Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Black Tea: A Comprehensive Review Yushinta Aristina Sanjaya; Ardita Putri Apriliani; Mufida Naima Rohmah
Nusantara Science and Technology Proceedings 4th International Conference Eco-Innovation in Science, Engineering, and Technology
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/nstp.2023.3617

Abstract

Tea is one of the most popular refreshing drinks due to its strong and delicious flavor, it is also known to have many health benefits. Tea comes from the tops (shoots) of the leaves of the Camellia sinensis plant which are processed and then dried. Black tea is the most widely produced tea in Indonesia, which is about 78% of the total tea production. Black tea can be divided into two categories based on the process, namely orthodox and CTC black tea, which are known to contain many chemical compounds that are good for the body. The content of chemical compounds in tea is generally contained in its leaves which are classified into four major groups, namely phenol groups, non-phenol groups, aromatic compound groups, and enzymes. The content of chemical compounds present in tea will form the physical characteristics of tea, namely appearance, liquor, and infused leaf. Many research found that black tea could reducing the accumulation of dental plaque, preventing obesity, preventing cardiovascular disease, as an antibacterial and anticancer, and preventing osteoporosis. The compound epigallocatechin gallate which is the main component in tea has been shown to have insulin-potentiating activity. In addition, theaflavin compound in tea is also known to inhibit the entry of HIV-1 in the body.
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK PATTY ANALOG NANGKA MUDA DAN TEPUNG KORO PEDANG (Canavalia ensiformis L.) DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG JANGKRIK (Acheta domesticus) Farah Nur Rahma; Ulya Sarofa; Yushinta Aristina Sanjaya
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 9 No. 5 (2024): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63071/xk2nmk91

Abstract

Patty analog adalah patty yang terbuat dari bahan non daging tetapi memiliki karakteristik fisikokimia menyerupai  patty daging. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh perlakuan proporsi nangka muda dan tepung koro  pedang dengan penambahan tepung jangkrik terhadap kualitas fisikokimia dan organoleptik patty analog. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor. Faktor pertama adalah proporsi nangka muda dan  tepung koro (60:40, 70:30, 80:20) dan faktor kedua penambahan tepung jangkrik (5%, 10%, 15%). Hasil penelitian  menunjukkan perlakuan terbaik didapatkan dari perlakuan proporsi nangka muda dan tepung koro (60:40) dan tepung  jangkrik 15% yang menghasilkan patty analog dengan dengan kadar air 50,94%, kadar abu 0,99%, kadar protein 23,01%,  kadar lemak 9,20%, kadar karbohidrat 15,76%, kadar serat kasar 7,38%, WHC 78,20%, cooking loss 4,78%, hardness  3968,19 g, dan chewiness 832,89 g.mm, serta parameter organoleptik dengan skor warna 4 (suka), skor rasa 3,2 (netral), skor aroma 3,56 (suka), dan skor tekstur 3,48 (suka). Penelitian ini menunjukkan potensi nangka muda dan tepung koro  serta tepung jangkrik sebagai bahan pembuatan patty analog, menjawab kebutuhan akan sumber protein yang  berkelanjutan di industri makanan.
KARAKTERISTIK TERASI NABATI BERBAHAN DASAR KEDELAI MENGGUNAKAN KULTUR CAMPURAN Lactobacillus plantarum FNCC 1012 DAN Bacillus amyloliquefaciens FNCC 0079 Imana Yusnita Simamora; Sri Winarti; Yushinta Aristina Sanjaya
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 9 No. 6 (2024): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63071/rh0mvh67

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang karakteristik terasi nabati berbahan dasar kedelai menggunakan kultur campuran Lactobacillus plantarum FNCC 1012 dan Bacillus amyloliquefaciens FNCC 0079. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari penambahan jenis starter serta lama fermentasi terhadap mutu terasi nabati berbahan dasar kedelai. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2 faktor dengan 2 kali ulangan. Faktor I jenis starter (Lactobacillus plantarum FNCC 1012, Bacillus amyloliquefaciens FNCC 0079, dan campuran Lactobacillus plantarum FNCC 1012 dengan Bacillus amyloliquefaciens FNCC 0079) dan faktor II lama fermentasi (4, 9, dan 14 hari). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) taraf kepercayaan 95%. Apabila terdapat perbedaan yang nyata dilakukan uji lanjut dengan metode DMRT (Duncan Multiple Range Test) 95%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik berdasarkan uji organoleptik aroma (4.90), rasa (4.85) dan warna (4.65) yaitu pada perlakuan jenis starter campuran dengan lama fermentasi 4 hari. Perlakuan tersebut menghasilkan terasi nabati dengan karakteristik total bakteri asam laktat (BAL) 9,01 Log CFU/g, kadar air 6,30%, kadar abu 7,42%, kadar protein terlarut 17,93% dan kadar asam glutamat 0,20%.
PENDUGAAN UMUR SIMPAN TIWUL DAN GATOT MENGGUNAKAN METODE ACCELERATED SHELF LIFE TESTING (ASLT) MODEL ARRHENIUS Sanjaya, Yushinta Aristina; Rosida, Rosida; Fitriana, Awanda Winar
Jurnal Teknologi Pangan Vol 19, No 1 : JUNI 2025
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v19i1.5132

Abstract

Tiwul dan Gatot merupakan makanan tradisonal khas daerah Gunung Kidul,Yogyakarta yang berbahan dasar singkong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur simpan produk berbahan dasar singkong yaitu tiwuldan gatot dengan metode Accelerated Shelf Life Testing berdasarkan persamaan Arrhenius. Umur simpan ditentukan dengan menggunakan metode Accelerated Shelf Life Testing dengan persamaan Arrhenius. Percobaan dilakukan pada suhu 15°C, 25°C, dan 35°C selama 8 hari. Setiap dua hari sekali, dilakukan tes kadar air untuk mengetahui laju penurunan mutu produk. Umur simpan tiwul dengan metode ASLT model Arrhenius adalah 119 hari (3,91 bulan) pada suhu 25°C. Umur simpan gatot dengan metode ASLT model Arrhenius adalah 119 hari (3,91 bulan) pada suhu 25°C.