Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Permasalahan Sosial dalam Novel Bumi dan Lukanya Remake Karya Ann Ni Luh Ratna Ardiari; I Ketut Yarsama; I Made Sujaya
Jurnal Arjuna : Publikasi Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Matematika Vol. 2 No. 4 (2024): Agustus : Jurnal Arjuna : Publikasi Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Matematika
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/arjuna.v2i4.1136

Abstract

This research is a qualitative descriptive study that describes the structure and also the author's world view of social problems in the novel Bumi dan Lukanya Remake by Ann. The theory used in this research is the theory of genetic structuralism developed by Goldmann. The data collection methods and techniques used were library study methods and reading and note-taking techniques. The data source for this research uses the novel Bumi dan Lukanya Remake by Ann. Data analysis uses the dialectical method. The results of the analysis are presented using informal methods using descriptions as explanations. This research produces a structure that originates from relationships built from an imaginary environment, namely (1) familial relationships between characters, (2) friendly relationships between characters, and (3) love relationships between characters and the author's world view of social problems in the novel Bumi dan Lukanya Remake .
INTERKULTURALISME DALAM SASTRA WARNA LOKAL BALI DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA UNTUK MENDUKUNG PENCEGAHAN INTOLERANSI DI SEKOLAH I Made, Sujaya; Liswahyuningsih, Ni Luh Gede; Dwipayana, I Kadek Adhi
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 14 No. 1 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v14i1.5719

Abstract

This article reveals interculturalism in local Balinese Indonesian literature and its relevance as literary teaching materials to support the prevention of intolerance in schools. This research is motivated by the fact that diversity is an empirical fact of Indonesian society that can have a positive impact as a social and cultural strength of the nation, but can also have a negative impact because it has the potential to cause social conflict. The potential for social conflict usually arises from intolerant attitudes in society, including in the school environment. This indicates that intercultural awareness must continue to be fostered. As a cultural product as well as a cultural practice, literature can play a role in strengthening students' intercultural awareness. Therefore, literary learning requires teaching materials that are relevant and contextual to the needs of building students' intercultural awareness. On that basis, research on interculturalism in local Balinese literature is important to conduct. Local Balinese literature was chosen as the focus of the research because the results of this research are expected to be applied in Bali as an open area with the complexity of typical intercultural problems. The main problems to be answered in this research are the representation of interculturalism in local Balinese literature and its relevance as literary teaching materials to support the prevention of intolerance in schools. This research uses a qualitative descriptive design with a sociology of literature approach. The research data source is in the form of local Balinese Indonesian literature containing intercultural elements. The results of the study found that interculturalism in local Balinese Indonesian literature is woven through the medium of marriage and friendship institutions. The meeting of two different cultures gives rise to cultural shock which is responded to with adaptive and accommodating attitudes of the story characters. In the relationship between characters who have different backgrounds, there are a number of factors that allow interculturalism to occur, namely economy, religion, and tradition. However, this study found a tendency for religion to be a separating factor, while customs and traditions are unifying factors.
Exploring Social and Cultural Meanings in the Novel Tempurung by Oka Rusmini: Its Relevance to Literature Learning in Senior High School Ni Luh Candra Dewi; I Ketut Yarsama; I Made Sujaya
Jurnal Paedagogy Vol. 13 No. 3 (2026): July
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jp.v13i3.20793

Abstract

This study aims to analyze the representation of social and cultural meanings in the novel Tempurung by Oka Rusmini and to examine its relevance as literature learning material for senior high school students. The study employed a qualitative approach using a descriptive-interpretative method. The primary data consisted of textual elements in the novel, including words, phrases, sentences, dialogues, narrative passages, characters’ actions, and significant events. Supporting data were obtained from the Merdeka Curriculum documents, particularly the Indonesian Language Learning Outcomes for Phase F, as well as qualitative responses from Indonesian language teachers and Grade XI/XII students collected through focus group discussions (FGDs), interviews, and open-ended questionnaires. The data were analyzed using descriptive-interpretative content analysis. The findings indicate that the novel represents a range of social meanings, including social stratification, gender inequality, power relations, and tensions between individual agency and collective social norms. Its cultural meanings are reflected through religious beliefs, Balinese customs and traditions, the symbolic meaning of the Tempurung (coconut shell), family honor, social obligations, and the value of harmony. The findings further suggest that Tempurung is highly relevant as literature learning material for senior high school because it promotes critical reading, literary appreciation, social empathy, cultural awareness, and the strengthening of the Pancasila Student Profile.
Analisis Sosiopragmatik: Tindak Tutur Direktif dalam Konflik Rumah Tangga pada Cerpen "Maria" Karya Gede Aries Pidrawan Made Eva Trisnadewi; I Made Sujaya
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Juni- Juli 2026)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v7i4.8602

Abstract

Penelitian ini mengkaji tindak tutur direktif dalam konflik rumah tangga yang terdapat dalam cerpen "Maria" karya Gede Aries Pidrawan dengan menggunakan pendekatan sosiopragmatik. Cerpen ini menampilkan dinamika relasi gender dan tekanan sosial budaya Bali yang melatarbelakangi berbagai bentuk konflik antartokoh. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi jenis-jenis tindak tutur direktif yang muncul dalam tuturan antartokoh, (2) menganalisis strategi kesantunan yang digunakan penutur dalam situasi konflik, dan (3) mengungkap faktor sosial budaya yang memengaruhi penggunaan tindak tutur direktif dalam konteks rumah tangga. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pencatatan dan analisis isi. Data berupa tuturan direktif dianalisis menggunakan teori tindak tutur Austin dan Searle serta kerangka sosiopragmatik Leech. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur direktif dalam cerpen ini didominasi oleh bentuk perintah (commands), permintaan (requests), dan anjuran (advisives) yang digunakan terutama oleh tokoh ibu kepada anaknya. Faktor usia, status sosial, dan norma adat Bali terbukti memengaruhi pemilihan strategi tutur. Temuan ini memperkuat argumen bahwa konflik rumah tangga dalam sastra tidak sekadar peristiwa naratif, melainkan juga arena negosiasi kuasa yang tercermin dalam pola tuturan.
Dinamika Kelas Sosial dan Kesantunan Berkomunikasi: Kajian Sosiopragmatik dalam Novel Janji di Tanah Jawa Karya Agil Sri Rahayu Ni Luh Made Anitasari; I Made Sujaya
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Juni- Juli 2026)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v7i4.8625

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedah relasi kelas sosial melalui penggunaan deiksis dan strategi kesantunan sosiopragmatik dalam novel Janji di Tanah Jawa karya Agil Sri Rahayu. Latar sejarah abad ke-19 pada era tanam paksa menciptakan struktur sosial yang kaku, yang secara langsung memengaruhi perilaku tutur masyarakatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) deiksis sosial vertikal-naik seperti sapaan ndoro digunakan oleh kelas bawah, tokoh Wira sebagai instrumen subordinasi dan pertahanan diri di bawah sistem feodal-kolonial; (2) strategi kesantunan positif dan tindakan perbaikan muka yang ditunjukkan tokoh Kinanti berfungsi sebagai sarana emansipasi linguistik untuk meruntuhkan sekat antarkasta; dan (3) tokoh Manggala merepresentasikan hibriditas pragmatik yang mampu menegosiasikan identitas antara logika egaliter Barat dan etika tradisional Timur. Simpulan penelitian menegaskan bahwa bahasa dalam novel ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang perjuangan.
Representasi Bali dalam Sastra Melayu Tionghoa dan Implikasinya Bagi Pembelajaran Sastra di Perguruan Tinggi I Made Sujaya; I Kadek Adhi Dwipayana
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.10773

Abstract

Artikel ini mengkaji representasi Bali dalam Sastra Melayu Tionghoa (SMT) melalui tiga roman periode kolonial, yaitu Brangti (1934) karya Romano alias Liem Khing Hoo, Lejak (1935), dan Dewi Kintamani (1954) karya Soe Lie Piet. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Bali dibayangkan, dinarasikan, dan dikonstruksi secara ideologis oleh pengarang peranakan Tionghoa yang menulis dari luar pengalaman kultural Bali. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan analisis tekstual berlandaskan kajian budaya dan perspektif pascakolonial. Analisis difokuskan pada latar cerita, konstruksi tokoh, penggambaran adat, serta posisi ideologis yang termuat dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bali pada awalnya direpresentasikan melalui pandangan eksotis terutama melalui tubuh perempuan, kekakuan adat, dan penegasan keasingan budaya namun sekaligus diposisikan sebagai ruang kemurnian moral dan kedalaman spiritual. Seiring perkembangan narasi, representasi tersebut bergerak menuju konstruksi yang lebih kompleks dan ambivalen, di mana Bali tidak lagi sekadar objek eksotisme, melainkan ruang negosiasi identitas, perjumpaan lintas etnis, dan pembentukan rasa kepemilikan simbolik. Artikel ini berargumen bahwa SMT menghadirkan konstruksi identitas Bali yang polifonik, bergerak dari eksotisme kolonial menuju narasi “menjadi Bali” sebagai horizon etis dan kultural. Kajian ini memperkaya historiografi sastra Indonesia dengan menegaskan kontribusi SMT dalam wacana multikulturalisme dan identitas budaya.Temuan ini memiliki implikasi pedagogis karena roman-roman SMT dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran sastra Indonesia untuk mengembangkan literasi multikultural dan pembacaan kritis terhadap representasi kolonial.