Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Revitalisasi Tepung Tawar sebagai Perlindungan Budaya Lokal di Aceh Tamiang Joko Hariadi; Muhammad Arif Fadhilah; Azrul Rizki; Indah Fajarini
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 37 No 2 (2022): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v37i2.1656

Abstract

This research aims to revitalize the tradition of Tepung Tawar as a form of strengthening and protecting local culture in Malay society in Aceh Tamiang Regency. This is a qualitative study that uses descriptive methodologies. Data is gathered using various methods, including interviews, documentation, and field observations. Data analysis is accomplished by presenting and condensing data from interviews and observations. The data is processed by describing the information gathered during the interview and observation procedure in the field. According to the findings of this study, 12 subdistricts in Aceh Tamiang continue to use Tepung Tawar in a variety of processes. 4 sub-districts conduct Tepung Tawar processions only on specific activities, namely Banda Mulia, Sekerak, Seruway, and Tamiang Hulu subdistricts. In the four sub-districts, the revitalization of the tradition of Tepung Tawar was carried out in coordination with the Chairman of MAA, indigenous elders, and community leaders. After conducting interviews and observations, it was discovered that the process of revitalizing the Tepung Tawar tradition is carried out in five ways, namely (1) procurement of competitions in the community about the tradition of Tepung Tawar, (2) training the village youth about the procession of Tepung Tawar, (3) strengthening the traditional institutions to pay attention to the procession of Tepung Tawar, and (4) strengthening the traditional institutions to pay attention to the procession of Tepung Tawar. The preservation and maintenance of local culture, Tepung Tawar, is necessary to prevent degradation soon.
The Potential of Digital Preservation in Neurajah Oral Traditions as an Effort to Preserve Local Culture Indah Fajarini; Joko Hariadi; Muhammad Taufik Hidayat; Prima Nucifera; Nuriana Nuriana
Widyantara Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : Ikaprobsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63629/widyantara.v4i1.204

Abstract

This study examines the documentation and digital preservation of Neurajah, a traditional healing prayer and medicinal antidote in East Aceh, which is currently threatened by globalization and technological advancements. Utilizing a descriptive qualitative approach based on post-positivist philosophy, this literature study synthesized secondary sources from platforms such as Google Scholar, Semantic Scholar, SpringerLink, and ResearchGate using specific inclusion and exclusion criteria. The results indicate that while the Neurajah tradition holds significant cultural value, public interest and understanding have declined due to the dominance of modern knowledge. The study establishes a systematic framework for narrator selection, documents the core knowledge embedded in the tradition, and evaluates the implementation and challenges of using digital media as a sustainable tool for local cultural preservation. Studi ini meneliti dokumentasi dan pelestarian digital Neurajah, sebuah doa penyembuhan tradisional dan obat penawar racun di Aceh Timur, yang saat ini terancam oleh globalisasi dan kemajuan teknologi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berdasarkan filsafat post-positivis, studi literatur ini mensintesis sumber sekunder dari platform seperti Google Scholar, Semantic Scholar, SpringerLink, dan ResearchGate menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tradisi Neurajah memiliki nilai budaya yang signifikan, minat dan pemahaman masyarakat telah menurun karena dominasi pengetahuan modern. Studi ini menetapkan kerangka kerja sistematis untuk pemilihan narator, mendokumentasikan pengetahuan inti yang tertanam dalam tradisi tersebut, dan mengevaluasi implementasi dan tantangan penggunaan media digital sebagai alat yang berkelanjutan untuk pelestarian budaya lokal.
Tradisi Turun Tanah di Aceh Tamiang dalam Dinamika Modernisasi: Analisis Struktural-Semiotik dan Relevansinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Joko Hariadi; Nur Amelia; Indah Fajarini; Muhammad Arif Fadhilah; Tanita Liasna; Widia Tamara; Emilda Emilda; Faridah Faridah; Siti Taniza Toha
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 2 (2026): JULI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i2.10738

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna struktural dan semiotik dari perlengkapan serta prosesi tradisi turun tanah di Aceh Tamiang, sekaligus mengkaji relevansinya dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif, dengan kerangka analisis berupa teori struktural (Lévi-Strauss, 1958) dan semiotik (Barthes, 1957) untuk mengkaji struktur prosesi serta makna denotatif dan konotatif dari simbol-simbol budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlengkapan ritual dalam tradisi ini merupakan sistem tanda yang merepresentasikan makna perlindungan, kesejahteraan, kesuburan, penyucian, awal kehidupan, pengorbanan, dan kesucian. Perlengkapan tersebut meliputi gelang tumbuhan obat, pulut kuning, bunga setaman, kelapa, abu, pakaian baru, kambing, dan kain putih. Prosesi yang dilalui bayi mulai dari menginjak tanah, mandi bunga, pemberian kurma dan anggur, hingga aqiqah dan pembacaan marhaban merepresentasikan perjalanan hidup manusia yang sarat nilai sosial, budaya, dan religius. Penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Turun Tanah yang berlangsung di Melayu Tamiang memiliki struktur simbolik khas yang berfungsi sebagai media transmisi nilai budaya, religius, dan sosial bagi masyarakat setempat.  Selain itu, tradisi ini memiliki relevansi langsung dalam pembelajaran bahasa dan sastra karena menyediakan objek kajian semiotika empiris; keberadaan perlengkapan ritual sebagai sistem tanda memungkinkan peserta didik untuk mempraktikkan cara membaca simbol budaya, menginterpretasikan makna tersirat di balik tanda tersebut, dan mengonversinya ke dalam kompetensi literasi budaya yang aplikatif.
Makna Kontekstual Tokoh Uta dalam Teks Terjemahan Bahasa Indonesia pada Film One Piece Film: Red Firman Saputra; Indah Fajarini; Tanita Liasna
Sintaks: Jurnal Bahasa & Sastra Indonesia Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57251/sin.v6i2.2148

Abstract

This study investigates the contextual meanings conveyed through Uta's utterances in the Indonesian subtitle translation of One Piece Film: Red to examine how contextual elements shape meaning and how effectively these meanings are retained in audiovisual translation. The research addresses the question of whether the Indonesian subtitles successfully preserve the contextual meanings, communicative intentions, and emotional nuances embedded in the source language despite the linguistic and technical constraints of subtitling. A descriptive qualitative approach was employed by analyzing Uta's translated utterances, which were classified into seven contextual dimensions: participants, situation, communicative purpose, emotional state, time, place, and topic of discussion. The analysis identified 66 contextual meaning instances, with emotional context emerging as the most dominant category, indicating that emotional expression constitutes the central semantic feature of Uta's dialogue. The findings further demonstrate that the Indonesian subtitles generally maintain the intended contextual meanings and communicative functions of the original utterances, although certain lexical simplifications occur to accommodate subtitle limitations. These results underscore that a comprehensive understanding of contextual meaning is essential for producing accurate, natural, and communicatively effective subtitle translations in audiovisual media.