Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

RANTAI PASOK MATERIAL DENGAN PENDEKATAN MANAJEMEN RISIKO PADA PEMBANGUNAN BANGUNAN PENGAMAN PANTAI MIANGAS Palisungan, Alfianus; Dundu, Ariestides K. T.; Willar, Debby
JURNAL ILMIAH MEDIA ENGINEERING Vol 10, No 2 (2020): JURNAL ILMIAH MEDIA ENGINEERING
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Distribusi material pada Pembangunan Bangunan Pengaman Pantai di Pulau Miangas menggunakan moda transportasi kapal tongkang dari quarry Manado Provinsi Sulawesi Utara. Disamping itu terdapat transportasi darat dari quarry ke pelabuhan. Jadwal pelayaran yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca global Samudera Pasifik menyebabkan kuantitas distribusi material dilakukan paling banyak sekali dalam sebulan bahkan sampai sekali dalam tiga bulan. Hal ini sering menimbulkan masalah keterlambatan distribusi material yang sangat berpengaruh pada progress kemajuan pekerjaan di Pulau Miangas. Penelitian dilakukan terhadap pengelolaan rantai pasok material terutama dalam memitigasi faktor risiko pada Pembangunan Bangunan Pengaman Pantai di Pulau Miangas. Pengumpulan data menggunakan survey dengan teknik purposive sampling dan interview kepada responden, yang merupakan pengguna jasa (Instansi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Balai Wilayah Sungai Sulawesi I Satker PJSA Pelaksana Kegiatan Sungai dan Pantai 3), penyedia jasa (para kontraktor pelaksana) dan konsultan superviser pekerjaan. Data dianalisa dengan metode analisa deskriptif, analisa statistik dan AHP (Analytic Hierarchy Process).Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan pendistribusian material pada proyek pembangunan Bangunan Pengaman Pantai Miangas akan berdampak pada minimnya penyerapan anggaran menyebabkan output proyek tidak sesuai yang direncanakan. Desain rantai pasok material proyek Pembangunan Bangunan Pengaman Pantai Miangas perlu berfokus pada transportasi yang dikorelasikan dengan jadwal cuaca untuk pelayaran transportasi laut. Perencanaan rantai pasok harus dilakukan dengan mengendalikan risiko ekstrim C11 (Kurangnya kemampuan manajerial dalam mengatur jadwal pengadaan material disesuaikan dengan data prakiraan cuaca maritim dari Badan Metereologi dan Geofisika). Kata kunci: manajemen, risiko, rantai pasok, material, AHP
Hambatan Signifikan Implementasi Sistem Manajemen Mutu Pelaksana Konstruksi Willar, Debby; Pangemanan, Daisy Debora Grace
TEKNIK Vol 41, No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/teknik.v0i0.27252

Abstract

Penerapan sistem mutu/ sistem manajemen mutu (SMM) pada penyelenggaraan konstruksi telah menjadi salah satu persyaratan bagi para kontraktor agar layak mengikuti pelelangan proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. Seiring upaya para BUJK kualifikasi K, M, dan B mengembangkan dan menerapkan sistem mutu secara efektif, masih terdapat hambatan yang mengakibatkan sistem mutu perusahaan kontraktor belum maksimal diterapkan sehingga belum menerima manfaat yang maksimal pula. Studi ini bertujuan mengevaluasi hambatan-hambatan yang signifikan dialami oleh para BUJK kualifikasi K, M, dan B dalam menerapkan sistem mutu/SMM ISO 9001, serta mengevaluasi jika terdapat perbedaan hambatan yang signifikan. Metodepenelitian yang digunakan adalah kuantitatif menggunakan survei kuesioner, yang melibatkan 102 profesional BUJK di daerah Provinsi Sulawesi Utara. Hasil studi memaparkan dalam masa satu dekade menerapkan sistem mutu, perbeadaan hambatan yang signifikan diantara ketiga kualifikasi kontraktor yaitu, kontraktor K memahami SMM sebatas memenuhi persyaratan pelanggan proyek, dan pemeriksaan mutu berkala proyek yang sementara dikerjakan belum sesuai dengan prosedur. Kontraktor M mengalami kendala atas komitmen manajemen untuk menyediakan biaya khusus pengembangan SMM, biaya pelatihan dan promosi, dan kendala mengendalikan kegiatan proyek agar memenuhi target waktu dan biaya. Kontraktor B tidak mengalami hambatan signifikan penerapan SMM, namun berupaya agar penerapan SMM bermanfaat mengurangi biaya operasional. Hasil studi bermanfaat bagi para BUJK untuk menetapkan strategi dan skala prioritas dalam mengatasi hambatan, serta secara bersama-sama saling koordinasi untuk meminimalisir hambatan implementasi SMM
Hambatan Penerapan Konstruksi Berkelanjutan: Perspektif Pemerintah Willar, Debby -; Trigunarsyah, Bambang
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 27, Nomor 1, JULI 2021
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.215 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v27i1.33764

Abstract

Konstruksi berkelanjutan merupakan cara bagi industri konstruksi menuju tercapainya pembangunan berkelanjutan dengan mempertimbangkan isu-isu sosial, ekonomi, lingkungan dan budaya. Kebijakan untuk menerapkan konstruksi berkelanjutan pada penyelenggaraan infrastruktur masih belum dipahami dengan jelas sehingga mengakibatkan konsep konstruksi berkelanjutan masih sulit diterapkan oleh perencana maupun pelaksana konstruksi infrastruktur. Studi penelitian ini mengidentifikasi kendala-kendala penerapan konstruksi berkelanjutan pada pembangunan proyek infrastruktur di lingkungan sektor Bina Marga, Cipta Karya, Sumber Daya Air, dan Perumahan Permukiman di Provinsi Sulawesi Utara. Pengumpulan data dengan wawancara semi-terstruktur melibatkan 23 orang informan yang berasal dari empat sektor tersebut. Hasil studi menemukan hambatan-hambatan yang merata terjadi pada empat sektor dalam menerapkan kebijakan konstruksi berkelanjutan disepanjang siklus hidup proyek infrastruktur, yaitu: (1) tahap pemograman berkaitan dengan dokumen renstra dan identifikasi hambatan, (2) tahap perencanaan teknis berkaitan dengan pemahaman teknis dan kompetensi penyedia jasa, (3) tahap pelaksanaan konstruksi berkaitan dengan konsultan ahli, kompetensi penyedia jasa, dan teknologi konstruksi hijau, (4) tahap pemanfaatan berkaitan dengan sosialisasi, promosi dan edukasi, (5) tahap pembongkaran berkaitan dengan mekanisme dan ketersediaan sumber daya. Hasil studi menyediakan informasi berbasis akademik bagi pemerintah dalam upaya meminimalisir hambatan penerapan kebijakan konstruksi berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.  
IDENTIFIKASI PROFIL BUDAYA ORGANISASI YANG MENDUKUNG IMPLEMENTASI SISTEM PENJAMINAN MUTU PERGURUAN TINGGI Debby Willar; Jerry Linton; Revleen Kaparang
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN EDISI JUNI 2015, TH. XXXIV, NO. 2
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.568 KB) | DOI: 10.21831/cp.v2i2.4824

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal Perguruan Tinggi (SPMI-PT) Politeknik Negeri Manado yang mengacu pada Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001, mengidentifikasi profil budaya organisasi Politeknik Negeri Mando, dan menganalisis hubungan antara implementasi SMM ISO 9001 dan budaya organisasi institusi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen kuesioner. Penelitian menemukan bahwa implementasi delapan prinsip mutu ISO 9001 belum mencapai tingkat efektivitas yang maksimal dan tipe budaya clan mendominasi profil budaya organisasi institusi. Selain itu, juga ditemukan bahwa budaya clan berkorelasi signifikan dengan prinsip mutu kepemimpinan, keterlibatan orang-orang dalam aktivitas institusi, pendekatan proses dalam aktivitas institusi, pendekatan fakta untuk pengambilan keputusan, dan prinisp mutu bubungan yang saling menguntungkan; budaya market berkorelasi signifikan dengan prinsip mutu fokus pada pelanggan; budaya hierarchy berkorelasi signifikan dengan prinsip mutu pendekatan sistem untuk manajemen institusi, dan perbaikan terus-menerus. Hasil penelitian menjadi dasar bagi institusi untuk dapat mengembangkan budaya organisasi yang kuat sebagai pendukung dalam menerapkan SPMI-PTsecara efektif dan meningkat berkelanjutan. Keywords: sistem penjaminan mutu internal, budaya organisasi, perguruan tinggi IDENTIFICATION OF THE ORGANIZATIONAL CULTURE PROFILE SUPPORTING THE IMPLEMENTATION OF THE HIGHER EDUCATION QUALITY ASSURANCE SYSTEM Abstract: This research was aimed to evaluate the implementation of the Internal Quality Assurance System of the Higher Education (SPMI-PT) of Manado State Polytechnic based on the ISO 9001 Quality Management System (QMS), to identify the organizational culture profile of Manado State Polytechnic, and to examine the relationship between the implementation of ISO 9001 and the culture profile of the institution. Questionnaireswere used in order to achieve the research aims.The study found that the implementation of the eight ISO 9001 principles had not achieved the maximum level of effectiveness, and Clan culture dominated the profile of the organizational culture of Manado State Polytechnic.The research also found that: Clan culture was significantly correlated with the quality principles of Leadership, People Involvement, Process Approach, Factual Approach to Decision Making, and Mutually Beneficial Supplier Relationships;Market culture was significantly correlated with the quality principle of Customer Focus while Hierarchy culture wassignificantly correlated with the quality principles of Systems Approach to Management,and Continual Improvement. The findings are the basis for the institution to be able to develop a strong organizational culture as a driver in implementing the SPMI-PT effectively and sustainably. Keywords: quality assurance system, organizational culture, higher education
Perbandingan Biaya Pelaksanaan Pekerjaan Beton Pracetak dan Konvensional pada Proyek Rumah Susun Novatus Senduk; Debby Willar; Donny Taju; Sheila Amiman
Jurnal Teknik Sipil Terapan Vol 4 No 2 (2022): E-ISSN: 2714-7843
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47600/jtst.v4i2.421

Abstract

Proyek pembangunan Rumah Susun ASN Wilayah Sulawesi Utara merupakan bangunan hunian dengan luas gedung 888 m2, memiliki enam lantai dan tinggi bangunan ± 15 m. Elemen struktur bangunan yang ditinjau adalah pekerjaan struktur beton balok, kolom, dan pelat menggunakan metode pracetak dan metode konvensional. Tujuan penelitian adalah membandingkan biaya pelaksanaan ketiga elemen struktur tersebut dengan dua metode yang dimaksud. Analisis data menggunakan formula perhitungan volume pekerjaan, RAB, dan AHSP Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa Utara. Hasil analisis data menyimpulkan perbedaan biaya pelaksanaan pekerjaan beton pracetak lebih ekonomis dibandingkan dengan beton konvensional, kecuali untuk pelaksanaan pekerjaan pelat. Manfaat hasil penelitian ini bagi kontraktor pelaksana dan pemilik proyek adalah sebagai masukan dalam menentukan pilihan penggunaan struktur beton kolom, balok, dan pelat dengan metode konvensional atau metode pracetak berdasarkan total biaya masing-masing pekerjaan komponen struktur bangunan tersebut.
Percepatan Waktu Proyek Rekonstruksi Jalan dengan Biaya Optimal Daisy Debora Grace Pangemanan; Debby Willar; Novatus Senduk; Jeanet Tahulending
Jurnal Teknik Sipil Terapan Vol 5 No 1 (2023): E-ISSN: 2714-7843
Publisher : Politeknik Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47600/jtst.v5i1.580

Abstract

Proyek rekonstruksi Jalan Sumalangka – Sp. Rerewokan yang berlokasi di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara telah mengalami keterlambatan waktu pelaksanaan pekerjaan, dari waktu rencana 120 hari kerja menjadi 135 hari kerja. Tujuan penelitian adalah menganalisis kembali waktu kegiatan proyek jika dapat dipercepat dan dampaknya pada total biaya proyek. Dengan menggunakan teknik penambahan jam kerja lembur tiga jam pada pekerjaan-pekerjaan yang kritis, yaitu pekerjaan galian biasa, pekerjaan timbunan pilihan dari sumber galian, dan pekerjaan beton, waktu proyek dapat dipersingkat manjadi 123 hari dari total waktu proyek normal 135 hari, dengan jumlah biaya proyek yang optimal, yaitu Rp. 2.576.650.197,99,- lebih kurang dari total biaya proyek normal Rp. 2.588.377.028,10,-. Proyek rekonstruksi jalan tersebut dapat pula dipersingkat menjadi 127 hari dengan jumlah biaya proyek yang ekonomis sejumlah Rp. 2.574.877.436,93,-. Data lapangan dikumpulkan melalui observasi langsung di proyek rekonstruksi jalan tersebut, dan analisis data percepatan waktu proyek menggunakan metode crash program. Percepatan waktu proyek dengan metode crash program menghasilkan penambahan biaya langsung proyek, namun dapat mengakibatkan penurunan biaya tidak langsung yang diperhitungkan sebagai beban biaya harian. Dari data proyek awal, total biaya proyek setelah dipercepat menjadi lebih tinggi, namun total biaya proyek dapat pula dikurangi dengan mengkaji kembali penggunaan biaya tidak langsung. Kata kunci: percepatan waktu, biaya optimal, proyek jalan.
Optimalisasi Waktu dan Biaya Proyek Pembangunan Firewood Pabrik Pengering Jagung Suhani, Kalsum Rifana; Willar, Debby; Senduk, Novatus; Taju, Donny
Prosiding Seminar Nasional Produk Terapan Unggulan Vokasi Vol 1 No 1 (2024): Prosiding Seminar Nasional Produk Terapan Unggulan Vokasi Politeknik Negeri Manad
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proyek pembangunan Firewood Pabrik Pengering Jagung yang berlokasi di Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara mengalami keterlambatan dalam tahap pembangunan dari waktu rencana 91 hari telah menjadi 112 hari. Penelitian ini bertujuan menganalisis kembali waktu pelaksanaan proyek apabila dipercepat dan dampaknya pada biaya pelaksanaan, sebagai salah satu solusi untuk menanggulangi keterlambatan waktu penyelesaian proyek tersebut. Pengumpulan data lapangan dengan metode observasi langsung di lokasi proyek, dan analisis data menggunakan metode Crash Program. Analisis data menghasilkan total waktu yang dipercepat dengan tambahan tiga jam kerja lembur pada pekerjaan-pekerjaan kritis yaitu, total waktu proyek yang dipercepat menjadi 97 hari dengan total biaya sebesar Rp. 3.272.322.829,49, jika dipercepat menjadi 96 hari total biaya sejumlah Rp. 3.272.420.796,44, sedangkan jika dipersingkat menjadi 91 hari total biaya proyek menjadi Rp. 3.291.041.560,00; total biaya yang dipercepat lebih kurang dari total biaya waktu normal yaitu Rp. 3.325.265.717,41. Percepatan waktu proyek menggunakan metode Crash Program menjadikan biaya langsung proyek bertambah, namun biaya tidak langsung menjadi berkurang karena total waktu proyek menjadi lebih singkat. Percepatan waktu proyek bermanfaat menghindari keterlambatan waktu pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan kritis, sekaligus dapat menurunkan total biaya pelakanaan pembangunan. Percepatan waktu pada proyek pembangunan Firewood Pabrik Pengering Jagung menghasilkan waktu optimum 97 hari dengan total biaya proyek Rp. 3.272.322.829,49.