Articles
Legal Personality of Artificial Intelligence
Moeliono, Tristam P.;
Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 40 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v40i2.8648
This paper examines the ontology of artificial intelligence (AI) within the context of contemporary society. With the rapid progression of technology, the definition of legal subjects has become increasingly ambiguous, as the technological landscape continues to evolve. The orthodox perspective fails to provide adequate solutions to this problem. An alternative approach, as put forth by Visa A.J. Kurki’s bundle theory offers a potential pathway, yet AI’s intrinsic nature surpasses the minimum thresholds defined by Kurki’s model. The authors propose a periscopic model that explores the interaction between the material world and the virtual or augmented sphere, often referred to as the metaverse. This article contends that the current philosophical foundation of law is both outdated and insufficient, primarily due to the shift from singular to plural forms of agency. AI has transitioned from being purely instrumental or intermediary, as observed in Artificial Narrow Intelligence (ANI), to autonomous decision-making entities, exemplified by Artificial General Intelligence (AGI). Drawing on theoretical insights from Yuval Noah Harari, the paper underscores the need for a new conceptual framework to address AI’s lack of a material entity. In conclusion, the paper asserts that the recognition of AI as legal subjects is an inevitable development.
KARAKTER KEPEMIMPINAN DALAM IDEOLOGI PANCASILA DILIHAT DARI PERSPEKTIF VITA ACTIVA-VITA CONTEMPLATIVA HANNAH ARENDT DAN SIMBION MUTUALIS J.M. BALKIN
Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok;
Nugraheni, Ester Oka
Jurnal Pembumian Pancasila Vol 3 No 2 (2023): Manifestasi Kepemimpinan Pancasila dalam Membangun Rezim Pembumi Pancasila
Publisher : Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembumian Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Menjadi pemimpin mengandaikan keterlibatan aktif agensi yang bersangkutan dalam lokus kepemimpinannya. Proposisi ini mengandaikan bahwa seorang pemimpin memiliki relasi resiprokal terhadap dua pihak: konstituen dan non-konstituennya. Kondisi perpolitikan Indonesia saat ini cenderung non-resiprokal terhadap non-konstituen sehingga legitimasi pemimpin menjadi terbagi ke dalam kantong-kantong pemilihan yang cenderung homogen dalam setiap pemilihan umum. Hannah Arendt mengajukan gagasan vita activa dan vita contemplativa, yang sebenarnya merupakan sebuah metode siklik untuk terus memeriksa secara resiprokal sebuah tindakan baik dalam persepsi eksternal-internal (eksterosepsi) maupun persepsi internal-eksternal (interosepsi) dalam kerangka yang diajukan Anil Seth. Di dalam penelitian ini, penulis menggagas sebuah model kepemimpinan yang didasarkan pada evaluasi siklik semacam ini. Sebagai fondasi teoretisnya, penulis mengambil kategorisasi instrumen ideologi simbion mutualis yang digagas oleh J.M. Balkin. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada kepemimpinan yang evaluatif dalam tahapan interosepsi maupun eksterosepsi dapat memberikan peluang bagi terciptanya sebuah model yang inklusif terhadap konstituen.
ALTERNATIF MENGHADIRKAN NILAI PANCASILA SEBAGAI POTENSI TITIK TUMPU KARYA FOTOGRAFIS DALAM PERSPEKTIF TEORI IDEOLOGI JACK M. BALKIN
Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok
Jurnal Pembumian Pancasila Vol 2 No 2 (2022): Manifestasi Pancasila Melalui Trisakti Sebagai Pedoman Mewujudkan Amanat Pendiri
Publisher : Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembumian Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Karya fotografis sudah selalu dalam perdebatan. Keberatan paling aktual dalam garis argumentasi ini adalah tentang seberapa jauh kebenaran dalam sebuah karya foto dapat diterima. Tudingan yang paling serius adalah bahwa semua karya foto adalah kebohongan semata, dan sebuah kamera hanyalah mesin ideologi. Klaim Marxis semacam ini kemudian diperiksa validitasnya, kemungkinan struktur ideologisnya, dan mencari alternatif ideologi lain – Pancasila – sebagai fondasi dari ideologi simbion mutualistik dalam karya-karya fotografi.
Development Of Games And Teaching Media For Catholic Religion Primary School Teachers
Seva, Kristining;
Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok;
Sirait, Asnita
Jurnal Ilmu Sosial Mamangan Vol 12, No 3 (2025): Jurnal Ilmu Sosial Mamangan Accredited 2 (SK Dirjen Ristek Dikti No. 0173/C3/DT
Publisher : LPPM Universitas PGRI Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22202/mamangan.v12i3.7963
This devotion takes priority method studies documentation through observation, interview, study libraries, and also training that places application draft method teaching interactive in education Budi character For increase teaching ability of Catholic religious teachers at elementary school level throughout West Java, with scheme Work The same partner with BIMAS Catholic, Ministry of Religion of West Java Province. Besides that, implementation method teaching interactive for teachers it is also useful For support performance teaching. Hence, reinforcement education religion is also close connection with strengthening character based on Catholicism would be more interesting If be delivered in method interactive teaching based game. Training about method teaching, creating teaching media (online and offline), becoming content training for these teachers the in this devotion.
Mengangkat Pewacanaan Nasionalisme, Pancasila, dan Seni
Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok;
Bolo, Andreas Doweng;
Sirait, Asnita
SUBAKTYA: UNPAR COMMUNITY SERVICE JOURNAL Vol. 1 No. 1 (2024): (JULI 2024) SUBAKTYA: UNPAR Community Service Journal
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/sucsj.v1i1.7928.9-19
Pengabdian yang menyasar para seniman muda ini dimaksudkan untuk memperkuat landasan ideologis mereka dengan cara menanamkan Pancasila sebagai sebuah ideologi yang kokoh dalam bernegara. Penanaman ideologi ini dilakukan dengan tiga tema yang semuanya membentuk satu kesatuan: bagaimana prinsip Pancasila berperan dalam mengobati luka sejarah, bagaimana menerapkan gagasan besar Pancasila dalam kehidupan sehari-hari lewat aktivitas yang berdampak pada masyarakat luas, dan terakhir bagaimana Pancasila dapat kita pergunakan untuk menafsirkan ulang makna kepahlawanan. Ketiga tema tersebut diberikan lewat seminar daring (webinar) yang dilakukan dengan cara mengundang ketua-ketua komunitas seniman muda atau perwakilannya. Kegiatan yang berlangsung dari bulan September hingga November 2020 ini melibatkan lima orang pakar, tiga orang dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB), satu orang dari galeri seni WOT BATU, dan satu orang dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang (ISI Padangpanjang). Dari pengabdian ini dapat disimpulkan bahwa para seniman yang aktif di dunia seni di Indonesia memiliki kepedulian yang mendalam tentang urgensi Pancasila dalam kaitannya dengan rasa nasionalisme bangsa ini. Dengan kata lain, integrasi Pancasila bukan hanya sebuah kewajaran, melainkan sebuah keharusan.
Memeriksa Inkonsistensi Estetika Dampak Immanuel Kant versus Gagasan Proto-Naturalisme Non-Deterministik David Hume dalam Etika Kantian
Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok
Dekonstruksi Vol. 10 No. 02 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i02.228
Teori estetika yang digagas Immanuel Kant mempergunakan pendekatan dampak, sebaliknya etika Kantian menempuh pendekatan proses. Teks kajian estetik Kantian diterbitkan oleh Kant setelah dua teks yang pertama, termasuk di dalamnya argumentasi Kant tentang ontologi moral. Inkonsistensi ini dicoba untuk dibedah dari perspektif estetika analitis, dan terutama kajian dari pemeriksaan teks yang dilakukan oleh Sally Sedgwick dan Dabney Townsend. Dari penelusuran yang dilakukan, ketidakkonsistenan Kant terjadi karena ada dua ragam relasi, yaitu relasi kausal spasio-temporal dan relasi non-kausal non-spasio-temporal. Pelacakan lebih lanjut menunjukkan bahwa gagasan Kant tentang non-kausal non-spasio-temporalitas dikembangkan dari karakter aksidental dalam persepsi-rasawi yang digagas oleh David Hume. Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa pengembangan gagasan yang dilakukan Kant didasarkan pada bangun argumentasi Hume yang memiliki karakteristik Proto-Naturalisme non-Deterministik.
Telisik Seruak Fotografis dalam Karya Eksperimental Krishnamurti Suparka
Bolo, Andreas Doweng;
Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.253
Sejak proses fotografi analog ditemukan pada tahun 1822 oleh Joseph Nicéphore Niépce, persoalan ontologis dan epistemologis medium tersebut tidak pernah tuntas. Berbagai tawaran status pun dilekatkan pada fotografi dengan tujuan mendapatkan satu fondasi teoretik kokoh yang dapat menjawab pertanyaan mendasar seperti “apa itu fotografi” dan “bagaimana fotografi bekerja”. Problematika ini menjadi semakin kompleks saat fotografi digital dan kecerdasan buatan muncul. Konstruksi teori yang rapuh membuat jawaban definitif tentang disposisi fotografi menjadi semakin sulit untuk diraih. Tulisan ini mencoba menawarkan sebuah bangun pewacanaan yang menggamit sofistikasi persoalan semacam ini dengan menggunakan pendekatan seruak (emergence) sebagai titik awal. Upaya mengurai benang kusut diskursus fotografi ini kemudian dibenturkan dengan sebuah upaya eksperimental dari Krishnamurti Suparka dalam pameran dengan pendekatan proses dari bulan Maret hingga April 2024 di Galeri Orbital, Bandung. Dari telisik yang dipaparkan di makalah ini ditunjukkan bahwa seruak fotografis (terutama dari pendekatan Kant-Hawking) dalam karya Suparka berada dalam tahap formatif, yang sudah memberi ruang pada, tetapi masih menyisakan catatan panjang tentang kemenyeruakan sebuah karya.
Memaknai Ulang Korporealitas dan Ruang Pengecualian dari Pameran Sejengkal Kurang Sedepa Nandang Gumelar Wahyudi
Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok
Dekonstruksi Vol. 11 No. 01 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i01.291
Tulisan ini bertujuan untuk memaknai ulang konsep korporealitas dan spasialitas vakum yang dihadirkan dalam pameran Sejengkal Kurang Sedepa karya Nandang Gumelar Wahyudi, yang dikenal dengan nama Nandanggawe. Pameran ini menghadirkan narasi kompleks yang memadukan elemen-elemen simbolik, mistik, serta kritik sosial yang tertuang dalam karya seni rupa dua dan tiga dimensi. Masalah utama yang diidentifikasi dalam tulisan ini adalah bagaimana Nandanggawe mendialogkan kuasa ruang dan tubuh politisnya. Metode analisis yang dipergunakan adalah intertekstualitas tanggapan-tanggapan karya-karya Nandanggawe yang ditampilkan dalam pameran, serta pendekatan teoretis Agamben tentang ruang pengecualian. Pembahasan menunjukkan bahwa Nandanggawe mampu menghadirkan ruang dialog yang menginterjeksi sublimasi kekuasaan, saat tubuh dan ruang menjadi medium yang berperan sebagai instrumen aktivisme subtil. Simbol-simbol tribal dan artefak hibrida dipergunakan Nandanggawe untuk menggarisbawahi interaksi kompleks tersebut. Dengan dialog paratekstual yang disuguhkannya, Nandanggawe mengundang pengamat untuk memikirkan kembali batas-batas samar dimensi politis dan estetis.
The Impact of Philosophy on Religious Education for High School Students
Bolo, Andreas Doweng;
Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok;
Mahatma, Masmuni
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 38 No. 3 (2022)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v38i3.7405
This article is a result of a research conducted to examine the interrelation between religion and philosophy and to measure how such interaction is embodied in religious subjects taught in middle-high schools in Indonesia. This is considered important because in Indonesian national education, the religious dimension is regarded fundamental and therefore must be emphasised. The classes are divided based on the students’ religion. In order to prevent such division becomes religious segregation that could lead to practices of intolerance, philosophy is proposed as a rational solution to bridge the discrepancy. This is considered imperative so that in school religion is not understood as an exclusive set of doctrines, but as a subject in education process that brings inclusive and pluralistic attitudes. Three basic and important characteristics are analysed in this article, that is, the breadth of perspective about God, the openness towards other religions, and the willingness to embrace science in general.
Mencari Bentuk Estetika Nusantara: Problematika dan Relevansi Estetika Kantian dari Perspektif Estetika Analitis
Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 39 No. 1 (2023)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v39i1.7754
Finding a common philosophical grounding for an Indonesian aesthetics seems to have been problematic. In another word, for a string of archipelagos consisting diverse customs and cultures partially constructed through colonial invasions dating from the 17th century, defining its existential beauty is never a simple argumentative task. The author attempts to elaborate Immanuel Kant’s ideas from his seminal work Critique of Judgment, although Kant’s central position in aesthetics studies does not imply that his disposition is free from ambiguity. The author employs analytical philosophy approaches to elaborate Kant’s ambiguous position and weakness. These are intended as preliminary step towards implementing Kant’s argument in building a fundamental Indonesian aesthetics theory with sufficient explanatory power to describe the variety of Indonesian traditional arts. Further step is to form a strong theoretical foundation for the development of artistic practices in the modern Indonesia. This article concludes that Kant’s implied position of the sublime could be a viable alternative in resolving this conundrum.