Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tradisi Turun Tanah di Aceh Tamiang dalam Dinamika Modernisasi: Analisis Struktural-Semiotik dan Relevansinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Joko Hariadi; Nur Amelia; Indah Fajarini; Muhammad Arif Fadhilah; Tanita Liasna; Widia Tamara; Emilda Emilda; Faridah Faridah; Siti Taniza Toha
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 2 (2026): JULI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i2.10738

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna struktural dan semiotik dari perlengkapan serta prosesi tradisi turun tanah di Aceh Tamiang, sekaligus mengkaji relevansinya dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif, dengan kerangka analisis berupa teori struktural (Lévi-Strauss, 1958) dan semiotik (Barthes, 1957) untuk mengkaji struktur prosesi serta makna denotatif dan konotatif dari simbol-simbol budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlengkapan ritual dalam tradisi ini merupakan sistem tanda yang merepresentasikan makna perlindungan, kesejahteraan, kesuburan, penyucian, awal kehidupan, pengorbanan, dan kesucian. Perlengkapan tersebut meliputi gelang tumbuhan obat, pulut kuning, bunga setaman, kelapa, abu, pakaian baru, kambing, dan kain putih. Prosesi yang dilalui bayi mulai dari menginjak tanah, mandi bunga, pemberian kurma dan anggur, hingga aqiqah dan pembacaan marhaban merepresentasikan perjalanan hidup manusia yang sarat nilai sosial, budaya, dan religius. Penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Turun Tanah yang berlangsung di Melayu Tamiang memiliki struktur simbolik khas yang berfungsi sebagai media transmisi nilai budaya, religius, dan sosial bagi masyarakat setempat.  Selain itu, tradisi ini memiliki relevansi langsung dalam pembelajaran bahasa dan sastra karena menyediakan objek kajian semiotika empiris; keberadaan perlengkapan ritual sebagai sistem tanda memungkinkan peserta didik untuk mempraktikkan cara membaca simbol budaya, menginterpretasikan makna tersirat di balik tanda tersebut, dan mengonversinya ke dalam kompetensi literasi budaya yang aplikatif.
Makna Simbolik Pantun dalam Tradisi Lisan Hempang Pintu dan Makan Beradab pada Pernikahan Melayu Langkat Nurmala Sari; Prima Nucifera; Tanita Liasna
Sintaks: Jurnal Bahasa & Sastra Indonesia Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57251/sin.v6i2.2143

Abstract

Pantun occupies a central position in the Langkat Malay wedding tradition as a medium for transmitting cultural values, social norms, and collective identity; however, the symbolic meanings embedded in the Hempang Pintu and Makan Beradab oral traditions have not been comprehensively examined through Peircean semiotics. This study investigates how icons, indices, and symbols are constructed in pantuns performed during these traditions and explores the cultural meanings they convey. Employing a descriptive qualitative approach, the research analyzed 85 pantun stanzas from four traditional wedding processions using Charles Sanders Peirce's triadic semiotic model, supported by observation, note-taking, and in-depth interviews. The findings identified 20 icons, 28 indices, and 76 symbols, indicating that symbolic signs dominate because pantuns predominantly communicate figurative meanings and culturally shared conventions. The symbolic meanings encompass religiosity, Malay cultural identity, respect for customary traditions, protection of the bride's dignity, and moral guidance for married life. The study contributes a novel systematic mapping of the distribution of icons, indices, and symbols across the four Hempang Pintu and Makan Beradab processions in Hinai District and demonstrates that pantun functions as a dynamic system of cultural communication that plays a vital role in preserving Malay cultural heritage amid ongoing modernization.
Makna Kontekstual Tokoh Uta dalam Teks Terjemahan Bahasa Indonesia pada Film One Piece Film: Red Firman Saputra; Indah Fajarini; Tanita Liasna
Sintaks: Jurnal Bahasa & Sastra Indonesia Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57251/sin.v6i2.2148

Abstract

This study investigates the contextual meanings conveyed through Uta's utterances in the Indonesian subtitle translation of One Piece Film: Red to examine how contextual elements shape meaning and how effectively these meanings are retained in audiovisual translation. The research addresses the question of whether the Indonesian subtitles successfully preserve the contextual meanings, communicative intentions, and emotional nuances embedded in the source language despite the linguistic and technical constraints of subtitling. A descriptive qualitative approach was employed by analyzing Uta's translated utterances, which were classified into seven contextual dimensions: participants, situation, communicative purpose, emotional state, time, place, and topic of discussion. The analysis identified 66 contextual meaning instances, with emotional context emerging as the most dominant category, indicating that emotional expression constitutes the central semantic feature of Uta's dialogue. The findings further demonstrate that the Indonesian subtitles generally maintain the intended contextual meanings and communicative functions of the original utterances, although certain lexical simplifications occur to accommodate subtitle limitations. These results underscore that a comprehensive understanding of contextual meaning is essential for producing accurate, natural, and communicatively effective subtitle translations in audiovisual media.