Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

UJI ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS JAGUNG HIBRIDA DAN JAGUNG LOKAL DI LAHAN KERING PADA MUSIM TANAM KEDUA Masani Masani; Ade Mariyam Oklima; Ikhlas Suhada
Jurnal Agroteknologi Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Agroteknolgi
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58406/ja.v6i2.2502

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat adaptasi dan produksi beberapa varietas jagung hibrida dan jagung lokal di lahan kering pada musim tanam kedua. Penelitian telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Samawa (UNSA), Sumbawa, Nusa Tenggara Barat,. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial yang terdiri dari enam perlakuan varietas, yaitu tiga varietas hibrida (NK 99, Pioner 35, Bisi 18) dan tiga varietas lokal Sumbawa (Belang Bomak, Sudi, Putih). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali, dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Varians (ANOVA) serta uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas jagung lokal memiliki tingkat adaptasi pertumbuhan (vegetatif) yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung hibrida. Jagung lokal varietas Belang Bomak (V4) menunjukkan adaptasi yang paling tinggi pada parameter tinggi tanaman dan jumlah daun di umur 28 hari setelah tanam. Sebaliknya, pada komponen hasil panen, varietas jagung hibrida menunjukkan produktivitas yang lebih unggul dibandingkan jagung lokal. Jagung varietas hibrida Bisi 18 (V3) memberikan hasil tertinggi pada semua parameter hasil, meliputi berat buah (128,03 g), berat tongkol (112,83 g), panjang tongkol (12,89 cm), jumlah baris per tongkol (13,78 baris), bobot 1.000 butir (321,67 g), dan hasil produksi per hektar yang mencapai 7,78 ton/ha. Disimpulkan bahwa jagung lokal Sumbawa lebih adaptif secara pertumbuhan fisik di lahan kering, namun jagung hibrida khususnya Bisi 18 memiliki potensi hasil produksi yang jauh lebih tinggi.Kata Kunci: Adaptasi, Jagung Hibrida, Jagung Lokal, Lahan Kering.
PENGARUH PERUBAHAN IKLIM SEBAGAI INDIKATOR KESUBURAN TANAH PADA LAHAN BUDIDAYA PERTANIAN JAGUNG DI DESA SERADING KECAMATAN MOYO HILIR Rizka Apriliani; Ieke Wulan Ayu; Ade Mariyam Oklima
Jurnal Agroteknologi Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Agroteknolgi
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58406/ja.v6i2.2503

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan iklim yang ditinjau dari dinamika suhu udara dan curah hujan serta keterkaitannya dengan tingkat kesuburan tanah pada lahan budidaya jagung di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari - Juni 2025, berlokasi di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, menggunakan metode survei lapangan dan analisis laboratorium. Analisis data iklim dilakukan menggunakan metode neraca air Thornthwaite–Mather untuk mengevaluasi ketersediaan air berdasarkan keseimbangan antara curah hujan dan evapotranspirasi, sedangkan analisis sifat tanah meliputi tekstur, pH, kandungan karbon organik (C-organik), dan fosfor total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan bulanan berkisar antara 47,6–147,8 mm dengan kecenderungan penurunan selama musim kemarau, mengakibatkan terjadinya defisit air serta peningkatan evapotranspirasi potensial (ETo). Analisis sifat tanah menunjukkan bahwa tanah bertekstur lempung berpasir dengan pH berkisar 5,6–7,0, kandungan C-organik sebesar 1,5–2,8% tergolong rendah hingga sedang, serta kandungan fosfor total yang berada pada kategori rendah. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa perubahan iklim berkontribusi terhadap penurunan kualitas kesuburan tanah melalui berkurangnya ketersediaan air dan unsur hara yang mendukung pertumbuhan tanaman jagung. Penerapan pemupukan organik, konservasi tanah dan air, serta penggunaan varietas jagung yang toleran terhadap kekeringan sangat diperlukan guna mempertahankan produktivitas lahan kering secara berkelanjutan.
KERAGAMAN GULMA PADA LAHAN PERTANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN SISTEM TANAM KONVENSIONAL Iman Syafitra Ramdhani; Ieke Wulan Ayu; Ade Mariyam Oklima
Jurnal Agroteknologi Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Agroteknolgi
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58406/ja.v6i2.2516

Abstract

Gulma merupakan salah satu faktor pembatas utama dalam budidaya jagung (Zea mays L.) karena mampu bersaing dengan tanaman dalam memperoleh cahaya, air, unsur hara, dan ruang tumbuh. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi jenis gulma, menganalisis tingkat dominansi, serta mengetahui tingkat keanekaragaman gulma pada lahan pertanaman jagung dengan sistem tanam konvensional di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilaksanakan, di lahan budidaya jagung, Kelurahan Samapuin,Kecamatan Sumbawa,Kabupaten Sumbawa, Propinsi Nusa Tenggara Barat, dari bulan Nopember 2025-Maret 2025, menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel menggunakan petak kuadrat pada beberapa titik pengamatan. Gulma yang ditemukan diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi, kemudian dianalisis menggunakan parameter Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR), Indeks Nilai Penting (INP), dan indeks keanekaragaman Shannon–Wiener (H'). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 15 spesies gulma yang tergolong ke dalam 8 famili, dengan famili Poaceae sebagai famili yang paling banyak ditemukan. Gulma yang memiliki tingkat dominansi tertinggi adalah teki (Cyperus rotundus) dengan nilai KR sebesar 18,20%, FR sebesar 12,80%, dan INP sebesar 31,00%, diikuti oleh rumput gajah (Pennisetum purpureum) (20,00%) dan alang-alang (Imperata cylindrica) (18,50%). Nilai indeks keanekaragaman Shannon–Wiener (H') sebesar 2,54 menunjukkan bahwa komunitas gulma pada lahan pertanaman jagung termasuk dalam kategori keanekaragaman sedang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gulma dari famili Cyperaceae dan Poaceae mendominasi pertanaman jagung pada fase kritis pertumbuhan. Oleh karena itu, pengendalian gulma sebaiknya diprioritaskan terhadap spesies yang memiliki nilai INP tinggi sebagai upaya meningkatkan efisiensi pengelolaan gulma dan produktivitas tanaman jagung.