Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PENGELOLAAN IRIGASI PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI: KASUS PADA DAS SABA, KABUPATEN BULELENG Sedana, Gede
dwijenAGRO Vol 5 No 2 (2015): dwijenAGRO
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.807 KB) | DOI: 10.46650/dwijenagro.5.2.332.%p

Abstract

Ketersediaan air irigasi merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam pembangunan pertanian khususnya di lahan sawah. Pada kasus Bali, keberadaan subak-subak masih sangat dibutuhkan oleh pemerintah dalam pencapaian tujuan pembangunan pertanian yaitu ketersediaan pangan khususnya beras selain palawija. Meskipun subak-subak telah memiliki otonomi tersendiri dalam mengelola irigasinya, namun pada level yang lebih luas yaitu di tingkat sungai (DAS Sungai Saba) memerlukan adanya pengelolaan yang bersifat partisipatif guna menghindarkan konflik-konflik pemanfaat air irigasi.Guna mencapai tujuan dari pengelolaan irigasi di DAS Tukad  Saba yaitu di Aliran Tukad Saba, maka diperlukan adanya partisipasi subak-subak sebagai pengelola bersama-sama dengan pemerintah. Partisipasi subak-subak tersebut diwujudkan dalam suatu lembaga yang mengelola air pada aliran Tukad Saba secara tersendiri dalam rangka pengelolaan aliran sungai secara terpadu (one river one management) melalui pembentukan Subak-agung Tukad Saba. Selain itu, partisipasi subak-subak (subak-agung) dalam komisi irigasi menjadi sangat penting untuk berkontribusi dalam memberikan pandangan-pandangan tentang pengelolaan irigasi dan pertanian termasuk operasi dan pemeliharaan jaringan irigasinya.Kata Kunci: Irigasi, pertanian, manajemen, partisipasi, subak-agung
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP PETANI DALAM FERMENTASI BIJI KAKAO (KASUS DI SUBAK ABIAN PANGKUNG SAKTI I, DESA ANGKAH, KABUPATEN TABANAN) Monek, Wilibrordus; Sedana, Gede
dwijenAGRO Vol 6 No 2 (2016): dwijenAGRO
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.293 KB) | DOI: 10.46650/dwijenagro.6.2.350.%p

Abstract

Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekspor tinggi. Di Bali, kakao merupakan salah satu komoditas andalan yang mampu menyediakan lapangan kerja bagi petani dan keluarganya, sumber pendapatan dan menambah devisa Negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor â?? faktor yang mempengaruhi sikap petani dalam fermentasi biji kakao di Subak Abian Pangkung Sakti I dan faktor yang paling dominan yang mempengaruhi sikap petani dalam fermentasi biji kakao.Penelitian ini dilakukan di Subak Abian Pangkung Sakti I, Desa Angkah, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan yang dipilih secara purposivesampling. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 49 orang petani, dengan menggunakan teknik sensus.Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder.Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regesi linear berganda kemudian data diolah menggunakan komputerisasi program SPSS versi 20.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi sikap petani dalam fermentasi biji kakao adalah luas lahan, lama pendidikan, tenaga kerja, dan harga jual.Namun faktor Luas lahan dan tenga kerja yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap sikap petani dalam fermentasi biji kakao.Sedangkan faktor lama pendidikan dan harga jual tidak berpengaruh signifikan terhadap sikap petani dalam fermentasi biji kakao.Faktor yang paling dominan yang mempengaruhi sikap petani dalam fermentasi biji kakao adalah tenaga kerja.Kata kunci : Kakao, sikap, fermentasi, produksi, dan penyuluhan.
ANALISA PENDAPATAN USAHA TEMPE DI KOTA DENPASAR Sedana, Gede
dwijenAGRO Vol 1 No 2 (2010): dwijenAGRO
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.749 KB) | DOI: 10.46650/dwijenagro.1.2.392.%p

Abstract

Tempe merupakan salah satu produk pangan terbuat dari bahan utama kedelai melalui proses fermentasi oleh spesies jamur tertentu, yaitu Rizhopus Sp.Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembuatan temped an mengetahui pendapatan yang diperoleh dari usaha tempe. Proses pembuatan tempe meliputi beberapa tahapan, di antaranya adalah biji kedelai yang telah dipilih/dibersihkan dari kotoran,  pencucian, perebusan, perendaman, pencucian, perebusan untuk membunuh bakteri, Selanjutnya, kedelai dibiarkan dingin sampai permukaan keping kedelai. campuran kedele dengan ragi, campuran tersebut dicetak pada cetakan. Kemudian didinginkan/diangin-anginkan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan usaha tempe setiap dua hari adalah sebesar 1.080,000, dan biaya produksi totalnya adalah mencapai 724.950, sehingga nilai pendapatannya adalah Rp 3555.050. Hasil perhitungan juga menunjukan rasio penerimaan dengan biaya adalah sebesar 1,49.Kata Kunci: Tempe, fermentasi, Rhizopus, dan pendapatan
PERANAN PEREMPUAN DALAM USAHA TERNAK BABI DI DESA BONDALEM, KECAMATAN TEJAKULA, KABUPATEN BULELENG Sedana, Gede; Finayanti, Kadek Meiry
dwijenAGRO Vol 7 No 1 (2017): dwijenAGRO
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.331 KB) | DOI: 10.46650/dwijenagro.7.1.627.%p

Abstract

Provinsi Bali merupakan salah satu penghasil daging babi di Indonesia. Usaha ternak babi di Bali dari tahun ke tahun sudah mengalami peningkatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peranan perempuan dalam usaha ternak babi di Desa Bondalem; dan mengetahui kendala-kendala dalam usaha ternak babi di Desa Bondalem. Penelitian ini dilakukan di Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive sampling. Jumlah populasi petani peternak dalam penelitian ini sebanyak 350 orang dan yang ditetapkan sebagai anggota sampel berjumlah 50 orang, dengan menggunakan teknik sampling acak sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan peranan perempuan dalam usaha ternak babi terbukti dapat membantu perekonomian keluarga. Dalam usaha ternak babi ini didominasi oleh ibu-ibu di Desa Bondalem. Disamping tugas utama sebagai seorang ibu rumah tangga ternyata mereka bisa membuktikan dengan usaha ternak ini juga bisa menghasilkan tambahan pendapatan. Namun usaha ternak babi yang dijalankan oleh ibu rumah tangga di Desa Bondalem masih tergolong dalam usaha skala kecil. Adapun kendala-kendala yang dihadapi oleh peternak babi diantaranya adalah limbah ternak babi yang tidak tergarap secara maksimal, sedikitnya jumlah pejantan sehingga kesulitan dalam mengawinkan ternak babi mereka, kesehatan ternak dan modal. Upaya yang dilakukan untuk mengatasai limbah ternak babi yang tidak tergarap secara maksimal adalah dengan cara mengolah secara lebih modern agar limbahnya tidak mengganggu lingkungan sekitranya. Sedangkan jumlah pejantan yang tidak maksimal bisa diatasi dengan perkawinan melalui inseminasi buatan atau disebut juga dengan kawin suntik. Penanganan kesehatan ternak bisa diatasi dengan melakukan pemeriksaan kesehatan babi dan pemberian vitamin dan vaksin secara teratur. Kendala modal bisa diatasi dengan melakukan pinjaman ke koperasi.Kata kunci: Babi, perempuan, pendapatan, modal usaha.
PENGEMBANGAN EKOWISATA PADA SUBAK DAN PERILAKU PETANI: KASUS DI SUBAK SEMBUNG, KECAMATAN DENPASAR UTARA, KOTA DENPASAR Sedana, Gede
dwijenAGRO Vol 7 No 2 (2017): dwijenAGRO
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.745 KB) | DOI: 10.46650/dwijenagro.7.2.628.%p

Abstract

Pembangunan pariwisata di Bali menunjukkan pertumbuhan yang signifikan terhadap pembangunan ekonomi Bali. Sektor pertanian merupakan salah satu pendukung pengembangan pariwisata, meskipun terdampak dampak yang kurang menguntungkan bagi pembangunan pertanian, misalnya adanya alih fungsi lahan sawah. Sinergi pembangunan pariwisata dan pertanian dilakukan dengan mengembangkan agrowisata dan juga ekowisata. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui intensitas interaksi penyuluh pertanian berkenaan dengan prilaku petani terhadap pengembangan ekowisata, dan mengetahui hubungan antara intensitas interaksi dengan pengetahuan dan sikap petani. Penelitian ini dilakukan di Subak Sembung, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar yang dipilih secara purposif. Jumlah sampel yang diambil adalah 50 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat intensitas interaksi antara penyuluh pertanian dengan petani anggota subak berada pada kategori sedang. Sikap petani terhadap pengembangan ekowisata di subak adalah tergolong setuju. Sedangkan rata-rata pencapaian skor pengetahuan petani mengenai pengembangan ekowisata adalah tergolong tinggi dnegan skor 78,80 % dari skor maksimal. Dengan menggunakan analisis chi square, terdapat hubungan yang nyata antara variabel tingkat intensitas interaksi penyuluh dan petani dengan variabel sikap dan pengetahuan petani di Subak Sembung mengenai pengembangan ekowisata. Diperlukan adanya upaya-upaya pemberdayaan petani yang partisipatif agar mereka memiliki kemampuan untuk menyediakan layanan wisata yang lebih baik kepada para pengunjung, seperti aspek kenyamanan dan kebersihan serta penyediaan produk-produk pertanian yang dihasilkan oleh petani di Subak Sembung.Kata Kunci: Penyuluhan, interaksi, sikap, pengetahuan, dan  ekowisata.
POTENSI SUBAK DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA: Kasus Subak Sembung di Kelurahan Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar Sedana, Gede; Arjana, Bagus Made; Sudiarta, I Nengah
dwijenAGRO Vol 8 No 1 (2018): dwijenAGRO
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.314 KB) | DOI: 10.46650/dwijenagro.8.1.638.1-10

Abstract

Alih fungsi lahan merupakan salah satu konsekuensi logis dari pembangunan yang semakin berkembang.  Di Provinsi Bali, alih fungsi lahan ini dapat mengancam program pemerintah, yaitu program ketahanan pangan, swasembada pangan termasuk kedaulatan pangan. Tujuan studi ini adalah untuk mendeskripsikan potensi subak menjadi destinasi tujuan ekowisata; menggambarkan upaya-upaya pengembangan ekowisata yang berkelanjutan; dan mengetahui manfaat yang diperoleh dari pengembangan ekowisata. Studi ini dilakukan pada Subak Sembung yang dipilih secara purposive sampling. Pada studi ini, dipilih beberapa responden kunci yaitu pengurus subak, pimpinan desa adat (desa pakraman), pengelola ekowisata, Dinas Pertanian dan Dinas Pariwisata Kota Denpasar. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah survai, wawancara, observasi secara langsung di lokasi, serta dokumentasi. Data yang terkumpul selanjutnya dianlisa dengan menggunakan metode deskriptif.Hasil studi menunjukkan bahwa Subak Sembung memiliki potensi yang tinggi untuk pengembangan ekowisata guna mendukung pembangunan pertanian dan ekonomi di tingkat subak dan pedesaan serta perkotaan. Potensi yang dimiliki oleh Subak Sembung adalah: (i) keberadaan bentang alam atau lansekap sawah; (ii) budaya dalam sistem subak; (iii) nilai-nilai sosial dalam sistem subak; dan (iv) keinovatifan anggota subak.Peningkatan kapasitas petani terkait dengan pengembangan ekowisata dilakukan melalui pemberdayaan dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan yang menyangkut aspek produksi, pendidikan wisata dan manajemen bisnis. Salah satu bentuk penyuluhan yang dilakukan adalah penyuluhan kelompok secara partisipatif. Selain itu, penyuluhan secara individual juga dilakukan kepada petani secara langsung di lahan sawahnya. Manfaat pengembangan ekowisata adalah peningkatan kegiatan pertanian, pengolahan produk, pendapatan subak, kesadaran sapta pesona, dan jiwa kewirausahaan serta kesempatan berrekreasi bagi masyarakat. Pemerintah diharapkan memfasilitasi Subak Sembung untuk dapat melakukan manajemen ekowisata secara lebih baik dan memberikan kontribusi ekonomis bagi masyarakat subak. Selain itu, agar dilakukan promosi-promosi ekowisata Subak Sembung agar semakin dikenal sampai luar negeri.Kata kunci: Ekowisata, subak, penyuluhan, pertanian, bisnisÂÂ