Nurhidayah Nurhidayah
Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

UPAYA MENURUNKAN UNMET NEED MELALUI PROGRAM DELIKA (DESA PEDULI KB) Yusni Igirisa; Nurhidayah Nurhidayah; Alvira Anggriana Mohammad; Ni Nengah Susanti Warsilia
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 6, No 4 (2022): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1560.649 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v6i4.9034

Abstract

Abstrak: Tingginya angka Unmet need adalah fenomenal kependudukan yang menjadi permasalahan penting dan perlu diperhatikan dalam pelayanan program. Tujuan kegiatan ini untuk membantu program pemerintah dalam menurunkan unmet need melalui program DELIKA, memberikan pemahaman dan kemampuan kepada Tim DELIKA tentang cara melakukan survailans berbasis IT dan teknis pendampingan Wanita Usia Subur (WUS). Tahap kegiatan terdiri dari (1) Pembentukan Tim Delika; (2) Pelatihan bagi Tim DELIKA yang dilaksanakan selama 2 hari dengan tujuan untuk memberikan pemahaman dan kemampuan kepada Tim DELIKA tentang cara melakukan survailans berbasis IT dan teknis pendampingan WUS (3) Tim DELIKA menggunakan Aplikasi DELIKA berbasis android untuk mendapatkan data real time WUS yang belum menggunakan KB; (4) Tim DELIKA melaporkan data WUS yang belum KB ke petugas lapangan KB (PLKB), Bidan Desa atau TIM pengabmas untuk kemudian ditindak lanjuti; (5) Bagi WUS yang belum ber KB dilakukan pendampingan oleh Tim Delika untuk memberikan edukasi tentang metode kontrasepsi melalui buku saku; (6) Proses penapisan dan pemilihan kontrasepsi yang tepat; (7) Layanan pemasangan KB oleh Bidan Puskesmas sesuai dengan kontrasepsi yang dipilih oleh WUS; (8) Melakukan evaluasi kegiatan pendampingan dan pemasangan KB untuk wanita usia subur. Hasil yang dicapai yaitu wanita usia subur yang menggunakan kontrasepsi setelah adanya program meningkat menjadi DELIKA 46%.Abstract: The high number of unmet need is a population phenomenon which is an important problem and needs to be considered in program services. The purpose of this activity is to assist government programs in reducing unmet need through the DELIKA program, to provide understanding and capabilities to the DELIKA Team on how to carry out IT-based surveillance and technical assistance for women of childbearing age. This activity phase consisted of (1) DELIKA Team formation; (2) DELIKA Team training, which lasted two days and aimed to provide the DELIKA Team with an understanding and ability to conduct IT-based surveillance and technical help for WUS. (3) The DELIKA Team used the Android-based DELIKA Application to get unfinished WUS data in real time. utilizing KB; (4) The Delika Team informs the KB field officer (PLKB), the Village Midwife, or the Community Service Team about WUS who have not had family planning; (5) The Delika Team assists WUS who have not had family planning by providing education about contraceptive methods through pocket books; (6) Appropriate contraceptive screening and selection process; (7) KB installation services provided by the Puskesmas midwives are in accordance with the contraception chosen by WUS; (8) Evaluating actinities of assistance and installation of family planning for women of childbrearing age. After completing the DELIKA program, 46 percent of women of reproductive age utilize contraception.
AKSI PREVENTIF ANEMIA PADA IBU HAMIL MELALUI EDUKASI DAN PEMBERIAN JUS BUAH NAGA Nancy Olii; Nurfaizah Alza; Endah Yulianingsih; Nanda Wahyudi; Nurhidayah Nurhidayah; Nurnaningsih Ali Abdul; Yollanda Dwi Santi Violentina
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.22101

Abstract

Abstrak: Prevalensi anemia pada ibu hamil di Provinsi Gorontalo sebesar 22,9%. Anemia pada ibu hamil mengakibatkan perdarahan, persalinan prematur, dan bayi dengan BBLR. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan ibu hamil terkait anemia pada ibu hamil dan manfaat jus buah naga untuk mencegah serta meminmalisir prevalensi anemia pada ibu hamil, khususnya di Puskesmas Kota Selatan kota Gorontalo. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan tindakan pemberian jus buah naga. Mitra pelaksana kegiatan ini adalah bidan koordinator Puskesmas Kota Selatan sedangkan mitra sasaran adalah ibu hamil yang berada di Wilayah kerja Puskesmas Kota Selatan. Peserta pada kegiatan ini adalah 12 orang. Bentuk evaluasi berupa pengukuran pengetahuan peserta melalui kuesioner pretest dan posttest, diskusi, dan umpan balik dengan indikator keberhasilan kegiatan adalah adanya peningkatan pengetahuan, terjadi keaktifan peserta dalam diskusi, dan adanya umpan balik. Hasil dari kegiatan ini adalah adanya peningkatan rata-rata pengetahuan ibu hamil sebesar 29,66 dan pemberian edukasi terbukti efektif, serta adanya kegiatan pemberian jus buah naga pada setiap ibu hamil.Abstract: The prevalence of anemia in pregnant women in Gorontalo Province is 22.9%. Anemia in pregnant women results in bleeding, premature labor, and LBW babies. This community service aims to increase pregnant women's knowledge regarding anemia in pregnant women and the benefits of dragon fruit juice to prevent and minimize the prevalence of anemia in pregnant women, especially at the South City Health Center, Gorontalo City. The methods used were counseling and giving dragon fruit juice. The implementing partner for this activity is the coordinator midwife of the South City Health Center, while the target partners are pregnant women in the working area of the South City Health Center. There were 12 participants in this activity. The form of evaluation is in the form of measuring participants' knowledge through pretest and posttest questionnaires, discussions, and feedback, with indicators of activity success being an increase in knowledge, participants' activeness in discussions, and feedback. The results of this activity were an increase in the average knowledge of pregnant women by 29.66 and the provision of education, which was proven to be effective, as well as the activity of giving dragon fruit juice to every pregnant mother.
PEMBERDAYAAN KADER DESA DALAM PENDAMPINGAN KELUARGA BERESIKO STUNTING MELALUI PEMBERIAN TELUR PUYUH PADA BALITA USIA 24-59 BULAN Sri Nurlaily Z; Nurhidayah Nurhidayah; Anna Y. Pomalingo; Fira Puili
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i2.20320

Abstract

Abstrak: Stunting adalah gagal tumbuh disebabkan oleh kekurangan gizi kronis terutama selama 1000 hari pertama kehidupan pada bayi 0-11 bulan dan balita 12-59 bulan. 617 balita keluarga beresiko stunting di Kelurahan Talumolo. Salah satu penyebab kejadian stunting yang terus meningkat adalah kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara mencegah balita stunting. Telur puyuh memeliki kandungan protein 13,1% dibandikang dengan protein telur ayam 12.7%. Tujuan pengabdian untuk meningkatkan pengetahuan kader dalam upaya pencegahan stunting dan kader dapat melakaukan pendampingan pada balita berisiko stunting dengan pemberian telur puyuh. Sasaran dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah kader 10 orang dan balita 30 orang. Metode kegiatan pengabdian adalah pelatihan dan pendampingan. Hasil yang dicapai dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat adalah terdapat 50% peningkatan pengetahuan kader tentang stunting, telur puyuh dan balita berisiko stunting mengalami beberapa peningkatan setalah diberikan telur puyuh diantaranya peningkatakan BB 1,30 gram, TB 0,4 cm, LILA 1,6 cm.Abstract: Stunting is failure to thrive caused by chronic malnutrition, especially during the first 1000 days of life in babies 0-11 months and toddlers 12-59 months. 617 children under five families are at risk of stunting in Talumolo Village. One of the causes of the increasing incidence of stunting is the lack of family knowledge about how to prevent stunting in toddlers. Quail eggs have a protein content of 13.1% compared to chicken egg protein of 12.7%. The aim of the service is to increase cadres' knowledge in preventing stunting and cadres can provide assistance to toddlers at risk of stunting by providing quail eggs. The target of community service activities is a cadre of 10 people and 30 toddlers. The method of service activities is training and mentoring. The results achieved in Community Service activities were that there was a 50% increase in cadres' knowledge about stunting, quail eggs and toddlers at risk of stunting experienced several improvements after being given quail eggs, including an increase in BW of 1.30 grams, TB of 0.4 cm, LILA of 1.6 cm.
PEMBERDAYAAN KADER DAN IBU HAMIL DALAM PENCEGAHAN STUNTING MELALUI PROGRAM KOMITMEN MEMBERI ASI EKSKLUSIF Rahma Dewi Agustini; Nurhidayah Nurhidayah; Nanda Wahyudi
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 2 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i2.29172

Abstract

Abstrak: Stunting merupakan kondisi balita yang memiliki tinggi badan kurang jika dibandingkan umur. Kecamatan Tilango memiliki angka stunting yang cukup tinggi (16.4% tahun 2022), serta ASI eksklusif yang rendah (51.7%). Pengabmas ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil dan kader kesehatan dalma melakukan perawatan payudara, teknik menyusui yang benar, serta keterampilan penyimpanan ASI dengan baik. Pengabmas dilakukan dengan metode penyuluhan, demonstrasi perawatan payudara, teknik menyusui yang benar, cara menyimpan serta meningkatkan produksi ASI, dan melakukan komitmen bersama untuk memberikan ASI secara eksklusif (KOMASIF). Mitra yang terlibat adalah kader kesehatan Desa Tabumela 5 orang dan ibu hamil 10 orang. Evaluasi dilakukan melalui pretest, posttest sebanyak 10 pertanyaan serta observasi. Hasil: terjadi peningkatkan nilai rata-rata pengetahuan kader pre-test ke post-test 37,28%, peningkatan pengetahuan ibu hamil pre-test ke post-test adalah 39,03%, peningkatan keterampilan perawatan payudara 41,06%. Kader kesehatan dan ibu hamil dapat melakukan perawatan payudara, teknik menyusui yang benar, keterampilan penyimpanan ASI dengan baik, serta telah terlaksana program KOMASIF.Abstract: Stunting is a condition in which toddlers are less than their age. Tilango District has a fairly high stunting rate (16.4% in 2022), as well as low exclusive breastfeeding (51.7%). This community service aims to ensure optimal fulfillment of children's nutrition and provide exclusive breastfeeding to prevent stunting. Community service is carried out using counseling methods, breast care demonstrations, correct breastfeeding techniques, how to store and increase breast milk production, and making a joint commitment to provide exclusive breastfeeding (KOMASIF). The partners involved are 5 health cadres Tabumela and 10 pregnant women. Evaluation through pretest, posttest and observation. Results: there was an increase in the average value of cadre knowledge from pre-test to post-test 37.28%, an increase in pregnant women's knowledge from pre-test to post-test was 39.03%, an increase in breast care skills of 41.06%. Health cadres and pregnant women can carry out breast care, correct breastfeeding techniques, breast milk storage skills properly, and the KOMASIF program has been implemented.
PEMBERDAYAAN KADER DAN IBU NIFAS DALAM MENDETEKSI POSTPARTUM BLUES Nurfaizah Alza; Nurhidayah Nurhidayah; Ika Suherlin
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 2 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i2.28478

Abstract

Abstrak: Postpartum blues merupakan suasana hati yang buruk dan gejala depresi ringan yang bersifat sementara, terjadi pada 10 hari pertama dimana puncaknya pada hari ketiga sampai kelima postpartum. Postpartum blues dapat berdampak pada hubungan ibu dan bayinya yang merupakan dasar perkembangan emosional, relasional, perilaku, dan sosial anak di masa depan. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mendeteksi dini postpartum blues. Metode yang digunakan yaitu ceramah, tanya jawab, demonstrasi, dan pendampingan. Mitra sasaran adalah 6 kader. Evaluasi berupa pretest dan posttest untuk pengukuran pengetahuan kader dan ibu nifas, serta observasi keterampilan kader dalam dalam mendeteksi postpartum blues. Hasil yang dicapai adalah terdapat peningkatan rata-rata pengetahuan kader terkait postpartum blues sebesar 1.80 dan pengetahuan kader terkait penilaian postpartum blues 4.20. Semua kader terlibat aktif (100%) dalam mendeteksi dua ibu nifas. Terdapat peningkatan rata-rata pengetahuan ibu nifas terkait postpartum blues sebesar 3.00 dan peningkatan keterampilan kader dalam melakukan penilaian postpartum blues sebesar 11.81 pada tahap pertama dan 3.81 pada tahap kedua.Abstract: Postpartum blues is a bad mood and mild depressive symptoms that are temporary, occurring in the first 10 days and peaking on the third to fifth postpartum days. Postpartum blues can have an impact on the relationship between mother and baby, which is the basis for a child's emotional, relational, behavioral, and social development in the future. The purpose of this activity is to increase the knowledge and skills of cadres in the early detection of postpartum blues. The methods used are lectures, questions and answers, demonstrations, and mentoring. The target partners are 6 cadres. The evaluation process involves administering pretests and posttests to measure the knowledge of cadres and postpartum mothers, as well as observing their skills in detecting postpartum blues. The results were that the average amount of knowledge that cadres had about postpartum blues went up by 1.80 and the amount of knowledge that cadres had about assessing postpartum blues went up by 4.20. All cadres were actively involved (100%) in detecting two postpartum mothers. There was an increase in the average knowledge of postpartum mothers related to postpartum blues by 3.00 and an increase in cadre skills in conducting postpartum blues assessments of 11.81 in the first stage and 3.81 in the second stage.