kombinasi kompleks dari elemen genetik, epigenetik, molekular dan selular yang menyebabkan kerusakan dari toleransi perifer sehingga menghasilkan kerusakan pada sel β pankreas. Beberapa penelitian menunjukkan kadar vitamin D yang rendah pada penderita DM tipe 1. Penelitian ini dilakukan secara cross sectional dangan subjek penelitian penderita DM tipe 1 usia 5-18 tahun, dan kontrol subjek sehat dengan usia yang sama. Kadar vitamin D plasma dan C-Peptida diukur dengan metode ELISA sedangkan jumlah sel T-regulator diukur dengan metode flowcytometry. Perbandingan antara kadar vitamin D, jumlah sel T regulator, dan kadar C-peptida  dianalisis dengan uji t tidak berpasangan. Hubungan antara vitamin D plasma, jumlah sel T regulator dan C-peptida dianalisis dengan uji korelasi Pearson. Penelitian ini menggunakan 15 sampel dan 15 kontrol. Kadar 25(OH)D3 secara signifikan lebih rendah pada penderita DM tipe 1 (22,07±5,53 vs 32,88±1,81ng/ml; p<0,05). Jumlah sel T regulator pada DM tipe 1 lebih rendah secara bermakna dibandingkan kontrol (6,86±1,20 vs 37,86±9,61; p<0,05), demikian juga kadar C-peptida (0,3±0,11 vs 3,40±1,10; p<0,05). Terdapat korelasi positif yang kuat dan signifikan antara vitamin D3 dengan jumlah sel T regulator dan kadar C-peptida, dan antara jumlah sel T regulator dengan kadar C-peptida pada penderita DM tipe 1. Dapat disimpulkan bahwa penderita DM tipe 1 mempunyai kadar vitamin D yang lebih rendah dibandingkan normal, dan kondisi ini berhubungan dengan jumlah sel Treg dan kadar C-peptida.Kata Kunci: Diabetes mellitus tipe 1, C-peptida, sel T regulator, vitamin D3
PERBEDAAN KADAR CALPROTECTIN DAN HUMAN BETA DEFENSIN 2 TINJA PADA NEONATUS PREMATUR YANG MENDAPAT ASI, SUSU FORMULA, DAN KOMBINASINYA Ningsih, Rusdian Niati; Primawardani, Putri; Sulistijono, Eko; Tjahjono, Harjoedi Adji
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 2 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.463 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.07.02.4

Abstract

Insiden enterokolitis nekrotikan (EKN) berkisar 1-5% dari setiap 1000 kelahiran hidup dengan angka kematian mencapai 20-30%. Pemberian nutrisi yang optimal dapat mengurangi masalah saluran cerna. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar calprotectin sebagai protein inflamasi dan human ß-defensin 2 (hBD-2) tinja sebgai peptida antimikroba pada neonatus prematur yang mengonsumsi ASI, susu formula, maupun ASI dan susu formula. Penelitian ini terdiri dari 39 sampel yang memenuhi kriteria inklusi terbagi ke dalam tiga kelompok yaitu neonatus prematur yang mengonsumsi ASI saja, susu formula saja, serta kombinasi ASI dan susu formula. Kadar calprotectin dan hBD-2 tinja diukur menggunakan metode ELISA. Hasil menunjukkan rerata kadar calprotectin tinja secara signifikan lebih rendah pada kelompok neonatus prematur yang mendapat ASI saja dibandingkan kelompok susu formula saja maupun kombinasi ASI dan susu formula (p=0,00). Rerata kadar hBD-2 tinja secara signifikan lebih rendah pada kelompok neonatus prematur yang mendapat ASI saja dibandingkan kelompok susu formula saja maupun kombinasi ASI dan susu formula (p = 0,00). Kesimpulannya, kadar calprotectin dan hBD-2 tinja neonatus prematur yang mengonsumsi ASI lebih rendah dibandingkan kelompok susu formula maupun kombinasi ASI dan susu formula. 
Effect of Vitamin D3 Supplementation to 25(OH)D, IL-17, and HbA1c Level in Pediatric Type 1 Diabetes Mellitus Rangkuti, Rahmah Yasinta; Tjahjono, Harjoedi Adji
Journal of Tropical Life Science Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/jtls.07.01.06

Abstract

Type 1 Diabetes Mellitus (T1DM) is the consequence of autoimmune destruction process of β cells which associated with Th17 activity and low 25(OH)D level. This study was aimed to investigate the effect of vitamin D3 supplementation toward 25(OH)D level, Th17 activity (IL-17) and glycemic control (HbA1c) in pediatric T1DM. This study was designed as randomized clinical trials (RCT), double-blind, pre and post-test controlled study. Subject was children with T1DM who were divided into two groups: K1: subjects were treated with insulin 0.5–2 IU/day + vitamin D3 2000 IU/day for 3 months, K2: subjects were treated with insulin 0.5–2 IU/day + placebo for 3 months. Levels of 25(OH)D, IL-17 and HbA1c were evaluated after 3 months treatment using ELISA. After 3 months treatment, results showed that 25(OH)D level was significantly higher in K1 compared with K2 (p = 0.00), IL-17 level was significantly lower K1 compared with K2 (p= 0.022). Surprisingly, HbA1c level in K1 was not significantly different with K2 (p = 0.93). Furthermore, in vitamin D-treated group, 25(OH)D level was elevated significantly after 3 months treatment with vitamin D (p = 0.00), IL-17 level was reduced significantly after 3 months treatment with vitamin D (p= 0.001)  and HbA1c level was reduced insignificantly after 3 months treatment with vitamin D (p= 0.76). Correlation study showed that there was no correlation between 25(OH)D level with IL-17 level (p= 0.160, r= -0.284) and 25(OH)D with HbA1c (p= 0.62, r= -0.10). This study can be conclude that vitamin D3 supplementation may elevate the 25(OH)D and reduce IL-17 level but did not change HbA1c level in pediatric T1DM.
COVID-19 vaccine for adolescents with chronic disease or disabilities Tjahjono, Harjoedi Adji; Almiradani, Ayunda; Salim, Irfan Agus; Mutaqi, Fadilah; Ariani; Wulandari, Hajeng
Pediatric Sciences Journal Vol. 4 No. 2 (2023): (Available online: 1 December 2023)
Publisher : Medical Faculty of Brawijaya University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/pedscij.v4i2.77

Abstract

Background: Indonesia has a relatively high number of COVID-19 cases and mortalities, including children and adolescents groups. Vaccination coverage for these groups is currently low, especially in the population of children with disabilities and special needs, due to the difficulty of assisting them. The objective of this study was to share the data on the COVID-19 vaccine for adolescents with chronic diseases or disabilities. Methods: This descriptive study uses data collected from two hospitals in September 2021. We analyzed the patients' characteristics, age groups, diagnoses, comorbidities, and adverse events following immunization (AEFI) of the adolescents injected with the COVID-19 vaccine. Results: From a total of 94 adolescents, 51 have disabilities, and 43 have chronic disease. Disabilities include children with special needs (54%), attention deficit and hyperactivity disorder (4%), autism (11%), cerebral palsy (4%), and Down syndrome (27%). The accompanying chronic diseases vary widely, such as diabetes mellitus (28%), asthma (14%), rheumatic heart disease (14%) and thalassemia (14%). There were 6 patients found to have AEFI. Three of them have diabetes mellitus, the other two patients have thalassemia, and the other one patient has Down syndrome. Varies AEFIs were found, including fever, drowsiness, weakness, dizziness, hunger, and itching. All symptoms were improved within hours and did not require hospitalization. Conclusion: Adolescents with disabilities and chronic diseases require special assistance and extra care during vaccination. The COVID-19 vaccine is relatively safe for adolescents in these groups without significant side effects.
Hubungan antara Pemberian Terapi Steroid dengan Pertumbuhan pada Pasien Hiperplasia Adrenal Kongenital Anak Arrizal, Ruhul Zihad; Purjatni, Anik; Tjahjono, Harjoedi Adji
Sari Pediatri Vol 27, No 2 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.2.2025.102-7

Abstract

Latar belakang. Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK) adalah penyakit bawaan yang diturunkan secara autosomal resesif dan menyebabkan gangguan fungsi kelenjar adrenal. Terapi steroid, sebagai bagian dari tata laksana HAK, dapat menimbulkan efek samping terutama gangguan pertumbuhan tinggi badan pada pasien.Tujuan. Mengetahui hubungan antara terapi steroid (durasi, jenis, dan dosis) dengan pertumbuhan (panjang/tinggi badan dan panjang/tinggi badan menurut usia) pada pasien anak dengan HAK.Metode. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis rekam medis pasien HAK di RSSA Malang periode September 2020-Januari 2024. Sampel sebanyak 15 anak diambil menggunakan teknik proporsional random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran pertumbuhan menggunakan panjang/tinggi badan (cm) dan ukuran menurut usia berdasarkan grafik WHO (0-2 tahun) dan CDC (>2 tahun). Data durasi terapi dihitung dalam bulan, jenis steroid dikategorikan menjadi terapi hidrokortison dan kombinasi hidrokortison-fludrokortison, serta dosis dihitung dalam mg/hari (hidrokortison) dan mcg/hari (fludrokortison). Analisis statistik menggunakan uji regresi dan korelasi Rank Spearman.Hasil. Terdapat hubungan signifikan antara durasi terapi steroid (r²=0,478; p=0,04) dan dosis hidrokortison (r²=0,766; p<0,001) dengan pertumbuhan tinggi badan. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara dosis fludrokortison (r²=0,077; p=0,507), maupun jenis steroid dengan pertumbuhan (r=0,491; p=0,063).Kesimpulan. Durasi dan dosis terapi steroid mempunyai hubungan signifikan dengan pertumbuhan tinggi badan pada pasien anak dengan HAK, sedangkan jenis steroid dan dosis fludrokortison tidak berhubungan signifikan.
Perbedaan Kadar Vitamin 25-Oh-D antara Nefritis Lupus dengan Lupus Eritematosus Sistemik pada Anak Putri, Elita Verina Adikara; Subandijah, Krisni; Tjahjono, Harjoedi Adji
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.305-9

Abstract

Latar belakang. Lupus eritematosus sistemik adalah penyakit autoimun yang bisa berdampak pada manifestasi klinis di beberapa organ tubuh. Nefritis lupus termasuk salah satu konsekuensi manifestasi klinis LES derajat berat pada ginjal. Kadar vitamin D dalam tubuh dapat turun pada LES dan nefritis lupus karena faktor insufisiensi ginjal dan penggunaan obat-obatan kortikosteroid. Di Indonesia, belum terdapat penelitian yang melihat perbandingan kadar vitamin D antara nefritis lupus dan LES pada anak. Tujuan. Untuk mengetahui perbedaan kadar vitamin 25-OH-D antara nefritis lupus dengan lupus eritematosus sistemik pada anak. Metode. Penelitian analitik observasional ini menggunakan metode cross sectional pada subjek penelitian 17 pasien LES anak dan 17 pasien nefritis lupus anak di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar Malang. Data hasil penelitian menunjukkan kadar vitamin 25-OH-D pada pasien LES anak maupun nefritis lupus anak paling banyak tergolong insufisiensi. Analisis data dengan uji komparatif Mann Whitney.Hasil. Perbedaan signifikan didapatkan pada kadar vitamin 25-OH-D antara nefritis lupus dengan LES (p=0,004). Analisis data dengan uji korelatif Spearman menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara klasifikasi kadar vitamin 25-OH-D dengan peningkatan keparahan LES pada terjadinya nefritis lupus (p=0,003). Kesimpulan. Kadar vitamin 25-OH-D pasien nefritis lupus anak lebih rendah dibandingkan dengan pasien LES anak, serta klasifikasi kadar vitamin 25-OH-D berkolerasi negatif dengan keparahan penyakit LES pada anak dengan terjadinya nefritis lupus.