A.A. Kade Sri Yudari
Universitas Hindu Indonesia

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Mitos Dan Religi Dalam ‘Geguritan I Dukuh Siladri’ Karya Sastra Kreatif Dan Dinamis A.A. Kade Sri Yudari; I Gusti Agung Paramita; I Gusti Ayu Ngurah
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.863 KB) | DOI: 10.37329/jpah.v5i1.1239

Abstract

This article is a small part of research report on the oral tradition of ‘Nyurud di Setra’ in the Klungkung-Bali Pakraman community Village Pemenang. One of the subsections reveals the relationship between myth and religion towards the traditional inherentance of Pura Dalem Suladri which is implicitly described in ‘geguritan I Dukuh Siladri’. With the qualitative interpretative descriptive methods, it is understood that religion is one elements of universal culture which containts of beliefs and behavior related to supernatural power and powers. Meanwhile, myth is an important part of human life as a psychological necessity due to woory and fear of the wrath universe. In order for humans to avoid disaster, sacred and sacred stories are about objects that govern the universe are built, strengthened by sacred buildings and religious rituals. Thus, the‘geguritan I Dukuh Siladri’ appears to be a creative and dynamic literary work following the reality cummunity of social life according to the time.
Reinterpretasi Makna Budaya Sungkem Sebagai Ajaran Budi Pekerti Dalam Sloka Sarasamuccaya A. A. Kade Sri Yudari; Ni Wayan Karmini; Desak Nyoman Seniwati
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 6 No 3 (2022)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.01 KB) | DOI: 10.37329/jpah.v6i3.1672

Abstract

Bali’s an island that’s closely related to various local wisdoms including the procedures for behavings including through sungkem. The values of hospitality and morality in tradition are characteristic of culture the archipelago. The concept of sungkem Hinduism means respect for the catur guru. In everyday life it’s implemented as a tradition that a noble meaning but is now rarely applied, especially in Bali. This research aims to examine and reinterpret the meaning of sungkem as the application of the teachings character as stated in the Sarasamuccaya Sloka. Writing research using qualitative methods with descriptive-interpretative exposure techniques. Through the paradigm of social behavior, supported by a literary anthropological approach as an analytical tool, it shows a more transparent description of the object in a narrative manner. The results of the study found that the sungkem tradition research carried out in the Sugeng Wiyosan ritual at the Mancawarna Palace has an implementation meaning as an ethical teaching for millennial youth who are allegedly prone to moral degradation. The Sungkem culture is also an effort to protect the environment and strengthen family ties. By reviving and preserving ancestral traditions full of positive values, it can shape the character and maintain the dignity of the younger generation from an early age as mentioned in several verses of the Sarasamuccaya Sloka. Recommendations adrresed to the wider community regarding the internalization of the meaning of mutual respect among God’s creature as Tri Hita Karana should always be echoed both individually and in groups to prevent exposure to the negative currents of globalization among young people.  
KOMERSIALISASI BANTEN DALAM WACANA PENGUATAN IDENTITAS KEHINDUAN SEBAGAI IMPLEMENTASI AJARAN BHAKTI MARGA DI BALI A.A KADE SRI YUDARI
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 18 No 2 (2018): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.166 KB) | DOI: 10.32795/ds.v9i2.142

Abstract

Hadirnya “banten” dalam tradisi Hindu di Bali melewati perjalanan sejarah yang panjang. Di dalam kitab Yajur Weda disebutkan, adanya persembahan yang dihaturkan kepada Dewa sebagai manifestasi dari Brahman berupa; gandam, ksatam, puspam, dupam, dipam, toyam, gretam, dan soma. Sedangkan, di dalam ajaran Tantrayana yang masih sangat berpengaruh di Bali disebutkan bahwa untuk menunjukkan rasa bhakti kepada Tuhan hendaknya menjalankan konsep Panca Tattwa yakni; matsya, mamsa, madhya, mudra, dan maithuna. Baik ajaran Weda maupun Tantrayana, dan alam pikiran lokal masyarakat Bali senantiasa melandasi adanya persembahan berupa“banten”yang dikemas dalam simbol-simbol pengharapan manusia terhadap manifestasi Tuhan. Terjadinya krisis multidimensial dewasa ini, berakibat “banten” dikomersialkan, akan tetapi tidak berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat Hindu di Bali dalam menjalankan dharma bhakti kepada-Nya. Justru masyarakat memiliki keyakinan semakin ajeg dan kuat dalam menunjukkan identitas kehinduannya.
PERAPEN SIMBOL PENGUATAN IDENTITAS WARGA PANDE DI BALI A.A. Kade Sri Yudari
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 19 No 1 (2019): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.672 KB) | DOI: 10.32795/ds.v10i1.328

Abstract

Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa (Tri Murti) merupakan objek substansi yang dapat dijangkau oleh masyarakat Hindu untuk dipuja. Dari ketiga manifestasi Tuhan itu, leluhur warga Pande merupakan pemuja Dewa Brahma sebagai dewa utama. Hal ini terkait profesi yang dilakoninya yaitu ‘memande’di perapen (per- api-an) membuat alat rumah tangga dan berbagai senjata. Dewa Brahma yang disimbolkan sebagai api (agni) tentu saja dipandang paling dekat dalam memberikan sinar suci, perlindungan, limpahan rejeki dan kesejahteraan bagi Warga Pande dalam menjalankan profesinya. Pemujaan terhadap Dewa Brahma terlihat jelas pada saat perayaan hari suci Tumpek Landep yang jatuhnya setiap 210 hari. Tumpek Landep dijadikan media penghormatan terhadap Tuhan dalam wujud Brahma sebagai pencipta alam semesta termasuk unsur bumi yang berbahan baku logam, seperti besi, baja, emas, perak, dan tembaga. Oleh karena itu antara Tumpek Landep, dan Perapen sangat berkaitan bahkan menjadi simbol penguat identitas bagi eksistensi warga Pande di Bali.
APRESIASI MISTISISME JAWA PADA MASYARAKAT DI BALI A.A Kade Sri Yudari
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 19 No 2 (2019): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.003 KB) | DOI: 10.32795/ds.v19i2.433

Abstract

Spiritualisme dan pariwisata budaya di Bali sangat berpengaruh terhadap sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Segala usaha untuk memadukan budaya luar dengan budaya Bali telah banyak dilakukan. Selain memiliki tujuan ideologis, politis, sosiologis dan ekonomis, juga bertujuan menghidupkan karya seni dan sastra dalam corak lain. Pada akhirnya norma hidup bermasyarakat yang diajarkan pun ikut tersosialisasikan. Menyebarnya mistisisme Jawa dengan aliran-aliran kebatinan sangat mudah diapresiasi oleh masyarakat di Bali. Budaya Bali menjadi semakin berkembang penuh warna karena menyerap ajaran-ajaran ‘tasawuf’ (sufisme). Eksistensi mistisisme Jawa atas pengolahan secara Bali dengan ajaran Hindunya melalui proses akulturasi dan asimilasi selanjutnya dijadikan acuan keyakinan untuk tujuan peribadatan. Permasalahannya apa dan mengapa mistisisme Jawa dapat diapresiasi bahkan di-Balinisasi oleh masyarakat di Bali. Dengan mengacu pada teori religi analisis difusi dan metode observasi partisipasi dapat dijelaskan melalui proses aktivitas budaya. Bahwa secara mendasar mistisisme Jawa memiliki berbagai latar belakang kemiripan setelah diadopsi, diolah dan dikemas dalam bentuk seni dan sastra. Kemasan itulah yang diaplikasikan lewat ajaran tantra sebagai penyeimbang sehingga khasanah budaya Bali menjadi semakin berwarna.
EKOKRITIK SASTRA: SEBUAH KEARIFAN LINGKUNGAN DALAM NOVEL ‘PING! A MESSAGE FROM BORNEO’ A. A. Kade Sri Yudari
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 20 No 1 (2020): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.117 KB) | DOI: 10.32795/ds.v20i1.646

Abstract

Krisis lingkungan terjadi karena ulah manusia. Manusia sering kurang memahami alam dan memiliki kesulitan untuk menciptakan sebuah relasi yang baik dengan lingkungan hidupnya. Artikel ini membahas relasi antara manusia dan lingkungan hidup yang terdapat dalam novel ‘Ping! A Message from Borneo’ karya Riawani Elyta dan Shabrina W.S. Dalam artikel ini, yang dianalisis adalah unsur-unsur struktur naratif pada novel dengan pendekatan ekokritik. Hasil analisis dan kesimpulan yang ditemukan dari novel tersebut mengandung sebuah gagasan utama bahwa hakikat manusia dan alam adalah satu. Adanya pesan yang utuh dan kuat disampaikan oleh pengarang kepada para remaja Indonesia untuk peduli terhadap pembalakan hutan dan satwa langka, khususnya orang utan di Kalimantan.
RATU ADIL SATRIA PININGIT DAN ZAMAN EDAN A.A. Kade Sri Yudari; Ni Wayan Karmini
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 21 No 1 (2021): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v21i1.1662

Abstract

Wacana Ratu Adil Satria Piningit dan Zaman Edan, tidak pernah hilang dari benak dan relung hati masyarakat Indonesia. Tulisan ini hanyalah sebagai ungkapan rasa keprihatinan atas fenomena carut marut yang sedang terjadi di bumi pertiwi ini. Tujuannya, memaknai secara tersurat naskah warisan para leluhur yang penuh dengan perlambang sehingga masyarakat luas dapat memahami mengapa istilah Ratu Adil Satria Piningit dan Zaman Edan selalu diwacanakan ketika bumi pertiwi sedang mengalami berbagai masalah. Tulisan ini juga merupakan reinterpretasi beberapa sumber pustaka salah satunya adalah serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Ranggawarsita. Bahwa, serat Kalatidha merupakan kepustakaan sastra Jawa yang berisi kritik social, nilai keagamaan, tradisi kapujanggaan, prediksi masa depan/ futurology dan kemunculan Satria Piningit sang Ratu Adil. Pada akhirnya, ‘Serat’ yang mengisyaratkan zaman edan menjadi pembicaraan klasik populer dikalangan masyarakat luas. Ketika keadilan yang diharapkan belum memenuhi semua komponen, seperti terjadi ketimpangan social yang berkepanjangan maka wacana Ratu Adil terus dielukan. Faktanya, istilah yang melegenda itu pun hanyalah merupakan gambaran kondisi zaman yang dirasakan masyarakat disertai dengan harapan datangnya seorang pemimpin yang adil, bijak dan lebih memihak kepada rakyat.
EKOKRITIK DALAM GAGURITAN KABRESIHAN KARYA IDA PEDANDA SIDEMEN GRIYA TAMAN SANUR: PERSPEKTIF SASTRA EKOLOGI A.A. KADE SRI YUDARI
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 22 No 2 (2022): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v22i2.3395

Abstract

Hidup sehat dimulai dari diri sendiri dengan senantiasa menjaga lingkungan tetap bersih. Demikian termuat dalam artikel ini berjudul ‘gaguritan kabresihan’ yang ditinjau dari perspektif ekologi melalui analisis aspek naratif guna mengetahui dampak dan solusi penanganan limbah. Metode dan jenis penelitian kualitatif mendukung analisis content terhadap isi geguritan. Penggunaan teori ekokritik-sastra, melalui pendeskripsian dan reinterpretasi data pada teks menemukan makna yang terkandung di dalamnya. Selain studi dokumen, teknik wawancara terhadap beberapa tokoh masyarakat, dan aktivis lingkungan juga dilakukan. Hasil penelitian dan pembahasan menemukan, ‘gaguritan kabresihan’ merupakan karya sastra yang mengangkat tema pelestarian lingkungan, untuk kepentingan konservasi tanah, mineral, sumber air dan kekayaan hayati lainnya pada daerah pesisir. Salah satu topik yang dibicarakan menyangkut antisipasi dan usaha penertiban sampah plastik yang kini menjadi program unggulan pemerintah Provinsi Bali. Dikaitkan dengan keramah-tamahaan alam, menjadi symbol pengimplementasian ungkapan Tri Hita Karana merupakan pedoman terbaik dalam mencapai keselarasan dan keseimbangan. Sebagai rekomendasi, masyarakat dapat tercerahkan dan menyadari bahwa, alam tidak hanya dipandang secara pragmatis sebagai objek pelengkap semata, hendaknya jadikan sebagai sesama subjek dalam kehidupan.
PENGABDIAN PARTISIPATIF MELALUI KEGIATAN POSYANDU YANG EFEKTIF DAN EFISIEN DI BANJAR PEKANDELAN SANUR KAUH DESA ADAT INTARAN DENPASAR SELATAN A.A. Kade Sri Yudari; I Wayan Aribawa Wiguna; I Made Pasek Kartana; Ni Kadek Widiantari; I Putu Widiartha; Ketut Intan Tirtawati
Dharma Bhakti Vol 1 No 2 (2023): Dharma Bhakti 
Publisher : Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/dharmabhakti.v1i2.4670

Abstract

With the limited integrated healthcare center in Banjar Pekandelan in Intaran Traditional Village, Sanur Kauh Village, South Denpasar District, Denpasar City, it is the cause of inefficient services, in serving the surrounding community. So that the participatory service program as an option to contribute to the success of posyandu service activities. The method of implementation in this Integrated Healthcare Center social service activity is by requesting permission from the head or chairman of the Posyandu, then after obtaining permission, discussions and concrete actions are carried out in the activity. 100% of the activities are to directly follow the integrated Healthca re Center social service carried out by the KKN 5 UNHI 2023 group, with the results of the activity program being that the integrated healthcare center activity service can run well and all the people who follow get good and satisfying integrated healthcare Center health treatment. Keyword: Integrated Healthcare Center, Participatory service,Banjar Pekandelan, Intaran Traditional Village
MAKNA DIBALIK PEMENTASAN TARIAN SANGHYANG JARAN PADA HARI KAJENG KLIWON: RELASI HARMONI MANUSIA DAN ALAM SEMESTA A.A. Kade Sri Yudari; Ni Nyoman Sriwinarti; Ni Ketut Riska Pravitadewi
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 2 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i2.6984

Abstract

Leluhur di Bali sangat piawai mengimplementasikan ajaran Veda dalam wujud seni dan ritual yadnya praktis. Satu diantara seni tari sakral yang menyertai ritual adalah tarian sanghyang. Pementasan berbagai tarian pengiring ritual umumnya bermakna mewujudkan hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna dibalik pementasan tarian Sanghyang Jaran di Pura Dalem Solo dan menerangkan alasan betapa keramatnya hari kajeng kliwon. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara didukung studi dokumen dengan analisis secara deskriptif-interpretatif. Rumusan permasalahan dikaji menggunakan teori interaksionisme simbolik dan teori religi. Hasilnya, mengungkap berbagai makna dibalik pementasan tarian sanghyang jaran pada hari kajeng kliwon tidak hanya menjadi keyakinan semata namun secara filosofis-simbolis berkaitan erat dengan upaya penetralisir energi alam dari yang bersifat negative menjadi positif demi tercapai keselarasan, keseimbangan dan keharmonisan makhluk hidup di bumi.