Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Struktur dan Fungsi Organisasi Pendidikan dalam Perspektif Komunikasi Sosial Budaya Joko Hariadi; Syukur Kholil; Nur Amelia
Widya Accarya Vol. 16 No. 2 (2025): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/wa.16.2.1697.179-188

Abstract

Kompleksitas sosial budaya dalam organisasi pendidikan sering menimbulkan tantangan komunikasi yang berdampak pada efektivitas dan kualitas pengelolaan lembaga. Ketidakharmonisan hubungan antar anggota, perbedaan nilai budaya, serta lemahnya penerapan nilai moral sering kali menyebabkan konflik dan disintegrasi internal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur untuk menggali berbagai teori dan hasil penelitian terkait struktur dan fungsi organisasi pendidikan dalam perspektif komunikasi sosial budaya. Temuan utama menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai Islam klasik seperti tauhid, keadilan, musyawarah, amanah, dan maslahah menjadi kunci untuk memperkuat solidaritas dan kolaborasi dalam organisasi. Studi ini menghadirkan model pengelolaan yang menggabungkan komunikasi sosial budaya dengan nilai-nilai Islam, menawarkan solusi inovatif untuk meningkatkan efektivitas, inklusivitas, dan keberlanjutan organisasi pendidikan. Dengan pendekatan ini, lembaga pendidikan tidak hanya dapat beradaptasi dengan perubahan sosial yang cepat, tetapi juga menjaga identitas spiritual sebagai landasan moral yang kokoh dalam membangun organisasi yang harmonis dan berkelanjutan.
Tradisi Turun Tanah di Aceh Tamiang dalam Dinamika Modernisasi: Analisis Struktural-Semiotik dan Relevansinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Joko Hariadi; Nur Amelia; Indah Fajarini; Muhammad Arif Fadhilah; Tanita Liasna; Widia Tamara; Emilda Emilda; Faridah Faridah; Siti Taniza Toha
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 2 (2026): JULI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i2.10738

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna struktural dan semiotik dari perlengkapan serta prosesi tradisi turun tanah di Aceh Tamiang, sekaligus mengkaji relevansinya dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif, dengan kerangka analisis berupa teori struktural (Lévi-Strauss, 1958) dan semiotik (Barthes, 1957) untuk mengkaji struktur prosesi serta makna denotatif dan konotatif dari simbol-simbol budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlengkapan ritual dalam tradisi ini merupakan sistem tanda yang merepresentasikan makna perlindungan, kesejahteraan, kesuburan, penyucian, awal kehidupan, pengorbanan, dan kesucian. Perlengkapan tersebut meliputi gelang tumbuhan obat, pulut kuning, bunga setaman, kelapa, abu, pakaian baru, kambing, dan kain putih. Prosesi yang dilalui bayi mulai dari menginjak tanah, mandi bunga, pemberian kurma dan anggur, hingga aqiqah dan pembacaan marhaban merepresentasikan perjalanan hidup manusia yang sarat nilai sosial, budaya, dan religius. Penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Turun Tanah yang berlangsung di Melayu Tamiang memiliki struktur simbolik khas yang berfungsi sebagai media transmisi nilai budaya, religius, dan sosial bagi masyarakat setempat.  Selain itu, tradisi ini memiliki relevansi langsung dalam pembelajaran bahasa dan sastra karena menyediakan objek kajian semiotika empiris; keberadaan perlengkapan ritual sebagai sistem tanda memungkinkan peserta didik untuk mempraktikkan cara membaca simbol budaya, menginterpretasikan makna tersirat di balik tanda tersebut, dan mengonversinya ke dalam kompetensi literasi budaya yang aplikatif.
Integrasi ChatGPT dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia: A Systematic Literature Review Tren, Peluang, dan Tantangan Era Kurikulum Merdeka Bagaskara Nur Rochmansyah; Ifutya Warnisa; Nur Amelia
Edunity Kajian Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 7 (2026): Edunity: Social and Educational Studies
Publisher : PT Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/edunity.v5i7.548

Abstract

Perkembangan pesat kecerdasan buatan generatif, khususnya ChatGPT, telah mengubah lanskap pendidikan secara global. Di Indonesia, penekanan Kurikulum Merdeka pada pembelajaran berdiferensiasi menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi integrasi AI dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan memetakan secara sistematis tren, peluang, dan tantangan integrasi ChatGPT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada era Kurikulum Merdeka. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan mengadopsi panduan PRISMA 2020. Sumber data diperoleh dari tiga basis data utama, yaitu Google Scholar, Scopus, dan SINTA, dengan kata kunci kombinatorik terkait ChatGPT, Artificial Intelligence, dan pembelajaran Bahasa Indonesia. Dari 247 artikel yang teridentifikasi pada pencarian awal, sebanyak 36 artikel memenuhi kriteria inklusi setelah proses screening judul, abstrak, dan full-text. Analisis tematik menghasilkan lima tema utama: (1) ChatGPT sebagai asisten pengembangan keterampilan menulis dan pemberi umpan balik otomatis; (2) pemanfaatan ChatGPT dalam penyusunan bahan ajar dan modul pembelajaran; (3) personalisasi pembelajaran melalui prompting pedagogis; (4) tantangan integritas akademik, plagiarisme, dan etika penggunaan AI; serta (5) implikasi terhadap implementasi Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila. Hasil sintesis menunjukkan bahwa ChatGPT memiliki potensi signifikan untuk meningkatkan efisiensi perencanaan pembelajaran, memperkaya umpan balik menulis, serta memfasilitasi pembelajaran berdiferensiasi. Namun, pemanfaatannya menuntut literasi digital guru yang memadai, kerangka etika yang jelas, dan kebijakan institusi yang komprehensif. Penelitian ini memberikan rekomendasi berupa pengembangan model prompting pedagogis berbahasa Indonesia, pelatihan literasi AI bagi guru Bahasa Indonesia, serta penyusunan pedoman integritas akademik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi generatif.
ANALISIS KRITIK SOSIAL DALAM CERPEN “TIGA KUBURAN LAIN” KARYA T AGUS KHAIDIR Yuli Sartika Ginting; Siti Zahara; Kartika Nadila Putri; Nur Amelia
KOHESI : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5 No 2 (2025): KOHESI : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Nias Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57094/kohesi.v5i2.4001

Abstract

This study aims (1) to describe the social conditions of society depicted in the short story “Tiga Kuburan Lain” and (2) to identify and analyze the forms of social criticism that emerge within it. The research employs Soekanto’s social theories as an analytical foundation to understand the societal dynamics presented in the literary text. The research method used is a qualitative descriptive approach, as it is suitable for examining meanings, messages, and social phenomena represented narratively. The data source of this study is the short story “Tiga Kuburan Lain” by T. Agus Khaidir, published on Kompas.com in the October 2024 edition. Data collection techniques include close reading and note-taking, conducted by carefully examining the text and recording segments relevant to the research focus. Based on the findings, several portrayals of social conditions within the story are identified, including: (a) shifts in the attitudes and mindsets of the older generation from previously held values, (b) the presence of discrimination against minority groups as reflected through unjust social treatment, (c) the diminishing spirit of communal cooperation (gotong royong), once a hallmark of the community, and (d) the indecisiveness of political figures in addressing the issues presented in the narrative. Furthermore, the forms of social criticism found in the short story include criticism of political practices, criticism of discriminatory behavior, and criticism of sociocultural changes within society. Thus, the short story not only presents a narrative but also conveys a critical reflection on social realities.
PERGESERAN ESTETIKA DALAM PUISI MEDIA SOSIAL Nur Amelia
Jurnal Inovasi Pendidikan Nusantara Vol. 3 No. 1 (2026): Juni
Publisher : LLDIKTI WILAYAH XIII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64958/jipn.v3i1.102

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah kesusastraan Indonesia, termasuk dalam bentuk dan fungsi puisi. Media sosial seperti Instagram kini menjadi ruang baru bagi para penyair muda untuk mengekspresikan gagasan, perasaan, dan estetika puitik secara singkat namun bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk estetika puisi yang berkembang di media sosial dengan menelaah sembilan puisi dari tiga akun Instagram. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode analisis isi terhadap teks puisi. Analisis difokuskan pada empat aspek estetika, yaitu bahasa dan diksi digital, tipografi dan visualisasi, interaktivitas pembaca, serta makna simbolik baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi media sosial mengalami pergeseran estetika dari tradisi liris yang mendalam menuju bentuk yang lebih ringkas, visual, dan partisipatif. Bahasa puisi menjadi lebih sederhana dan komunikatif, tipografi dan tampilan digital menjadi bagian dari struktur makna, sementara interaktivitas pembaca menegaskan dimensi kolaboratif puisi modern. Selain itu, makna simbolik puisi bergeser dari “puisi batin” menuju “puisi performatif-visual” yang menonjolkan pengalaman estetika visual dan emosional. Dengan demikian, puisi media sosial dapat dipahami sebagai bentuk evolusi baru sastra Indonesia yang merepresentasikan transformasi nilai keindahan, cara ekspresi, dan hubungan antara penyair serta pembaca di era digital.