Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : JURNAL HUTAN TROPIS

SIFAT FISIKA DAN KETEGUHAN PATAH PAPAN SEMEN PARTIKEL DARI PELEPAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jack) Violet Burhanuddin
Jurnal Hutan Tropis Vol 13, No 1 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 1 Edisi Maret 2012
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v13i1.1493

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan pemanfaatan pelepah kelapa sawit sebagai bahan baku papan semen partikel dan untuk mengetahui sifat fisika dan mekanika papan semen partikel pada berbagai perbandingan semen dan partikel dari dua merek semen (Tonasa dan Tiga Roda). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial 2 x 3 sebanyak 5 kali ulangan, dimana faktor A adalah merek semen yaitu semen tonasa dan semen Tiga Roda kemudian faktor B adalah perbandingan antara partikel dan semen. Hasil pengujian sifat fisika dan mekanika masing-masing menunjukan pengaruh yang sangat berbeda nyata, hal ini disebabkan karena semakin banyak penambahan jumlah perekat semen maka semakin baik pula sifat fisika dan mekanika papan semen yang dibuat, sedangkan untuk faktor merek semen tidak menunjukan perbedaan yang nyata.Kata kunci : Pelapah kelapa sawit, sifat fisika dan mekanika, papan semen partikel.
KARAKTERISTIK DAN UJI POT ORGANIK BERBAHAN DASAR LIMBAH KULIT GALAM (Melaleuca cajuputi) DAN ENCENG GONDOK (Eichornia crassipes) SEBAGAI PENGGANTI POLYBAG Noor Mirad Sari; Violet Violet; Khairun Nisa; Shinta Ajar
Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2021
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v9i3.12331

Abstract

The forestry and plantation sectors till now, the mass supply of seeds still using polybags made from plastic. The purpose of the study was to examine the physical characteristics and test the organic pots based on waste from galam skin and water hyacinth as well as to find out the best basic ingredients for making organic pots. The research method used was Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 3 replications. The results of organic pot testing for water content ranged from 4.2133 – 6.033%, all treatments met the SNI standard 03-2105-2006 (<14%). The range of water absorption values is 97.9981 – 176.2218% and the SNI 03-2105-2006 standard does not require water absorption values. Density values ranged from 0.3584 – 0.8767 gr/cm3, A, C, D, E treatments were included in the SNI 03-2105-2006 standard. The best treatment of organic pot water content was in treatment A (100% galam peel waste), water absorption was found in treatment E (100% water hyacinth) and the best density was found in treatment E (100% water hyacinth. Results of organoleptic test of organic pots Based on the preference for color and texture, the highest was found in treatment A (100% galam bark waste) with a very hard texture and blackish color
PENGARUH KONSENTRASI BAHAN STABILISATOR PEG 1000 DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP KESTABILAN DIMENSI KAYU KECAPI (Sandoricum koetjape Merr) Lusyiani Lusyiani; Violet Burhanuddin; Putri Nadilla
Jurnal Hutan Tropis Vol 3, No 3 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No 3 Edisi November 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v3i3.2270

Abstract

Kayu bersifat higroskopis dan anisotropis, karena itulah untuk meningkatkan kualitas kayu diperlukan suatu perlakuan stabilisasi dimensi.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh konsentrasi Polyethylene Glycol 1000 dan waktu perendaman terhadap stabilisasi dimensi kayu yakni nilai penyusutannya.  Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Polyethylene glycol 1000, kayu Kecapi dan air suling sebagai pelarutnya.  Proses stabilisasi dimensi dilakukan dengan menggunakan metode proses difusi bulking yang mengganti bahan penstabilnya dengan air.  Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 120 buah sampel.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Polyethylene Glycol 1000 pada tingkat konsentrasi 30% dan lama perendaman 5 hari memiliki nilai stabilisasi dimensi terbaik untuk semua parameter yang diuji.  Tingkat konsentrasi tertinggi untuk Polyethylene Glycol 1000 dan lama perendaman yang terlama, nilai penyusutannya paling kecil dan juga dapat meningkatkan nilai stabilisasi dimensi.Wood is hygroscopic and anisotropic, hence it is needed to improve the quality of wood by dimension stabilization treatment. The aim of study is to examine the effect of Polyethylene Glycol  1000 concentration and soaking time on the shrinkage rate stabilization dimensions. Polyethylene glycol 1000 and Kecapi wood were used in the research and distilled water as a solvent.  Stabilization was carried out by bulking method that replaced stabilizer material with water by diffusion process.  A member of 120 pieces samples were used in the study. The research results showed that Polyethylene Glycol  1000 at 30% concentration level and 5 days of soaking time have the best value of stabilization for all tested parameters.  The hingher level concentration of Polyethylene Glycol 1000 and the longer immersion time, smaller shrinkage and increasing the value of stabilization dimensions, as well.
SIFAT FISIKA DAN KETEGUHAN PATAH PAPAN SEMEN PARTIKEL DARI PELEPAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jack) Violet Burhanuddin
Jurnal Hutan Tropis Vol 13, No 1 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 1 Edisi Maret 2012
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v13i1.1499

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan pemanfaatan pelepah kelapa sawit sebagai bahan baku papan semen partikel dan untuk mengetahui sifat fisika dan mekanika papan semen partikel pada berbagai perbandingan semen dan partikel dari dua merek semen (Tonasa dan Tiga Roda). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial 2 x 3 sebanyak 5 kali ulangan, dimana faktor A adalah merek semen yaitu semen tonasa dan semen Tiga Roda kemudian faktor B adalah perbandingan antara partikel dan semen. Hasil pengujian sifat fisika dan mekanika masing-masing menunjukan pengaruh yang sangat berbeda nyata, hal ini disebabkan karena semakin banyak penambahan jumlah perekat semen maka semakin baik pula sifat fisika dan mekanika papan semen yang dibuat, sedangkan untuk faktor merek semen tidak menunjukan perbedaan yang nyata.Kata kunci : Pelapah kelapa sawit, sifat fisika dan mekanika, papan semen partikel
SIFAT FISIKA DAN NILAI KETEGUHAN REKAT KAYU KECAPI (Sandoricum koetjape Merr) Violet Burhanuddin; Diana Ulfah; Rika Emelya
Jurnal Hutan Tropis Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 2 Edisi Juli 2016
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v4i2.3601

Abstract

The research  aim was to determine the physical properties and bonding strenght value of Kecapi wood, and the relationship between the above both parameters, as well.  The above knowledge will be implemented in producing wood products. The ASTM D 143-52 dan ASTM D 1759-64 standard (1975) were used in order to test the physical properties and the bonding strength value.  The research result showed as followed average value of density based on the volume of dried air was 0,42; density based on the volume of dried kiln 0,43; wood moisture content 15,90%; radial shrinkage 2,75%; tangential shrinkage 4,22% and longitudinal shrinkage 0, 13%; anisotropy value was 2,37%; bonding strength value 64,11 kg/cm2 and timber damage 2,0%.The strenght of the wood is III – IV, and durability class as IV-V.  The wood has a high level of defect free and different shrinkage on the three-way cross-section.  Also, the research result showed that the bonding strenght complied with standard and timber damage was low.  So, koetjape wood may be recommended to be products by using glue-bond technology.  Meanwhile the relationships between physical properties and the bonding strength showed that only moisture content which had strong relation with bonding strength, namely r = 0,916.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisika dan nilai keteguhan rekat kayu Kecapi (Sandoricum koetjape Merr) serta mengetahui hubungan antara sifat fisika dengan nilai keteguhan rekat kayu. Sifat fisika dan keteguhan rekat ini akan diaplikasikan untuk pemanfaatan produk kayu yang cocok berdasarkan sifat dasar dan besarnya kekuatan kayu tersebut. Pengujian sifat fisika dan nilai keteguhan rekat ini menggunakan standar ASTM D 143-52 dan ASTM D 1759-64 (1975). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai berat jenis berdasarkan volume kering udara 0,42, berat jenis berdasarkan volume kering tanur 0,43, nilai kadar air 15,90%, penyusutan radial 2,75%, penyusutan tangensial 4,22% dan penyusutan longitudinal 0,13%, nilai anisotropi 2,37%.  Rata-rata nilai keteguhan rekat 64,11 kg/cm2 dan rata-rata kerusakan kayu 2,00%. Berdasarkan nilai berat jenis, kayu ini termasuk kategori berat sedang yang memiliki kelas kuat (III-IV) dan kelas awet (IV-V). Kayu kecapi memiliki tingkat bebas cacat yang tinggi dengan nilai penyusutan kayu pada tiga arah penampang memiliki penyusutan yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa keteguhan rekat memenuhi standar dengan nilai kerusakan kayunya rendah, jadi kayu Kecapi dapat digunakan sebagai kayu yang memiliki kekuatan rekat yang baik untuk dijadikan produk dengan menggunakan teknologi perekatan. Berdasarkan hasil analisis regresi linear hubungan sifat fisika (berat jenis, kadar air dan penyusutan kayu) dengan keteguhan rekat kayu menunjukkan hanya kadar air yang berpengaruh nyata terhadap nilai keteguhan rekat (r = 0,916). Hal tersebut diduga adanya perlakuan terhadap posisi kayu dalam batang yang tidak sama.
KUALITAS BRIKET ARANG DARI KULIT SABUT BUAH NIPAH (Nypa fruticans WURMB) DALAM MENGHASILKAN ENERGI The qualty of charcoal briquettes that made from nypah (nypa fruticans wurmb) outshel to product energy Rosidah Muis Radam; Lusyiani Lusyiani; Diana Ulfah; Noor Mirad Sari; Violet Violet
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 1 Edisi Maret 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v6i1.5105

Abstract

The availability skin fiber of fruit Nipah abundant each season can be used as alternative energy sources such. The purpose of this study is to determine the quality of charcoal briquettes from the skin fiber of nipah peel in its ability to produce energy. The results of this study can be used as a consideration in the development of the utilization of the nipah plant part of the fruit peel as briquette fuel. The method used is to compare the capability of 1 kg of charcoal briquettes compared to the 1 liter kerosene capability inserted in the Hock stove with 16 axis in producing energy. The test do the Laboratory of Standardization Center for Industry of Banjarbaru. The Charcoal briquettes in this study contain 5.12% water content, ash content 4.15%, airborne content 36.66%, carbon content bound 58.19% and calorific value 5438,80 cal / gram. The results of charcoal briquette quality analysis when compared with SNI-01-6235-2000 charcoal quality standards of water content, ash content, and calorific values that meet the charcoal quality standard requirements as good fuel, but the content of fly and carbon bound does not meet the requirements charcoal quality standard, airborne content of 33.66% and carbon bound to 58.19%, according to SNI-01-6235-2000 maximum airborne content 15%. and carbon bound ≥ ≥ 77%. Average initial time of ignition for 3’25 “long smoldering 1 hour 9 ‘. The average time of boiling 1 liter of water is 22 ‘05 “. When compared to the use of kerosene by using the Hock stove with 16 axis and if converted to economic value, the charcoal briquettes results of this study can be used as a renewable energy alternative.Keywords: charcoal briquettes, skin fiber of fruit Nipah, energyKetersediaan kulit sabut buah Nipah yang melimpah setiap musimnya dapat dimanfaatkan menjadi sumber energy alternative. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui kualitas briket arang kulit sabut buah nipah dalam kemampuannya menghasilkan energy. Manfaat penelitian ini sebagai bahan infotmasi untuk mengembangkan teknologi pengolahan bagian tumbuhan nipah yaitu bagian kulit buah sebagai bahan bakar briket. Metode yang digunakan adalah membandingkan kemampuan 1 kg briket arang dibandingkan dengan kemampuan 1 liter minyak tanah yang dimasukkan dalam kompor Hock sumbu 16 dalam mengthasilkan energy. Pengujian dilakukan di Laboratorium Balai Risert Standardisasi Industri Banjarbaru. Briket Arang dalam penelitian ini mengandung kadar air 5,12 %, kadar abu 4,15 % , kadar zat terbang 36,66 % , kadar carbon terikat 58,19 % dan nilai kalor 5438,80 cal/gram. Hasil pengujian sifat Fisik dan Kimia briket arang dibandingkan dengan SNI-01-6235-2000, parameter kadar air, kadar abu, dan nilai kalor yang memenuhi persyaratan standar kualitas arang sebagai bahan bakar yang baik, namun kadar zat terbang dan karbon terikat tidak memenuhi 3’25” lama membara 1 jam 9’. Rata-rata waktu mendidihkan 1 liter air adalah 22’ 05”. Jika dibandingkan dengan pemakaian minyak tanah dengan memakai kompor Hock 16 sumbu dan jika dikonversi ke nilai ekonomi, maka briket arang hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai energy alternative yang bersifat renewableKata kunci: Briket arang, kulit sabut buah nipah, energy
VARIASI ARAH AKSIAL BATANG (PANGKAL DAN UJUNG) TERHADAP SIFAT MEKANIKA PAPAN LAMINASI KAYU KELAPA (Cocos nucifera L) DAN KAYU NANGKA (Arthocarpus heterophyllus L) Variation of Stem Axial Direction (Base and Top) to the Mechanical Properties of Laminated Board of Coconut Wood (Cocos nucifera L) and Jackfruit Wood (Arthocarpus heterophyllus L) Violet Violet; Agustina Agustina
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 1 Edisi Maret 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v6i1.5101

Abstract

The purpose of this research is to know the mechanical properties (MoE and MoR) and the bonding strength of laminated board made of coconat wood and jackfruit wood, based on the number of layers (3 and 5 layers) and the axial part of the stem (base and top) with 1,5 cm board thickness. The results showed that the mechanical properties (MoE and MoR) and bonding strength for 3 and 5 layers of the base of the stems were better than the 3 and 5 layers of the top part. Characteristics of laminated board decreases from the base of stem to the top of stem. The higher number of layers, MoE value tend to decrease, on the contrary MoR value tend to increase.  PVAc glue properties can make good bonding strength with low wood damage percentage. The results of this study showed that the best axial direction used in the manufacture of laminate board is the base of the stem. The result of laminated board can be used as construction materials of light building, furniture and other interior equipments.Keywords : Coconut wood; Jackfruit wood; laminated board; mechanical properties; bonding strengthTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat mekanika (MoE dan MoR) dan keteguhan rekat papan laminasi yang terbuat dari kayu kelapa dan kayu nangka berdasarkan jumlah lapisan (3 dan 5 lapis) dan bagian aksial batang (pangkal dan ujung) dengan ketebalan papan penyusun sebesar 1,5 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat mekanika (MoE dan MoR) dan keteguhan rekat 3 dan 5 lapis bagian pangkal batang lebih baik dibandingkan 3 dan 5 lapis bagian ujung. Karakteristik kayu laminasi menurun dari bagian pangkal batang kebagian ujung batang. Semakin banyak jumlah lapisan maka nilai MoE semakin menurun, sedangkan nilai MoR semakin tinggi.  Kekuatan perekat PVAc mampu menghasilkan keteguhan rekat yang baik dengan persentase kerusakan kayu yang rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa arah aksial terbaik yang digunakan dalam pembuatan papan laminasi adalah bagian pangkal. Hasil penelitian papan laminasi dapat digunakan sebagai bahan kontruksi bangunan ringan, meubel dan pembangunan interior lainnya.Kata Kunci : Kayu Kelapa; Kayu Nangka; Papan Laminasi; Sifat Mekanika; Keteguhan Rekat